Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 36


__ADS_3

Bab 36


Empat tahun kemudian


Sebuah jari tangan yang cantik nan lentik sangat mahir menari-nari diatas keyboard. Iya tangan itu adalah milik perempuan bercadar yang anggun sedang mengerjakan pekerjaan lemburnya di sebuah perusahaan besar pusat kota. 


Sudah hampir dua bulan wanita itu bekerja diperusahaan itu. Demi ingin mewujudkan keinginannya segera naik jabatan dia rela setiap hari harus lembur kerja. 


Selama tiga bulan dia harus bisa melewati tantangan yang begitu banyak jika ingin mendapatkan posisi sebagai sekretaris bos besar perusahaan. Tantangan salah satunya adalah lembur setiap hari, selain harus bisa mendapatkan lima klien dalam tiga bulan. 


" Maaf Pak, kenapa saya diterima dibagian staf biasa. Saya kan melamar dibagian jadi sekertaris bos besar." Ucap wanita bercadar. 


" Iya anda memang diterima untuk jadi sekertaris pak Larry, tapi maaf anda harus menerima tantangan terlebih dahulu untuk bisa menaiki meja sekertaris bos besar." 


" Hah, kenapa bisa begitu?"


" Ini atas perintah pak Larry, dia tidak bisa menerima sekertaris sembarangan. Jika kau sanggup memenuhi tantangan dalam tiga bulan, anda akan terpilih."


" Huh, baiklah. Apa saja tantangannya? "


" Kau harus menjadi staf biasa dan lembur setiap hari. Kau juga harus bisa mempelajari semua tentang perusahaan selama tiga bulan. Serta semua jadwal pak Larry, dan satu lagi kau harus bisa membuat lima klien mau bekerja sama dengan perusahaan ini."


" Banyak amat pak?! "


" Sanggup tidak?"


" Iya sanggup."


" Baiklah, ini daftar lima klien yang harus kau pelajari. Jika gagal, kau akan menjadi karyawan staf biasa tanpa naik jabatan."


" Oke, siap."


Setelah mengingat tantangan itu, wanita itu tiba-tiba berteriak. 


" Aarghhhh…! semangat..! Gue harus bisa dapetin apa yang gue mau. Uh, tinggal satu klien lagi ini yang belum mau bekerja sama dengan perusahaan. Ah, pakai cara apa lagi dong? susah banget klien satu ini. Apalag akui cuma bisa nemuin asistennya saja, bos nya susah banget ditemuin. Tinggal satu bulan, ayo mikir dong otak, aku harus bisa jadi sekertaris pak Larry." Gumamnya sambil memukul kepalanya. 


Tring tring tring! 


Saat ponselnya berbunyi dia hanya melirik sekilas, lalu mengambilnya. 


" Assalamu'alaikum, iya ada apa nelpon?"


" Walaikumsalam.Kakak lembur lagi? Ibu sudah nunggu loh, mau makan malam dirumah tidak?"


Wanita itupun memutar bola matanya malas." Iya aku lembur lagi, kan udah ku bilang dalam tiga bulan ini aku lembur terus. Kalian makan duluan aja, nanti aku pulang makan sendiri."


" Iya deh kak. Kalau gitu nanti hati-hati ya kak pulangnya, Assalamu'alaikum."


" Iya, Walaikumsalam."


Tut tut tut! 


" Huh, dia setiap hari selalu menanyakan itu. Apa dia tak bosan?" Gerutu setelah telponnya mati. 


" Eh, lo gak pulang? Sudah malem ini. Lembur ya lembur tapi gak usah sampai larut malam juga kali." Ucap teman satu kantornya. 


" Iya, ini sudah mau beres-beres." Jawabnya. 


" Ya udah kalau gitu, gue duluan ya."


" Oke."


Setelah membereskan semua berkas, wanita bercadar itupun mengambil tas dan menuju lobi untuk segera pulang. 


" Assalamu'alaikum ukthy." Sapa seorang pria saat wanita tersebut ingin menaiki lift. 


" Walaikumsalam, eh bang Fadil lembur juga? " Jawab wanita itu tersenyum. Walaupun mungkin senyumnya tak terlihat karena tertutup oleh cadar, tapi dia berusaha untuk ramah dengan karyawan yang sudah lama bekerja diperusahaan itu. Setelah bertanya wanita itu menundukan kepalanya, karena tidak ingin zina mata. 

