
Bab 27
" Hay May! Tunggu! " Panggil David ketika melihat Maya sahabat Laura.
Maya yang sedang asyik bercengkrama sambil berjalan dengan teman kampusnya itupun menoleh ke arah David seketika.
" Iya, ada apa Vid? " Tanya Maya penasaran melihat David yang tergesa-gesa menghampiri nya.
" Emm, temen lo mana? "
Maya memincingkan matanya. " Temen? Lha, ini semua temen gue! " Ucap Maya sambil menunjuk ke semua temannya.
Semuanya melempar senyum ke arah David. Bahkan ada salah satu teman Maya yang mendekati David.
" Hai ganteng, kenalin,gue Rere temen sekelas Maya. " Ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangan.
David mundur satu langkah, dia sama sekali tidak menerima uluran tangan perempuan cantik yang bernama Rere tadi.
" Sorry, gue gak butuh kenalan. " Ucapnya acuh, bahkan sikapnya dingin dan memperlihatkan jika dia tidak tertarik sama sekali dengan Rere.
Seketika Rere mengerucutkan bibirnya dan berbalik badan, dia juga menyempatkan berbisik pelan ditelinga Maya.
" Temen lo, songong bener! " Maya hanya terkekeh mendengarnya.
" May, maksud gue, sahabat lo mana?" Tanya David kembali.
" Sahabat gue Gladis atau si kembar? Oh...tunggu, gue tahu, lo pasti mau tanya tentang Laura kan? "
David hanya tersenyum malu karena Maya mengetahui isi pikirannya.
" Aha, tebakan gue bener kan?" Goda Maya yang membuat David salah tingkah.
" Eheemm...! "David berdehem dan memperbaiki sikapnya agar terlihat cool kembali. " Maya, bisa kita bicara berdua saja." Lanjutnya.
Maya mengerutkan keningnya dan teman-temannya yang paham pun langsung pamit pergi.
" Eh May, kita duluan ke kelas ya! "
" Oh iya, oke, nanti gue nyusul. " Ujar Maya.
Setelah kepergian semua temannya Maya, David mengajak Maya duduk dikursi taman kampus.
" May, lo gak ada kelas? " Tanya David basa-basi.
" Gak ada, nanti jam sepuluh pagi, masih ada waktu untuk ngobrol. Sekarang lo to the point aja, mau tanya apa tentang Laura? " Jawab Maya tak ingin mengulur waktu.
" Emm,sahabat lo itu kemana, dari waktu pendaftaran sampai sekarang kok gak kelihatan? "
Maya termenung sebentar sebelum menjawab dia menghela nafas nya.
" Fiuh, gue juga kagak tahu Dav, Laura kemana? " David mengerutkan keningnya.
" Maksud lo? "
__ADS_1
" Gue sudah coba cari ke rumahnya Vid, tapi rumahnya sudah menjadi persawahan dan gue tidak tau , kemana perginya mereka, kemana tante Kirana membawa mereka. Bahkan mereka tidak pamit sama gue, nomer ponselnya pun sudah tidak aktif. " Jawab Maya sedih.
" Gue juga sudah tanya sama Gladis, tapi hasilnya nihil, Gladis tidak tau kemana perginya mereka. " Lanjut Maya, bahkan matanya berkaca-kaca saat mengingat kedua sahabatnya tanpa kabar.
" Maksud lo May, mereka hilang gitu!? " Tanya David kaget.
" Bukan hilang David, mereka gak ada kabar! "
" Lah, gak ada kabar itu sama saja hilang May, lo itu. Ya udah, mkasih May, gue pergi dulu. " Ucap David beranjak pergi.
" Eh, lo mau kemana? "
" Mau cari mereka lah May! "
" Kemana? "
" Kemana saja, yang penting bisa menemukan Laura. "
Maya beranjak berdiri dan menghampiri David lalu berkata. " Jangan lupa kasih tahu gue ya, jika sudah ketemu sama si kembar. "
" Baiklah. "
" Oke, semangat David. "
David tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Maya yang melambaikan tangan.
Setelah mengetahui kabar jika Laura sang pujaan hatinya hilang entah ke mana tiada kabar, David, dia dengan cepat segera mencarinya. Bahkan dia juga meminta bantuan pada pamannya agar segera ketemu. Karena David tahu anak buah pamannya sangat banyak, pasti bisa dengan cepat menemukan Laura.
Sedangkan diruangannya Daniel yang sedang serius memeriksa laporan berkas yang diberikan Angelina itupun dikagetkan dengan kedatangan Ryan seng ajudan tangguhnya.
Daniel mendongakan kepalanya dan menatap tajam ke arah Ryan.
" Eh, maaf tuan. " Ryan yang paham akan tatapan tuannya itu hanya menunduk.
