Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 31


__ADS_3

Setelah membersihkan diri Laura kembali ke ruang makan untuk membantu ibu Fatimah. 


" Sudah selesai ya bu? " Tanya nya saat melihat semua sudah terhidang rapi dimeja. 


" Sudah cantik, sudah selesai mandinya. Terus Launa mana? "


" Launa masih di kamar bu. Yaah..! padahal Laura tadi cepet-cepet loh mandinya,mau ikut bantuin ibu." Ucap Laura manyun. 


Ibu Fatimah tersenyum mendengarnya. " Sudah, gak apa. Panggil dulu adik kamu, ibu mau shalat magrib dulu."


Laura mengangguk, bukannya menuju kamar Laura tapi dia malah ngikutin ibu Fatimah ke ruang mushala. Iya dirumah ibu Fatimah ada ruangan khusus untuk beribadah. 


" Shalat? Apa itu? Mending gue lihatin ibu aja lah daripada penasaran. Shalat itu ibadah orang muslim kan? " Gumam Laura. 


Laura terus mengikuti ibu Fatimah diam-diam hingga akhirnya ibu Fatimah masuk ke kamar mandi. 


Setelah beberapa saat ibu Fatimah keluar dari kamar mandi, Laura langsung sigap bersembunyi dibalik dinding. 


" Fiuh, untung kagak ketahuan. Napa gue jadi kayak maling gini ya? " Pikir Laura merasa lucu sendiri. 


" Lah kemana ibu Fatimah? " Gumamnya. Lalu penglihatannya beralih ketika melihat ibu Fatimah masuk ke salah satu ruangan. Laura kembali mengikutinya hingga dia berhenti di depan pintu. 


Laura memperhatikan semua gerakan ibu Fatimah dengan seksama. Setelah selesai melaksanakan shalat magrib ibu Fatimah membaca kitab suci Al-Quran terlebih dahulu sambil menunggu waktu isya tiba. 


Laura masih setia duduk di pinggir pintu mendengarkan alunan ayat suci yang dibacakan oleh ibu Fatimah. 


" Adem banget dengernya. " Gumamnya sambil memegang dadanya sendiri. " Ibu, itu lagi baca apa ya? " Pikirnya. 


Laura merasa nyaman mendengarkannya dan pada saat ibu Fatimah berhenti membaca dan kembali shalat karena waktu isya sudah mulai. Laura menoleh kembali ke arah dimana ibu Fatimah sedang shalat. 


" Lah kok ibu begitu lagi, emang ibadah orang muslim itu setiap jam apa ya? " Disaat sedang serius memperhatikannya tiba-tiba. 


" Doorrrr… .! "


" Elah, copot copot copot.. ! " Latahnya yang membuat Launa tertawa terbahak-bahak. 


" Hahahaha…  ! Kak kamu ngapain ngintip? " Tanyanya tanpa dosa. 


Laura memincingkan matanya. " Kau itu Loun ngangetin saja, untung aku kagak jantungan. " Protesnya. 


" Hehe…. Maaf kak. Lagian ngapain sih? Lihatin ibu shalat? "


Laura mengangguk. " Ternyata orang muslim itu kalau ibadah setiap jam ya Loun? "


Launa membulatkan matanya heran. Dia sebenarnya juga gak tahu, tapi selama tiga hari dia tinggal bersama ibu Fatimah memang sering lihat ibu shalat tapi dia tidak lihat jika ibu Fatimah shalat setia jam. 


" Jangan ngada-ngada lah kak. Masak setiap jam sih?" Ujar Launa tak percaya. 


" Iya kok, tadi kan ibu sudah ibadah abis itu baca sesuatu tapi aku gak tahu apa yang dibaca ibu, terus ini ibadah lagi Loun. " Jelas Laura. 


" Sudah ah kak, mending nanti kita tanya sama ibu."


" Bener juga kau Loun, daripada aku mati penasaran. Hem tapi Loun… "


" Tapi apa? "


" Hatiku rasanya adem, nyaman banget denger ibu baca kitab sucinya. "


Launa terdiam mendengar perkataan saudaranya, dia pun teringat akan pagi2 saat dirinya mimpi buruk dan ditemani ibu Fatimah dia sayup-sagup juga pernah mendengar ibu Fatimah mengaji disampingnya hingga dirinya kembali tenang dan bisa tidur dengan lelap. 


