
Dua bulan kemudian.
Sudah dua minggu ini Kirana kembali menjual kue, karena dia sudah merasa pulih.
Dan disekolah kini Laura, Launa, Gladis dan Maya sedang ikut bergabung dikerumunan mading untuk melihat pengumuman kelulusan sekolah.
"Minggir,, minggir dong, kasih jalan, gue mau lihat juga, " Maya mendesakan tubuhnya untuk menerobos segerombol tubuh para siswa lainnya.
Setelah sampai mading Maya membaca dari bawah ke atas dan pada saat menemukan namanya dia bersorak bahagia.
"Horee..., gue lulus..
" Laura, wihh... Lo tertinggi ini, hebat lo, "ucap Gladis menepuk pundak Laura pelan.
" Hem.., Laura hanya menanggapi dengan senyum tipis.
"Kak, kau hebat, pasti mama bangga sama kak Laura, " Kata Launa bahagia.
"Lo juga hebat Loun, lihat lo juga diperingkat dua loh, kalian memang murid berprestasi. Gue sama Maya mah sudah masuk tiga puluh besar saja sudah bangga ini, yang penting lulus, hehehe..
" Yang penting jangan lupa selalu bersyukur dis, dan harus selalu bangga dengan hasil usaha sendiri, "ucap Launa dibalas anggukan kepala oleh Gladis.
" Eh.., kalian pada mau nerusin kuliah kemana nih?, sela Maya.
"Gue ma Laura belom tau..
" Kalian mah pasti dapat beasiswa murid berprestasi. Jadi kalian tenang saja, kalau gue kan otaknya kurang encer gak kayak lo pada, jadi belom tau mau lanjut kuliah apa gak, soalnya biaya nya itu, kalian kan tau hidup orang tua gue pas-pasan.
"Sabar dis, semua harus selalu disyukuri, kamu kan udah lihat sendiri hidup gue dan Laura juga serba kekurangan.
" Tapi Loun, setidaknya otak kalian encer, jadi bisa dapetin beasiswa.
Laura yang diam saja tak berpendapat itu tiba tiba merengkuh tubuh Gladis dan di peluknya,Laura menyadari kesedihan gladis. seketika Maya dan Launa juga ikut memeluk tubuh Gladis.
"Kalian semua sahabat gue yang terbaik, " Kata Gladis.
.
.
.
.
.
.
.
Sampai rumah.
Launa dengan hati gembira ingin menyampaikan berita kelulusannya pada sang mama, dia begitu antusias berlari meninggalkan Laura yang masih berjalan santai dibelakangnya.
" Mah.., Launa pulang, "teriak Launa dan mencium punggung tangan mamanya yang sedang duduk diteras membungkus kue.
Kirana tersenyum melihat putrinya pulang dari sekolah, "putri mama sudah pulang, loh mana Laura.?
" Itu masih dibelakang.
__ADS_1
"Mah.., sapa Laura sambil menyalami punggung tangan Kirana,
" Kalian mandi dan ganti baju dulu, habis itu makan ya, sudah sore.
"Siap mah...
Laura masih belom beranjak,sedangkan Launa sudah menuju ke sumber belakang rumah untuk mandi.
"Mah...
"Ada apa Laura..
" Mamah keliling jualan lagi ya, "tanya Laura yang mendapatkan anggukan kepala dari Kirana.
Kirana hanya tersenyum mendengar protesan salah satu putri kembarnya," Mah aku gak mau mama kecapekan..
" Mamah jualan kan buat beli makan sayang, mama gak mau putri mama setiap hari harus makan ubi rebus, walaupun ubinya hasil tanam sendiri, "canda Kirana.
" Tapi mah..
"Sudah sana bersih-beraih badan dulu, mama masak sambal terasi ma tempe tahu goreng loh..
" Iya mah..!, mata Laura berbinar hanya mendengar lauk seadanya, karena mereka selama ini hanya makan ubi rebus, kadang juga puasa.
Untung dibelakang rumah mereka terdapat sumberan air, sehingga mereka tak susah cari air, dan ada sedikit tanah kosong untuk mereka tanamin ubi dan sayuran.
Malam ini Launa dan Laura sangat senang karena ada nasi dihadapan mereka,
"Wah..,mah, masak enak nih, " Ucap Launa.
"Iya sayang, ayok makan, kalian makan yang banyak ya..