__ADS_1


" Iya ukhty. Apa mau pulang?"


" Iya bang, kalau begitu abang bisa duluan masuk. Saya bisa nanti-nanti."


" Apa kita tidak bisa naik bersama." Tanya pria tersebut. 


Wanita bercadar itupun tersenyum kecut." Maaf bang, saya tidak bisa. Kita bukan makhram."


Pria tersebut memang minggu-minggu ini berusaha mendekati perempuan bercadar tersebut. Dia sangat terpesona akan sikap lembut si wanita. 


" Wanita berlian memang susah didekati." Ucapnya dalam hati. 


" Bagaimana bang? Jika begitu, saya saja duluan. Permisi..! " Ucap wanita tersebut berlalu masuk ke dalam lift. 


" Eh, memang seharusnya wanita itu didahuluin." Jawabnya sambil tersenyum ketika pintu lift mulai tertutup. 


Wanita bercadar itupun mendongakkan kepalanya setelah pintu lift tertutup. 


" Huh, kenapa pria itu selalu muncul tiba-tiba sih." Gumamnya sebal. 


_____


Di perusahaan Oliver Grup, Ryan masih berusaha membujuk tuannya untuk menemui klien. Tapi Daniel benar-benar tidak ingin menemui seorang klien wanita. Jika klien wanita dia akan selalu menyuruh Ryan dan Antony menghandelnya. 


" Tuan, apa anda benar-benar tidak ingin bertemu?" Tanya Ryan sekali lagi. 


" Kenapa kau selalu menanyakan itu Ryan?" Ujar Daniel marah. 


Ryan menundukan kepalanya." Maaf tuan, klien yang satu ini bener-bener hanya ingin bertemu anda."


" Apa kau tak bisa mengatasi satu wanita saja? Hah!" Bentak Daniel. 


Daniel tak habis pikir dengan ajudannya satu ini, biasanya dia selalu bisa diandalkan. Bahkan tak pernah ada yang gagal dalam melaksanakan tugasnya. 


" Sekarang kau atur, kapan aku bisa bertemu dengan dia." Ucap Daniel acuh. 


" Dimana Antony? "


" Maaf tuan, Antony sudah pulang lebih dulu." Jawab Ryan. 


Daniel menatap Ryan tajam." Sekarang kau antar aku ke mansion. Aku ada perlu sama Angelina."


Ryan pun mengangguk." Siap tuan."


Di dalam mobil Daniel hanya melihat-lihat ponselnya. Entah apa yang sedang dia perhatikan di dalam ponselnya. 


" Ryan! " Panggilnya tiba-tiba. 


" Iya tuan. Ada yang bisa saya lakukan?" Jawab Ryan siaga. Walaupun matanya terus melihat ke depan tapi dia tetap fokus pada tuannya. 


" Apa kau belum menemukan titik terang wanitaku?" Tanya lesu. 


Ryan yang melihat wajah tuannya dari kaca spion depan itupun ikut merasakan sedihnya. 


" Maaf tuan, ini semua salahku. Harusnya saya tidak kecolongan, hingga rumah itu kosong kami tidak mengetahui."


Sejak itulah Ryan benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Yang dia anggap aman, ternyata dia malah kehilangan jejak Laura. Saat dia merasa rumah itu tidak perlu diawasi dia malah kecolongan ketika mereka meninggalkan rumah itu, Ryan tidak mengetahuinya. 


" Ini bukan salahmu Ryan, seharus nya aku segera menemuinya. Hanya saja aku pengecut, karena waktu dia melihatku saja sudah lari ketakutan membuatku tak berkutik."


" Tuan… . "


" Iya Ryan ini salahku, seharusnya dulu aku melakukannya dengan baik. Aku yang bodoh, aku tidak menyadari jika aku tertarik dengannya." Daniel sangat menyesali semua perbuatannya sendiri. 


Dia merasa bahwa ini adalah karma untuknya suka mempermainkan perempuan. Membelinya dan membuangnya, hingg dia tertarik dengan  wanita tapi tak bisa dia gapai. 


