
Bab 35
Malam yang sunyi, seorang gadis cantik duduk di sebuah taman bunga sendirian.
" Kak, kenapa melamun disini? " Laura yang sedang duduk termenung dikursi taman bunga itupun terjingkat kaget.
" Ya ampun Loun, kau nganggetin saja. Kenapa malam-malam kamu keluar rumah? Ntar alergimu kambuh loh." Ucap Laura mengkhawatirkan keadaan saudara kembarnya. " Nih, pakai jaketku. " Sambungnya sambil melepaskan jaketnya dan dikenakan ke tubuh Launa.
" iishh, apaan sih kak? Ini, nanti kakak juga dingin. Aku kan sudah pakai baju tebal. Sudah hangat kok, kakak gak perlu khawatir. Ibu Fatimah sangat baik, beliau sudah membawaku ke dokter, fisikku sekarang sudah sedikit kuat kok. Kakak tenang aja. " Jawab Launa mengembalikan jaket saudarinya.
Laura menatap mata Launa dalam " Jadi kau sudah berobat ya? Ibu Fatimah baik sekali, dia janda tapi kenapa dia begitu banyak uang? Bahkan kita tidak pernah tau apa pekerjaan beliau? " Tanya Laura sambil mengambil jaketnya dari tangan Launa,lalu segera mengenakannya lagi dan kembali duduk dikursi sambil melihat ke atas langit.
" Aku tidak tau kak. Mungkin ibu mempunyai bisnis yang tidak kita ketahui." Jawab Launa.
Laura hanya mengangguk." Bintang itu sangat indah ya Loun." Ujar Laura tiba-tiba. Launa pun ikut duduk disamping kakaknya.
" Iya kak, yang satu itu terlihat terang ya? Jadi inget kata mama, kalau kita merindukan seseorang kita bisa lihat bintang yang paling terang cahayanya,pasti yang kita rindukan akan tersenyum pada kita melalui bintang itu." Jawab Launa sambil menunjuk salah satu bintang di atas langit itu.
" Hemm...! "
Launa menoleh ke arah saudaranya." Apa kakak sedang rindu sama mama? "
Seketika Laura pun menoleh dan menatap mata Launa."Apa kau tidak merindukan mama juga?"
" Jelas , setiap hari aku merindukan mama kak. Bahkan setiap malam aku selalu ingat pelukan mama. Beliau tetap nomer satu di hati Launa, tidak ada yang bisa menggantikannya."
Lalu Launa langsung memeluk tubuh saudaranya." Kak, maafkan aku ya, selalu menyusahkan kak Laura."
" Sudah, tidak usah bahas itu. Lebih baik kita lihat bintang bersama. Aku hanya rindu setiap malam kita selalu melihat bintang bersama mama. Sekarang kita hanya berdua, mama sudah menjadi bintang yang terang di atas sana. Pasti mama sudah bahagia, kita juga harus bahagia."
" Hmm.. Iya kak." Jawab Launa tersenyum.
Mereka berdua pun melihat bintang bersama. Sedangkan ibu Fatimah yang berdiri di teras melihat kedua putri angkatnya itupun hanya tersenyum, membiarkan mereka bercengkrama berdua.
Diam-diam ibu Fatimah sudah mengurus semua dokumen mereka berdua untuk menjadi anak angkatnya. Sekarang kedua remaja tersebut sudah resmi di adopsi oleh ibu Fatimah.
" Sepertinya orang yang sedang mengintai rumah ini beberapa hari ini sudah tidak ada. Aku lega membiarkan mereka diluar, se-enggaknya mereka aman. Takutku mereka adalah musuh dalam bisnisku." Gumam ibu Fatimah, lalu berlalu masuk ke rumah.
Laura yang merasa ada orang yang memperhatikannya itupun menoleh ke arah teras.
" Ada apa kak? " Tanya Launa bingung.
" Gak ada. Apa kamu merasa tadi ibu ada diteras Loun?"
Launa menyipitkan matanya, lalu menoleh ke arah teras." Mana? Gak ada ibu kak. Itu mungkin perasaan kakak aja deh."
Laura pun kembali melihat bintang." Eh Loun. " Panggilnya tiba-tiba. Dan Launa hanya berdehem. " Kamu kan tidur dikamar kak Anissa ya? " Laanjutnya.
" Iya, kenapa kak? "
" Emm, wajah kak Anissa secantik apa Loun? " Tanyanya.
" Gak tau sih kak, mungkin cantik banget. Ibu saja cantik gitu, soalnya semua foto kak Anissa dikamar itu tertutup. Cuma ada mata nya saja, tapi mata kak Anissa sangat indah kak."
