
Bab 17
Di sebuah ruangan interior, disana berdiri seorang pria sedang mengamati perkotaan dari ruangan atas. Pria itu hanya sedang tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Padahal berkas-berkas perusahaan yang menumpuk menunggunya untuk diteliti.
Setelah puas melihat arah luar kini pria itu kembali ke kursi kebesarannya dan mengambil berkas lalu memeriksanya dengan telit satu persatu.
Tok tok tok!
" Masuk! " Suara baritonnya membuat semua orang takkuk dibawahnya.
Krieett...
" Hai, paman Daniel. " Sapa seorang remaja dengan senyum manisnya.
Pria yang bernama Daniel pun mendongak dan memberikan senyum pada keponakan yang dia sayangi itu.
" David! Kenapa ke kantor? Apa ada yang ingin diminta? "
" Tidak paman, aku hanya main saja, pengin lihat suasana kantor. Aku juga kangen sama paman, setiap malam pasti tidak bisa ketemu, semenjak aku besar paman selalu sibuk tidak ada waktu untuk ku. "
Daniel menghampiri keponakannya yang duduk disofa, dia menjatuhkan bokongnya disofa samping keponakannya.
David langsung memeluk pamannya. " Paman yang terbaik."
" Sudah memujinya, sekarang apa sedang ada yang ingin dibicarakan. "
" Gak paman, cuma mau bilang hari ini aku sudah mulai ke kampus. "
" Oh iya, paman lupa ya jika hari ini kamu baru mulai kuliah, maafkan paman ya lupa kasih hadiah buat kamu. "
" Aku sudah gede paman, sudah gak ingin hadiah, aku cuma ingin seperti dulu paman, setiap malam paman selalu menemaniku tidur dan kita saling bercerita. Paman berubah semenjak aku duduk dibangku SMA, paman selalu sibuk, tidak pernah ada waktu buat David. "
Daniel termenung, dia menyadari semenjak keponakannya sudah menginjak remaja, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Pekerjaan, bahkan sampai wanita malam. Semenjak mengenal mami germo, Daniel selalu ditawarkan untuk membeli seorang gadis yang masih bersegel, awal-awal mencoba tapi seiring waktu menjadi kejanduan.
David adalah keponakannya, putra dari kakaknya yang bernama Samuel Oliver. Daniel Oliver dan kakaknya hanya dua bersaudara. Kedua orang tua David meninggal didalam kecelakaan mobil temasuk kakek dan nenek David, mobil mereka masuk jurang ketika mereka sekeluarga sedang ingin bertamasya ke puncak. Pada saat itu David ber-usia lima tahun, semua tewas ditempat kecuali David.
Dan Daniel yang waktu itu masih ber-usia sekitar dua belas tahun, dia yang masih duduk dibangku SMP itupun saat kejadian tidak ikut tamasya sama keluarganya karena dia sedang ada acara sendiri bersama sekolahannya.
Sehingga sedari kecil David menjadi yatim piatu dan hanya Daniel yang merawatnya sampai sebesar sekarang. Daniel kecil harus bisa membagi waktu untuk merawat sang keponakan, sekolah dan memimpin perusahaan. Tidak mungkin Daniel membiarkan perusahaan ayahnya bangkrut begitu saja.
Daniel benar-benar pria yang bertanggung jawab, disela kesibukannya ,Daniel selalu menyempatkan bermain dengan David ,walaupun hanya mendengarkan cerita David kecil. Daniel berharap keponakannya tumbuh dengan baik dan pintar.
Sekarang Daniel begitu sibuk dengan dunianya, apalagi dia setelah bertemu Laura yang terakhir kali wanita yang dia beli, dia sangat ingin bertemu kembali dengannya, dia sudah berusaha mencarinya bahkan membayar beberapa orang untuk mencari wanita itu tapi belum juga menemukannya. Beberapa kali ke club malam mami germo, dia tidak menemukannya, bahkan dia selalu menolak wanita perawan yang ditawarkan padanya.
Entah mengapa Daniel hanya ingin kembali bersama Laura, dia ingin mengungkung wanita itu dibawahnya dan tak ingin melepasnya lagi.
" Paman... Hai paman! " David melambaikan tangannya diwajah pamannya, Daniel terjingkat kaget.
" Eh? Iya boy!"
" Paman kok ngalamun, dengar cerita aku gak? "
" Hah? Apa?"
" Hais..., paman aku cerita tentang wanita gebetan ku, yang seminggu lalu aku ceritakan, tapi paman malah tidur. "
__ADS_1
Iya seminggu lalu David mengganggu Daniel yang sedang tidur hanya untuk menunjukan foto cewek gebetan nya. Tapi Daniel hanya iya-iya saja jawabnya tanpa membuka matanya.
