
Bab 28
"Launa! " Teriak Laura dengan mata berkaca-kaca.
Launa berlari lalu berhambur ke pelukan sang kakak." Maafkan Launa ya kak. "
" Tidak apa Loun, aku yang harus nya minta maaf, maafkan aku yang tidak jujur padamu Loun. "
" Launa mengerti, pasti kak Laura berbohong mempunyai alasannya, bisakah nanti kakak cerita padaku."
" Tentu, kakak akan menceritakan semuanya padamu." Ucap Laura terisak. "Terimakasih Loun, kau masih mau memaafkanku." Lanjutnya.
Launa semakin mengeratkan pelukannya, airmata mereka berdua terjun bebas membasahi pipi mulus keduanya.
" Hiks hiks.. Maafkan Launa kak, hanya kakak yang aku miliki didunia, mama sudah pergi meninggalkan kita, aku tidak mau kehilangan kak Laura juga. "
Laura mengusap punggung Launa dengan lembut. " Launa, apapun yang terjadi kita harus selalu bersama. Aku tidak ingin melukaimu, aku hanya ingin kau bahagia tanpa beban Loun. Ingat selalu, sekarang kita tidak memiliki siapa-siapa lagi, jadi aku mohon kita harus saling menyanyangi dan selalu kompak dalam hal apapun. "
Launa mengangguk. " Baik kak. "
" Kita duduk dulu, kau harus kasih tahu aku, semalam ada dimana? " Tanya Laura.
Sebelum Laura menarik tangan Launa, sudah ditahan terlebih dahulu. " Kak, lebih baik ikut aku, pasti kakak belum makan sesuatu kan? "
Laura mengerutkan keningnya dan menatap bingung ke arah saudari kembarnya.
" Kemana Loun? "
" Udah, ayo ikut saja. " Launa berganti menarik tangan kakaknya. Laura pasrah mengikuti kemana saudara kembarnya membawanya.
" Iya, pelan-pelan Loun, emang mau kemana sih? " Ujar Laura karena Launa menarik tangannya dengan semangat empat lima sampai Laura harus sedikit berlari mengimbangi jalan Launa yang begitu cepat.
" Ikut saja kak, aku akan membawamu ke suatu tempat. "
" Tempat? Tempat apa? "
" Udah kak, nurut bisa kan? " Tanya Launa lembut.
Laura mengerucutkan bibirnya. " Iya -iya adik manis. "
"Nah gitu dong! " Ucap Launa mengembangkan senyumnya.
Kini mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandeng tangan dan melempar senyum.
Sedangkan ditempat berbeda, diruangan serba hitam itu ada seorang pria tampan yang sedang gelisah.
" Aku bener-bener tidak bisa fokus bekerja. " Gumamnya seorang diri.
" Antony...! " Teriaknya yang membuat sang asisten yang berdiri didepan pintu itupun terjingkat kaget.
" Waduh..! Itu kan suara tuan, ada apa ini ? Kenapa kagak telpon, biasanya kagak teriak gini. Gawat aku harus segera menghadap. " Gumam Antony langsung membuka pintu begitu saja.
" Iya tuan, ada apa anda memanggil saya. " Ucap Antony saat berada di depan meja Daniel.
" Ryan mana? "
Antony memincingkan matanya. " Ryan pergi tuan, entah kemana? "
Daniel menatap tajam mata asistennya. " Pergi kemana? "
__ADS_1
" Mana aku tau tuan, dia kagak pamit, kan aku bukan emaknya tuan. "
" Telpon sekarang! " Bentak Daniel.
" Aahh..! " Teriak Antony kaget dengan bentakan Daniel. " Hehe.. Maaf tuan, baik ini aku telpon dulu. " Ucapnya ketika melihat tatapan maut dari sang CEO.
" He Ryan, kau ada dimana? "
" Apa? Telpon teriak-teriak, kau ganggu saja. "
" Haish, kau itu ya, enak-enakan pergi, gaji minta utuh. Cepet kembali kerja lo. "
" Matamu itu, aku disini juga atas perintah tuan Daniel."
" Lah? " Antony melirik ke arah tuannya lalu kembali berbicara dengan ponselnya. " Jadi maksud lo? Lo itu sedang melaksanakan tugas dari Bos. "
" Ya -iyalah , bego..! "
" Ye, ngatain bego lagi." Antony mengerucutkan bibirnya.
" Huh, tuan Daniel kenapa sih, tadi teriak-teriak, sekarang pelupa. " Batin Antony.
" Heh, Tony, kenapa diem lo? Kenapa lo telpon aku? "
" I-ini tuan Daniel mau bicara sama lo. "
Daniel yang sedari tadi diam sambil memperhatikan Antony yang sedang telpon itupun menyipitkan matanya.
