
Bab 34
Gladis yang di tatap semedikian rupa itupun jadi sedikit takut. Dia berusaha tersenyum supaya tidak terlihat oleh kedua pria tersebut.
Pria itu menatap Gladis dari atas ke bawah." Apa kau bercanda? Sudah segede blantongan kayak gini, lo mau punya adik?!" Ucapnya setengah mengejek.
Gladis pun salah tingkah, takut ketahuan kebohongannya. " Hehe, iyalah. Kan nyokap gue aktif." Jawabnya.
Ketiga pria itupun membulatkan matanya tak percaya dengan jawaban gadis di depannya ini.
" Wah, nyokap lo hebat juga dek." Ucap teman pria satunya.
" Hehehe..! " Gladis hanya cengengesan. " Aduh, mereka kagak tahu aja kalau ibu Ayu sudah jadi janda,mau hamil sama siapa juga? Hihihi.." Batin Gladis cekikikan.
" Apa lo berusaha membohongi kami? " Tanya pria kaku sedikit curiga. Seketika Gladis gelagapan ditanya seperti itu.
" Hah? Tidak. Gue tidak bohong padamu, gue ngomong beneran jadi gue mohon minta tanda tangan serta foto dan nomer ponsel lo ya." Rayu Gladis.
Pria itu melebarkan matanya." Lo mau merampok atau cari kesempatan? "
" Hehe.. Semuanya." Jawab Gladis.
" What? " Pria tadi pun kaget dengan jawaban Gladis.
" Bravo adik manis, lanjutkan kesempatan ini. Iya kan? Kapan lagi deket sama cowok ganteng kayak kita ini." Ucap teman satunya.
" Hehe, iya kak. Ngomong-ngomong nama kakak-kakak ini siapa? Boleh tau gak? " Tanya Gladis.
" Kenalin, gue Antony, kalau dia rekan kerja kakak namanya kak Ryan. Terus yang satu ini pengawal, eh bukan sopir kita namanya kak Rusli. Adek manis siapa namanya?" Ucap Antony sambil menjabat tangan Gladis.
" Haloo, kak Ryan kaku,kak Rusli kenalin Gue Gladis.hemm,kak Anton, hemm.. Kak Tony. Aduh, enaknya panggilnya gimana ya kak? " Ucap Gladis yang membuat Ryan membulatkan matanya dipanggil kaku. Sedangkan Rusli dan Antony cekikikan.
" Terserah dek Gladis aja. Enaknya panggil gimana? Mau Anton boleh, atau Tony dan juga Antony pun boleh."
" Oh, ya udah. Gladis panggil kak Anton saja ya. Cocok namanya persis kakak ganteng dan cute." Ucap Gladis yang membuat ketiga pria itu menyipitkan matanya.
" Terserah adek manis saja, kakak nurut. Kalau gitu minta tanda tangan kak Anton saja gimana? Semua yang ibu lo pingin pasti bakal di dapat dengan mudah."
" Ah, gak kak. Gue mau sama dia." Tunjuk Gladis ke arah pria yang di belakang Antony.
Seketika mata Antony juga mengikuti kearah mana jari telunjuk Gladis mengarah.
" What? Brother, ayo dong kerja sama. Jangan di anggurin dong cewek semanis dia. Kali saja nanti kau bisa jatuh cinta padanya." Bisik Antony pelan pada rekan kerjanya.
" Kepala lo penyet itu, cewek sama makan saja yang ada di kepala lo. Nomer ponsel gue itu tidak sembarang gue kasih ke orang gak jelas, tolol. Lo tau gue kan? Tugas gue banyak, gue harus selalu ada jika tuan membutuhkan. Jadi tidak ada waktu buat mikirin cewek seperti yang ada di kepala lo itu. Lebih baik kita sekarang segera pergi." Ucap Ryan ingin melangkah meninggalkan kantin.
" Eeeh...mau kemana? Tunggu!" Gladis berlari dan berdiri didepan pria kaku tadi lalu merentangkan kedua tangannya untuk menghalangi jalan supaya mereka tidak pergi terlebih dahulu.
" Mau lo apa? "
" Aku mohon kak, apa lo tega melihat adik gue nanti ileran jika sudah lahir ke dunia ini." Ucap Gladis memasang wajah sedih sambil menangkup kan tangannya memohon.
" Ck, wanita benar-benar menyusahkan! "
Puuk..!
Antony menepuk bahu rekannya. " Sabar brother, wanita itu hanya perlu dirayu dan diberi perhatian lebih, mereka akan luluh pada kita."
" Lo itu benar-benar tak berguna! " Ucap Ryan sambil mengibaskan tangan Antony dari bahunya.
