
Bab 32
Setelah sampai di depan gerbang kampus dan membayar ongkos ojek. Maya berjalan memasuki halaman kampusnya.
" Huh, hari ini gue sial banget sih, sudah telat ke kampus malah ketemu sama alien gak jelas lagi. Lebih baik gue cari David dulu aja deh. Ini sudah sangat telat kalau aku masuk kelas, bisa- bisa di semprot gue sama pak Subrata dosen killer itu. iihhh…takut." Gumam Maya berbelok menuju kelas David.
" David ada kelas gak ya? Gue kan mau nanya tentang kabar si kembar. Dia kemaren ketemu gak ya? " Disepanjang dia berjalan Maya mendumel sendiri.
Saat dia sampai didepan kelas David, dia terperangah karena melihat semua orang sedang asyik bermain ponsel sendiri-sendiri.
" OMG, kenapa kagak ada kehidupan gini? " Gumamnya heran.
Tapi Maya malah terfokus pada salah satu mahasiswi sedang melamun melihat teman-temannya bermain ponsel tapi dia sama sekali tidak pegang ponsel sendiri. Karena cewek itu seperti si kembar kuliah dikampus elit ini karena mendapatkan beasiswa.
" Kasihan dia, gue jadi inget si kembar. Tuh jadi kangen kan gue sama simulut pedas dan si ceria." Ucap Maya dalam hati.
David yang tak sengaja melihat ke arah pintu dan ada Maya sedang melamun dia beranjak dan menghampirinya.
" Hey..! Ada apa kau kemari? "
" Eh copet..! Omg, David lo ngagetin tau. "
" Sorry, ada apa? "
" Emm, mau tanya tentang si kembar. Lo kemaren ketemu mereka gak? "
David terdiam, dia jadi teringat akan perkataan Launa kemarin.
" David, gue mohon ya jangan bilang dulu ke Maya lalu kita ada disini. Aku gak bisa kasih alasannya, tapi pasti aku akan menemui sahabat-sahabat ku itu."
" Emm, baiklah Loun. Terus gue harus bilang apa jika Maya tanya? Dia juga sama khawatirnya sama kalian kayak gue."
" Bilang saja lo gak bertemu sama kita. Pasti suatu hari nanti gue akan menjelaskannya sama mereka kenapa gue ma kak Laura belum bisa bertemu mereka. "
" Oke kalau begitu, kalian jaga diri baik-baik ya. Tapi gue boleh kan sering-sering main ke sini. "
" Emm, boleh main ke sini, tapi jangan sering-sering. Entar kak Laura marah. "
" Hehe, iya udah deh, seminggu sekali saja. Pas wekend gue main ke sini."
" Terserah lo aja deh. "
" Lagi ngomongin apaan sih? Serius amat. " Tiba-tiba Laura muncul, membuat kedua terjingkat kaget dan gelagapan.
" Eh, Laura. Gak-ngak ngomongin apa-apa kok. Ya sudah gue balik dulu ya. Bye..! "
Maya heran melihat David, bukannya jawab pertanyaan nya tapi David malah melamun.
" Hey David! Kok gak jawab sih? "
" Eh? May, maaf gue kemarin gak ketemu sama Laura. "
Maya menyipitkan matanya. " Gak mungkin. "
" Kok gak mungkin sih May? "
" Iya secara kau itu kaya, banyak kali itu bodyguard lo yang bisa kau suruh nyari mereka. Apapun informasi yang lo inginkan pasti bakal didapat. Masak cuma nyari dua manusia saja gak ketemu."
David gelagapan mendengar penuturan Maya. Yang di bilang Maya memang benar, apapun yang di inginkan dia psti tercapai karena pamannya sangat menyayanginya.
" Eh? Itu-itu beda May. Semua anak buah pamanku gak becus. Lagian gue gak punya foto mereka jadi kan gue cuma kasih mereka ciri-ciri Laura. Jadi agak susah nyarinya. "
" Iya juga ya, lo kan gak punya foto mereka." Ucap Maya sambil membelakangi David seraya berpikir.
__ADS_1
David mengelus dadanya lega, untung alasannya masuk akal. Tapi tiba-tiba Maya berbalik badan membuat David kaget.
" Kalau begitu! Lo gue kasih foto mereka. Pasti bodyguard lo cepet nemuin mereka." Lanjutnya.
David membulatkan matanya. " Hemm, i-ide bagus itu May. "
" Pinter kan gue." Ucap Maya percaya diri. " Sudah gue kirim ya di chat." Sambungnya sambil memasukan ponselnya ke dalam tasnya kembali.
