
Angin panas menderu di sepanjang jalan kering, rerumputan rendah tanpa sepohon pun menemani. Dua pengembara memakai tudung tampak berjalan di bawah terik matahari, keduanya hanya berjarak beberapa meter lagi sebelum sampai di perbatasan kerajaan Reymin.
Kerajaan luas dengan sungai lebar mengelilinginya, Reymin menjadi salah satu kerajaan dengan benteng alam terbaik. Kerajaan Reymin atau yang biasa disebut sebagai kota tenggara merupakan kerajaan ras manusia yang terletak di sebelah tenggara benua Midfraz. Kerajaan Reymin adalah kerajaan yang paling dekat dengan benua Gat’la, benua melayang yang dihuni oleh ras Draga dan ras Gigant.
Jalur akses kerajaan Reymin hanya ada empat, yaitu gerbang timur laut, gerbang tenggara, gerbang barat daya, dan gerbang barat laut. Untuk melewati sungai yang mengelilingi kerajaan Reymin, semua yang ingin masuk haruslah melewati jalur gerbang tersebut.
Luragorn dan Lithia mendekati gerbang timur laut, gerbang yang mereka lewati dari arah Beastman Districk. Beberapa kereta kuda dan pengelana terlihat akan melewati gerbang yang sama.
Sungai dengan lebar hingga 1.500 meter membuat siapa pun berpikir dua kali untuk menyeberangi sungai tanpa persiapan. Penghubung daratan di ujung pandangan hanyalah jembatan beton yang dijaga oleh banyak prajurit.
Jembatan beton selebar sepuluh meter menjadi jalan yang akan membawa Luragorn dan Lithia masuk ke dalam kerajaan Reymin. Pengembara serta pedagang berbaris untuk diperiksa sebelum masuk, termasuk Luragorn dan Lithia.
“Selanjutnya!” seru si prajurit yang bertugas menggeledah.
Zirah yang dikenakan nampak sangat sederhana dengan bahan besi biasa, menampakkan pangkat mereka yang rendah sebagai prajurit kelas bawah. Beberapa ada yang memegang tombak, beberapa ada yang hanya bersenjatai pedang, dan beberapa lagi hanya memegang sebuah catatan dan pena.
Para prajurit menggeledah Luragorn dan Lithia kemudian membiarkan keduanya masuk tanpa kecurigaan sama sekali. Pemeriksaan yang cepat itu hanya untuk memastikan tidak adanya mata-mata atau senjata berbahaya yang sangat langka seperti senjata sihir atau senjata terkutuk. Selain tas besar dan pedang biasa Luragorn, para penjaga tidak menemukan sesuatu untuk dicurigai dan akhirnya mengizinkan keduanya.
Meski berhasil masuk ke dalam kerajaan Reymin, keduanya masih harus berjalan jauh untuk sampai ke daratan di ujung jembatan. Untunglah sebuah kereta kuda yang mengangkut barang-barang dagangan lewat dan menawari tumpangan.
Mengikuti arus dari tindakan orang-orang adalah jalan terbaik ketimbang sembunyi-sembunyi demi menghilangkan kecurigaan, terlebih jika harus berjalan kaki sejauh 1.500 meter ke depan dengan sinar matahari yang menusuk dari atas.
***
Setelah dua jam perjalanan menaiki kereta kuda, Luragorn dan Lithia sampai di tempat persinggahan pertama mereka. Kota besar dengan kastel tinggi serta tembok beton yang kokoh.
North Reymin Outpost, salah satu dari empat kota besar yang menjadi benteng pertahanan kerajaan Reymin. Tidak seperti gerbang tenggara maupun gerbang barat daya yang langsung disambut oleh wilayah perkotaan dan pedesaan, gerbang timur laut dan barat laut harus melewati kota pertahanan terlebih dahulu. Gerbang timur laut dengan North Reymin Outpost sebagai kota pertahanannya, sedangkan gerbang barat laut dengan West Reymin Outpost sebagai kota pertahanannya.
