
Laura berlari kencang menuju rumah, dia berlari tanpa peduli bahwa kakinya terluka terkena batu. Sampai jatuh bangun karena kesandung, yang dia harapkan hanya ingin segera sampai dirumahnya.
Bahkan semua orang yang lewat tak diperdulikan nya walaupun terkadang menyapanya. Laura tak ingin telat sedikit pun, tapi usahanya sia-sia saat dia sampai dirumah ternyata rumah itu sudah rata dengan tanah.
Sudah menjadi persawahan. " Tuhan, aku benar-benar telat, bagaimana ini? "
Laura menjambak rambutnya frustasi, dia berlari sekencang mungkin hanya untuk mengambil uang sisa hasil dia memberikan mahkotanya pada orang lain.
Selama ini dia menyimpannya karena dia persiapan untuk sewaktu-waktu jika ada kebutuhan mendesak. Seperti mama nya yang butuh secepatnya untuk berobat dan untuk membeli obat sang adik jika kumat dalam alerginya.
Laura adalah gadis yang harus dituntut menjadi dewasa sedari kecil.
" Uang itu, bagaimana aku bisa membawa mama ke rumah sakit jika uang itu sudah tidak ada. " Laura masih sedih dengan hilangnya uang itu.
" Apakah uang ku tertimbun tanah atau ada yang menemukannya ya? Aahhh.., aku! kepalaku benar-benar pusing, Tuhan kenapa kau memberiku kehidupan sesulit ini, kenapa… ? "
Laura berlari kembali, saat berlari dia merogoh kantong celananya dan dia menemukan ponsel pemberian Gladis. Laura berhenti dan melihat kearah samping dan ternyata ada toko konter HandPhone.
Laura berjalan menuju konter itu. " Permisi mas! "
" Iya neng, ada yang bisa aku bantu? "
" Eh? Mas, saya mau menawarkan ponsel ini, Kira-kira laku berapa ya? "
" Coba saya lihat dulu neng? "
Laura memberikan ponsel jadul pemberian sahabatnya itu. Hanya itu satu-satunya harapan untuk dia bisa membawa sang mama ke rumah sakit.
" Neng, ini saya cuma berani beli dua ratus lima puluh ribu, bagaimana neng? "
" Gak bisa ditambahin ya mas? "
" Maaf neng, sudah mentok segitu. "
Laura berpikir sejenak, lalu dia mengangguk. " Iya deh, silahkan diambil mas. "
Mas penjaga konter itu mengambil uang dari dalam laci, dua lembar uang seratus ribuan dan satu lembar lima puluh ribuan lalu memberikannya pada Laura.
" Ini ya neng, soalnya kan gak ada cass nya, jika ada tadi aku bisa lebihin. "
Laura berpikir, jika dia bisa mengambil cas nya mungkin bisa mendapatkan uang lebih, tapi dia akan telat membawa mama nya ke rumah sakit.
" Gak apa mas, segini cukup kok, terimakasih mas, " Ucap Laura tersenyum dan mas konter membalas senyum Laura sambil menganggukan kepalanya.
Laura kembali berjalan untuk segera sampai dimana mama dan adiknya berada.
" Uang ini bisa aku gunakan untuk membayar taksi menuju rumah sakit, karena tak mungkin aku mencari tumpangan seperti waktu itu. Bisa bahaya buat nyawa mama. "
Laura bergumam seorang diri di sela dia menatap fokus jalanan yang ada didepannya.
" Masalah uang biaya rumah sakit, aku pikir nanti saja, mungkin aku mau cari kak Reni dan mau kembali ke mami germo lagi. "
Laura benar-benar sudah pasrah dengan nasibnya jika harus kembali ke dalam dunia malam lagi. Dia gak tahu harus bagaimana mencari uang.
__ADS_1
Laura kembali berlari dan saat dia sampai di depan kolong jembatan dia terkejut melihat begitu banyak orang mengerubuni kolong jembatan itu.
" Mama… bangun… hiks-hiks! "
Terdengar suara Launa menangis histeris, Laura berlari cepat menerobos kerumunan masyarakat.
Deg..
Jantung Laura bertalu melihat mamanya terbaring memejamkan mata dan dipeluk oleh Launa yang sudah basah dengan air mata.
" Loun, mama kenapa? "
" Kak Laura…
Buukk!
Launa jatuh pingsan dan ditolong oleh seorang warga.
" Loun, mama!, ini sebenarnya ada apa? "
Semua warga hanya terbengong melihat wajah Laura, lalu beralih melihat wajah Launa yang pingsan.