" Oh, cewek aneh itu yang kau maksud. "
" Iya paman, walaupun aneh dan galak, entah mengapa aku malah semakin tertantang untuk mendapatkannya. "
" Hem, boy ! Paman kira kau sudah bisa menaklukan cewek itu, dari kau masuk SMA sampai mau kuliah, tapi belum juga bisa kau taklukan? "
" Jangan ngledek lah paman, aku pasti bisa hanya nunggu waktu saja. "
" Paman jadi penasaran, ceweknya seperti apa sih yang tidak tertarik dengan pesona kegantengan keponakan paman ini, kaya sudah, ganteng iya, punya segalanya tapi kok naklukin cewek satu saja gak bisa. "
" Hais, paman itu bisanya ngledek mulu, awas ya nanti kalau sudah bisa aku tlakukin akan aku bawa dia dihadapan paman. "
" aku tagih janjimu, aku tunggu boy..
Kini mereka berdua kembali saling bercerita. Kedekatan yang sedari kecil membuat David menceritakan sekecil apapun masalah dia kepada pamannya.
Tidak terasa waktu semakin sore, kini Daniel berkutat kembali dengan pekerjaan nya.
" Paman, David pulang dulu ya, paman harus istirahat ,jangan gila kerja terus. "
" Boy! Harusnya kau juga sudah belajar terjun ke dunia bisnis deh. "
" Gak dululah paman, David masih pingin mengejar cinta. "
Daniel mengerutkan keningnya. " Apa perlu paman Ryan yang bertindak? "
" Eh, gak, jangan, David pengin cinta dia ke aku mengalir seperti air yang tenang dan putih bersih tanpa ternoda, aku gak suka ya cara paman itu, hanya karena memiliki kekuasaan harus mengekang yang lemah agar menurut pada kita. "
" Terserah kau boy, paman hanya berharap kau segera terjun ke perusahaan membantuku. "
Daniel hanya tersenyum melihat punggung keponakannya semakin hilang dibalik pintu. Walaupun hati sedang lelah, Daniel bahagia melihat keponakannya bahagia. Tidak ada yang penting selain kebahagiaan keponakannya.
" Siapa perempuan yang sudah berani menolak cucu dari Oliver? " Ucap Daniel dalam hati.
****
Laura dan Launa yang pulang dari kampus pun terkejut melihat mama nya terbaring ditempat tidur.
" Ma...
" Mama kenapa kak? "
" Badannya panas Loun. "
" Terus gimana kak, bawa ke dokter. "
" Iya Loun, kalau begitu aku keluar cari mobil tumpangan ya."
" Cepat kembali ya kak. "
Laura mengangguk dan saat ingin beranjak berdiri tangannya ditahan oleh mamanya.
" Ma! sudah bangun, apa yang sakit ma? "
__ADS_1
" Gak sayang, ayo kita beresin barang kita, karena rumah dan tanah ini sudah dijual oleh pemiliknya. "
" Apa? dijual? "
Laura syok mendengarnya, sedangkan Launa menangis.
" Kita harus tinggal dimana kak, ma? "
" Ma, kenapa yang punya tanah ini tega sekali. "
" Bukannya tega sayang, kita sudah menumpang bertahun-tahun tanpa menyewa nya, bukankah artinya itu mereka sudah begitu baik pada kita? sekarang mereka sedang kesulitan uang untuk usaha mereka, kita harus mengerti itu nak? "
" Setidaknya beri waktu untuk Laura mencari tempat tinggal ma. "
" Jangan pikirkan itu, sekarang kita kemasi barang-barang kita. "
" Tapi mama sedang sakit. " ucap Launa.
" Iya, badan mama panas loh. " sahut Laura.
Kirana berusaha bangun dan tersenyum walaupun dia merasakan begitu sakit dikepalanya.
" Mama baik-baik saja, ayo kita mulai berkemas. "
Laura dan Launa mengangguk, lalu mereka mulai mengemasi barang Kirana terlebih dahulu ke dalam tas.
" Permisi.... permisi...
Didepan ada seorang laki-laki yang berdiri didepan pintu sambil terus berteriak-teriak. Laura dan Launa saling pandang.
" Siapa ya kak? "
" Entahlah, aku ke depan dulu, kau lanjut kemas ya Loun. "
" iya kak. "
Laura melangkah menuju pintu dan saat membukanya dia mengernyitkan dahi.
" Cari siapa mas? "
Laki-laki itu terdiam melihat Laura, dia mengamati wajah Laura dalam, Laura risih ditatap sedemikian rupa. Dia jadi takut dan was-was. Akhirnya Laura menutup pintunya keras.
tok tok!
" Eh, mbak, buka pintunya! "
****
David
Daniel
__ADS_1
Visual Daniel dan David ya guys, jangan lupa dukungannya buat cerita ini. Terimakasih banyak buat kalian yang sudah mengikuti cerita ini.
Salam sayang dariku author remahan🥰