
Bab 33
" Lo darimana saja, baru dateng? " Tanya Ryan ketika lihat Antony turun dari sepeda montor nya.
" Apa sih abangku yang ganteng. Pagi-pagi sudah jutek, cuma telat lima detik juga. " Ucap Antony merayu rekan kerjanya.
Ryan menatap tajam ke arah Antony. " Hehehe… iya telat sepuluh menit, maaf brother tadi dijalan ada sedikit kendala. " Ucap Antony cengegesan.
" Gue gak peduli..! Cepat naik ke mobil, jangan buat klien menunggu lama. " Ucap Ryan datar.
" Siap. " Ujar Antony sambil memberi hormat.
Karena tak ingin mendapat tatapan mematikan dari Ryan, dia ngacir begitu saja ke arah sepeda motornya dan diparkir di tempat biasa lalu segera menyusul rekannya naik ke mobil.
Di sepanjang perjalanan Antony mengoceh selalu tapi si kulkas Ryan tak menanggapinya sama sekali.
" Eh, lo tu ya, gue cerita kagak lo dengerin ya?" Protes Antony.
" Lo bisa diem gak? Gue sedang mempelajari buat meeting." Jawab Ryan tegas.
" Gue kan cuma mau cerita brother."
" Cerita apaan? Tentang cewek aneh menurut lo itu. Gak penting."
" Ya sudah kalau gak penting. Oh iya Yan, ngomong-ngomong kok lo sih yang mewakili meeting, emang tuan Daniel sama Angelina kemana?"
" Tuan Daniel sedang menghadiri rapat dengan rekan kerja dari luar negeri bersama Angelina. Makanya lo sama gue harus mewakili meeting ini. Tapi lo itu lelet, membuatku capek."
" Kan tadi sudah gue bilang, maaf gue telat karena cewek aneh itu."
" Gak usah banyak alasan. Di dunia ini gak ada cewek yang gak aneh."
" Kayak lo sudah mengerti tentang cewek saja brow, pacaran saja belum pernah." Ucap Antony pelan.
Seketika Ryan menutup berkas dan menatap ke arah Antony.
" Hehe, santai brother."
Setelah satu jam perjalanan mereka sudah sampai ke tujuan. Lalu mereka menuju ruang rapat dimana semua kliennya sudah menunggu lama.
Saat turun dari mobil kedua pemuda tampan itupun disambut sorakan para mahasiswi di kampus itu. Ryan yang orangnya kaku bak kulkas dua pintu itupun hanya diam dan terus berjalan dengan wibawa. Sedangkan Antony yang cengengesan itu seketika memanfaatkan kesempatan untuk tebar pesona ketampanannya.
" Aaaa… . Cogan ganteng..! "
" Ya Ampun, ganteng banget. Mau dong kenalan. "
" Hay ganteng, mau dong disapa..! "
Banyak banget cewek-cewek kampus yang mengagumi ketampanan dua pria itu.
" Hay manis..! " Sapa Antony sambil meraih tangan salah satu cewek.
" Aaaahhhhhh….! " Cewek itu berteriak histeris.
Sedangkan telinga Antony di jewer oleh Ryan. " Cepat, jangan tebar pesona. Tujuan kita disini meeting."
" Aduh, sakit brother. Kita meeting kan juga bisa sambil nyari cewek kan? "
" Itu mau lo. Apa lo mau dipecat sama tuan Daniel gara-gara kita tidak profesional."
" Ya jangan dong, nanti janda samping rumah mau pinjem uang ke mana? Kalau gue dipecat kagak punya uang Yan."
" Apa peduli gue."
Sedangkan cewek yang dipegang tangannya tadi pun sangat kegirangan sampai dia beberapa kali menciumi tangannya sendiri.
" Ya Ampun Mil. Ini tangan gue wangi sekali." Ucap Herra pada Milla temannya.
" Yah Her, lo bikin iri gue deh. Gue tadi juga mau dipegang cowok ganteng dan cool begitu."
" Ini rejeki gue Mil."
" Dasar norak. " Ucap mahasiswa laki-laki.
" Eh, sirik aja lo." Timpal Herra.
__ADS_1
Diruang rapat Ryan sedang menjelaskan bagaimana tuannya akan mengembangkan kampus itu. Dia akan menjadi donatur untuk kemajuan kampus, serta membuat orang yang tak mampu mendapatkan keringan biaya jika ingin melanjutkan pendidikan.