Hampir tidak ada bedanya dengan kota lain di kerajaan Reymin, hanya saja kota pertahanan diisi dengan banyak prajurit dan informasi untuk pertahanan kerajaan. Dan salah satunya bisa saja berisi informasi tentang Lithia yang menjadi putri kerajaan Midia.
Status Lithia sebagai putri yang diburu tidak terlalu berpengaruh di kerajaan Reymin, tetapi status Lithia sebagai keluarga Luxorn yang terkutuk tetap saja menjadi momok di benua Midfraz. Itulah hal yang sangat ditakuti oleh kedua pengembara ini.
Luragorn dan Lithia langsung turun dari tumpangan mereka ketika baru saja memasuki North Reymin Outpost atau yang bisa disebut sebagai kota pertahanan utara. Keduanya berjalan santai sambil tetap memakai tudung masing-masing.
Hanya ada bangunan besar dan toko di tiap sisi. Beberapa prajurit dengan zirah besi terkadang berjalan-jalan dengan santainya sambil berbincang. Hampir semua masyarakat berada di status ekonomi menengah ke atas, yang mana tampak dari cara mereka berpakaian dan berbicara.
Pakaian agak mewah dengan percakapan yang sangat sopan menyambut para pendatang dari segala tempat. Tidak jauh dari pandangan, sebuah kastel besar menjulang tinggi. Kastel yang menjadi tempat tinggal penguasa kota tersebut sekaligus tempat pertahanan terakhir.
__ADS_1
Beberapa wanita bangsawan memakai gaun indah sebagai pakaian mereka. Berjalan-jalan dengan prajurit yang menemani mereka, membuat Lithia terdiam sejenak memperhatikan.
“Putri Lithia –,”
Lithia menarik Luragorn pergi mencari tumpangan lain menuju kota berikutnya. Tanpa sepatah kata yang keluar dari Lithia, meski tanpa pembicaraan apa pun, Luragorn bisa merasakan kesedihan mendalam di saat ia melihat tatapan Lithia pada para wanita bangsawan sebelumnya. Ia tahu bahwa Lithia merindukan saat-saat menjadi anggota kerajaan, tetapi Luragorn hanya diam dan menuruti kemauan perempuan berambut merah ini.
***
Suara sepatu kuda menghentak tanah agak berbatu, menggoyang kereta yang dibawanya. Kereta pengangkut senjata dan beberapa peralatan penempaan menjadi tumpangan Luragorn dan Lithia kali ini.
Keduanya berencana mencari informasi tentang assasin beastman sekaligus tempat tinggal layak di kerajaan Reymin. Tentu saja tidak ada tempat yang lebih baik untuk memulai selain guild para petualang.
Guild petualang, tempat berkumpulnya berbagai macam petualang atau orang dengan kemampuan militer yang cukup bagus di mana mereka akan mengerjakan misi apa pun yang diberikan.
East Wings sendiri adalah sebuah guild petualang besar di kerajaan Reymin. Terletak di sebelah timur kerajaan Reymin, menjadi satu-satunya guild petualang di kerajaan itu sekaligus guild terkuat di wilayah timur dan tenggara Midfraz.
Kota kecil dengan sebuah bangunan besar sebagai pusatnya. Bangunan-bangunan kecil merupakan rumah dan toko perlengkapan para petualang sedangkan bangunan besar di bagian tengah merupakan bangunan guild itu sendiri.
Luragorn dan Lithia berjalan menuju gedung guild untuk mendaftarkan diri menjadi anggota. Keduanya melihat berbagai macam petualang di sepanjang jalan mereka. Beberapa petualang dengan empat kelas utama menghiasi pemandangan kota guild tersebut.
Luragorn dan Lithia memasuki gedung dan menghampiri meja resepsionis. Keduanya menarik perhatian seluruh mata yang ada, termasuk sang guild master bernama Lusy.
Seorang perempuan dengan tinggi 170 cm dan tubuh agak berisi tetapi tetap tampak menawan sebagai perempuan. Rambut pendek berwarna cokelat gelap. Tunik cokelat dengan beberapa pelindung melekat di tubuh menjadi penutup badannya.
