Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 28


__ADS_3

"Itulah yang terjadi," kata Izot sambil mengusap bagian tulang belakangnya yang agak sakit.



"A ... a ... apa yang kakek bicarakan? Baik? Mereka sama saja," ujar Fsosa mewakili kebingungan seluruh beastman yang mendengarkan.



"Aku tidak tahu denganmu Fsosa, tapi aku lebih menyarankan untuk membantu cucu Rugborth itu," tambah Izot sambil mengamati Fsosa sambil sesekali melirik ke arah beastman yang tengah berpikir.



"Tapi, karena manusia seperti mereka, membiarkan raja biadab itu memerintah."



"Beberapa hal tidak bisa kau lihat hanya dengan emosimu saja, Fsosa. Lihatlah sinar dalam matanya," tunjuk Izot ke arah wajah Lithia yang terluka, tetapi binar matanya sangat berapi. "Itu bukan tatapan seorang putri kerajaan, itu adalah tatapan seorang pejuang."



Izot melangkah mendekati Lithia yang sontak membuat Luragorn semakin meronta. Izot perlahan mengelus kepala perempuan berambut merah ini sambil tersenyum lembut.



"Maaf tidak bisa membantu kakekmu saat itu," nada memelas keluar dari mulut Izot, "sungguh aku minta maaf."



Lithia mencoba menahan sakitnya hati di saat mendengar nama kakeknya disebutkan. Mata Lithia mulai memerah dan berkaca sementara perempuan berambut merah ini berusaha menghapus air matanya.



"Tidak apa, aku tahu. Kakekmu adalah orang yang hebat. Setelah semua ini, kau pasti sangat kelelahan, kan?" tanya Izot dengan terus mengusap kepalanya yang membuat Lithia tidak kuasa menahan air mata.



Tangisan akhirnya terdengar, membungkam situasi tegang di sekitar beastman. Izot perlahan memeluk Lithia sambil terus mengelus kepala perempuan berambut merah ini.



"Fsosa, tidak ada gunanya melampiaskan pada perempuan ini. Ia tidak bersalah. Kalau kau ingin mengembalikan ras beastman pada kehormatannya, maka kau harus membantu. Bantulah dia kembali ke rumahnya, tahtanya semula. Apa kau ingin kita tetap seperti ini?" tanya Izot memandang Fsosa.



Fsosa tidak menjawab karena keringat gugup membanjiri, memaksanya mengamati pandangan rakyatnya.



"Pilihlah, Fsosa."



Fsosa diputari kekhawatiran, tetapi di saat yang sama pula ia merasakan kesakitan. Kepalanya pusing untuk berpikir hingga semua di sekitarnya seolah terdengar bising.



"Aku sudah membuat pilihan," kata Fsosa dengan tegas meski agak berkeringat dingin.

__ADS_1



***



Luragorn mengayun-ayunkan pedang besarnya dari atas ke bawah dengan kedua tangan dan penuh tenaga hingga keringat tampak menetes dari kegiatannya yang terus berulang itu. Tepat di belakang kediaman Fsosa, sebuah tanah lapang yang biasa digunakannya untuk berlatih kini digunakan pula oleh Luragorn.



Luragorn yang terus berlatih itu tanpa sadar telah diamati oleh seorang beastman kelinci yang berdiri memandangi pria manusia tersebut. Orang itu adalah Fsosa yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Luragorn.



“Kenapa tidak bicara saja, Putri?”



Pertanyaan cepat itu seketika mengejutkan Fsosa. Seorang beastman kelinci yang berkulit agak kecokelatan kini tersenyum pada Fsosa. Mata merahnya memandang ratu para beastman itu dengan tatapan agak sayu.



“A … apa yang kau inginkan, Flowy?” balas Fsosa dengan pertanyaan lain.



Flowy mendekati Fsosa sambil sedikit bergumam dengan senyum tipis di wajah, “Bukankah Putri selalu memperhatikannya? Sejak kedatangannya hari itu,”



“Hah?” Wajah Fsosa seketika memerah dan langsung membantah perkataan temannya ini, “A … a … apa yang kau bicarakan? Manusia seperti itu? Tidak mungkin aku …” Fsosa melempar tatapannya ke arah lain dengan wajah yang masih agak memerah.