Rapat hanya berlangsung setengah jam, semua dosen menyetujui program yang dibuat oleh perusahaan Daniel. Setelah keluar dari ruang rapat Antony merengek pada Ryan meminta sarapan.
" Ayolah brother, gue laper nih. Tadi belum sarapan." Rengeknya.
" Menyusahkan saja."
" Ayolah. Masak lo tega mau gue, kali gue sakit kan lo gak ada lagi rekan kerja yang seimut gue."
Ryan memutar bola matanya jengah. " Terserah lo."
" Nah, gitu dong. Kita makan dulu kan? "
" Hem."
" Asyik, kita makan, ayo kita makan."
Ryan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan random rekan kerjanya ini.
Akhirnya mereka berdua menuju kantin, dan tidak lupa sang sopir pun juga mereka ajak untuk makan. Begitulah semua para pekerja Daniel, tidak membedakan status siapa yang lebih tinggi. Semua sama jadi jangan pernah melupakan teman yang penting selalu bekerja sama.
Sedangkan Gladis dan Nayla yang sedang taruhan itupun menunggu dengan was-was siapa orang pertama yang menginjakan kaki nya ke kantin.
Saat ada kaki yang menggunakan sepatu warna hitam melangkah masuk kantin, jantung Gladis serasa ingin keluar dari tempatnya bahkan suara detaknya rasanya tak beraturan.
Gladis dan Nayla melihat dari bawah ke atas, mereka tercengang melihat pria bak artis Korea yang masuk ke kantin. Bukan hanya satu tapi dua,eh salah tiga walaupun yang satu sedikit pas-pas-an gantengnya,tapi juga bisa dibilang ganteng lah.
Gladis membulatkan matanya tak percaya apalagi Nayla sampai ngeces itu air liur.
" Pangeran Dis, cogan Dis. Aku mau..! " Ucap Nayla.
" Iya Nayla, pangeran tak berkuda. Hah? " Seketika Gladis tersadar. " Heh, kok malah mikirin pangeran sih Nay. Lo itu lihatnya biasa saja dong." Ucap Gladis sambil meraup muka Nayla.
" Apaan sih lo Dis? Gue lagi lihat pemandangan indah ini."
" Bukan itu Nay, aduh, jantung gue mau copot nih. Masak gue harus rayu tu cowok ganteng. Tensi gue..!"
" Uhuy, berarti lo nyerah sebelum berperang. Asyik Gladis gagal, jadi lo harus traktir gue selama seminggu Dis." Ucap Nayla kegirangan.
" Ahh, kagak bisa. Gue bakalan menang, tapi gue harus rayu tu cowok beneran Nay."
" His, lo tu Nay, tega bener ma temen."
" Xixixixi… ! " Nayla malah cekikikan melihat Gladis beranjak menghampiri cogan yang masuk kampusnya.
Tapi tiba-tiba. " Lah Dis, ngapain lo balik lagi? "
" Duh Nay, tensi gue, itu cogan bukan mahasiswa deh kayaknya. Lihat itu pakaiannya formal gitu. Mereka pasti orang kantoran Nay."
" Aish Dis, gue kagak peduli ya, dia itu orang kantoran kek, mahasiswa kek yang penting kalau lo nyerah inget traktir gue selama seminggu. Di warung nyokap lo juga gak apa Dis."
" Ye, itumah mau lo Nay."
" Terus gimana? "
" Ya sudah deh gue maju, tapi kalau ditolak kan gue malu Nay."
" Aahhhh, cogan boleh kenalan gak? " Seketika Nayla dan Gladis menoleh ke arah dimana semua para mahasiswi cewek mengerubuni kedua pria itu.
" Ajegile, grecep amat padaan ya." Ujar Gladis membulatkan matanya.
" Lo kalah cepat Dis." Timpal Nayla.
" His, Nayla." Ucap Gladis sambil mencubir bibir Nayla.
" Cogan, gue minta nomer whatsapp nya dong! "
" Gue mau jadi cewek lo."
Begitulah para ciwi-ciwi berebut ingin mendapatkan perhatian dari dua pria tampan itu.
" Norak banget mereka, pada gak pernah lihat cowok ganteng apa? Kita-kita ini kan juga gak kalah ganteng. Iya gak brow? "
" Yoi." Segerombolan para mahasiswa yang melihat itupun hanya melihat para cewek dengan lesu.
__ADS_1
" Cukup..! Diam..! "
Seketika mereka diam, kaget mendengar gertakan salah satu cogan.
