
Bab 37
" Ada apa sih paman? Terlihat sangat penting." Tanya David penasaran. Setelah mereka duduk disofa ruang kerja Daniel.
Daniel menatap wajah keponakannya." Apa kau mau ingin melanjutkan kuliah di luar negeri?"
" Hah? Tidak paman. Aku tidak minat sama sekali. Hidupku udah tidak ada artinya semenjak aku kehilangan dia."
" Ayolah boy, semangat..! Didunia ini bukan hanya dia satu-satunya wanita. Masih banyak yang lebih unik darinya, kau masih muda boy. Kejarlah semua impianmu, lupakan masa lalu. Cari kehidupan yang happy, paman yakin masih banyak wanita yang menginginkanmu. Kamu cucu tuan Oliver, inget itu boy! "
David mendengarkan semua ocehan pamannya dengan tatapan kosong.
" Boy, hey..!" Tegur Daniel.
" Entahlah paman." Jawab David lesu.
Daniel menghela nafas pelan." Oke, jika kau tak ingin kuliah. Bagaimana jika kau bekerja diperusahaan? Kelak siapa yang akan memimpinnya jika bukan kamu, bagaimana?"
" Ke kantor? "
" Iya. Dengan kau punya kesibukan pasti lambat laun kau akan melupakan wanita yang tak tau diri itu."
" Kenapa paman menjelekan wanitaku? dia bukan seperti itu ya paman." David terlihat marah ketika pamannya menjelekan Laura.
Tanpa disadari oleh Daniel wanita yang dijelekannya itupun juga wanita yang dia cari selama ini.
" Oke boy, paman minta maaf. Maksud paman wanita itu tidak tau diuntung. Sudah dicintai oleh seorang cucu Oliver pengusaha terkena didunia tapi malah meninggalkannya begitu saja. Jadi buat apa kamu masih terus memikirkannya? Dia saja entah ada dimana? Dan juga tidak perduli padamu."
David menatap sendu ke arah pamannya." Benar, paman benar. Dia memang tidak perduli denganku." Ucap David lirih. Dia benar-benar sedih jika mengingat Laura.
" Lanjutkan hidupmu boy. Paman akan selalu mendukungmu, kau harta paman yang paling berharga. Semangatlah menjalani hidup, buang semua yang membuatmu sedih." Ujar Daniel meraih tubuh ponakannya lalu dipeluk nya erat.
" Maafkan aku paman."
Daniel langsung melepaskan pelukannya." Why? Untuk apa kau minta maaf boy? Kau tak pernah salah."
David tersenyum tipis." Thankyou paman. Kau yang terbaik, mulai besok aku akan belajar bisnis. Aku akan pergi ke kantor untuk memulai hidup dan melupakan kesedihanku."
" Good job boy."
" Eitz, tunggu dulu."
Daniel mengerutkan kening." Apa lagi boy?"
" Paman, aku mulai dari bawah ya. Jadi karyawan biasa dulu. Supaya aku bisa punya kesibukan banyak dan mengenal orang-orang bawah pasti lebih seru."
" No boy! Seorang cucu Oliver jadi karyawan rendahan. Tidak, paman tidak mau lihat kau menderita."
" Ayolah paman, terus aku juga mau di kantor cabang saja. Disana kan belum ada yang mengenalku paman, jadi mereka tak akan sungkan jika ingin berteman denganku."
Daniel semakin terbelalak mendengar semua permintaan konyol keponakannya.
" Tidak bisa boy, paman jarang ke kantor cabang. Bagaimana paman harus mengawasimu?"
" Aku sudah besar paman, kenapa harus diawasi. Aku ingin dikantor cabang pusat kota saja paman."
Daniel hanya menatap ke arah ponakannya lalu menghempaskan nafasnya pasrah.
" Baiklah paman ijinkan, tapi kau harus bersama tante Angelina ke sana. Supaya tante Angelina bisa mengawasimu! "
" Ah paman gak seru lah, aku gak mau sama tante Angel."
Daniel menyipitkan matanya heran." Terus, kamu mau sama siapa? Paman Antony?"
David terlihat berpikir." Kalau paman Ryan, bagaimana?"
" Tidak..! " Dengan cepat Daniel menolaknya, David pun mengerucutkan bibirnya." Maksud paman, paman Ryan dibutuhkan di kantor pusat sini boy. Jadi paman Ryan tidak bisa harus aku pindahkan ke kantor cabang."