“Aku tidak paham apa yang kau katakana,” Fsosa mencoba melirik Luragorn dan tidak bisa berhenti melakukannya.



Sejak pertama bertemu, Fsosa langsung terpikat dengan tatapan tajam dari Luragorn. Tubuh kesatria dan tatapan seriusnya menampakkan betapa kuatnya karakter Luragorn sebagai seorang pria dan tanpa disadari, Fsosa mulai memperhatikan Luragorn dan menaruh rasa pada manusia tersebut.



“Dia hanya manusia,” gumam Fsosa agak tersipu.



***



“Hai, apa ada yang bisa kubantu?” tanya Lithia yang mencoba mengakrabkan diri ke masayarakat beastman yang sedang berada di daerah perbelanjaan.



Sayang sekali, semua beastman tampak acuh dan tidak peduli. Seolah tidak mempercayai, meski memang seperti itulah yang terjadi. Walaupun Izot telah memberi perintah dan Fsosa memberi izin, para rakyat tidak bisa semudah itu menerima. Akan tetapi Lithia yakin, dengan sedikit keterbukaan dan kebaikan, makai ia akan diterima oleh para beastman yang ada.

__ADS_1



“Pergi!” teriak salah seorang bocah beastman melempari Lithia dengan buah tomat.



Wajah Lithia seketika berubah menjadi warna merah segar yang agak selaras dengan warna rambutnya. Meski perbuatan anak itu tidak bisa diterima, tetapi Lithia harus menahannya demi menjalin hubungan yang lebih baik.



“Hai, apa kabar?” tanya seorang beastman wanita dengan subras kuda. Telinga kudanya bergoyang agak cepat dan senyuman seketika dilayangkan ke arah Lithia, “Aku dengar kau menawarkan bantuan, apa kau bisa membantuku?”



Lithia membersihkan wajahnya dan membalas senyuman tersebut dengan balik tersenyum ramah, “Tentu, apa yang bisa kubantu?”



***



Luragorn dan Fsosa berjalan beriringan mencari Lithia. Pria jangkung berbadan tegap itu terus saja memberi tatapan keseriusan selagi melangkah dan tidak sedikit pula waktu yang digunakan Fsosa untuk memandangi Luragorn.



“Terima kasih mau menemaniku,” kata Luragorn yang tiba-tiba mengejutkan Fsosa.



“T … tentu saja aku akan membantu. Kita adalah aliansi bukan? Berarti wajar membantu bukan?” Fsosa berbicara agak terbata sambil mengalihkan pandangannya dengan wajah agak merah padam.



“Begitukah? Syukurlah,” Luragorn tersenyum dan untuk sesaat perhatian Fsosa teralihkan.



“Nona Fsosa? Ada apa?” tanya Luragorn menatap Fsosa yang membuat Fsosa gelalapan dan memperbaiki postur tubuhnya.



“T … tidak, aku hanya berpikir kenapa kau begitu tinggi,” kata Fsosa berusaha terdengar serius.


“Kenapa aku panik sih? Kenapa jantungku berdetak tidak karuan sih? Ada apa denganku?”



“Syukurlah nona Fsosa adalah orang yang baik. Ah, itu Putri Lithia,” Luragorn tiba-tiba tersenyum lebar dan segera menghampiri Lithia yang sedang membantu seorang beastman di kedai makanan.



Luragorn dan Lithia langsung memulai percakapan dan saling berbincang dengan keceriaan di wajah keduanya. Tidak jauh dari situ, Fsosa berdiri terpaku memperhatikan.



“Eh? Apa ini? Kenapa rasanya …” Fsosa memegang dadanya yang terasa agak berdenyut, “Sakit?” Fsosa menatap kosong pada Luragorn dan Lithia yang tampak sangat bahagia dengan interaksi masing-masing mesk tidak terlalu nampak karena sikap Luragorn yang agak kaku. “Apa yang kupikirkan?”

__ADS_1



__ADS_2