Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 30


__ADS_3

Laura seketika menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang duduk di kursi tamu. 


" David… ! " Seru nya. 


David pun menoleh dan tersenyum saat melihat Laura. 


" Hay Ra..! Apa kabar? " Tanya nya beranjak dari kursi dan menghampiri Laura yang sedang menganga ditempat. 


" B-baik..! " Jawab Laura gugup. 


Sedangkan Launa setelah meletakan minuman di meja dia ikut bergabung berdiri di dekat Laura. 


" Lah dia kak yang aku maksud tadi. " Laura memicingkan matanya sambil menatap wajah Launa. 


" Kenapa kau tidak ngomong dari tadi. " Ucap Laura lesu. 


" Ya maaf kak." Jawabnya merasa bersalah. " Ya sudah mending kita bicara sambil duduk aja. " Lanjutnya. 


Setelah mereka duduk dan Launa yang menawarkan minum pada David kini Laura memulai percakapan mereka. 


" Kenapa lo disini? " Tanya Laura ketus. 


" Kak..! Yang sopan. " Tegur Launa. 


Sedangkan David hanya senyum saja karena dia sudah terbiasa dengan sikap wanita yang bersemayam di hatinya itu. 


" Hem, gak apa Loun. Gue kesini nyari kalian, sudah nanya ke Maya tapi dia nggak tahu kalian ada dimana? Jadi gue minta bantuan paman gue nyari kalian. Akhirnya ketemu disini, oh ya..! semenjak daftar kuliah sampai sekarang kalian gak masuk gak pernah terlihat. Sebenarnya kalian pada kemana? Terus ini rumah siapa? Oh ya tante Kirana mana? " Tanya David. 


Laura dan Launa saling pandang mendengar semua pertanyaan David. 


" Sejak kapan lo peduli sama kita? " Ejek Laura. 


" Kak… ! " Teriak Launa geleng-geleng kepala. " Maaf ya Dav, kelakuan kak Laura memang gitu. " Ucap Launa tak enak hati. 


" Iya gak apa Loun, santai saja,sudah biasa kok. " Jawab David santai. 


Laura memutar bola matanya malas." Lo jangan bilang siapa-siapa kalau kita ada dimari. Ngerti kan lo? "


" Kakak…! " Launa melototi Laura." Kakak diem aja deh, ucapan kakak entar bikin sakit hati tau." Bisiknya. 


Laura pun akhirnya diam walaupun sebenarnya dia ingin sekali mengusir David. Dia tahu sebenarnya David sudah mengejarnya dari SMA tapi dia sudah menolaknya berulang kali tapi sayangnya David gak pernah menyerah. 


" Maaf ya Dav, maksud kak Laura baik kok. " David hanya mengangguk dan tersenyum. 


" Oh gini Dav, sebenarnya ini rumah ibu Fatimah kita numpang disini. " Lanjut Launa mencoba menjawab pertanyaan David tadi. 


David mengerutkan kening. " Ibu Fatimah? "


" Ah iya , lo gak kenal ya. Ceritanya panjang bagaimana kita bisa ada disini. Susah mau cerita yang jelas ibu Fatimah orangnya baik dan kita cuma numpang disini. " Jelas Launa. 

__ADS_1


" Terus kuliah kalian gimana? Kalian bisa di blacklist beasiswa nya jika tidak masuk berminggu-minggu. Kan sayang prestasi kalian. "


" Apa urusan lo, mau kita kuliah mau di blacklist emangnya lo peduli..! Bodoh..! " Laura tiba-tiba menyela nya. Launa hanya bisa menghela nafasnya. 


" Kak, gak boleh gitu ah. Sudah kakak makan ini aja cemilan bikinan ibu, enak kok. " Ucap Launa sambil menyodorkan toples berisi keripik ubi ungu bikinan ibu Fatimah.


 Sebenarnya cemilan itu buat tamunya tapi karena Launa bingung bikin saudaranya diem akhirnya hanya dengan cara itu dia bisa membuat mulut saudaranya berhenti bicara. 


" Apaan sih kau itu Loun?" Gerutu Laura mengambil toples keripiknya. 


David tersenyum, dia bukannya ilfeel sama Laura tapi malah semakin gemas melihatnya. 


" Ya Ampun dia lucu banget, marah-marah cuma dikasih cemilan langsung diem, andai dia mau jadi pacar aku, pasti aku beliin cemilan yang banyak. " Ucapnya dalam hati. 


" Aduh Dav maaf ya, kak Laura emang gitu. Tapi sebenarnya dia itu baik kok. Baik banget malahan." Ucap Launa. 


" Sudahlah kalian gak usah ngomongin gue. " Ujar Laura dengan mulut penuh mengunyah. 


" Lo makan dulu saja itu, baru bicara Ra. " Ucap David gemas. 


Laura memalingkan wajahnya dan makan keripiknya sambil menggerutu dalam hati. " Dasar cowok aneh. "


" David mungkin kalau soal kuliah kami sudah gak kuliah lagi, kami mau nyari kerja saja. " Ucap Launa yang membuat Laura berhenti mengunyah. 