David mengecek ponselnya, dia tersenyum saat mendapatkan foto Laura dan Launa.
" Ye, malah senyum-senyum sendiri, cari itu dan kabarin gue, jangan lupa."
" Oke, siap. "
" Siip, kalau gitu gue balik ke kelas gue dulu ya."
" Iya. "
Sedangkan di kampus lain setelah kelas pertama Gladis istirahat di kantin sambil membaca buku.
" He, Gladis pulang kuliah nanti ke warung buburmu dulu ya, gue pingin makan nasi goreng nih. Enak banget masakan nyokap lo." Ucap teman Gladis dikampus.
Gladis dikampus ini tidak begitu punya banyak teman, dia hanya dekat dengan Nayla dari pertama masuk ke kampus ini.
Iya warung bubur ibu Ayu sekarang menyediakan nasi goreng dan soto. Jadi tidak hanya bubur saja, tapi sampai sore menu bubur juga tetep ada.
" Iya Nay. " Jawab Gladis.
" Lo itu baca apaan sih Dis, serius amat."
" Baca buku cinta."
" Cielah Dis, cinta-cinta kayak lo sudah punya pacar saja. "
" Cih, pangeran dari hongkong." Cibir Nayla.
" Lo lihat ya di pintu sana, siapapun cowok yang lewat masuk ke kantin ini yang pertama gue akan langsung rayu dia."
" Oke, gue tantang lo. Kalau lo berhasil dapat innya gue bakal traktir lo makan di kafe selama seminggu."
" Wih, beneran ini Nay. Deal ya? "
Nayla mengangguk lalu menerima uluran tangan Gladis tanda setuju dengan perjanjiannya.
Selang beberapa saat tiba-tiba terdengar langkah kaki menuju kantin. Gladis deg-deg an menunggu siapa yang akan masuk ke kantin.
Sedangkan Nayla tak sabar melihat cowok seperti apa yang akan di rayu oleh temannya ini. Langkah kaki itu pun semakin dekat, semakin berdebar pula jantung Gladis menunggunya.
" Ya Tuhan, semoga orangnya cakep kagak dekil, item dan jerawatan. Aminn..! " Doa Gladis dalam hati.
Nayla heran melihat Gladis menyapu mukanya." Lo lagi berdoa ya Dis. " Godanya.
" Apaan sih, sudah kita fokus ke situ, lihat siapa yang dateng. " Elak Gladis.
" Oke, gue hitung. Satu dua ti…… ga. "
Gladis dan Maya terperangah ketika melihat pria yang baru masuk ke kantin kampusnya.
Sedangkan dirumah ibu Fatimah Laura yang sedang ikut membantu memasak dan Launa yang sibuk dengan taman bunganya. Laura menanyakan sesuatu pada ibu Fatimah.
" Ibu, Launa sering cerita tentang kak Anisa. Dulu kak Anisa kenapa bu, kok bisa diambil sama Tuhan? " Tanya Laura.
Ibu Fatimah seketika menghentikan aktifitasnya memotong sayuran.
__ADS_1
" Nak, setiap manusia itu akan kembali pada sangat pencipta begitupun ibu dan kamu pasti suatu saat juga akan di ambil oleh Tuhan. Karena sejatinya semua yang ada didunia ini milik Tuhan, semua nya ini hanya titipan sayang." Jawab ibu Fatimah lembut.
" Oh, ibu gak sedih kehilangan kak Anisa? "
" Sedih itu pasti, merasa kehilangan itu tetap tapi hidup ini terus berjalan. Kita iklas kan yang telah pergi, doakan agar mereka bahagia dan ditempatkan tempat yang indah disisi Nya. Kita tidak boleh berlarut dalam kesedihan sayang, semua sudah garis perjalanan hidup dari Nya." Ibu Fatimah membelai rambut Laura pelan.
" Ibu tahu kau dan Launa masih merasa sedih atas kehilangan mama kalian, tapi kalian harus bisa iklhas. Semua ini adalah ujian dari Allah kepada hambanya supaya bisa lebih kuat lagi. Tetap semangat ya nak, gak boleh nyerah sama keadaan." Nasehat ibu Fatimah.
" Iya bu. Oh ya Laura mau tanya, apa orang muslim itu beribadah setiap jam bu? Aku sangat penasaran."
Ibu Fatimah kembali tersenyum mendengar pertanyaan Laura.