Lusy sang guild master menghampiri Luragorn dan Lithia untuk menyambut keduanya sebagai pendatang baru.
“Selamat datang di East Wings. Ada yang bisa kubantu?” tanya Lusy dengan senyum ramah.
Lusy berdiri tegap dan membusungkan dadanya yang besar. Luragorn hanya diam sementara Lithia menjaga jarak dan memegang dadanya yang berukuran sedang-sedang saja.
“Kami ingin menjadi petualang,” jawab Luragorn.
“Heh ... aku bisa melihatnya,” ujar Lusy mengamati pedang yang berada di punggung Luragorn.
Lusy mengamati Luragorn dari bawah ke atas dan sontak bersiul melihat betapa gagahnya Luragorn untuk seorang petualang. Badan besar berotot dan sebuah longsword di punggung, membuat Lusy menatap kagum. Tidak lama setelah itu, Lusy memindahkan pandangannya pada Lithia yang masih memakai tudung.
__ADS_1
“Dan kau? Bagaimana denganmu gadis kecil?” tanya Lusy yang tiba-tiba mengangkat tudung Lithia.
Luragorn sontak menarik pedang dan mengacungkannya pada leher Lusy. Wajah Lithia yang agak gugup dan rambut merahnya yang panjang kini terlihat jelas. Meski tudung Lithia terbuka, tetapi tidak ada yang bisa menarik perhatian seluruh mata selain acungan pedang di leher Lusy.
Semua petualang East Wings sontak berdiri dari duduk mereka sambil memegang senjata masing-masing. Semuanya nampak waspada terhadap Luragorn yang tiba-tiba mencoba menyerang Lusy.
Lusy membelalak ketika melihat Lithia seolah mengabaikan ancaman Luragorn. Lusy segera meminta maaf kepada keduanya dan mengantar Luragorn dan Lithia untuk keluar.
“Maaf, sepertinya kalian tidak cocok di sini. Carilah tempat lain,” kata Lusy mendorong Luragorn dan Lithia keluar bangunan guild.
“Temui aku di tempat ini,” bisik Lusy pada Lithia sambil memberi secarik kertas.
Luragorn dan Lithia hanya berdiri di depan bangunan guild, menatap kosong dan berpikir langkah yang harus diambil berikutnya.
“Lura, perempuan tadi memberikan ini,” ucap Lithia memperlihatkan secarik kertas yang ia dapatkan dari Lusy.
***
Angin sejuk meniup dengan lembut, membawa bisikan alam dan dedaunan yang beterbangan. Tanah lapang yang jauh dari kota guild dan langit senja menjadi suasana sempurna untuk sebuah pertarungan.
Berdiri dengan tegapnya, Lusy menyilangkan kedua tangan di depan dada. Gauntlet perunggu yang agak bergerigi terpasang di lengan Lusy. Sebuah senyuman lebar dan tatapan lurus seolah siap menghadapi siapa pun.
Di sisi lain, seorang pria dengan sebuah longsword berdiri dengan sedikit keraguan di hatinya. Tidak jauh di belakangnya terdapat seorang perempuan berambut merah yang juga agak gugup dengan situasi yang ada.
“Apa kau tidak ingin memakai zirah atau semacamnya? Kau hanya memakai pakaian biasa,” ujar Luragorn pada Lusy.
“Tidak, ini lebih dari cukup,” jawab Lusy sambil memamerkan gauntlet miliknya.
“Jika aku bisa mengalahkanmu. Kami bisa menjadi anggota guild bukan?”
“Hah? Siapa bilang?”
“Lalu? Kenapa memberi surat tantangan ini?”
“Bukan masalah guild, tapi lebih penting. Bukankah begitu ... Putri Lithia?”
__ADS_1
Luragorn terkejut kemudian memasang kuda-kuda dan Lithia langsung mundur menjaga jarak. Lithia berdiri tidak jauh dari Luragorn dan sontak waspada setelah mendengar pertanyaan Lusy.