" Makan saja jangan banyak bicara, "tegur Laura.
Setelah selesai makan, Kirana mengajak kedua putrinya membawa tikar ke halaman rumah yang ditumbuhi rumput itu, merekaa menggelar tikar , duduk sambil melihat bintang diangkasa.
" Mamah ingin tahu, kenapa dari kalian belum menyampaikan kabar bahagia buat mama hari ini, "ucap Kirana memandang putrinya satu persatu.
" Oh iya, mah kita lulus SMA, bahkan kita dapat beasiswa masuk kuliah di Universitas mahal loh, "ujar Launa dengan mata binar bahagia.
" Syukurlah, putri mama semua sungguh pintar, "ucap kira sambil memeluk keduanya.
" Mah, Laura mungkin ingin bantu mama jualan kue saja, biar Launa yang kuliah, "ucap Laura yang seketika mendapatkan tatapan oleh ibunya.
" Gak, kalian berdua harus kuliah, raihlah cita cita kalian, mama merestui, mama masih kuat jualan sendirian kok, sekarang ada beberapa toko yang mama titipin kue, "ujar Kirana menolak keinginan Laura.
" Uhuk.., uhuk..., uhuk...,
"Launa, masuk kedalam nak, pasti kamu kedinginan, " Kirana panik melihat Launa batuk.
" Gak apa mah, Launa baik baik saja kok, uhuk.., uhuk.., uhuk...
"Tuh nanti kumat lagi alergimu, ayo kita masuk lagi.
" Tapi aku ingin melihat bintang yang indah itu kak.
"Besok lagi masih bisa, ayo Launa berdiri..
" Iya sayang, nanti kalau kamu sakit, mama sedih ini, masuk ya sayang, "ucap Kirana menghawatirkan keadaan Launa.
__ADS_1
"Baiklah.., tapi kak Laura janji ya juga kuliah bareng aku.
" Iya, aku janji ikut kuliah.
"Beneran kak.
" Hem...
****
Disekolah
"Hai Loun, ra.., ini kebaya buat lo pada,kan besok kita wisuda, " Ucap Maya sambil memberikan dua kantong kresek pada sahabat kembarnya itu.
"May, terimakasih ya, lo sahabat gue yang selalu memberikan apa yang kita butuhkan, " Ucap Launa terharu.
Karena hanya Maya sahabat mereka yang paling mampu, jadi Maya tak pernah melupakan ketiga sahabatnya jika beli sesuatu yang dirasa dibutuhkan Maya akan membelikan juga ketiga sahabatnya itu.
"Ya kan berbagi itu indah, oh ya.., ini buat mama lo tapi maaf gak baru, bekas mami gue.
" Ya ampun may, kamu baik banget, terimakasih loh may"ujar Launa.
"Iya kan biar tante ikutan juga saat kalian wisuda, aku berpikir pasti tante butuh itu jadi mami kasih deh, walaupun cuma bekas, gak apa ya Loun, ra..
" Gak apa lah may, itu saja gue sudah berterimakasih banget ma lo, "ucap Launa.
" Oh ya,Gladis mana ya kok belom nonggol batang hidungnya, "tanya Maya
" Itu dia.. , tunjuk Laura.
"Panjang umur tu anak di omongin langsung dateng, " Ucap Launa.
"Kenapa, muka lo ditekuk gitu, nih kebaya buat besok, " Kata Maya.
"Kebaya gue beli tahun lalu masih bisa dipakai kok may, " Tolak Gladis.
"Kita berempat seragaman dis, masak lo gak mau aku sudah capek lo pilih nya, " Rajuk Maya.
"Iya.., sini. Makasih ya may..
" Gitu dong.
"Napa lo, muka kayak aspal kepanasan gitu..
" Lo emang teman laknat ra, ngomong jangan pedes napa?, gue lagi sedih orang tua gue gak sanggup biayain kuliah gue.
"Sabar dis, nanti gue coba bicara ma bokap gue, mungkin bisa bantu lo, " Ucap Maya menenangkan kesedihan Gladis.
"Jangan may..
" Ya gak apa, kita kan bisa kumpul bareng lagi..
"Iya dis, kita kuliah bareng bareng lagi.
" Terimakasih ya, kalian selalu mendukungku..
Mereka semua berpelukan teletubies.
****
__ADS_1