" Benarkah? Bolehkah aku melihat?"
" Boleh dong kak, ayok ke kamar. Disana banyak banget buku-buku kak Anissa tentang agamanya. Ada juga kak buku kisah nabi. Aku suka baca buku itu setiap malam, tapi kalau kitab sucinya aku tidak mengerti. Karena penulisannya itu aneh, gak tau bacanya."
" Iya ya? Aku jadi semakin penasaran Loun."
Mereka berdua berjalan ber-iringan masuk ke dalam sambil berbincang. Sesampainya dikamar, Launa menunjukan semua koleksi buku dan album punya alm. Anissa putri kandung ibu Fatimah.
" Wah, benar katamu Loun. Mata kak Anissa sangat indah, pasti orangnya sangat cantik." Ujar Laura saat melihat-lihat album foto milik Anissa.
" Ini kak, buku kisah nabi. Bagus banget loh kak, coba deh kak Laura baca." Laura pun mengambil buku tebal yang diberikan oleh Launa.
Setelah baca halaman pertama Laura menutup kembali buku itu." Aku baca nanti saja, ini aku pinjam ke kamar aku ya nanti."
" Iya kak."
Laura pun berkeliling melihat-lihat koleksi semua buku milik Anissa.
__ADS_1
" Loun, apa semua baju kak Anissa masih ada? " Tanyanya.
" Ada kak. Tapi kata ibu sebagian sudah disumbangkan ke panti asuhan."
" Boleh lihat? "
" Ya bolehlah kak. Soalnya kemarin aku sudah ijin kok sama ibu."
Laura pun mengerutkan keningnya." Kemarin aku sudah mencoba nya kak. Karena aku beberapa hari lalu melihat orang yang pernah mau memperkosa ku dulu mengintai rumah ini kak. Jadi aku cerita sama ibu dan minta ijin ingin memakai pakaian kak Anissa, supaya wajah aku tidak ada yang mengenalinya kak."
Laura pun langsung meraih tubuh Launa dan di peluknya erat." Maafkan aku Loun. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
" Kakak sudah menjagaku dengan baik kok. Yang penting sekarang kita selalu bersama-sama."
Laura pun melepaskan pelukannya." Lalu kenapa gak jadi kamu pakai? "
" Apa kakak setuju jika aku menjadi mualaf? Aku akan masuk agama Islam kak. Seperti ibu, se-iman dengan ibu."
Laura tersenyum dan mengangguk." Aku juga ingin belajar agamanya ibu Fatimah kok."
" Hah? Kakak serius! " Laura pun mengangguk.
" Kalau begitu, ayo ke lemari yang itu. Disana banyak banget baju kak Anissa. Kita coba yuk kak."
_______
Sedangkan di pavilium Ryan dan Antony yang sedang bersantai di teras, ditemani dengan secangkir kopi dan pisang goreng.
Tapi diantara mereka tidak ada perbincangan sama sekali, hanya sesekali terdengar ponsel Ryan berbunyi.
Ting..!
[" Hai kak..! "]
Setelah membaca pesannya, Ryan meletakkan kembali ponselnya.
Ting..!
Ryan hanya mengerutkan keningnya ketika membaca pesan yang baru saja masuk.
Ting..!
[" Kak, maaf menganggu. Saya Nayla temannya Gladis. Maaf ya kak."]
Ryan menghela nafasnya pelan, dia pun kembali meletakan ponselnya.
Ting..!
[" Hey kaku, sombong bener lo. Chat gue kagak dibales."]
Ryan membulatkan matanya. " Ini orang bener-bener gak ada akhlak..! " Serunya.
Antony pun langsung menoleh ke arah Ryan." Hey brother, lo kenapa? Daritadi lihat ponsel kayak tertekan gitu."
" Dasar cewek sinting tadi pagi bener-beneer menyusahkan."
" Wuih, maksud lo adek manis?"
" Adek manis kepala lo peyang...! "
" Santai brother, maksud gue itu adek Gladis. Bolehlah bagi nomernya buat gue? "
Ryan memincingkan matanya menatap Antony, lalu menyodorkan ponselnya pada rekan kerjanya.
" Nih, buat lo semua."
" Wih, thanks brother." Dengan senyum sumringah Antony mencatat nomer Gladis. " Wah, lo juga di chat sama temennya. Sama ni gue juga, kok dia bisa dapet nomer kita ya?" Lanjutnya heran.
