Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 12


__ADS_3

Setelah acara wisuda selesai dan pengumuman hanya tiga siswa berprestasi yang mendapatkan beasiswa untuk kuliah dikampus ternama termasuk nama Laura dan Launa yang mendapatkannya#, kini keempat sahabat itu berpoto bersama menggunakan ponsel Maya. Karena hanya ponsel Maya yang paling bagus yaitu ponsel apel yang sudah digigit.


"Pakai handphone lo may,kan handphone lo krowak, bagus tu kameranya, " Ucap Gladis.


Launa dan Laura terkekeh, mendengar gladis menyebutkan ponsel Maya krowak itu.


"Ya elah dis, ini handphone mahal loh, " Sanggah Maya keberatan.


"Iya.., iya may,maaf maksud gue handphone lo apel krowak,iPhone..iphone...,sudah jangan cemberut dong nanti cantiknya ilang loh, kita semua sudah cantik gini loh masa gak ada kenang-kenangannya apalagi udah seragam gini, Maya kan sohib gue paling baik, udah ya ngambeknya, " Bujuk Gladis.


"Iyakah dis, sekarang lo mengakui gue baik kan.


" Iya.., iya..


"Hem ya sudah ayo berpose.


Mereka ber-empat sedang asyik berpoto ria berbagai gaya, dari arah lain datang seorang pria gagah dan tampan menghampiri mereka.


" Hay girls, "sapanya melambaikan tangan.


"Tuh ,gebetan loh ra, " Gladis menyengol lengan Laura.


"Tak minat, " Ucap Laura ketus.


"Ganteng loh ra, " Provokasi gladis.


"Ambil aja buat lo," Laura menghibaskan tangannya.


Gladis mengerucut bibirnya, dia tak habis pikir dengan Laura, didekati sama pria macho plus tampan tapi tak melirik sama sekali.


"Hai David, hemm..., ada apa gerangan kesini?, " Tanya Maya penasaran.


"Hemm..., boleh ikut gabung berpoto, buat kenang-kenangan saja, " Jawab David sambil melirik Laura yang tampak acuh padanya, tapi sikap Laura yang cuek itu membuat David semakin tertantang ingin meluluhkan hatinya.


"Boleh dong, kapan lagi ini poto bareng sama cowok tampan sepertimu, " Ucap Maya antusias.


"Hais lo tu may, lebay..!, " Ujar gladis. Lo mau deketin Laura ya, semangat ya..,hancurin itu batu karang yang ada dihatinya, "ejek gladis pelan sambil jalan disamping David.


David tersenyum kikuk dan berjalan lalu berdiri disamping Laura,bahkan Laura tak bisa menghindarinya karna kini tubuhnya dihimpit Gladis dan Launa. Sedangkan Maya lari berdiri kedekat samping David yang lain, kini mereka berpoto bersama.


" Terimaksih girls sudah dibolehin, Hem.., selamat ya Launa dan Laura kalian memang sangat hebat, kalian memang pantas mendapatkan beasiswa itu, "ucap David tapi matanya masih terus memperhatikan Laura.


" Iya makasih ya vid ucapan selamatnya, "jawab Launa tersenyum.


" Makasih, sudah selesai kan, boleh pergi lo, "usir Laura yang membuat kedua mata semua sahabatnya melotot.


David hanya tersenyum, sudah biasa dia di usir oleh Laura, karena setiap ingin mendekatinya dia pasti kena usir duluan sebelum bicara sepatah kata pun.


Pernah waktu itu David hanya ingin menyapanya dan basa-basi dengannya tapi ditolak mentah-mentah oleh Laura.


"Laura..


" Tak penting kan, sana pergi.


"Gue cuma ma-.


Huft, David menghela nafas, Laura pergi begitu saja meninggalkannya mematung dihalaman sekolah, susah baginya untuk bisa mengobrol dengan Laura.


" Laura..., tunggu...


David berlari mengejar Laura hingga sampai di samping Laura, David terus mengoceh alih-alih supaya Laura menjawab tapi Laura diam seribu bahasa dan fokus terus berjalan menganggap David tidak ada.


"Laura, gue cuma pingin ngobrol ma lo, boleh kan kita berteman, maaf ya aku selalu menganggu lo, gue pingin deh bisa lebih dekat ma lo, " Cerocos David yang tak digubris Laura.


Laura berhenti seketika dan membuat David tersenyum, pikirnya Laura mau diajak mengobrol oleh dirinya.


"Sudah selesai kan, boleh pergi lo.