Laura yang melihat saudarinya bengong, dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Launa. 


" Eh Loun! Ye…malah ngelamun. " Launa kaget. 


" Apaan sih kak..!"


" Loh, ada apa nih kok ngumpul disini? " Tanya ibu Fatimah tiba-tiba sudah berada di dekat keduanya. 


" Eh, ibu sudah selesai? " Tanya Launa. 


" Sudah, ayo kita makan malam bersama. " Ajak Ibu Fatimah. 


Mereka semua makan bersama, suasana diruang makan pun hening tidak ada yang berani bicara. Setelah selesai makan  malam ibu Fatimah mengajak keduanya ke ruang keluarga. 


" Biar Laura yang beresin bu. " Cegah Laura ketika melihat ibu Fatimah ingin membereskan piring kotor. 


Ibu Fatimah tersenyum. " Terimakas nak, setelah selesai mencuci semua piring kotor kalian bisa ke ruang keluarga ya. Ada yang ingin ibu bicarakan sama kalian berdua. " 


Laura dan Launa saling pandang, kontak mata seperti menanyakan ,apa yang akan dibicarakan ibu? Seolah-olah Launa mengerti dengan bahasa isyarat mata dari Laura itupun pun juga menjawab dengan kontak mata, aku tidak tahu. 


Ibu Fatimah yang memperhatikan keduanya diam itu langsung bertanya. " Ada apa?"


" Gak apa-apa bu. Baik nanti kita ke sana, kita beresin ini dulu bu. " Jawab Launa tersenyum. 

__ADS_1


Setelah selesai semuanya, mereka menyusul dimana ibu Fatimah berada. Lalu mereka duduk di sofa depan ibu Fatimah. 


" Loh, kok duduk disitu, sini dekat ibu. " Ucap Ibu Fatimah sambil menepuk sofa samping kiri kanannya. 


Mereka bedua pun akhirnya duduk disamping ibu Fatimah, dan ibu Fatimah berada ditengah. 


" Ibu mau bicara apa? " Tanya Launa penasaran. 


" Bentar ibu aku juga mau tanya. " Potong Laura. 


" Kak nanti saja." Ujar Launa. 


" Hem, ya udah deh."


Ibu Fatimah bingung. " Memang mau tanya apa? "


" Nanti saja bu. Ibu dulu aja mau bicara apa sama kita. " Ucap Laura mengalah. 


" Ya sudah, ibu cuma mau bilang kalian boleh tinggal disini selamanya anggap saja ini rumah kalian, ibu senang ada kalian yang menemani, anggaplah ibu ini seperti mama kalian. Ibu sangat bahagia Allah mempertemukan kalian pada ibu disaat ibu kesepian kehilangan putri dan suami ibu. Allah SWT sangat baik ibu bersyurkur telah diberikan dua putri cantik seperti kalian. " Ucap ibu Fatimah penuh airmata. 


Ibu Fatimah mengenggam erat tangan keduanya. " Kalian akan ibu kuliahkan, supaya apa yang kalian cita-citakan tercapai. Ibu sudah dengar pembicaraan kalian dengan teman kalian tadi. Jika memang beasiswa kalian dicabut ibu akan membiayai kalian sampai lulus. " 


Mata kedua nya berkaca-kaca mendengar ucapan ibu Fatimah. Launa langsung memeluk erat tubuh ibu Fatimah. 


" Ibu… ! Hiks hiks hiks..! Terimakasih bu."


Laura terbengong, walaupun matanya ingin mengeluarkan airmatanya tapi dia berusaha menahannya agar tidak jatuh ke pipi. 


" Ibu..! " Panggilnya yang membuat ibu Fatimah menoleh. 


Ibu Fatimah menarik tubuh Laura dan di peluknya. Mereka berdua berada dipelukan ibu Fatimah. 


