
Didepan pintu ruang operasi rumah sakit, dua gadis remaja menunggu dengan hati gelisah, berharap tindakan untuk sang mama mereka berjalan lancar tanpa ada kendala sesuatu apapun.
Launa yang begitu kentara melihatkan rasa kekwatirannya, dia mondar mandir seperti setrikaan didepan pintu operasi dengan wajah sedih, tegang, gelisah, berbeda dengan Laura yang duduk tenang dikursi tunggu, dia lebih bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini.
"Kak, kenapa sangat lama, apa dokter bakal berhasil?
" Loun, kamu duduklah dulu.
Launa menuruti kata Laura, dia duduk disebelah Laura.
"Tenanglah loun, kita berdoa semoga semua dipermudah Tuhan, mama baik baik saja..
" Amiinn kak, tapi aku takut terjadi apa apa dan dokter gagal, aku takut kak mama kenapa-napa.
"Hus.., kita harus berpikir positif, mama pasti baik baik saja.
Laura memeluk Launa dan mengusap rambutnya, agar Launa sedikit tenang.
Setelah tiga jam lamanya menunggu akhirnya dokter imam keluar dari ruang operasi,Laura dan Launa bergegas menghampiri nya.
"Bagaimana keadaan mama dok?," tanya Launa dengan nada sedikit panik.
"Operasinya lancar berjalan dengan baik, semua berkat doa kalian, mama kalian belum sadarkan diri karena obat bius.
" Syukurlah, terimakasih dok, apa kita sudah boleh menjenguk mama?, "tanya Laura.
" Boleh, tapi setelah mama kalian dipindah diruang perawatan ya, sekarang mama kamu belom sadarkan diri.
"Baik dok, terimakasih.
" Kak, mama..
"Hem..., mama baik baik saja.
*****
Sudah satu minggu Laura dan Launa tidak masuk sekolah, hari ini Kirana diminta oleh Laura untuk rawat jalan saja, Laura ingin merawat mama nya dirumah supaya mereka bisa bersekolah bergantian.
Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter Kirana yang sudah boleh dibawa pulang dengan syarat harus rajin untuk kontrol, Laura bersyukur keadaan mama nya semakin membaik.
"Boleh dirawat dirumah, keadaan bu Kirana juga sudah membaik tapi harus sering-sering untuk kontrol ya bu, " Ucap dokter imam.
Kirana mengangguk tersenyum, Laura dan Launa pun juga ikut tersenyum bahagia karena keadaan mama nya yang sudah baikan.
__ADS_1
"Tenang dok, nanti saya akan selalu ingatkan mama, kalau tak mau kontrol kemari nanti aku naikin delman dengan paksa, " Ucap Launa yang membuat semua orang diruangan rawat Kirana terkekeh.
"Sekali lagi terimakasih dok sudah menyembuhkan mama saya.
" Hemm.., jaga mama kamu ya, jangan sampai kecapean, oke..
"Siap pak dokter, " Laura memberi hormat kepada dokter imam yang selama ini menjadi dokter mama nya.
Dokter imam mengulum senyum dibibirnya dan mengacak rambut Laura pelan.
"Saya permisi bu Kirana, semoga lekas sembuh," pamit dokter imam.
Kirana tersenyum, "terimakasih dok..
Setelah kepergian dokter imam Laura dan Launa beberes barang mereka yang tidak banyak itu,setelahnya mereka keluar dari rumah sakit.
Sesampai dirumah Laura membaringkan mama nya dikasur yang biasa buat Kirana tidur selama ini.
" Mama istirahat dulu ya, aku bikinin bubur, "ucap Launa sambil menatap wajah mama nya yang masih sedikit pucat.
" Kalian tidak masuk sekolah, "ucapan Kirana membuat mereka berdua terdiam.
" Kenapa, padahal sudah mau lulus, sebentar lagi ujian kan, sayang loh beasiswa nya, kalau kalian rajin pasti kalian akan mendapatkan beasiswa sampai kuliah, itu kan impian kalian berdua, "ujar Kirana sambil menatap wajah sedih kedua putrinya.
"Loh..!, mama ditinggal sendirian juga gak apa. Mama sudah sehat sayang, kalian pergi sekolah bareng besok ya.