" Tuan, anda tidak perlu menyalahkan diri anda sendiri. Saya yakin, jika memang tuan mencintainya dia akan kembali ke pelukan tuan lagi."

__ADS_1


Daniel terkekeh kecil mendengarnya, dia menganggap itu lelucon kecil. 


" Kembali? Melihat wajahku saja dia takut." Ucap Daniel datar. " Oh iya untuk bertemu klien wanita itu apa kau sudah menentukan jadwal? "Lanjutnya.


" Sudah tuan, saya sudah menghubungi Antony. Dia bilang besok jam sepuluh klien akan menemui anda di kantor." Jawab Ryan. 


" Oke."


Setelah sampai mansion dan selesai membahas pekerjaan dengan Angelina. Ryan mengantarkan tuannya kembali ke rumah utama. Sampai dirumah utama Daniel membuka pintu kamar keponakan. Terlihat pria muda tampan tidur dengan pulas. 


Daniel menghampiri keponakannya dan mengusap lembut rambut David. 


" Seperti apa wanita yang kau cintai itu. Kenapa wanita sangat membuat kita susah, disaat paman tidak dapat menemukan wanita yang paman cari. Kenapa wanitamu juga ikut menghilang bersamaan dengan wanita paman." Gumam Daniel menatap wajah keponakan nya. 


David yang sekarang tidak seceria dulu, saat dia kehilangan jejak Laura. Dia menjadi pria pendiam dan sering melamun. Bahkan semua orang sudah dikerahkan untuk mencarinya tapi juga tidak menemukan jejaknya. 


Daniel kembali menutup pintu kamar David, lalu masuk ke ruang kerjanya. Disana Daniel mengambil sebotol wine yang disimpan di lemarinya. 


" Laura… ! " Racaunya mengingat saat dirinya mengambil kesuciannya secara brutal. 


" Ah, bodoh-bodoh. Aku benar-benar bodoh, sekarang aku tak bisa menemukannya." Gumamnya mengingat saat dirinya bertemu Laura tapi wanita itu malah lari menjauhinya. 


Saat Daniel sedang terburu-buru masuk sebuah restoran untuk segera bertemu klien dari Jepang, tak sengaja dirinya bertabrakan dengan seorang wanita. 


Srett braakk! 


" Aaow… ! "


" Bisa jalan pakai mata gak." Ketus Daniel. 


" Eh lo yang salah napa gue… … " Seketika keduanya bertemu pandang. Wanita itu terdiam menatap wajah sang pri. " Ka… kau… . Kau… tidak… tidak… jangan… . ..! " Wanita itu langsung lari menjauhinya. 


" Laura." Panggil Daniel lirih. 


" Laura… ..! " Teriaknya memenuhi ruang kerjanya. 


David yang berada dikamar pun membuka matanya tiba-tiba. Bahkan tubuhnya langsung duduk seketika. 


" Laura, apa Laura sudah diketemukan. Aku sempat mendengar ada orang memanggil Laura." Ocehnya lalu berjalan keluar kamar. 


" Kenapa gelap? Apa paman Daniel sudah pulang?" Gumamnya terus berjalan menuju kamar pamannya. 


" Laura… ..! " Teriak Daniel kembali. 


" Apa itu suara paman? Kenapa dia panggil Laura?" Sayub-sayub David mendengar teriakan pamannya. Lalu dia berjalan menuju ruang kerja sang paman. 


Klik..! 


" Paman. " Panggilnya. 


Daniel pun menoleh ke arah pintu." Hai boy, kenapa bangun? "


" Aku denger tadi paman teriak nama Laura." Ucap David. 


Daniel mengerutkan keningnya." Ah, tidak. Kau salah dengar boy. Apa ada yang bisa paman lakukan? Kenapa kau bangun? " Tanya Daniel menghampiri ponakannya. 


" Ah, tidak ada paman. Kalau begitu aku ke kamar." Ucap David ingin melangkahkan kaki. Tapi dicegah oleh Daniel. 


" Tunggu boy! "


" Hah, ada apa? " Tanya David bingung. 


" Duduklah sini. Paman perlu bicara sama kamu."


" Bicara apa paman? "


David pun menghampiri pamannya dan duduk disebelahnya. 

__ADS_1


*****


__ADS_2