
Bab 19
Laura hanya duduk bersandar tembok jalanan. Dia memandangi wajah kedua wanita yang dia sayangi sedang terlelap.
Hanya dirinya kini yang harus kuat, karena tak mungkin dia mengandalkan mamanya yang sakit-sakitan ataupun saudarinya yang sedari kecil fisiknya lemah.
Laura mendongak melihat ke atas, banyak bintang yang bersinar diatas sana.
" Seandainya aku mempunyai papa, pasti aku, mama dan Launa tak akan seperti ini hidupnya," Gumam Laura.
" Kau mikir apa sih Laura, kata mama kan, kami gak punya papa. Biarkan papa bahagia diatas sana, aku harus bisa jadi anak yang kuat, harus bisa melindungi mama dan Launa. Semangat Laura, bahagia itu pasti akan datang. " Ucap Laura mensugesti dirinya sendiri.
" La-Laura..
Laura menoleh ke arah mama nya yang memanggilnya, lalu menghampiri mamanya yang masih berbaring.
" Iya ma, ada apa? Apa ada sesuatu yang mama mau?"
" Segera istirahat nak, hari sudah mulai malam. Sini berbagi selimut sama mama. "
" Gak ma, buat mama saja selimutnya. "
Kirana tersenyum lalu dia berusaha duduk dan Laura dengan sigap membantu mama nya.
" Ada yang ingin mama bicarakan padamu. "
Laura melebarkan matanya penasaran. " Ada apa ma?"
" Sayang, maafkan mama ya, selama ini mama membohongi mu dan Launa. Mama hanya ingin kalian tidak selalu menanyakannya. "
Laura semakin tidak mengerti perkataan mama nya. Dia senantiasa menanti mama nya bicara terlebih dahulu sebelum menimpali nya.
" Carilah papa kamu sayang, papa kalian masih hidup, setidaknya kalian merindukan kasih sayang seorang ayah kan? Kalian akan membutuhkan seorang ayah jika ingin menikah nanti.Maka carilah papa mu sayang."
Kirana meneteskan air matanya ketika berbicara seperti itu. Dia hanya ingin kedua putrinya tidak membenci ayahnya.
" Apa maksud mama, jadi selama ini papa...
" Iya sayang, papa mu masih hidup,carilah papa mu di perusahaan "Louis Vuitton". Jika memang papa mu nanti tidak percaya, kamu bawa foto ini sayang, dia akan percaya jika kalian putrinya. "
" Jika ayah masih hidup, terus kenapa papa tidak tinggal sama mama, terus kenapa papa membiarkan mama membesarkan kami berdua. Kenapa ma? "
" Sayang ada alasan tertentu, kenapa mama dan papa berpisah, walaupun mama tidak bersama papa, tapi mama yakin papa kamu menyayangi kalian. "
" Gak, Laura tidak percaya ma! Jika papa mencintai dan menyayangi kami, tidak mungkin papa membiarkan kami hidup sengsara bersama mama. Terus selama delapan belas tahun itu papa kemana, kenapa tidak mencari kita? Pasti papa gak sayang sama kita, iya kan ma? "
Kirana bingung menjelaskan pada putrinya yang satu ini. Jika dia jujur takut putrinya akan membenci ayahnya, jika tidak jujur Laura akan terus mendesaknya.
" Laura sayang, ceritanya panjang sayang, mama hanya berharap jika mama sudah tidak sanggup ada di samping kalian mama hanya mau kalian ada yang menjaganya, kalian sudah menumakan papa kalian, itu lebih membuat mama tenang. "
" Mama...
Laura memeluk sambil terisak didalam pelukan mamanya.
" Laura tak ingin mama bicara seperti itu, Laura yakin jika mama akan selalu menemani kami sampai sukses."
Kirana bahagia kini dia bisa menceritakan yang sebenarnya pada Laura tanpa ada emosi.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, mereka kini terlelap bersama. Hingga pagi menjelang matahari pun menyinari kelopak mata mereka.
Launa dan Laura terpaksa membuka matanya. " Hoahh... Kita ada dimana kak? "
" Kita dari semalam kan tidur dikolong jembatan Loun."
" Ya ampun, untung kagak hujan kak, jika hujan pasti kita akan tenggelam karena banjir. "
" Kita harus banyak bersyukur Loun. "
Launa mengangguk lalu bersih melihat sang mama yang masih terlelap.