" Gak, Loun kau harus kuliah, raih impianmu. Biar aku yang kerja." Jawab Laura sambil menatap mata Launa. 


" Sudah kak, lagian kita sudah gak mungkin diterima di kampus itu. Mending kita nyari uang bareng, iya kan? " Ucap Launa. 


" Gak usah. " Jawab mereka kompak. David terbengong. 


" Kenapa? "


" Gak usah Dav, kita gak mau ngerepotin lo. " Jawab Launa tak enak hati. 


" Gak apa-apa kok. "


" Eh lo, gue bilang gak usah ya gak usah, jangan maksa. " Ucap Laura. 


David menaikan bahu dan mengadahkan kedua tangannya ke atas. " Oke, baiklah. Gue gak akan ikut campur dan gak akan maksa kalian."


" Nah..! Dari tadi kek. " Gumam Laura yang masih bisa didengar yang lainnya. 


Launa hanya geleng-geleng kepala sedangkan David tersenyum mendengarnya. 


" Sepertinya David suka deh sama kak Laura, dari tadi lihatin kak Laura sambil senyum-senyum sendiri. " Ucap Launa dalam hati. 


" Hem, kalau gitu gue pulang dulu aja ya, jika kalian masih minat ingin kuliah, kalian bisa ngomong sama aku." Ujar David sambil beranjak berdiri. " Terus tante Kirana mana? Pasti beliau tinggal disini juga kan?" Sambungnya. 


Laura dan Launa seketika sedih teringat akan mama mereka. Sedangkan David bingung melihat raut wajah keduanya berubah sendu dan lesu. 

__ADS_1


" Ada apa? " Ujar David sambil melambaikan tangannya pada mereka. 


" Eh? Gak apa kok Dav. Aku panggilin ibu bentar ya jika kamu ingin pamit pulang. " Jawab Launa yang mendapat anggukan kepala oleh David. 


Kini diruang tamu tinggal Laura dan David berdua, mereka saling diam. 


" Emm… ! Ra, kamu gak kangen aku." Ucap David yang langsung mendapat tatapan tajam Laura. " Eh, maksudku bukan itu, kamu gak kangen sahabatmu? Maya sama Gladis maksud aku. " Lanjutnya cengengesan. 


" Sama mereka, ya kangen lah. Mereka sahabat gue selamanya. Napa lo tanya begitu? " Jawab Laura dingin. 


" Gak, cuma ingin tahu aja kok. "Ujar David. " Uh, galak banget untung cinta, untung juga gemesin." Batin David. 


" Oh… ! "


Saat mereka kembali diam dari arah dapur datang ibu Fatimah sama Launa. 


" Oh, ini teman kalian. " Tanya Ibu Fatimah. 


David mencium punggung tangan ibu Fatimah. " Saya David tante, teman sekolah si kembar. "


" Ya sudah kalau begitu saya permisi pulang dulu tante, sudah mau gelap. " Lanjutnya. 


" Loh, gak mau makan malam disini saja nak David ini. " 


" Ibu..! Gak usah ditawarin. " Ujar Laura berbisik. 


Ibu Fatimah mengerutkan keningnya. " Kenapa emang? "


" Ibu, biarkan David pulang. Dia juga punya keluarga, pasti semua keluarganya sedang menunggu dia untuk makan bersama juga. " Kata Launa. 


David yang mendengar penolakan si kembar itu pun dia hanya tersenyum. Sebenarnya dia mau makan bareng mereka disini. Lagian dia setiap hari selalu makan sendirian. Semenjak menjadi anak yatim piatu dia hanya mempunyai sang paman. Tapi sayangnya pamannya akhir- akhir ini selalu sibuk,pulang malam dan gak pernah ada waktu me time untuknya. 


" Gak usah tante, lain kali saja, terimakasih.Kalau begitu saya permisi pulang dulu tante. " Pamit David. 


" Oh iya, tante Kurangnya mana? Gue belum pamit nih sama nyokap lo Ra." Sambungnya yang membuat semuanya diam membisu. 


" Dav, maaf. Mama sudah meninggal. Dia sudah bahagia di atas sana." Jawab Launa. 


" Ya Tuhan, maafkan gue Loun. Gue gak tahu, maaf bikin kalian sedih." David merasa bersalah melihat raut wajah Laura yang berubah sedih. 


" Gak apa Dav, terimakasih ya. " Jawab Launa dengan senyum tipis. 


" Ya udah, gue balik dulu ya. Kalian hubungi gue jika butuh bantuan. Bye bye… ! "


Launa mengangguk sedangkan Laura hanya mencebikan bibirnya. 


" Mari tante. "


" Iya, Hati-hati dijalan nak. "

__ADS_1


Setelah mobil David tak terlihat kini ketiga wanita cantik itu pun masuk ke dalam rumah menyiapkan meja untuk makan malam mereka nanti. 


__ADS_2