Takdir Laura Dan Launa

Takdir Laura Dan Launa
Bab 24


__ADS_3

Sudah sekitar satu minggu Maya yang notebase nya sahabat baik si kembar, dia merasa khawatir dengan keadaan mereka, bahkan setelah pendaftaran kuliah mereka tidak masuk barang sehari pun. 


Maya sudah mencoba mencari dan menghubungi si kembar, tapi tak kunjung menemukan dan juga nomornya tidak aktif. 


Mata benar-benar khawatir dengan keadaan mereka karena saat dia ingin menjumpai mereka dirumahnya, yang ada dia hanya menemukan lahan kosong yang sudah menjadi persawahan. 


" Kenapa jadi seperti ini, kemana Laura, Launa dan tante Kirana? Mereka tinggal dimana sekarang? " Gumam Maya seorang diri. 


Dibenaknya penuh tanda tanya yang tidak bisa dia jawab sendiri. Akhirnya Maya meninggalkan tempat itu dan menghampiri sang sopir untuk segera melakukan mobilnya. 


" Kerumah Gladis ya pak. "


" Baik non. "


Tanpa ada drama apapun, mobil Maya melesat cepat menuju rumah Gladis, tidak ada sampai dua jam mobilnya sudah sampai didepan rumah minimalis dan asri, itu adalah rumah Gladis sahabatnya. 


Sejak beda kampus, mereka jarang bertemu, Gladis sibuk dengan dunianya, setelah kepergian ayahnya kini Gladis fokus pada kuliah dan membantu ibu Ayu mencari uang. 


Gladis mempunyai cita-cita ingin bekerja di kantoran yang memiliki gaji tinggi agar ibu Ayu tak perlu berjualan lagi, dan dia juga ingin mencari ibu kandungnya. 


Bukan berharap ingin diambil kembali Gladis hanya ingin menanyakan kenapa ibunya tega membuang dirinya waktu bayi dulu. 


Maya turun dari mobilnya dan bergegas berjalan menuju depan teras rumah Gladis. 


Tok tok tok! 


Krieett… 


Pintu terbuka dan munculah wanita paruh baya, yaitu ibu Ayu. 


" Eh, hallo tante! "


" Loh, bukannya kamu temannya Gladis, anak  jeng Serena kan ya? "


Maya tersenyum dan mengangguk. " Benar tante, Gladis nya ada tante? "


" Gladis? Ada, ayo masuk dulu nak. "


" Terimakasih tante. "


" Silahkan duduk dulu ya, sebentar tante ambil minum dulu sama tante panggil Gladis,sepertinya lagi mandi dia. " Ucap bu Ayu yang mendapat anggukan kepala oleh Maya. 


Maya masuk dan duduk di sofa ruang tamu, setelah itu bu Ayu keluar dari dapur dengan membawa sebuah nampan. 


" Ya ampun tante, gak usah repot-repot, May kesini cuma ada perlu sama Gladis sebentar saja kok. "


" Sudah gak apa, diminum tehnya dan dimakan juga itu kuenya, buatan Gladis sendiri itu. "


" Wah, Gladis yang bikin tante? Pinter juga tu anak masak. " Celoteh Maya mengambil sepotong kue bolu berwarna hijau daun itu. 


Belum sempat kue itu masuk ke mulut Maya, Gladis muncul dengan  gaya melingkarkan handuk di lehernya. 


" Ya jelas pintar masalah, lawong aku anaknya ibu! " Ucap Gladis percaya diri

__ADS_1


Maya memutar bola matanya malas, dia sudah begitu tahu betul tabiat sahabatnya yang satu ini. 


" Iya ya, tahu kok lo itu anakny bu Ayu, punya bakat deh soalnya masakannya mantul (mantap betul) , hehehe… "


Gladis duduk disebelah Maya, lalu juga mengambil kue buatannya sendiri dan dimasukan ke dalam mulutnya. 


" Ckckck.. Kau itu Dis, benar-benar rakus, " Ucap Maya yang mendapat kekehan bu Ayu. 


" Ibu ke kios duluan aja ya, Gladis temenin Maya dulu." Ucap Gladis dengan senyum. 


" Iya sayang, kalau gitu ibu berangkat ya, " Ibu Ayu keluar rumah meninggalkan Gladis dan Maya. 


Memang pagi ini ibu Ayu masih ingin berjualan walaupun kampus libur dia tetap ingin jualan karena banyak yang menanyakan kue jualannya. 


Kios ibu Ayu memang didepan kampus dimana Gladis kuliah,dan sekarang bukan hanya jualan bubur, kini mereka jualan kue juga, itu semua ide Gladis. 


