
Ryan dan Antony yang begitu serius menganti ban, karena mereka tidak ingin tuannya marah-marah ,hanya karena mereka tak becus mengganti ban mobil dengan cepat.
Mereka berdua sayup-sayup mendengar sebuah suara seseorang meminta tolong.
" An, kau dengar gak? "
" Apaan? ayo cepat selesaikan pekerjaan kita, jika tidak ingin kita dipecat. "
" Iya ya, ya sudah kau ambil ban cadangannya."
Antony berdiri dan menuju bagasi mobil untuk mengambil ban cadangan, tapi saat dia membuka bagasi kini dia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Ryan tadi.
" Tolong...! tolong..! "
" Aoww...! "
Antony bergegas menuju ke arah Ryan, tapi belum sempat dia bicara, Daniel yang keluar dari mobil tiba-tiba berlari.
" Tuan... mau kemana? " Ryan berteriak, dia tercengang meliht tuannya yang berlari ke arah kegelapan.
" Ryan, ayo kita kejar tuan Daniel. "
" Terus ini? "
" Lupakan itu, keselamatan tuan kita yang lebih utama. "
" Baik, ayo.. "
Mereka berdua mengejar tuannya yang sudah entah kemana. Ajudan dan asisten Daniel sangat peduli dengan keselamatan tuannya, mereka tidak ingin tuannya lecet sedikit pun.
Launa yang sudah tak tahan karena tubuhnya yang lemah penuh lebam itu sudah tak sanggup berteriak.
" Hahaha..., akhirnya kau nyerah juga sayang, daritadi kek pasrah begini, bukannya terus melawan ku. "
Doni tersenyum menyeringai sambil menepuk-nepuk pipi Launa pelan, pipi Launa benar-benar sudah lebam karena sudah berkali-kali Doni menampar nya.
Dengan penuh airmata Launa memohon kepada Doni supaya dia dilepaskan.
" Aku mohon lepaskan aku! "
" Kau kira aku bodoh, aku tidak akan melepaskanmu sebelum tubuh kau ini ku nikmati. " ucap Dony sambil membelai bahu Launa yang mulus bak susu itu.
Jiwa kelakian Doni pun sudah mengeras hanya dengan mengusap bahu Launa.
" Don, apa kau belum selesai, ini giliran kita. " Teman-teman Dony yang tak sabar juga menikmati tubuh Launa kini berteriak memprotes ketuanya gang tak kunjung bergantian. Mereka mau menerobos tapi mereka takut melawan ketuanya itu. hanya ingin menyelamatkan nyawa mereka masing-masing jadi mereka lebih baik menunggu sampai Dony selesai.
" Diam kalian! aku belum menyentuhnya sama sekali, lebih baik kalian berjaga saja. " Bentak Dony.
Ketiga temannya pun berjaga-jaga, mereka sebenarnya malas menjaga karena di sini wilayah mereka membegal , jadi tak mungkin ada orang yang berani mengusik kesenangan mereka.
" Ah, lepas, aku mohon lepas. " Dengan sekuat tenaga Launa mendorong kepala Dony yang sudah mulai menciumi bahu sampai di leher Launa.
" Hiks.. hiks... kak Laura selamatkan aku, Launa takut kak." dian Launa disela tangisnya.
__ADS_1
" Tuhan, tolong selamatkan aku. " ucap Launa dalam hati.
Duuukkk...!
" aarrgghhh.....! sialan, bedebah! " maki Dony, dia berusaha berdiri karena tubuhnya terpental cukup jauh saat menerima tendangan dari seseorang yang tidak dia ketahui.
" He, kau siapa? jangan ikut campur urusanku." ucap Dony tak terima.
" Apa kau ingin mati, cepat kau pergi sana, wanita itu urusanku. " lanjut Dony mengusir pria itu.
Pria itu menatap tajam ke arah Dony, tanpa mengatakan apapun dia melayangkan pukulan diwajah Dony.
Buukkk..!
" Aaarghhtt... , Dony mengerahkang kesakitan ketika pipinya terasa panas dan mulutnya mengeluarkan darah.
" Sialan beraninya kau memukulku! "
Pria itu tak bergeming, dia hanya mengisyaratkan dengan tangannya agar Dony segera maju, dia menerima tantangan Dony.
Dony tersulut emosi, dia berlari ingin membalas memukul wajah pria yang sok jagoan dimatanya itu,tapi sayang pukulannya selalu melesat karena pria itu cukup ahli menghindar.
" Ternyata kemampuan kau boleh juga, cuih jangan harap kau menang dariku, karena aku disini ketuanya. " sesumbar Dony hanya dibalas dengan senyuman meledek oleh pria misterius itu.