__ADS_1


David tergelak mendengar Laura mengusirnya.


" Awas lo ngikutin gue, "ucap Laura lantang sambil tangannya meninju diudara.


David geli sendiri mengingat dirinya yang terus berusaha bisa mengobrol dengan Laura tanpa rasa lelah dan putus asa. Akhirnya David kini pamit pergi meninggalkan ke-empat sahabat itu.


" Gila lo ra, cowok cool gitu lo usir, kapten basket loh, kayaknya dia suka deh ra ma lo, dari matanya itu mengisyaratkan cinta terdalam, "ucap Maya seperti ingin menyair bait setiap bait.


" Gundulmu, tau apa lo tentang cinta, "ucap Laura kesal.


Launa dan Gladis hanya terkekeh.


" Ya Tuhan ra, gue lihat kalau tatapan David itu beda ke lo tau, "terang Maya.


" Bodo, ambil buat lo ,kalau lo mau, "ucap Laura ketus.


" Beneran ra, "Maya tersenyum senang dan mendapatkan gelengan kepala Gladis dan Launa.


Sedangkan para ibu-ibu wali murid berbincang sendiri, Kirana pun juga berkumpul dengan mami maya dan ibu Gladis.


"Jeng seli, terimaksih loh ini kebaya nya, saya suka, " Ucap Kirana tersenyum.


"Iya jeng sama-sama, saya tadinya mau buang jeng, daripada mubazir eh si Maya bilang bisa buat mamahnya si kembar.


" Sayang jeng dibuang, ini masih bagus loh.


"Lah sudah gak muat jeng, ini badan tambah melar, hehehe...


Mereka bertiga tertawa bersama.


" Jeng seli , saya juga mau ini nimbrung baju jeng yang sudah tak muat, "ucap ayu ibu Gladis.


" Ya ampun jeng maaf, saya kira jeng ayu gak mau lo, barang bekas saya , kan gak enak ngasihnya juga.


"Barang bekas tapi masih layak pakai dan bagus ini jeng, sepertinya juga mahal ini harganya, " Ucap ayu lagi sambil memegang kain kebaya yang dipakai Kirana.


Begitulah Selina mami Maya dia tak pernah memamerkan apa yang dia punya, dia lebih suka memakai baju-baju yang sederhana walaupun harga baju itu mahal, tapi dia lebih suka yang gaya simpel tapi elegan.


Para emak-emak pun juga tak kalah heboh perbincangannya dengan para anak-anak. Bahkan mereka semua seperti berkelompok dengan geng masing-masing.


****


Hari sudah semakin sore, semua murid dan orang tuanya membubarkan diri masing-masing setelah penutupan acara.


Kini Gladis dan ibu Ayu, naik angkot pulang ke rumahnya sedangkan Maya pulang dengan mobil pribadi mamanya. Laura dan Launa berjalan kaki pulang bersama sang mama.


Kini Gladis dan ibunya turun di pinggir jalan, mereka berdua berjalan sebentar dan sampai dihalaman rumahnya. Saat Ayu ingin membuka kunci pintu rumahnya, terdengar suara ponsel Gladis berbunyi.


Gladis mengambil ponselnya dalam tas dan membaca kontak nomor tak diketahui dilayar ponselnya.


"Nomer tak dikenal buk, " Ucapnya berpandangan dengan Ayu.


"Coba diangkat siapa tau penting dia, " Kata Ayu.


Gladis langsung menggeser tombol hijau yang ada dilayar ponsel androidnya.


"Hallo.. "


"Benarkah ini nomor neng Gladis putri pak Bayu. "


"Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya? "


"Saya teman kerja pak Bayu neng, ibu neng Gladis ada? "


"Ada, kenapa mencari ibu saya, apa terjadi sesuatu dengan ayah saya?"


Ayu mematung penasaran dengan yang dibicarakan oleh Gladis, ada apa dengan suaminya, kenapa Gladis menyebut tentang ayahnya, seketika itu ayu langsung merebut ponsel dari tangan Gladis.

__ADS_1


"Hallo saya Ayu istri mas Bayu. Mas Bayu baik-baik saja kan."


"Mbak Ayu ya, maaf mbak Ayu suami mbak pak Bayu mengalami kecelakaan saat kerja, dia tertimba besi dari atas gedung mbak terkena kepalanya, kini pak Bayu dilarikan ke rumah sakit Medica. "


Ayu seketika badannya lemas dan perlahan runtuh kebawah jatuh pingsan.