" Kalian kembar ya? "
Laura mengernyitkan dahi, pertanyaan dia belum dijawab tapi mereka malah memberikan pertanyaan lain padanya. Sudah tahu wajah mereka mirip, berarti kan kembar, kenapa mesti dipertanyakan lagi.
Laura membalikan badannya dan menghampiri mamanya yang terbaring.
" Tolong, panggilkan saya taksi, mama saya harus segera dibawa ke rumah sakit. "
Warga lain masih berusaha menyadarkan Launa dengan minyak kayu putih.
" Aku mohon tolong mama saya! "
Laura meneteskan air matanya memohon. " Apakah kalian tega melihatnya yang kesakitan, dia butuh pertolongan, aku mohon! "
" Mungkin kalian menganggap kami hanya minta tolong secara GRATIS, iya kan? Makanya kalian tidak mau menolong mama saya, kalian hanya menontonnya, sungguh tidak punya hati kalian, melihat orang tak mampu butuh bantuan tapi kalian mengabaikannya. "
Laura sedikit serak dalam berbicara karena menangis, dia terus menatap wajah mama nya yang semakin membiru.
Salah seorang bapak-bapak menepuk pundak Laura pelan.
" Nak, yang sabar, mama kalian sudah tiada. Tuhan sudah mengambilnya. "
" Maksud kalian? Mama saya sudah meninggal? "
Semua orang mengangguk dan Laura terkejut atas kenyataan ini.
" Ti-tidak, itu tidak mungkin. Mama… .
Laura menangis sambil memeluk jasad mama nya. Sedangkan Launa yang tersadar dari pingsannya menghampiri saudari kembarnya.
" Kak!
__ADS_1
Laura menoleh, " Loun!
" Mama kak!
" Aku tahu!
Hisk hiks hiks!
Mereka berdua berpelukan dalam tangis, semua yang melihatnya ikut meneteskan air matanya. Mungkin tak akan sanggup juga kehilangan orang yang disayanginya.
Semua orang membantu pemakaman ibu Kirana, karena mereka merasa kasihan pada Laura dan Launa yang tidak memiliki keluarga lain.
Setelah pemakaman itu selesai semua warga pulang ke rumah masing-masing. Launa dan Laura masih tinggal disana, mereka belum bisa hilang kesedihannya.
Sekarang mereka tidak tahu harus kemana? Mamanya sudah tiada. Siapa yang akan mereka tuju sekarang.
Laura dan Launa masih menangis diatas pusara mama nya. Seorang bapak yang pertama kali menolong Launa tadi masih setia menunggu mereka.
" Dek, iklhaskan kepergian mama kalian, doakan selalu beliau. "
Launa dan Laura mendongak lalu beranjak berdiri.
" Kita hanya punya mama pak, tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain mama! " Ucap Launa masih dengan airmata yang mengalir.
" Mama adalah wanita hebat, selama ini dia membesarkan kami sendirian tanpa lelah. " Ujar Laura sedih.
" Seorang ibu tidak ingin melihat anak-anaknya bersedih, jadi sekarang kalian harus kuat, bikin beliau bangga jika kalian bisa bangkit tanpa beliau disampingnya, doakan selalu beliau agar beliau selalu tersenyum diatas sana. " Ucap bapak tadi.
" Sekarang kalian mau tinggal dimana? Ikutlah bapak ke rumah daripada kalian hidup dikolong jembatan. " lanjut bapak tadi.
Saudari kembar itu saling pandang, lalu menghapus air matanya masing-masing.
" Terimakasih pak, kami tidak ingin merepotkan bapak. " Tolak Laura halus.
" Ya sudah jika kalian tidak mau, saya harap kalian selalu baik-baik saja. " Ucap bapak itu berlalu pergi.
Laura dan Launa melihat kepergian bapak itu, lalu kembali duduk didepan pusara mamanya.
" Ma, Launa kangen mama, kenapa mama ninggalin kita sendirian. "
" Ma, Laura janji akan menjaga Launa dengan sepenuh hati, mama yang tenang ya disana. "
Launa kembali menangis." Ma, mama…
Laura yang melihat kesedihan saudarinya hanya bisa menguatkan dengan pelukan. Laura hanya ingin terlihat tegar didepan Launa agar Launa tidak berlarut dalam kesedihannya. Sejatinya hati Laura pun juga sangat sedih kehilangan mama nya.
" Loun, sudah yuk, kita pergi dari sini dan doakan mama agar bahagia diatas sana. "
" Mama kak! "
" Iya… ayuk! "
Launa akhirnya mau mengikuti Laura. Mereka kini kembali ke kolong jembatan untuk istirahat.
__ADS_1
***