" Siapa lagi kalau bukan cewek rese itu yang kasih. Lo tau kan, dia itu pinter berbohong."
" Berbohong gimana? Lo asal ngomong ya."
__ADS_1
" Terserah lo, mau percaya atau kagak. Karena gur bisa lihat itu dari nada bicara dia. Lo pikir cewek sudah gede baru mau punya adek? Ah, dia cuma alasan doang."
" Mau bohong atau tidak, yang penting dia cewek manis brow. Di ajak jalan kagak bikin malu, wkwkwkw.. "
Ryan hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan Antony.
" Hey, kalian lagi ngomongin apa sih? Serius amat." Tanya Angelina tiba-tiba. " Yang, besok ada waktu gak? Minta tolong ya, temenin aku ambil berkas dirumah utama."lanjutnya.
" Gue sibuk." Jawab Ryan datar.
Angelina memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Ryan. Dia terlihat kecewa, " Susah banget sih deketin dia." Ucapnya dalam hati.
" Ya sudah, besak sama gue aja gimana? " Ujar Antony.
" Ogah, siapa juga yang mau sama lo? " Jawaban sewot Angel bikin Antony memutar bola matanya. " Please dong Ryan, cuma sebentar kok. Ini kan semua perintah tuan Daniel juga." Mohon nya.
Antony yang mendengar rayuan Angel itupun menahan tawa, apalagi dia saat melihat Ryan tak merespon sama sekali.
" Udah lah Angel, kau tidak akan bisa mencairkan batu es nya. Rayuanmu tak mempan buat brother ku, mending sama gue. Mumpung gue nawarin nih ya." Ledek Antony.
Angelina menghentak-hentakan kakinya dilantai, lalu berlalu pergi dengan muka masam. Bahkan saat Angel pergi, Antony tertawa puas.
" Huh, awas aja kau Ryan. Suatu saat kau pasti akan mohon-mohon di kaki aku. Kau akan sadar bahwa aku yang paling bisa kau cintai." Gumamnya sambil berjalan menuju mansion nya.
Setelah mendapatkan nomer Gladis, Antony lebih sering berhubungan dengannya. Hari demi hari, minggu demi minggu pun mereka semakin dekat, apalagi setiap pagi Antony selalu mengantar Gladis ke kampus. Setiap malam minggu pun Antony selalu mengajak Gladis jalan, walaupun Gladis selalu membawa Nayla. Karena Gladis tak ingin berduaan dengan cowok.
" Sial, kenapa sih dia selalu bawa temannya itu. Kapan gue bisa nembak dia? Hah, sudahlah. Gladis bener-bener cewek penuh tantangan buat dapetin dia." Gumam Antony seorang diri dikamarnya.
Klik..!
Pintu kamarnya pun terbuka, Ryan pun masuk." Mau kemana lo? Dandan rapi."
" Ya mau kencan lah. Makanya brow, punya cewek biar bisa rasain jatuh cinta."
" Mata lo, cewek mulu. Lo mau kencan ma cewek rese itu ya? " Tanya Ryan.
Antony menatap tajam mata Ryan." Lo kepo ya? Hahaha..."
" Tinggal jawab goblok. Lo bikin gue merinding aja."
" Hahaha... Dia namanya Gladis brow,bukan cewek rese." Ucap Antony lalu duduk di samping Ryan, seperti ibu-ibu yang sedang ingin gibahin orang." Asal lo tau ya brow, Gladis itu wanita yang unik. Di dapetinnya susah, malam ini gue harus bisa dapetin dia. Gue mau nembak dia brow." Lanjutnya.
" Mati dong! "
" Nyatakan cinta bego. Mati, emang gue mau nembak pake peluru apa. Ah, sudahlah gue sudah mau berangkat."
" Lo bakal jadian dong sama dia."
" Ya iya kalau dia ntar nerima cinta gue. Tapi gue yakin seratus persen kalau dia juga cinta sama gue."
" Semoga gak diterima."
" Eitz, lo bilang apaan tadi? "
" Gak bila apa-apa. Sudah sana lo pergi, gue mau tidur." Ucap Ryan merebahkan tubuhnya ditempat tidur.
" Loh, napa lo tidur disini? Sana lah balik kamar lo." Protes Antony.
" Udah, gue disini aja. Gue mau nungguin lo pulang, biar bisa denger cerita lo ditolak cintanya." Ujar Ryan memejamkan mata.
" Terserah lo dah, yang jelas Gladis bakal terima cinta gue." Jawab Antony menutup pintu.
****
Ryan
Antony
__ADS_1