
Bab 23
Launa berlari menembus kegelapan malam, tanpa arah tujuan dia terus berlari tanpa peduli jika Laura mengejarnya. Hatinya terlanjur kecewa kepada saudarinya itu.
Brruukkk...
" Ah... Maaf! " Launa tak sengaja menabrak seseorang ditengah jalan yang sepi.
Saat mendongak Launa terkejut melihat empat orang pria yang terlihat menyeramkan, mereka tersenyum menyeringai menatap Launa.
" Wuih, gadis cantik brow. "
" Don, sikat dan jangan lupa bagi2 sama kita ya. "
Launa hanya diam lalu memberaniksn diri bicara.
" Maaf, saya tadi tidak sengaja, kalau begitu saya permisi. "
Baru maju satu langkah tangan Launa dicekal oleh pria yang berada didepan.
" Mau kemana cantik? "
" Hahaha...
" Temani kita- kita donk cantik, iya gak guys? "
" Yoi..., hahaha...
Launa menggeleng dan bergidik ngeri melihat mereka seakan-akan ingin menerkamnya.
" Maaf, saya harus segera pergi, permisi..! "
" Heh, kau tidak pergi sebelum kau menyenangkan kita. "
" Saya tidak punya apa-apa, maaf saya tidak punya uang, aku mohon biarkan aku pergi. "
Launa berusaha menarik tangannya yang digenggam erat oleh pria itu.
" Sudah sayang, menurut saja, kita akan bersenang-senang, aku akan membuatmu ketagihan dan memintanya lagi. "
Launa menggeleng, rasanya dia ingin segera pergi dari orang-orang ini.
" Lepaskan ,aku ingin pergi! "
" Hahaaha.....
" Ini jatahku yang pertama, setelah itu sisanya kalian, oke. "
" Siap don. "
" Aku mohon lepaskan aku! " Launa memohon, tapi semuanya tak bergembing. Mereka hanya menyaksikan Launa yang ditarik paksa oleh teman mereka yang bernama Doni.
" Gak, lepaskan aku, aku gak mau, lepas. "
Laura memberontak ketika dia diseret menuju semak-semak.
" Diam sayang, kita hanya akan ***-*** kok. "
" Lepas! "
Duuukkk...
Launa berusaha menendang kaki Doni.
__ADS_1
" Aarggh..., sialan kau. "
Doni berhasil menjambak rambut Launa dan
Plaakkk....
Tamparan keras mendarat dipipi mulus Launa, dengan berlinang air mata Launa meraba pipinya yang terasa panas itu.
" Itu jika beraninya kau menendang ku, ayo ikut aku, akan aku kasih kau pelajaran. "
" Gak mau, lepas! Lepaskan aku! "
Doni tak memperdulikan rengekan Launa, sedangkan ketiga temannya hanya menyaksikan dengan tertawa bahagia melihat mangsanya ditindas oleh Doni.
Doni adalah raja tega, ketua preman pasar yang begitu ditakuti,siapa yang tidak mau menuruti kemaunnya, nyawa mereka akan melayang.
" Tolong..., too...
Plakk...
Belum sempat Launa berteriak, Doni sudah menampar nya kembali.
Launa semakin terisak, tubuhnya bergetar karena takut. Dia benar-benar menyesal tadi sudah meninggalkan taman.
" Aww, aduh sakit! "
Rambut Launa dijambak begitu kuat oleh Doni, dan menyeretnya tanpa peduli Launa yang merengek meminta ampun.
"Tolong, lepaskan aku, ini sakit."
" Jika kau menurut, aku akan melepaskanmu. "
Launa yang sudah tidak tahan menahan rasa sakit dikepalanya, dia mengangguk.
Tangan Doni terlepas dari rambut Launa. Dia membantu Launa berdiri.
" Ayo, cepat kita ke sana dan puaskan aku. "
" Hah? Ma-maaf bang, aku gak bisa. "
" Apa kau bilang, hah? "
Rambut Launa kini menjadi sasaran kembali oleh Doni, dia menjambak rambut Launa dengan kuat hingga ada rambut yang ketarik.
" Awww.., sakit, tolong lepas. "
" Itu akibatnya kau membantah ku. "
" Ampun bang, biarkan aku pergi. " Launa bersujud dibawah kaki Doni.
" Hahahaa..., kau puaskan aku dulu, setelah itu kau boleh pergi. "
Launa menggeleng. Doni yang tidak sabar pun merobek baju Launa bagian lengan.
Launa beringsut mundur, dia benar-benar sudah ketakutan.
