
Pagi ini keluarga Maya dan si kembar melayat ke rumah Gladis. Setelah mendengar kabar jika ayah sahabatnya meninggal ,Maya mengajak mami papi nya melayat,tak lupa dia menjemput Laura, Launa dan tante Kirana untuk bersama-sama pergi melayat.
Tadi mama si kembar sempat menolak tapi setelah dibujuk oleh kedua putrinya akhirnya mau ikut ke mobil.
"Girls, pasti sahabat kita lagi sedih, " Ucap Maya dengan mata berkaca-kaca.
Launa memeluk Maya dari samping., " Nanti kita hibur dia sama-sama ya. "
Selina yang melihat kesedihan putrinya itu pun mencoba menghiburnya.
"Kita doakan saja semoga sahabat kalian dan ibunya diberi ketabahan sayang."
" Iya mi."
Kirana yang duduk di kursi belakang sama Laura hanya diam saja.
"Mama baik-baik saja kan."
Kirana tersenyum, " Mama baik kok."
Launa yang duduk dikabin tengah bersama Maya pun langsung menoleh ke belakang saat mendengar saudari kembarnya menanyakan keadaan mama nya.
"Mama, kenapa?"
" Gak apa sayang, mama baik-baik saja kok."
"Tapi muka mama pucat."
" Gak apa, mama cuma sedikit pusing, mungkin karena gak pernah naik mobil mewah, jadi sedikit mau mabuk."
Semua yang ada dimobil itu tertawa kecil mendengar penuturan Kirana.
"Ya Ampun jeng, masak mobil ini dibilang mobil mewah padahal mobil biasa aja loh jeng kalah sama mobilnya yang punya perusahaan Louis Vuiton Group, " Ucap Selina sambil melihat arah belakang mengunakan spions yang ada di atas depan mobil.
Raut muka Kirana berubah sedih ketika mendengar perkataan Selina.
"Ma, beneran gak apa-apa?, " Tanya Laura cemas.
Kirana tersenyum dan membelai lembut rambut Laura., "gak apa-apa sayang."
"Nanti kalau mama ngerasain apa gitu, bilang sama Laura ya ma."
Kirana tersenyum dan mengangguk, mengiyakan permintaan putrinya.
Akhirnya mobil mereka sampai dihalaman rumah minimialis, sederhana dan nampak asri, nyaman itu.
Kini mereka keluar dan mengetuk pintu rumah Gladis.
Tok..
Tok..
Tok...
Krieettt...
Pintu terbuka dan ketiga sahabat Gladis langsung berhambur kepelukan Gladis. Yang membuat Gladis mengeluarkan airmatanya kembali. Dari semalam Gladis tak mampu memberhentikan air matanya.
"Hiks... Hiks... Gladis kita akan selalu bersamamu, " Ucap Maya tulus.
"Kita sahabat selalu Gladis, berbagilah kesedihanmu pada kita, " Ujar Launa.
__ADS_1
Gladis hanya sesegukan dalam pelukan sahabatnya.
"Siapa sayang?, " Tanya ibu Ayu yang berjalan dari dalam.
Gladis melepas pelukan sahabatnya dan menghampiri ibunya.
"Para sahabat Gladis buk."
" Oh diajak masuk dulu temannya, nanti ngobrol didalam saja. Mari masuk jeng Selina, jeng Kirana. "
Ibu Ayu memeluk para ibu sahabat putrinya.
"Jeng Ayu yang tabah ya, " Ucap Selina.
"Semua sudah atas kehendak Tuhan jeng, sabar ya jeng, " Sambung Kirana.
"Iya jeng, terimakasih sudah mau singgah ke rumah jelek saya, mari masuk. "
" Gak apa jeng, masih mending ini jeng masih bisa dibilang rumah, kalau punya saya bukan rumah lagi jeng tapi gubuk, "ujar Kirana.
" Jeng Kirana bisa aja, yang penting bisa buat berteduh jeng,iya kan jeng Selina."
"Iya jeng. "
Selina mengangguk dan tersenyum.
Papi Maya tak ingin mendengar perbincangan para perempuan jadi dia memilih tidak ikut masuk kedalam dan duduk diteras.
"Mi, papi duduk diluar saja ya, " Izinnya memberitahu istrinya.
"Loh papi, gak apa diluar sendiri? "
"Ya sudah itu terserah papi aja. "
" Nanti biar saya antar kopi ma cemilan pak, "ucap Ayu.
" Gak usah, gak usah repot-repot kita kesini mau belasungkawa, bukannya mau arisan jeng, "ujar Selina.