Dia tahu kesalahannya masuk ke ruangan sang Presdir tapi tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Padahal dia tidak pernah ceroboh dalam segala hal, kali ini Ryan benar-benar bertindak gegabah hanya karena mendapat pesan dari tuan mudanya.
" Kau terlihat bodoh Ryan! Apa yang ingin kau sampaikan padaku? " Suara dingin Daniel membuat Ryan tak berani mendongakan kepalanya.
" Maafkan saya tuan! " Hanya kata maaf lah yang terucap dibibirnya.
Daniel menelisik wajah sang ajudannya. " Katakanlah, apa yang membuat kau gelisah? "
Mendengar suara tuannya melunak, Ryan memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap mata tuannya.
" Em, itu tuan. Maaf, tuan muda memberi kabar pada saya bahwa dia meminta bantuan untuk mencari seorang wanita yang hilang. "
Daniel mengerutkan keningnya. " Apa ada masalah untuk kau, Ryan? "
" Tidak tuan, tapi.... " Belum selesai Ryan menjelaskan Daniel sudah memotongnya.
" Ya sudah, tunggu apa lagi? Kau bantu cari, jika memang menurut David wanita itu teman ataupun orang yang penting untuknya, kau kerahkan semua anak buahmu untuk segera mencarinya. " Ucap Daniel kembali memeriksa berkasnya.
" Tapi tuan..
__ADS_1
" Sudah tidak usah tapi-tapi, kalau kau sudah punya gambar atau petunjuk teman David cepat saja kau mencarinya, karena kau masih punya tugas untuk mencari wanitaku. Satu lagi, jangan melapor apapun jik bukan tentang wanitaku! " Tegas Daniel.
Ryan benar-benar bingung menjelaskan pada tuannya, akhirnya dia hanya mengangguk mengiyakan.
" Baik tuan. "
" Sudahlah, pekerjaan ku masih banyak, lebih baik kau keluar dan pangil Angelina masuk, suruh dia memeriksa semua berkas ini. "
" Baik tuan, saya permisi. " Ryan melangkahkan kaki keluar ruangan CEO. Sampai diluar Ryan hanya menghela nafasnya.
" Napa lo? " Tanya Antony yang baru saja datang dari toilet.
" Bukan urusan kau! "
" Ajegile, galak amat lo. Kenapa emang sama tuan? "
" Mending kau jaga didepan pintu sini, aku mau pergi." Ucap Ryan berlalu pergi.
" Loh Ryan. Kau mau kemana? " Teriak Antony yang tak digubris oleh Ryan sama sekali.
Saat melewati lorongan perusahaan Ryan terus menatap kedepan dengan perasaan yang tak menentu.
" Huh, kenapa tuan tidak mau mendengar penjelasanku dulu, apa yang harus aku lakukan nanti, membawa ke tuan atau tuan muda? " Gumamnya seorang diri.
_____
Dirumah sederhana seorang wanita cantik sedang menyirami tanaman bunga yang sedang bermekar indah. Begitu banyak bermacam jenis bunga dan banyak juga macam bunga berwarna-warni. Membuat halaman rumah sederhana itu terlihat indah, sejuk dan asri.
" Masuk dulu nak, sarapan! "
Wanita cantik itu menoleh dan tersenyum kepada perempuan paruh baya yang memanggilnya.
" Baik bu, saya selesai kan dulu pekerjaannya, ini tinggal sedikit, hanya tinggal bunga mawar putih saja yang belum tersiram. " Jawab wanita itu lembut.
" Baiklah, segera lah sarapan, setelah itu bukankah kau ada urusan. "
Seketika wanita cantik itu terdiam ketika mendengar perkataan perempuan paruh baya itu.
" Iya bu, saya pasti akan segera pergi mencarinya."Jawab wanita cantik tadi dengan senyum manisnya.
Sedangkan ditaman kota, seorang wanita muda sedang tertidur dikursi taman. Iya dia adalah Laura. Laura yang baru membuka matanya karena terkena cahaya sinar matahari yang semakin meninggi pertanda hari semakin siang.
" Eengghhh..... " Laura melenguh saat dia merasakan wajahnya semakin panas terkena sinarnya sang surya.
" Aahh..., ternyata sudah siang. " Laura duduk seketika, kaget dan melihat sekeliling, sepi, hanya ada beberapa orang saja ditaman ini.
Laura menghela nafas. " Semalam Launa tidak kesini, kemana dia? Apa kembali ke kolong jembatan ya. Sudahlah mending aku kembali ke sana saja. "
Laura beranjak berdiri dan pada saat kakinya ingin melangkah pergi.Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilnya bahkan suara itu adalah suara seorang yang semalaman yang dia cari.
" Kakak....! "
Laura menoleh dan matanya berembun seketika, air bening itupun akhirnya lolos dan jatuh seketika saat Launa berlari dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
****