Kirana membelai memegang pipi Laura dan Launa bersamaan.
" Gak mah, Launa gak tega. Gak apa kok kak Laura dan Launa gantian masuk sekolahnya, karena aku tak mau mamah kenapa-kenapa kalau ditinggal sendirian,"ucap Launa yang mendapatkan anggukan kepala oleh Laura.
" Ya sudah terserah kalian bagaimana mengaturnya, maafkan mama ya, sekarang mama menjadi beban buat kalian berdua.
Akhirnya Kirana pasrah dengan keputusan kedua putrinya, tapi dia merasa gagal menjadi seorang ibu dengan keadaannya seperti ini, bahkan dia belom mengetahui uang darimana yang didapat oleh putrinya untuk biaya rumah sakitnya selama ini.
"Mama...," Peluk mereka berdua, mama adalah segalanya bagi kami jadi mama bukan beban buat kami, "sambung Launa.
" Terimakasih putri- putri mama yang cantik.
Kirana mengeratkan pelukan kepada kedua putrinya,dia bahkan tak ingin melihat kedua putrinya menangis,cukup sudah penderitaan mereka selama ini,kirana tak ingin berpisah dengan putri putrinya yang sudah dia besarkan dengan penuh cinta,kasih sayang sendirian tanpa sosok seorang suami.
****
Pagi ini Launa yang pergi ke sekolah setelah seminggu dia berlibur, dan Laura dirumah menjaga sang mama. Saat memasuki gerbang sekolah Launa melihat sahabatnya Gladis dan Maya, mereka melambaikan tangan pada Launa.
__ADS_1
"Pagi semuanya, " ucap Launa sambil memeluk mereka berdua.
Gladis dan Maya bisa membedakan saudara kembar itu dengan cara sikap mereka, karena Launa orangnya ceria dan hangat jika Laura orangnya males bicara dan cuek, mana mungkin Laura jika datang akan memeluk dan menyapa, pasti nyelonong begitu saja.
"Pagi Loun, mana Laura kok gak bareng lo, " Tanya maya.
"Laura jagain mama dirumah, mama baru pulang dari rumah sakit.
" What..? Nyokap lo sakit Loun, tega lo Loun gak kasih tau kita, "ucap Gladis marah.
" Iya Loun, kenapa lo ma Laura gak mau berbagi sedih sama kita sih, nanti gue jenguk nyokap lo, bareng ya sekalian main ke rumah lo, "ujar Maya yang membuat Launa kelabakan.
" Emmm..., jangan deh nanti kalian kena marah sama Laura, tau sendiri dia gak pernah ijinin kalian main kerumah kami.
"Kenapa sih Loun memangnya?, " Tanya Gladis.
" Rumah gue gak nyaman, maaf ya..
"Lah gak nyaman, ngadi ngadi lo Loun, gak nyaman masak masih kalian tempati, " Timpal Maya.
" Sudahlah gak usah bahas lagi, ayo masuk kelas, gue kangen banget sama kalian, "Launa berjalan sambil menggandeng tangan sahabatnya kanan kiri.
" Oh ya Loun, kok kalian gak bisa dihubungi, seminggu ini kami kwatir tau sama kalian, "ucap Gladis.
" He em Loun, emang ponselnya kemana?, "tanya Maya.
" Kata Laura ponselnya hilang waktu dia pinjam uu.... _
Launa langsung menutup mulutnya karna hampir keceplosan.
"Uu... _ , apa Loun?, udang,urang, atau ulang. " Oceh Maya yang mendapatkan toyoran dikepalanya.
"Duh.., Gladis kebiasaan deh, toyor lagi, toyor maneh, " Gerutu Maya.
"Lagian, udang ma urang itu sama tau," ucap Gladis gemas sama sahabatnya satu ini.
Tet.. Tet... Tet...
Bel masuk kelas sudah berbunyi kini ketiga sahabat itu masuk ke kelas masing masing, Launa pisah kelas dengan kelas Maya dan Gladis.
"Sudahlah lupakan saja, tuh bel sudah bunyi ,ayo masuk kelas ntar telat lagi, " Ajak Launa mengalihkan pembicaraan mereka.
"Oke...
__ADS_1
*****