"Gak apa jeng, lagian ini kan kalian bertamu jeng, sebagai tuan rumah kan harus menghargainya jeng, duduk dulu jeng, " Jawab Ayu dengan senyum.
Sedangkan empat sahabat sedang berada didalam kamar Gladis, mereka menghibur Gladis yang masih menangis.
"Gladis yang sabar ya, pasti ayah lo sudah tenang disurga sana, " Ucap maya mengusap punggung Gladis.
"Gladis sudah nangisnya, gak kasihan apa lo ma bokap lo, lo tangisin mulu, " Ujar Laura yang mendapatkan tatapan melotot Launa.
Laura hanya memutar bola matanya malas,sedangkan Launa geleng-geleng kepala melihat saudarinya itu ngomong pedas tidak tahu tempat. Untung semua sahabatnya sudah mengenali sifat Laura jadi tidak ada yang mempermasalahkannya.
"Gladis semua yang ada didunia ini pasti akan kembali pada pemiliknya, jadi kita harus bisa iklhas menerima ketetapan yang sudah digariskan oleh-Nya, " Ucap Launa sambil memeluk tubuh Gladis.
"Doakan selalu ayah lo ya, jadikan dia bangga memiliki anak seperti lo, " Bisik Launa didekat telinganya Gladis.
Gladis mengangguk dan menghapus air matanya, "terimakasih ya kalian semua adalah sahabat terbaik gue, " Ucap Gladis merentangkan tangannya.
Mereka kini berpelukan teletubies sahabat kembali. Setelah acara peluk-pelukan selesai kini mereka berbincang-bincang.
"Gladis, jadinya lo kuliah dimana?, " Tanya Maya.
"Mungkin aku mau cari kampus yang murah aja Mau, gue juga mau bantu ibu jualan buburnya, " Ucap Gladis dengan raut wajah sedih.
"Yah kita gak bareng lagi dong, kok cari yang murah dis, gak mau satu kampus sama kita, " Tanya Maya lagi karena dia tak rela berpisah dari sahabatnya.
__ADS_1
"Gue gak sanggup biayanya May. "
" Lha kan cuma bayar separo dis."
"Tetap saja masih mahal buat gue, apalagi ibu cari uang sendiri, aku gak mau bikin beban ibu bertambah, gak apa cari yang murah, kan sama-sama belajar."
Maya cemberut tapi juga tak bisa mengubah keputusan Gladis.
" Gak apa May gak satu kampus,tapi kita nanti masih bisa hang out bareng. " ucap Launa menghibur Maya.
Maya tersenyum dan mengangguk. " iya, kita tetap sahabat selamanya kan? "
" ya tetap dong, kita kan sudah janji sampai kita nikah, hubungan persahabatan kita tidak boleh putus. " jawab Gladis.
" Dan kita juga tidak boleh bertengkar hanya karena merebutkan satu laki-laki. " lanjut Launa.
" yup...
" hahaha...
Mereka tertawa bersama, Gladis sedikit melupakan kesedihannya setelah kedatangan par sahabatnya.
Hari semakin sore, kini mereka semua pamit untuk segera pulang.
Keluarga Maya mengantar pulang si kembar dan mamanya ke gang rumahnya, dimana tempat semula mereka menjemput tadi.
" Terima kasih pak Frans, jeng Selina, sudah memberikan tumpangan. " ucap Kirana membuka pintu mobil dan turun.
" Makasih May, " ucap Laura dingin tanpa ekpresi.
Launa canggung terhadap keluarga Maya atas sikap kakaknya.
" Om, tante, Maya, terimakasih banyak ya, maap tidak mengajak mampir. " ucap Launa ramah.
" Tidak apa Loun. " jawab Maya.
" Ya udah, aku turun duluan ya, hati-hati dijalan Om, tante. " ucap Launa menyusul turun Laura yang lebih dulu.
" Byee....
Maya melambaikan tangan seiring mobilnya berjalan. Launa membalas lambaian tangan sahabatnya.
" iih, kak Laura, bisa gak sih, senyum gitu. " protes Launa.
Laura hanya mengernyitkan dahi. " Emangnya kenapa Loun, muka aku dari lahir juga kek gini. "
" Yaelah, senyum dikit gitu, terus kalau ngomong agak lembut dikit, jangan datar mulu tu muka ma mulut. " ucap Launa berlari menyusul mama nya yang jalan lebih dulu.
Laura mematung, dia sendiri bingung dengan dirinya sendiri, apa yang salah dengan dirinya saja dia gak tahu.
" Launa aneh, aku disuruh kek gimana, aku emang kayak gini kan dari dulu. " gumamnya seorang diri lalu berjalan menyusul keduanya.
***
a
Laura, Launa, Maya dan Gladis.
__ADS_1