Laura melepaskan pelukan ibu Fatimah. " Maaf Bu, aku tidak bisa tinggal disini. Jika Launa tinggal disini aku tidak masalah bu. Dia butuh tempat nyaman  yaitu disamping ibu. Tolong jaga Launa dengan baik bu, aku tidak ingin menjadi beban ibu jadi lebih baik aku tidak disini, aku janji bu pasti akan ganti semua biaya untuk kehidupan Launa disini. Biarlah Launa kuliah, aku akan pergi dari sini dan mencari pekerjaan. " Ucap Laura dengan suara bergetar. 


" Kak..! " 


" Gak..! Salah satu dari kalian gak boleh ada yang pergi dari sini! Ibu gak pernah merasa terbebani sayang. Ibu bahagia ada kalian disini, ibu mohon jangan pergi dari sini ya. Anggap ibu ini mama mu nak. " Mohon ibu Fatimah sambil menangkup kedua pipi Laura. 


Laura bimbang tapi ketika melihat sorot mata ibu Fatimah penuh harap diapun tak tega, akhirnya dia mengangguk menyetujuinya. 


" Terimakasih nak. " Ucap Ibu Fatimah bahagia. 


" Tapi, bolehkah Laura mencari pekerjaan, Laura tidak ingin merepotkan ibu. "


" Tapi… "


" Sudah gak ada tapi-tapian. Kalian tetap disini, kuliah setelah lulus baru kalian boleh cari pengalaman kerja dimanapun kalian mau." Ucap Ibu Fatimah tegas. 


" Terimakasih bu. " Keduanya langsung memeluk tubuh ibu Fatimah bersamaan. 


Ke-esokan harinya dirumah Maya, mami Selina yang sedang masak itupun dikagetkan oleh suaminya. 


" Mami masak apa sih? " Tanya suaminya sambil memeluk perut istrinya mesra. 


" Aaarrhghhhh…! Buk buk buk..! " Selina kaget, lalu dia berbalik badan dan memukuli suaminya dengan sotel. 


" Aduh aduh aduh! Ampun mi, ini papi . " Teriaknya. 


Mami Selina langsung berhenti. " Loh, papi..! Bikin mami kaget. Aku kira perampok yang mau perkosa mami. "


" Ya Ampun mi, masih pagi ini. Makanya kalau masak jangan melamun napa mi. Sakit semua ini badan papi."


" Maaf pi, mami kan reflek. " 


" Ya sudahlah, mami lanjutin masak, pai ke atas dulu, mau siap-siap berangkat kantor. "


" Iya pi, oh ya papi bantu bangunin Maya ya pi. "


" Iya..! "


Papi Maya pun naik tangga ke atas dan melangkajkan kakinya menuju kamar putri semata wayangnya. 


Tok tok tok! 


" Princess papi, ayo bangun. Memang gak kuliah? " Teriaknya tapi tidak ada sahutan dari dalam. 


" Ya sudah papi masuk loh, kalau gak mau bangun." Masih belum ada jawaban. 


Krieett… ! 


Pintu kamar dibuka lalu papi Maya masuk dan geleng-geleng kepala melihat putrinya masih terlelap. 


" Pasti dia kecapean." Gumamnya mendekati putrinya. 

__ADS_1


" Sayang bangun, princes papi yang paling cantik, bangun yuk mau kuliah gak. " Papi Maya membangunkannya dengan lembut. Beda jika yang bangunin mami nya, pasti sudah kena semprot si Maya. 


" Eengghhh… ! Papi. Kok ada dikamar Maya? " Tanya Maya ketika membuka matanya. 


" Papi kan bangunin princess. " 


" Ah papi, Maya dah gede jangan panggil princces lagi lah. "


" Iya putri papi yang cantik. Memang gak kuliah? "


" Jam berapa sih pi? Hoahh..! " Maya menguap, tetapi saat dia mengambil ponselnya dan melihat jam menunjukan pukul delapan pagi dia langsung beranjak dari tempat tidurnya. 


" Ya Ampun pi, Maya telat ini ke kampus. Ada kelas pagi. Pak Subrata lagi dosennya bisa dihukum aku ntar kalau telat. " Ucapnya sambil menarik handuk dan masuk kamar mandi. 


Papi Maya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang random. 