" Mama, kok belum bangun kak? "
" Mungkin mama capek, aku cari buat sarapan dulu. "
" Iya kak, hati-hati dijalan kak. "
Launa menghampiri mamanya yang masih berbaring dan memejamkan mata, sedangkan Laura ingin beranjak untuk mencari makanan untuk dimakan itu mengurungkan niatnya saat Launa berteriak.
" Kak! Mama badannya panas banget!"
Laura menghampiri mamanya dan menempelken telapak tangannya di kening mamanya.
" Iya Loun, gimana ini? "
" Bawa rumah sakit kak, dari kemaren kan mama gak badannya melemah, aku takut mama kenapa-napa kak. "
" Tenang ya Loun, kakak cari sesuatu dulu. "
Laura mencari sesuatu didalam tasnya, dan tidak menemukan barang yang ingin dia cari.
" Jaga mama Loun, kakak akan segera kembali. "
" Kak! Mau kemana? "
Laura berlari sekencang nya meninggalkan mereka. Launa memperhatikan punggung saudarinya yang semakin menghilang.
" Duh..! Kepalaku sakit..!"
" Ma? Mama bertahan ya, kak Laura sedang mencari bantuan. "
" La-Launa...
" Iya ma, Launa disini. "
" Maafin ma-mama..
" Mama gak salah kok, mama bertahan ya. "
"Hisstt....., duh.., aku tak sudah sanggup Tuhan. "
Kirana benar-benar merasakan sakit dikepalanya, dia benar-benar sudah tidak bisa bertahan. Dia membelai pipi Launa.
" Carilah papa ka-ka-ka-mu...
Perkataan Kirana terputus dan belakangnya semakin hilang, tangannya semakin turun ke bawah.
" Ma! Mama! Bangun ma! "
__ADS_1
Launa menguncangkan tubuh mama nya sambil meneteskan air matanya. " Ma! Mama.....
Launa berlari menuju ke jalan raya, mencari bantuan. Sekiranya siapa saja yang dia temui yang mau menolongnya.
"Tolong! Tolong mama saya. "
Tidak ada mobil yang mau berhenti, rasanya Launa sudah sesak nafas karena banyak menghirup debu. Dia hampir pingsan, karena perutnya belum terisi makanan dari semalam.
" Pak, to-tolong saya. "
" Ada apa dek? " Tanya seorang pria paruh baya yang sedang menegendari sepeda montor. Ketika melihat Launa sedang memberhentika kendaraan lain tapi tidak ada yang peduli dengannya, dia mencoba bertanya.
" Eh, ini minum dulu dek, biar bisa jelasin, apa yang terjadi denganmu?"
Launa mengambil botol air mineral itu dan meneguk nya hingga abis separuh.
" Tolong mama saya pak. "
" Mama adek dimana? "
" Ayo pak! "
Pria paruh baya itu mengikuti langkah Launa yang menurun menuju kolong jembatan.
" Astaghfirullah... Itu mama adek? " Bapak tadi kaget melihat seseorang yang berbaring dibawah.
" Iya pak. "
" Sejak kapan kalian ada disini. "
" Sejak semalam pak. Tolong pak mama saya kenapa?"
Bapak tadi menghampiri Kirana dan mengecek nadinya.
" Innalillahi WA innalillahi rojingun."
Launa mengerutkan keningnya tidak mengerti yang dikatakan bapak itu.
" Ibu adek sudah tiada, sudah diambil oleh Nya. "
Launa semakin tidak mengerti. " Maksudnya? "
" Adek, ibunya sudah meninggal. "
Launa membulatkan matanya tak percaya. " Me-meninggal? Gak, gak mungkin pak, itu gak mungkin. "
Launa menangis histeris dan memeluk jasad mama nya.
" Ma bangun, jangan tinggalin Launa dan kak Laura sendirian disini ma. "
"Hiks hiks.. Ma, mama! "
Semua orang yang lewat saat mendengar jerit tangis seseorang langsung Berbondong-bondong turun, melihat apa yang terjadi.
***
selamat membaca, jangan lupa kasih dukungan untuk cerita ini ya kak.
salam sayang dari saya author remahan😍
__ADS_1