" Rasakan ini keparat! "
Dony ancang-ancang dan ingin melayangkan tendangan dan pukulan bertubi-tubi pada pria misterius itu.
wush wush wush! tapi sayang semua itu hanya sia-sia, karena semua jurusnya tidak dapat melukai kulit pria misterius itu satu senti pun.
Buukk!
Dony menyeka darah yang keluar dari hidungnya, sambil berusaha bangkit berdiri.
" Sialan! kuat sekali dia, aku harus minta bantuan. " Dony mencoba berteriak memanggil teman-temannya.
" Sapto, Reno, Soni...! bantuin gue!" tapi tak ada yang menyahut dan tak ada juga yang muncul membuat Dony frustasi.
" Aahh... sial, pada kemana mereka? gak tau apa gue terdesak gini? " gumam Dony sambil terus menatap ke arah musuhnya.
Pria misterius itu hanya tersenyum menyeringai. " Apa kau tak mampu melawan ku sendiri, hah? bahkan ketiga temanmu itu sudah mati, hahaha... "
" Brengsek! apa yang kau lakukan pada mereka hah? "
" Hanya membasmi hama masyrakat, ayo kau lawan lagi, beraninya cuma dengan perempuan! apa kau itu pengecut, hah? "
" Itu bukan urusan kau, emang siapa kau dengan perempuan tadi, jangan sok jadi pahlawan deh! "
" Siapa gue itu tak penting untukmu, lebih baik kau kumpulkan tenagamu itu untuk melawan ku sebelum kau mati ditanganku. "
" Sial, gue habisin lo, gue kagak takut sama lo. " Dony benar-benar menggebu, dia tidak terima ketiga temannya sudah dihabisi oleh pria sialan ini.
" Ayo maju.. " ucap pria misterius itu sambil mengisyaratkan dengan tangan supaya Dony segera menyerangnya.
__ADS_1
Mata Dony sudah memerah menahan gejolak amarah, emosi kini meluap dengan brutal dia menyerang pria misterius itu.
Bugh bagh bugh bagh bugh!
Baku hantam mereka berdua berlangsung sengit, karena Dony yang sedang esmosi meluapkan Amarahnya karena ketiga temannya itu mengeluarkan semua kekuatannya untuk melawan pria misterius itu.
Launa yang bersembunyi disemak-semak itu bergetar karena takut dan menahan perih, sakit diseluruh tubuhnya. Dia berharap pertarungan itu segera selesai agar dia bisa segera pergi dari tempat ini.
Pertarungan masih sengit, walaupun beberapa kali Dony tepar, itu tidak membuatnya patah semangat, yang dia pikirkan semoga bisa membalaskan dendam semua temannya.
Duk bugh bagh dukk buaakk..!
Pukulan terakhir akhirnya Dony terkapar tak berdaya tubuhnya jatuh diatas rerumputan pinggir jalan.
" Bedebah, apa yang kau mau? Aaargghhhhh.... "
Pria misterius itu menghampiri Dony yang terkapar lalu menginjak dada Dony kuat hingga Dony menjerit karena sakit dan sesak didada.
" Aargghhtt, apa mau kau, lepas brengsek! " Dengan sekuat tenaganya Dony berusaha melepaskan kaki pria itu dari dadanya.
Tapi semua hanya sia-sia, pria itu begitu kuat, bahkan Dony merasa sudah diambang kematiannya.
" Uhuk uhuk uhuk... lepas, aku menyerah! " Dony mengibarkan bendera kuning, dia sudah tak sanggup melawannya, dia tak mau mati konyol.
Walaupun dia terkena sebagai ketua preman dan raja rampok nyatanya dia menyadari bahwa kekuatannya tak seberapa dengan pria misterius ini.
Karena sudah menyerah,pria misterius itu membantu Dony berdiri dan memincingkan kaos nya.
" Kau tak akan mengulangi nya lagi! "
" Iya saya janji."
" Bagus! "
Puk puk puk!
Pria misterius itu menepuk bahu Dony, yang membuatnya gemetar ketakutan.
" Datang ke alamat ini, susul ketiga teman kau itu. "
" Maksudnya? mereka tidak..
" Iya, aku tidak akan semudah itu menghabisi seseorang, daripada kalian jadi sampah masyarakan lebih baik baik kalian bekerja dengan saya, jika kalian jujur dan setia sama saya, aku jamin hidup kalian akan sejahtera. "
Dony menerima alamat itu. " satu lagi, jika kau menginginkan perempuan kau harus membeli bukan memperkosa mengerti! "
" Baik tuan, terimakasih sudah mengampuni nyawa saya dan ketiga teman saya. "
" Sudah sana, cepat kau susul teman kau itu. "
" Baik tuan, saya permisi. " Doni berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan pria misterius, dia mengamati alamat rumah itu dan tertera nama "Daniel Oliver" .
Dony sekawan mereka akan menjadi salah satu anak buah Daniel dari sekian ribu anak buahnya yang lain.
__ADS_1
***