" Oke lah, sama paman Antony juga tidak apa. Daripada sama tante Angel, dia itu nyebelin sekali."
Daniel menyungingkan senyum nya." Good boy. Sekarang tidurlah, besok kamu harus bersiap ke kantor cabang. Kamu menginap lah di hotel milik keluarga Oliver, biar paman atur semuanya."
" Kenapa harus di hotel sih paman, aku mau ngontrak saja."
Daniel membulatkan matanya tak percaya." Jangan boy!"
" Please..!"
Pamannya akhirnya pasrah." Baiklah, tapi paman Antony harus satu kontrakan dengan kamu."
" Siap paman, yang penting paman Antony juga ikut jadi karyawan biasa dan tidak boleh membocorkan siapa aku sebenarnya."
" Terserah kau boy, atur bagaimana baiknya? Soal paman Antony biar paman bicarakan dengannya." Ucap Daniel pasrah.
" Terimakasih paman."
Cup cup!
David langsung mencium pipi kanan dan kiri Daniel, lalu berlalu pergi kembali ke kamarnya. Daniel tersenyum bahagia melihat keponakannya kini memiliki semangat hidup.
" Kau harus melupakan wanita itu boy, aku yakin wanita itu akan menyesal membuangmu. Membuat hidupmu tak berarti." Ucap Daniel dalam hati.
__ADS_1
" Antony, besok kau harus datang pagi ke kantor. Ada tugas yang harus kau laksanakan." Ucap Daniel di telepon.
" Baik tuan." Jawab Antony disebrang sana.
____
" Ibu, Launa, aku berangkat dulu ya." Ucap Laura tergesa-gesa sambil mencium tangan ibu Fatimah.
" Eh sayang, gak sarapan dulu? "
" Iya kak, sarapan dulu."
Laura langsung menurut gelas susunya, lalu meminumnya hingga tandas tak tersisa.
Gluk gluk gluk!
" Aduh, duduk sayang. Gak baik minum berdiri begitu." Sela ibu Fatimah.
" Eh iya, maaf bu lupa. Kalau gitu aku langsung berangkat ya soalnya keburu telat, assalamu'alaikum..!" Pamitnya langsung berlari keluar.
" Walaikumsalam! " Jawab mereka serempak.
" Dasar itu anak, sudah berpakaian tertutup gitu juga masih saja tengil." Lirih ibu Fatimah.
" Kak Laura itu kebiasaan deh buk, sebegitunya sih dia itu ingin masuk ke perusahaan Vuitton Group apalagi sebagai sekretaris bos besar lagi. Ambisiuse sekali loh. " Lirih Launa.
" Biarkan saja sayang, oh iya bagaimana keadaan perusahaan? Apa tidak ada kendala dengan kepemimpinannya?"
" Aman terkendali buk. Jika saja kak Laura juga mau bekerja diperusahaan ibu, pasti perusahaan akan lebih maju. Karena otak kak Laura kan encer tentang bisnis."
Ibu Fatimah tersenyum." Kalian berdua itu istimewa bagi ibu. Kamu juga bagus kok dalam memimpin, sekarang kan perusahaan juga maju kan semenjak kamu yang handel. Ibu bangga loh sama kalian berdua." Ucap Ibu Fatimah tak ingin membuat Launa berkecil hati.
Launa tersenyum manis menatap ibu Fatimah." Terimakasih buk."
" Kalian itu kado terindah dari Allah SWT untuk ibu. Ibu bahagia bisa membesarkan kalian."
" Apalagi Launa lebih bahagia bisa punya ibu seperti ibu. Berkat ibu sekarang Launa sudah sembuh dari trauma, penyakit, kesepian, semuanya. Kak Laura dan Launa sangat bangga dengan ibu."
" Alhamdulillah, jika kalian nyaman sama ibu. Kalau begitu habiskan sarapannya nanti telat ke kantor."
" Siap komandan! "
" Kamu itu ya."
" Hehee..! "
Laura yang diantar oleh sopir pribadinya itupun tidak tenang sama sekali. Karena mobilnya terkena macet dijalan.
" Ya Allah, gini caranya gimana aku bisa cepat sampai. Orangnya kan harus ontime, kalau aku telat bisa-bisa gak mau bekerja sama lagi sama gue." Gumam Laura.
" Maaf nona, seperti nya tidak bisa. Karena kan kita ada di tengah-tengah non." Jawab sang sopir.