" Jangan, aku mohon! "
" Aku tidak peduli dengan rengekanmu itu, malam ini kau harus bisa memuaskanku.
Doni semakin mendekat, Launa yang sudah kehabisan tenaga karena memberontak berulang kali itu telah menguras tenaganya.
Laura yang mengejar Launa itupun kehilangan jejak, karena Laura tertinggal jauh dari saudarinya itu.
__ADS_1
" Ah, dimana kau Launa. "
Laura benar-benar bingung, panik, khawatir, sedih, semua perasaan campur aduk dihatinya.
" Launa..., Loun, Launa...
Laura terus berteriak sepanjang jalan. Karena tak kunjung ketemu dengan Launa, tubuh Laura lemas. Dia terduduk menghamtamkan kakinya diaspal jalan raya.
" Loun, maafin aku, kamu dimana, aku khawatir alergi kamu kambuh, aku akan jujur, aku akan menjelaskan semuanya pada mu Loun, balik lah kesini bersama ku Loun. "
Laura sampai menitikan air matanya karena tak kunjung menemukan saudari yang amat dia sayangi. Dia tak tahu harus meminta tolong pada siapa, dia hanya sebagang kata, jika menemui papahnya tidak mungkin langsung diterima.
" Cuih, ini semua karena ke-egois-an laki-laki yang membuang mama dan kami. Jika laki-laki itu tangung jawab pasti mama tak akan meninggal dan kami berdua tidak akan mendapatkan kesengsaran ini. "
Laura terus bergumam sendiri, saat mengingat papanya dihatinya pun penuh dendam.
" Ingat, suatu saat putrimu ini akan membawa kau pada ke-hancuran."
Mata Laura menatap tajam ke arah jalanan yang begitu sepi, amarah dan dendamnya pada papanya sudah tertanam dihatinya.
" Tunggulah diriku tuan Larry Vuitton, aku tidak akan membiarkan kau hidup bahagia diatas penderitaan kedua putrimu yang kau buang. "
Laura bangkit berdiri lalu kembali berlari mencari keberadaan Launa, dia harus segera menemukan Launa, karena fisik Launa yang sedari kecil sangat lemah itu yang membuat Laura begitu khawatir akan keadaannya.
" Semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan Loun, aku janji akan menemukanmu. "
Laura terus menyusuri jalanan sepi itu, berharap akan segera menemukan Launa.
Di dalam mobil, Daniel yang sedang menunggu Ryan dan dan Antony yang sedang mengganti ban mobil yang pecah itu sedikit bosen.
Dia sudah ingin segera sampai rumah, karena dia ingin menepati janjinya pada David bahwa hari ini akan pulang lebih awal, tapi nyatanya dunia tak berpihak padanya.
Daniel keluar dari mobil untuk melihat pekerjaan para asistennya.
" Apa belum selesai juga, hah? "
" Maaf tuan, ini tinggal satu ban lagi. " jawab Antony menunduk.
" Cepat, aku tidak ada waktu lagi, cuih.. sialan , siapa yang berani menaruh paku di tengah jalan begini. "
" Mungkin begal tuan, jalanan ini cukup sepi, jadi begal mempunyai kesempatan yang sangat bagusbagus untuk memangsa mangsanya. "
Daniel mengangguk membenarkan yang Ryan katakan.
" Analisis mu begitu pandai Ryan, kau memang asisten ku yang cerdas dan tangguh, tapi siapa yang berani membegal si Daniel Oliver, apa mereka tak sayang pada nyawanya. "
" Tapi kemana semua begal itu, kita disini sudah hampir dua jam, kenapa tidak pada muncul. "
Daniel melihat sekeliling , sepi seperti kuburan tak ada siapa-siapa, selain jalanan yang sepi dan gelap. Hanya ada mereka bertiga dijalanan itu.
Jalanan yang begitu rawan begal, karena jalanan ini berada pepohonan yang menjulang tinggi dan lampu jalan pun gak begitu banyak, berjarak jauh, sehingga penerangan jalanan tidak sempurna.
" Mungkin mereka sudah takut tuan, jika harus membegal tuan, baru melihat wajah tuan saja mereka pasti sudah lari kocar-kacir. "
Ucapan Antony mendapatkan tatapan tajam oleh Daniel.
Antony menunduk, dia sadar telah berkata salah.
" Maaf tuan. "
" Cepat selesaikan saja tugas kau! "
Daniel kembali masuk ke dalam mobil dan mengambil ponselnya. Dia melihat gambar wanita cantik yng ada dilayar ponselnya dengan tersenyum.
__ADS_1
***