" Sini ponsel lo..! " Bentak Ryan pada Gladis.
" Ya ampun, galak banget kak. Minta ponsel kan bisa baik-baik juga." Gerutu Gladis.
" Cepet! Mau nomer gue kagak? "
" Iya-iya kak. Uh kalau bukan karena taruhan juga kagak mau gue ngemis nomer ma lo."
" Ngomong apaan lo? "
" Kagak, gue ngomong kalau kakak semakin galak semakin ganteng." Puji Gladis, tapi sayang Ryan tidak terpengaruh sama sekali.
" Nih ponselnya." Gladis menyodorkan ponselnya pada Ryan. Setelah selesai diotak-atik, ponselnya dikembalikan kembali.
__ADS_1
" Cepet banget kak. Ya udah kalau gitu sekarang minta fotonya ya."
" Makin nglunjak ya lo."
" Lah tadi kan gue minta foto, tanda tangan sama nomer ponsel kakak. Kok dibilang nglunjak sih kak." Gladis cemberut.
" Ya sudah, cepetan. Uh, wanita itu benar-benar mahkluk aneh."
" Gue denger loh kak."
" Udah gak usah protes, mumpung gue mau ini."
" Iya-iya kak." Ucap Gladis sambil mengerlingkan mata. " Em, kak Anton. Minta tolong dong bisa fotoin kita berdua gak? " Lanjutnya.
" Boleh, sini kakak ganteng fotoin." Jawab Antony sambil mengambil ponsel Gladis.
" Siap ya. Satu dua ti..ga..! "
Cekrek..!
" Brow, lo senyum dikitlah, sama agak dempet gitu sama dek Gladis."
" Lo kebanyakan bacot. Cepetan, kita gak ada waktu banyak."
" Ya Ampun kak, gak boleh gitu ah. Kata kak Anton bener loh. Senyum...! " Ucap Gladis. " Ya sudah kalau gitu, sini kak ponselnya, kita foto bareng aja yuk. Uh, Gladis foto sama tiga cogan. "
Cekrek..!
" Aah, ini hasilnya sangat memuaskan. Aku paling cantik sendiri. Iya kan? "
" Iya dong. " Jawab Antony.
Sedangkan Ryan hanya memutar bola matanya malas. Soal rayu merayu memang Antony jagonya. Tapi Ryan tak kalah pesonanya. Walaupun bagaikan kulkas dua pintu tapi Ryan yang selalu menjadi incaran para wanita.
" Nih kak, tanda tangan, nama sama nomer lo. Tulis semua disini, oke..! " Ujar Gladis sambil menyodorkan bolpoin dan kertas pada Ryan.
" Lo..! " Gladis malah tersenyum menggoda melihat tatapan mata Ryan yang menyeramkan.
Ryan pun mengambil kertas itu lalu melakukan apa yang dibilang Gladis, setelah selesai Antony pun merebut kertas itu lalu juga melakukan hal sama seperti Ryan.
" Makasih ya kak."
" Bye bye adik manis, sampai ketemu lagi. " Ucap Antony melambaikan tangannya.
Gladis pun membalas lambaian tangan Antony saat melihat ketiga cogan pergi meninggalkan kantin kampus nya.
" Aaaaa....! Glasis....! " Teriak Nayla langsung memeluk Gladis. " Lo hebat." Sambungnya sambil memberi jempolnya.
" Nih yang gue dapet. Jangan lupa janjinya loh." Ujar Gladis.
" Siap Gladis, ini buat gue aja ya. Aaaa, Ryan Wijaya. Antony Subandi. Aaaah, cogannya buat gue aja ya Dis. Minta satu, lo mau yang mana Dis? "
" Yaelah Nay, emangnya mereka barang. Gue kagak mau semua. Buat lo aja, males mikirin cowok. Apalagi yang kaku tadi, iih... Bikin gue kesel mulu. "
" Yakin lo gak mau Dis. Mereka genteng-ganteng loh Dis, kalau gak mau gue embat semua loh."
" Terserah lo. "
" Asyikk...! Lo emang sahabat gue Dis. Oh dapet nomer dua cogan sekaligus gue. Mimpi apa semalem gue? "
Gladis memutar bola matanya malas melihat tingkah teman kampus nya ini.
" Lebay kali lo itu Nay, sebelas dua belas lo sama Maya."
" Biarin, yang penting gue nanti kagak jomblo lagi. Gue harus dapetin salah satu cogan ini Dis. "
" Ya, terserah lo. Sekarang lo bayarin tu makan gue, oke. "
" Lah Dis, perjanjiannya kan mulai besok Dis."