" Lo itu becus kagak sih, tanya saja dimana dia sekarang, suruh segera kembali. "
" I-ini tuan, Ryan sedang melaksanakan tugas dari tuan sendiri. " Jawab Antony gugup.
" Dimana kau? "
" Maaf tuan, saya sedang mengikuti target. Karena tuan Muda terus menghubungiku. "
" Oh, kau sudah menemukannya. Cepat selesaikan tugas lo itu. Dan cepat kembali ke sini. "
" Baik tuan. "
Tut tut tut!
Setelah telpon ditutup, Daniel berdiri dan mengambil mantelnya yang di taruh dikursi kebesarannya lalu dikenakannya kembali.
" Cepat kau antar aku ke rumah papilium( rumah para anak buahnya) "
Antony mengangguk. " Baik tuan. "
" Jangan lupa kau suruh Angelina mewakili ku rapat hari ini. "
" Baik tuan. " Antony langsung mengirim pesan pada Angelina. Setelah itu segera menyusul tuannya yang berjalan lebih dulu menuju lift.
____
" Loh, ini rumah siapa Loun? " tanya Laura bingung ketika mereka sampai didepan rumah sederhana tapi terlihat asri, nyaman dan mewah.
Launa hanya tersenyum, lalu mengandeng tangan Laura untuk segera masuk ke halaman rumah itu.
" Disini nyaman kan kak, udara nya juga segar, banyak bunga indah untuk menyejukan mata. " ucap Launa dengan senyum.
__ADS_1
Laura melihat sekeliling, benar rumah ini dikelilingi begitu banyak pohon rindang dan taman bunga yang indah.
Tok tok tok!
" Bu... Ibu, Launa pulang."
Laura menyipitkan matanya mendengar perkataan Launa.
" Loun, ibu? ibu siapa? "
" Sudah ,nanti kakak juga tahu sendiri. "
Laura semakin bingung, dia diam saja. Menanti sang pemilik rumah segera membuka pintu.
Tok tok tok!
" Kemana ya ? apa ibu gak ada dirumah? " gumam Launa pelan. " kak kita tunggu ditaman situ dulu saja ya. " Lanjutnya mengajak Laura.
Laura mengangguk, tapi saat baru saja membalikan badannya tiba-tiba mereka mendengar pintu terbuka.
klik klik !
" Eh kalian sudah pulang. "
Seketika Launa dan Laura menoleh bersamaan. Launa tersenyum tapi Laura terbengong.
" Ibu..! " ucap mereka bersamaan.
" Loh, ibu kan yang waktu itu...
Belum selesai Laura bicara, ibu itu sudah tertawa. " hahaha..., iya. Aku ini yang menyelamatkanmu, hingga kau tidak jadi menemui ajalnya."
" Dan juga menyelamatkan saudara kembarmu itu dari kelaparan, haha... " lanjutnya masih tertawa.
Laura dan Laura memutar bola matanya malas. " ibu, semalam ibu bilang sama Launa jadi orang kagak boleh sombong, terus ini ibu lagi apa? "
" Hehe...maafkan ibu, ibu cuman bercanda. "
Laura hanya menoleh ke arah saudaranya lalu beralih menatap ke wanita paruh baya yang ada didepannya ini.
" Kenapa melihatku seperti itu, apa kau lupa sama aku? "
" Hehehe.. iya gak lah bu, ibu Fatimah kan? " ucap Laura berusaha tersenyum lebar.
" Ternyata ingatanmu masih jeli. Ayo masuk rumah, maaf tadi ibu ketiduran setelah minum obat. "
" Ibu sakit? " Launa yang mendengar jika ibu Fatimah minum obat itupun khawatir, Walaupun baru semalam bertemu Launa sudah akrab dengan ibu Fatimah, karena semalam dia benar-benar merasakan kembali kehangatan pelukan mama nya saat tidur bersamanya.
" Ibu baik-baik saja, cuma pusing. Setelah bangun tidur sudah sembuh. Oh ya, kakak kamu suruh makan dulu. "
" Iya bu, sekarang ibu aku antar ke kamar ya, istirahat biar cepat sembuh. "
" Tidak usah, ibu mau menjahit dulu. Kamu layani dulu kakak kamu. " ucap ibu Fatimah sambil mengusap punggung Launa. " Eh, kau makam yang banyak. " lanjutnya sambil menatap Laura.
" Aku? " tanya Laura.
" iya kamu, makan yang banyak jangan sungkan, anggap rumah sendiri. " jawab ibu Fatimah.
Laura tersenyum.
__ADS_1
***