" Bukan setiap jam sayang tapi setiap waktu, setiap detik jika kita beribadah dari hati karena Allah SWT pasti kita akan mendapat syafaat nya sayang."
" Oh gitu ya, memang gak capek bu. Itu apa namanya sha… . Shalat, oh iya itu bu, setiap waktu? "
Ibu Fatimah tergelak. " Oh shalat. Ya gak setiap waktu sayang, shalat wajib yang dianjurkan didalam Islam itu hanya lima waktu sayang yaitu isya, subuh, dhuhur, ashar sama magrib. Jika subuh itu waktunya menjelang pagi sekitar pukul setengah lima pagi terus dhuhur waktunya tengah hari atau siang hari waktu istirahat para pekerja lalu ashar itu istimewa waktunya sore hari sekitar pukul tiga sore kalau magrib itu spesial waktunya menjelang malam karena waktu shalat magrib itu sedikit sekitar pukul enam petang dan waktunya berakhir di pukul tujuh malam dan waktu segitu buat umat muslim kemudian melakukan shalat isya. Jadi lima waktu itu yang paling wajib gak boleh bolong nak, tapi jika shalat sunnah itu banyak terdiri beberapa. Jika ingin dikerjakan dapat pahala jika tidak dikerjakan juga tidak apa." Jelas ibu Fatimah panjang lebar.
" Umat muslim itu tidak pernah lelah beribadah setiap waktu, seperti dzikir, bersholawat, membaca Al-Quran. Semua terasa mudah jika kita ibadah dengan hati. " Sambungnya.
Laura mendengarkan dengan seksama. Hatinya sedikit tergugah dengan cerita ibu Fatimah.
" Jika kamu sedang gelisah, membaca kitab Al-Quran insya Allah pasti akan kembali tenang dan nyaman. Ada apa nak menanyakan seperti itu, apa kamu tertarik ingin masuk islam? "
Laura termenung sebentar, sebenarnya hatinya ingin hanya saja raga nya belum siap.
" Sudah jangan dipaksakan, masuk islam itu harus tulus dari hatimu. Jika kelak hatimu sudah mantap ingin mualaf, insya Allah nanti ibu akan bantu." Ucap Ibu Fatimah menenangkan Laura, karena ibu bisa melihat dari wajahnya yang sedikit bimbang.
" Terimakasih ya bu."
" Iya sayang."
" Pada ngomongin apa sih? kayaknya seru banget. " Tanya Laura tiba-tiba.
" Kamu sudah selesai menyiram bunganya Loun?"
" Sudah kak. Oh iya, hari ini ibu masak apa? " Tanyanya beralih menatap ke ibu Fatimah.
" Hari ini ibu masak nasi goreng sayur, kemarin kan sudah nasi goreng seafood jadi hari ini sarapan pakai sayur."
" Wah, pasti enak."
" Jelas, kalau begitu kalian siap-siap, abis itu sarapan terus kita mulai cari kampus yang terbaik buat kalian."
" Sekarang bu? " Tanya Laura kaget.
" Iya lebih cepat lebih baik, supaya kalian tidak ketinggalan. Cepat mandi sana, ibu tunggu di ruang makan."
" Siap bu." Ucap mereka bersamaan.
Setelah selesai sarapan kini ketiga wanita itu pun menaiki taksi dan keliling kota untuk melihat-lihat kampus.
" Bu, mending kita kuliah deket rumah saja. Biar bisa jalan kaki jadi hemat ongkos." Ucap Laura.
" Ah, iya benar bu kata kak Laura, kita pilih kampus dekat rumah saja. Gak perlu kampus elit yang penting kita tujuannya belajar kan. Sama saja kok." Timpal Launa menyetujui perkataan saudaranya.
" Emang kalian gak apa? Jika kalian mau nya begitu ibu gak masalah, yang penting kalian nyaman."
" Kami gak apa kok bu. Kami malah berterima kasih banget sama ibu sudah baik sama kita." Ujar Laura.
" Sudah jangan sungkan lagi sama ibu. Yang penting kalian bisa meraih cita-cita kalian. Ibu sudah bahagia bisa menyayangi kalian." Ucap ibu Fatimah tersenyum.
" Aku akan ambil jurusan bisnis. Aku harus belajar dengan giat supaya kelak aku bisa masuk ke perusahaan besar milik laki-laki tua yang sudah menyakiti mama." Ucap Laura dalam hati.
__ADS_1
****