" Gue maunya sekarang, bye.. Gue mau ke kelas dulu." Ucap Gladis berlalu pergi.
" Yaelah Dis, main tinggal aja. Gue kan gak bawa uang saku lebih. Uh, punya temen gini amat." Gerutu Nayla sambil berjalan menuju mbak kantin untuk membayar.
__ADS_1
_______
Di sebuah restoran Seefood ada tiga wanita beda generasi sedang menikmati makanan mereka.
" Alhamdulillah, akhirnya kenyang. Kalian bagaimana? Apa mau nambah sayang? "
" Ah, gak buk. Ini perut Launa udah gak muat."
" Apalagi Laura buk, baru kali ini Laura makan banyak."
" Syukurlah kalau kalian suka. Jika ingin nambah gak apa-apa, ibu masih ada yang nih." Canda ibu Fatimah.
" Ah, ibu bisa saja. Terimakasih banyak ya bu." Ucap Laura.
" Iya, terus bagaimana itu? Suka sama kampus nya? Beneran mau kuliah disana? Kampus nya kan bukan kampus elit loh? "
" Suka kok buk. Launa tidak apa kok kuliah disana, yang penting kan ilmunya."
" Benar kata Launa buk, kita nanti bisa jalan kaki. Kan sehat, lagian kampus nya deket sama rumah. Hemat biaya... "
Belum selesai Laura berbicara, ibu Fatimah sudah memotongnya.
" Jangan bilang kalian tidak ingin merepotkan ibu. Iya kan? "
" Hehe, iya bu. Kita sudah banyak merepotkan ibu. Bahkan kita belum tau bagaimana membalas kebaikan ibu? " Jawab Laura.
" Balaslah dengan kalian membuktikan jika kalian kelak akan sukses, bisa meraih semua impian yang kalian inginkan. Ibu akan bahagia jika melihat kalian nanti tak diremehkan oleh orang."
" Terimakasih ibu." Ucap mereka langsung memeluk tubuh ibu Fatimah.
Malam harinya dirumah Gladis, dia sedang bersantai diteras rumahnya sambil memperhatikan foto ibu kandungnya yang diberikan oleh alm. Ayahnya pak Bayu.
" Mama..! Sebenarnya apa salah Gladis? Kenapa mama mau membuangku? "
Dengan perasaan sedih lalu Gladis memasukkan kembali foto ibunya ke dalam amplop surat dari ayahnya dulu.
Setelah itu dia pun kembali memegang ponselnya.
" Loh, ini kan nomer si kaku. Oh, jadi waktu minta ponsel aku buat ini. Coba gue chat ah, jika nanti kagak bales berarti fix, dia itu si kulkas kaku tidak berperasaan. Tapi bentar kok gue lupa, kan kemarin kita foto juga."
Lalu Gladis melihat-lihat hasil jepretan di galeri ponselnya.
" Hahahha.., ya Ampun. Gue ampe sakit perut ini lihat fotonya. Ketiga cowok ini lucu banget, kalau diperhatiin si kaku cakep juga. Walaupun kagak ada senyum-senyumnya sama sekali. Beda sama Anton, dia lebih ramah dan banyak senyum."
" Hayo, lagi ketawain apa sih? Seneng banget." Tanya ibu Ayu tiba-tiba.
" Eh, ibuk. Belum tidur? "
" Belum sayang, tadi ibu siapin dulu buat jualan besok."
" Aduh Gladis lupa bantuin ya buk. Maaf ya bu...! "
" Sudah gak apa, lagian ibu juga bisa sendiri. Bagaimana tadi kuliahnya? Lancar kan? "
" Lancar buk, semua baik-baik saja kok. Hem, tadi warung rame gak buk? Mbak Sri gimana?"
" Sri anaknya rajin sayang. Kamu pinter banget cari karyawan, ibu jadi gak kewalahan lagi layani pembeli. Puji Tuhan warung selalu ramai sayang."
" Iya syukurlah buk. Jika ibuk cocok ama mbak Sri, nanti sekitar tiga bulan kita naikin gajinya buk. Biar mbak Sri betah ikut kita."
" Iya sayang, dia juga pinter masak. Ibuk nyambung juga sama dia, jadi klop gitu."
" Wih, ibuk sekarang punya gengs dong."
" Kamu itu, ngatain ibu. "
" Hehehe, ngak ibuk. Makasih ya ibuk sudah menyayangi Gladis."
" Kamu itu ngomong apa sih sayang. Ibu itu sayang banget sama anak gadis ibu satu ini." Ucap ibu Ayu sambil mencubit hidung pesek Gladis.
Sedangkan Gladis tersenyum lalu memeluk erat tubuh ibu Ayu.
*****
__ADS_1