" Kalian semua bubar..! Gue mau makan. Gak guna sama sekali. Mau jadi sampah kalian hah? Belajar yang serius. Bukan hanya cowok yang ada di otak kalian semua itu!" Ucap pria itu tegas.
Semua para mahasiswi itupun menunduk mendengar perkataan pria itu.
" Hem, semuanya bubar dulu ya, temen gue yang satu ini memang gak suka keramain." Ujar cogan satunya.
Akhirnya semua cewek itupun membubarkan diri masing-masing.
" Gila Dis, cogan nya cool banget."
" Dasar lo Nay, itu bukan cool, tapi galak." Timpal Gladis. "Masak gue harus rayu dia sih, itu pria dingin gitu mana mempan sama gue yang muka pas-pas an." Pikirnya.
" Sudah sana, semua kan sudah bubar tu, giliran lo Dis, cepetan." Ucap Nayla sambil mendorong tubuh Gladis.
" Nanti dulu Dis, dia belum selesai makan. Entar malah kena semprot gue."
" Ah lo Dis, gak asyik ah. Berarti lo udah gagal ya."
" Bentar dong Nay, iya ini gue mulai." Dengan jantung berdebar tak karuan Gladis melangkah pelan menuju meja ketiga pria yang sedang menikmati makanan mereka.
Saat sudah dekat meja mereka Gladis membalikan badannya. Tapi disebrang sana Nayla memberi isyarat untuk Gladis maju terus pantang mundur.
Nayla menggerak-gerakan tangannya sedangkan Gladis melangkah mundur sambil geleng-geleng kepalanya. Tanpa disadari Gladis kesandung kaki meja yang ada didekat meja ketiga pria tadi.
Karena tubuhnya tidak seimbang, Gladis pun sempoyongan dan tubuhnya hampir terjatuh ke lantai.
" Aarrghhhhhh… . ! "
Puukkk.!
Bak bagai drama cinta Korea, tubuh Gladis segera ditangkap oleh salah satu pria tadi. Tubuh Gladis dibawah ditahan oleh tangan pria itu, sedangkan tangan satunya pria itu melingkarkan diatas perut gadis itu untuk menahan tubuhnya. Gladis membulatkan matanya menatap pria itu dari dekat. Bahkan pria itu juga kembali menatap Gladis.
Deg deg deg..!
" Aduh suara jantung gue, kedengeran gak ya?" Tanya Gladis dalam hati.
" Woi, brother gue memang top. Sudah tatap-tapannya nanti malah kesem-sem loh."
Seketika Gladis langsung bangun dan berdiri tegak,dia sedikit salah tingkah dan pria itu langsung melepaskan tangannya dari tubuh Gladis.
" Emm, terimakasih. " Ucap Gladis sambil membungkukkan badannya.
" Iya, kalau jalan itu lihat ke depan."
" Eh? Iya. Maaf. " Ucap Gladis.
Pria itu lalu duduk kembali ke tempat duduknya dan menyendok kembali sisa makanannya.
" Adik manis, kalau jalan hati-hati ya. Jangan jalan mundur jalan ke depan aja. Oke ! "
" I-iya kak." Jawab Gladis gugup.
" Habiskan cepat makananmu, kalau tidak segera gue tinggal lo disini sendirian."
" Aduh brother, jangan gitulah. Nih gue kembali makan."
" Hah? " Gladis kembali tercengang. " Duh, itu pria kaku gitu mana galak lagi, gimana gue bisa rayu dia. Napa sih yang masuk duluan harus si kulkas ini bukannya yang satunya. Sepertinya kan yang satunya orangnya enakan." Gerutu Gladis dalam hati.
" He, ngapain masih disini? " Tanya pria kulkas.
" Eh, gue mau minta tanda tangan lo. " Ucap Gladis kelepasan.
" Hah? " Pria satunya membulatkan matanya." Hahaha, widih brother, disini lo jadi artis nih, sampai diminta tanda tangan segala."
" Diem lo..! "
" Kalem brother."
" Gue bukan bintang , jadi gak perlu tanda tangan kan? "
" Pliss, tolong emak gue nyidam pengin tanda tangan cogan. Sama minta nomer. Emmm, nomer telpon anda." Mohon Gladis sambil menangkup kan kedua tangannya.
__ADS_1
" Byahh.. Hahaha … sekalinya ditaksir malah emak-emak. Kasian bener nasib lo brother." Dengan entengnya temannya menertawakannya.
Sedangkan pria tadi memincingkan matanya menatap Gladis.