" Ya udah pak, saya turun disini aja,assalamu'alaikum." Ujar Laura langsung turun dari mobil.
" Walaikumsalam. Eh non tunggu! Aduh, gimana ini? Bisa dimarahin nyonya besar saya nanti jika terjadi apa-apa sama non kembar." Ucap sang sopir ikut keluar mobil. Tapi nonanya sudah menaiki ojek.
" Eladala, nona yang satu ini benar-benar gak ada anggun-anggunnya dah. Padahal pakaiannya syari, tertutup tapi ini kelakuan kayak tomboy gitu. Duh beda banget sama yang satunya, napa dulu aku malah milih nona ini. Uh nasib dah, nanti dimarahin nyonya besar." Gerutu sang sopir.
Sekarang sikembar memang mempunyai sopir pribadi sendiri-sendiri karena ibu Fatimah tak ingin terjadi apa-apa terhadap kedua putrinya. Mengingat dulunya sering ada yang mencintai rumah lamanya sehingga dia berjaga-jaga. Mencarikan sopir sekaligus menjadi bodyguard si kembar.
Dulu setelah sekitar tiga bulan merawat si kembar ibu Fatimah mengajak putrinya tersebut menempati kembali rumahnya di pusat kota, karena lebih dekat dengan perusahaan. Saat suami dan putrinya meninggal, ibu Fatimah mempercayakan perusahaan kepada orang kepercayaan suaminya.
Ternyata ibu Fatimah bukan sembarangan janda, dia janda kaya yang mempunyai sebuah perusahaan di bidang pangan. Walaupun tak sebesar perusahaan Vuitton dan Oliver tapi cukup lah untuk hidup mewah.
" Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga. Perusahan ini walaupun jauh dari pusat kota ternyata besar juga, hampir sama dengan perusahaan Vuitton." Gumamnya sambil melihat-lihat sekeliling." Jadi inget waktu sama mama, oh iya bagaimana ya kabar Maya dan Gladis?" Lanjutnya.
Tapi saat dirinya melihat jam, matanya langsung terbelalak kaget.
" Astaghfirullah,sudah jam sepuluh kurang lima belas menit. Aku harus segera sampai atas nih! " Ucapnya langsung berlari menuju loby.
" Assalamu'alaikum mbak, mau tanya ruangan atasan anda di lantai berapa ya? Saya sudah punya janji, tapi kemarin yang telpon saya pak Antony."
" Oh mbaknya perwakilan dari perusahaan Vuitton group ya? "
" Iya mbak."
" Anda sudah ditunggu mbak, anda bisa naik ke lantai dua puluh tujuh."
" Terimakasih mbak, saya permisi."
" Iya mbak."
Setelah mendapatkan informasi Laura pun langsung memasuki lift dan menuju lantai 27.
Saat sampai dilantai tersebut Laura menanyakan kembali kepada sekertaris CEO yang berada didepan ruangan.
" Assalamu'alaikum mbak."
Angelina yang fokus dengan berkas tersebut langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar salam dari Laura. Dia melihat Laura dari atas sampai bawah.
" Maaf ya, jika ingin pengajian bukan disini tempatnya." Ucap Angelina angkuh.
__ADS_1
Laura membulatkan matanya kaget." Maksud mbak?"
" Iya ini kan kantor, kau tahu kan?" Tanya Angelina sewot.
" Tahu, saya tahu jika ini kantor. Memangnya pasar, saya kesini ada janji ya sama atasan kau." Ucap Laura tak kalah sewot.
" Haha, orang seperti kau mau bertemu CEO perusahaan. Mimpi jangan tinggi-tinggi ya, nanti jatuh sakit."
Laura semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan sekertaris perusahaan disini.
Laura menghela nafas." Mbak, saya dari perusahaan Vuitton. Saya ke sini ingin bertemu dengan pemilih perusahaan ini, kemarin saya sudah buat janji dengan pak Antony ya."
"Hah? " Mata Angelina melotot tak percaya." Vuitton group buta kali ya, memperkerjakan cewek modelan kayak gini, cuman kelihatan matanya saja lagi." Lanjutnya lirih.
Laura hanya mengernyitkan dahi, dan tiba-tiba ruangan CEO keluar dua empat cowok. Laura langsung membulatkan matanya tak percaya dia bertemu seseorang yang dia kenal.
" David..! " Lirih nya, langsung memalingkan badannya. Takut ketahuan oleh David.