"Ibuk..., " Teriak Gladis dan menyambar ponselnya yang jatuh.


"Aduh handphone nya mati lagi. Ibuk bangun buk, ada apa dengan ayah, "Gladis berusaha membangunkan ibunya.


Dia berlari kedalam rumah dan mencari minyak kayu putih dilaci lemari, setelah menemukannya gladis berlari keluar menghampiri ibunya yang masih tergeletak diteras. Dia dekatkan minyak kayu putih itu didepan hidung ibunya, dan perlahan Ayu membuka matanya.


"Gladis, ayah kamu, ayah kamu dis, hiks.. Hiks..


" Ibuk, ada apa dengan ayah, "perasaan Gladis menjadi tidak enak ketika melihat ibunya menangis.


"Ayah kamu kecelakaan.


" Apa...! Ayo buk kita ke rumah sakit sekarang.


Disepanjang perjalan menuju rumah sakit Ayu tak berhenti meneteskan air matanya, Gladis berusaha untuk tegar, dia selalu menghibur ibunya menyakinkan jika sang ayah akan baik-baik saja walaupun tak menutup kemungkinan perasaan Gladis pun sungguh amat sangat menghawatirkan keadaan sang ayah.


Setelah sampai dirumah sakit Ayu langsung berlari menuju dimana ruang ICU, suaminya berada. Tadi Gladis sempat mengaktifkan ponselnya yang mati karena terjatuh dan disitu dia menerima pesan bahwa ayahnya dibawa ke ruang ICU.


"Mas Bayu..., " Teriak Ayu didepan pintu ruang ICU.


"Ibuk, tenang buk, " Gladis menenangkan ibunya supaya tak histeris.


"Mbak Ayu..


Ayu seketika menoleh ke arah sumber suara dan memincingkan mata kepada lelaki yang memanggilnya tadi.


" Iya, kamu siapa? Bos nya mas Bayu kah?


"Bukan mbak,saya Rosid teman kerja mas bayu, ini bos kita mbak, perkenalkan dia pak Rendy.


Rosid memperkenalkan diri dan sekalian memperkenalkan bos mereka.


" Maaf Bu Ayu, ini kelalaian kami tak mengecek ulang sehingga terjadi kecelakaan terhadap pak Bayu,ibu Ayu tak usah kwatir tentang biaya rumah sakit, semua akan ditanggung oleh perusahaan.


Ayu semakin sesegukan mengingat suaminya dia bahkan belum mengetahui bagaimana keadaan suaminya.


Dan saat semua nya diam tanpa ada suara sedikit pun hanya terdengar sesekali Ayu menyeka hidungnya karna tak berhenti menangis, tiba tiba dokter keluar.


Gladis dengan cepat menghampiri dokter yang menangani ayahnya, dan disusul oleh Ayu beserta Rosid dan Rendy.


"Bagaimana keadaan suami saya dok.


" Iya dok, ayah saya baik-baik saja kan dok.


"Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi benturan dikepala pak Bayu sangat parah, sehingga Tuhan berkehendak lain.


" Maksud dokter suami saya..


Dokter itu mengangguk dan Ayu luluh lemas menjatuhkan diri ke lantai.


"Ibuk..," Gladis belum tau yang dimaksud oleh dokter itu tentang ayahnya,dia terus berusaha mendirikan tubuh ibunya, tapi itu sia-sia, Ayu menangis histeris.


" Saya turut berduka cita, "ucapan dokter membuat Gladis syok menutup mulut, dan meneteskan air matanya.


" Innalillahi wainnailaihi rojiun.., "ucap Rosid.


" AYAH......, "Gladis berlari mendorong pintu dan masuk begitu saja, dia syok melihat jenazah ayahnya yang sudah ditutup oleh kain putih. Gladis mendekati jenazah ayahnya dan membuka kain diwajah ayahnya.


" Ayah jangan pergi, kenapa ayah ninggalin Gladis sama ibuk, ayah Gladis sudah lulus, Gladis ingin bilang jika Gladis dapat keringanan biaya kuliah setengah yah, Gladis berharap ayah bisa kuliahin Gladis, kenapa ayah ninggalin Gladis sebelum melihatku sukses yah, kenapa..


Gladis menangis sesegukan sambil memeluk jenazah ayahnya, dua suster yang sedang menangani jenazah Bayu kini ikut terharu sedih mendengar keluh kesah Gladis kepada ayahnya yang sudah tiada.

__ADS_1


****


__ADS_2