" Ya sudah papi keluar ya, cepetan mami sudah nunggu dibawah untuk sarapan. "


" Iya pi. " Sahut Maya dari dalam kamar mandi. 


Papi Maya hari ini memang pergi ke kantor siang. Dia punya jadwal ke kantor cabang terlebih dahulu. 


Setelah selesai mandi dan berdandan Maya turun ke bawah dan pada saat melewati ruang makan Maya langsung meraih tangan kedua orang tuanya dan mencium punggung tangan keduanya. 


" Maya berangkat ke kampus dulu mi, pi. "


" Loh loh..! Maya gak sarapan dulu sayang! " Teriak mami Maya. 


" Gak keburu mi, sudah telat. Bye..! " Maya berlalu begitu saja. 


Mami Selina menghela nafas. " Itu anak ya. Ntar kalau sakit perut bagaimana?" Gumam mami mengkhawatirkan pitrinya. 


" Sudah mi, Maya kan sudah gede.Nanti juga dia beli sarapan diluar. "


Mami Selina mencebikan bibirnya. " Terserah papi deh. "


Sedangkan Maya yang terburu-buru itupun sedang mencari tukang ojek. Dia tidak mau diantar sopir karena dia tidak mau terjebak macet makanya dia memilih mencari ojek supaya bisa cepat sampai kampus. 


" Jam segini pasti jalanan macet, gue harus cari ojek nih biar cepat sampai kampus. Biasanya di pengkolan tikungan sana ada abang ojek deh. " Gumamnya terus berlari. 


" Lah mana nih tukang ojek kok jam segini gak ada sih. Aahhh… " 


" Aduh , gue harus naik apaan dong? " Maya yang dikejar waktu itupun menoleh ke kiri dan ke kanan dan mencari seseorang yang bisa mengantarnya. 


" Lah itu dia pangkalan ojek, kok pindah ke sana sih." Gumamnya saat melihat para tukang ojek berkumpul di pangkalan seberang jalan. 


Karena ingin segera sampai kampus saat menyebrang jalan Maya tidak melihat sisi kiri dan kanan terlebih dahulu, alhasil dari arah lain melaju sepeda montor dengan kencang. 


Tin tin tin… .! 


Maya menoleh dan menjerit. " Aaaargghhhh… ..! "


Ciittt… .! 


Sepeda montor itupun menge-rem mendadak. " Hei, cari mati ya lo..! " Marah pengemudi sepeda montor itu pada Maya sambil turun dari montor nya. 


Maya terduduk lemas, dia shook tapi dia juga bersyukur karena sepeda montor itu tak jadi melukainya. 


" Untung saja kagak kena. " Batinnya. 


Setelah merasa sedikit baikan, Maya kembali berdiri dan menghampiri pengemudi yang hampir menabaraknya. 


" Heh, lo. Kalau pakai montor itu pakai mata! " Marah Maya. 


Orang itu pun membulatkan matanya tak percaya." Kenapa malah lo yang marah. Lo yang salah malah nyolot."


" Enak saja lo tu yang salah, gue kan jalan kaki. Lo pake montor jadi lo yang salah. " Protes Maya. 


" Enak saja main salahin gue, lo itu yang salah kalau nyebrang tu lihat-lihat ada kendaraan gak. Bukannya main nylonong saja kayak bajai. "


" Hais, gue gak ada waktu ngladenin lo, dasar alien." Ejek Maya berbalik badan ingin pergi menuju tukang ojek. 


" Eh, dasar lo ya cantik-cantik kok ngomongnya gak ada filternya."


" Hahaha… lo ngakuin kan kalau gue cantik, jadi wanita cantik itu gak bisa salah. "


" Hah? PD kali lo jadi orang."


" Biarin, daripada lo alien. Gak berani buka helm ya karena mukanya jelek. Huh, gue sudah telat ke kampus, dadah alien..! " Ucap Maya berlalu pergi menuju tukang ojek berjejer. 


" Dasar cewek aneh." Ucap pria itu lalu mengendarai sepeda montor nya. 


Sedangkan Maya sudah naik ke montor tukang ojek dan menuju kampusnya. 

__ADS_1


****


__ADS_2