David yang merasa mendengar namanya di panggil pun seketika menoleh ke arah Laura. Tapi sayang dengan penampilan Laura yang sekarang dia sama sekali sudah tidak mengenalinya.
" Paman, kalau begitu aku pergi dulu ya." Pamit David pada Daniel.
" Baiklah boy, baik-baik disana. Jika ada kesulitan langsung minta tolong sama Antony, oke!"
" Baik paman."
" Antony, jaga keponakanku dengan benar. Jika terjadi apa-apa dengannya, kamu yang akan aku bunuh."
" Waduh, kejam banget tuan. Antony kan selalu setia, tenang saja tuan jangan khawatir tuan muda akan baik-baik saja dengan saya."
Laura yang mendengar percakapan itu hanya diam membisu, takut ketahuan. Tapi dia merasa seperti ingat sesuatu.
" Kenapa jantungku berdetak kencang, suara itu… seperti mengenalnya." Batin Laura.
" Loh, nona hijab. Sudah sampai? Kenapa tidak segera menemui kita? " Tanya Antony saat melihat Laura. Antony memang suka memanggil orang dengan sebutan aneh-aneh, jadi saat bertemu dengan Laura dia menyebutkan nona hijab. Waktu itu mau nona ninja tapi karena di rosting Ryan dia jadi manggilnya nona hijab. Pas untuk Laura yang sekarang berpakaian tertutup.
" Eh, pak Antony. Iya ini pak, saya lagi bertanya sama mbaknya. Apa yang punya sudah bisa ditemui?"
Ryan langsung maju menghampiri." Mari nona, masuk ke dalam."
" Terimakasih pak Ryan." Ucap Laura tersenyum tapi kepalanya masih menunduk.
" Ya udah paman, jika mau meeting aku langsung berangkat ya." Ujar David.
Daniel pun mengangguk, David pergi bersama Antony. Sedangkan Ryan mempersilahkan Laura masuk ke ruangan Daniel setelah tuannya masuk ke dalam.
Didalam pun Laura masih terus menunduk, dia memang tidak mau bertatap muka dengan lawan jenis semenjak dia menjadi mualaff.
" Bisakah kau mengangkat kepala?"
Deg!
" Suara itu? " Batin Laura. Bahkan jantungnya berdetak kencang saat mendengar suara Daniel.
Dengan perlahan Laura memberanikan diri untuk mengangkat kepala nya.
" Jangan dia ya Allah, jangan dia. " Doa nya dalam hati.
Deg deg deg!
Suara jantung Laura bertalu-talu, tapi saat mata kedua bertemu Laura mundur satu langkah.
" Dia…dia… tidak… tidak..!" Lirih nya.
Ryan yang merasa tidak beres itupun bertanya." Apa nona baik-baik saja? "
Seketika Laura menoleh ke arah Ryan lalu menunduk kembali." Ah, saya tidak apa."
Daniel hanya mengernyitkan dahi," Kenapa anda terlihat takut? Apa aku sangat menyeramkan? Bukankah kau ingin bertemu denganku? "
Laura menarik nafas dalam, dia benar-benar takut dengan situasi ini. Tapi dia tidak ingin gagal dalam misinya hanya karena bertemu masa lalu.
" Dia tidak mengenaliku, aku harus bisa bersikap biasa saja. Ayo Laura jangan takut! " Ucapnya dalam hati.
" Ah, maaf. Saya tidak apa mari kita lanjutkan." Ucapnya berusaha setenang mungkin.
Ketika mereka sudah duduk bertiga dan saat Laura menjelaskan semua kerja samanya Daniel sangat terpesona dengannya. Walaupun hanya terlihat mata, Daniel merasa familiar denga mata tersebut.
" Kenapa aku begitu nyaman ada dia? Mata itu seperti mata? " Batinnya lalu seketika dia berdiri.
" Nama kau siapa?"
" Hah? " Laura dan Ryan seketika menoleh ke arah Daniel.
Daniel pun duduk kembali dan menetralkan sikapnya." Maaf, saya hanya ingin tahu nama anda. Saya suka dengan kerja anda."
" Terimakasih tuan, ini adalah pujian. Nama saya, em… nama saya, em… "
Ryan dan Daniel menatap tajam ke arah Laura, sedangkan Laura sangat gugup untuk saat ini.
****
__ADS_1
Laura dan Launa yang sekarang ya guys, bagaimana tambah cantik ya?