Walaupun ibu Ayu sekarang menjadi janda tapi dia sangat bahagia masih memiliki Gladis di sampingnya untuk saat ini. 


" Eh May, ada apa lo kesini? "


" Yaelah Dis, gue kangen tau ma lo. " Ucap Maya sambil memeluk tubuh sahabatnya. 


" Ah Maya! Kangen ya kangen tapi ini lepas, gue bisa krempeng ini, lo peluk gue erat banget."


Maya melepaskan pelukannya dengan cekikikan. 


" Setan lo May, temen apaan lo tu, seneng banget ngerjain gue. "


" Hehe maaf! Oh iya gue kesini mau tanya sesuatu ma lo. "


" Lo lihat si kembar gak, Laura dan Launa sahabat kita, pernah main ke sini terus cerita sama lo apa gitu."


Gladis menaikan satu alisnya. " Lah lo tanya ke gue, lo tanya sama emaknya sana, mereka kagak pernah datang kesini selain dulu waktu melayat ma lo. "


" Hem, masalahnya gue kagak ketemu juga sama emaknya Dis. "


" Yuk, kita coba datengin ke rumahnya. "


" Gak bisa Dis. "


" Loh kenapa? "


" Aku tadi sudah ke sana, tapi rumahnya sudah gak ada. "


Seketika itu Gladis tertawa, " Pfff… haahahhaa… emang nya rumahnya dibawa bekicot. "


Pletak.. 


Maya menjitak kening Gladis, sahabatnya itu seketika mengusap keningnya karena sedikit terasa sakit jitakan Maya. 


" Aish May, itu kan jurus ku buat lo, kok lo copy buat gue sih. "


Maya cengengesan tanpa rasa bersalah, sedangkan Gladis mengerucutkan bibirnya pura-pura marah. 

__ADS_1


" Hehe, gantian dong! Lagian lo malah bercanda gue beneran ini, rumah mereka itu sudah rata sama tanah menjadi persawahan terus aku juga tidak menemukannya dimanapun. "


" Mereka kan satu kampus ama lo, emang kagak masuk apa? "


" Justru itu, mereka cuman masuk pas daftar aja, setelah itu tak pernah masuk kuliah lagi, gue khawatir sama mereka Dis. "


" Seriusan lo?! " 


Maya mengannguk. " Gimana Dis, ayo bantu gue cari mereka, takut terjadi apa-apa sama mereka Dis? "


" Terus mau cari kemana May? Kita kan tak ada petunjuk. "


" Kita keliling aja kota ini Dis, gimana? "


Pletaakk… 


" Aduh Dis, lo balas dendam ma gue, ganti menyentil kepala gue sih. "


" Lo itu, nyari keliling kota ini, gila lo. Mungkin mereka mengontrak dimana gitu May, jika mereka kangen sama kita terus mereka juga masih menganggap kita sahabat pasti mereka akan mencari kita May. "


" Tapi Dis.. 


" Sudah, mending ikut gue ke kios ibu yuk, nanti aku bikinin bubur ayam special buat lo. "


" Gratis ya Dis. "


" Iya, apa lo itu kaya tapi suka gratisan. "


" Hahaha, yang gratis itu enak loh Dis. "


" Ah, terserah lo dah, yuk berangkat. "


" Siap komandan, hehe… "


Akhirnya mereka pergi ke kios ibu Ayu, Maya mengajak Gladis bareng dia saja pakai mobilnya. Setelah sampai disana Maya tercengang melihat pemandangan di depan kios. Ternyata sangat ramai sekali orang berkunjung. 


" Ramai sekali Dis. "


" Iya, ayok keluar, pasti ibu sudah kuwalahan itu melayani pengunjung."


" Harusnya kau cari karyawan. "


" Eh, iya juga May, ide lo bagus juga, nyoba nanti aku tanya temen kampus kali saja ada yang butuh kerjaaan. "


" Yeh, kalau temen kampus sama aja gak bisa bantuin dari pagi. "


" Lha terus? "


" Cari yang ibu-ibu saja, tapi yang jujur. "


" Oke deh, nanti aku coba cari, ya udah ayok masuk. "


Kini mereka masuk kios dan Gladis membantu sang ibu terlebih dahulu, bahkan Maya juga ikut membantu jadi pelayan pengantar makanan. 

__ADS_1


Sebagai upahnya Maya kini sedang menikmati semangkok bubur ayam yang sangat enak dan segelas en teh manis. 


***


__ADS_2