
Perjalanan mengantar Libi dan Ruhif dilakukan. Luragorn mengawal kereta kuda milik perempuan berambut biru laut ini. Berputar dengan kecepatan biasa, roda kereta itu membuat jejak panjang di atas tanah dan rerumputan yang dilalui.
Empat ekor kuda menarik kereta yang mengangkut perabotan rumah. Bergerak melewati padang rumput dan hutan pohon pinus. Kadal milik Luragorn dan Lithia tampak merayap dengan santainya sambil sesekali menjulurkan lidah panjangnya yang bercabang.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya rombongan Libi telah sampai di kerajaan Reymin. Melewati gerbang tenggara yang memotong sungai lebar, kereta mereka langsung masuk setelah Luragorn dan Lithia menunjukkan logo East Wing pada prajurit yang menjaga. Tameng bersayap dengan dua buah pedang saling menyilang, itulah logo yang mewakili East Wing.
Guild East Wing adalah tempat bagi orang-orang berkemampuan militer non pemerintahan dan telah terkenal akan reputasi bagusnya yang telah berkali-kali menolong pihak kerajaan jika dibutuhkan. Hubungan antara East Wing dan pemerintahan sangat baik, membuat nama East Wing semakin dipercayai di kerajaan Reymin.
Memasuki wilayah kerajaan Reymin, kereta Libi terus dikawal hingga di kota tujuannya. Kota Riy, kota yang berletak di sebelah barat laut guild East Wing sekaligus kota terdekat dari guild milik Lusy.
Sinar matahari mulai redup dan semakin menuju cakrawala, tanda siang berganti menjadi sore hari. Meski memasuki wilayah Reymin hanya memakan tiga jam saja, tetapi untuk menuju kota tujuan Libi, maka waktu perjalanan harus ditambah.
“Kita sudah sampai,” kata Libi menatap gerbang kota Riy.
Kota biasa yang cukup makmur. Walaupun toko berjejer di pinggir jalan, tetapi pendatang bisa melihat beberapa lahan perkebunan di daerah tepi kota Riy. Terdapat kastel berukuran sedang di pusat kota, dimana tempat wali kota memerintah tempat itu.
Kereta Libi terus berjalan dan terkadang beberapa warga menatap mereka. Anak-anak kecil berjalan di samping kadal Luragorn dan Lithia karena penasaran akan tunggangan tersebut, menemani keempat orang ini hingga sampai di rumah baru yang telah dibeli oleh Libi.
“Ini dia rumah baru kita,” kata Libi dengan wajah berseri.
Rumah kayu dua tingkat dengan lantai bawah yang dikhususkan sebagai toko. Bentuknya tidak terlalu mulus, tetapi tidak juga terlalu tua. Kondisi yang pas untuk memulai kehidupan dan membuka bisnis.
“Jadi? Kita harus letakkan di mana ini?” tanya Luragorn yang telah turun dari tunggangannya.
“Oh iya, kita masukkan perabotan rumah dulu. Peralatan toko bisa belakangan,” jawab Libi dengan mata berbinar.
***
Senja datang mengakhiri tiap pekerjaan termasuk Libi dan Ruhif. Rumah kayu dua lantai ini telah rapi, begitu pula peralatan dan papan nama bertuliskan [La Kurasof, pembuat sepatu].
“Terima kasih telah membantu,” kata Libi berterima kasih pada Lithia.
“Tidak, tidak apa. Senang bisa membantu,” balas Lithia dengan senyum ramah.
Luragorn hanya berdiri di samping kadal tunggangannya sambil menyilangkan kedua lengan, menunggu Libi menyelesaikan percakapannya dengan Lithia. Setelah beberapa lama, akhirnya penantiannya terbayarkan dan perempuan berambut merah itu menghampiri Luragorn.
*Grk~
Gemuruh perut Luragorn memecah suasana tersebut dan membuat pria ini menekan perutnya.
Senyuman lebar terpasang pada perempuan berambut merah ini, “Ayo kita makan!” seru Lithia menarik tangan Luragorn.
“Put ... maksudku Lily. Kita tidak perlu terburu-buru mencari tempat makan. Aku bisa menahannya sedikit–”
*Grk~
Gemuruh perut terdengar lagi dan Lithia tiba-tiba berhenti. Penyihir berjubah merah ini berputar kemudian menatap Luragorn dengan tatapan matanya yang menawan.
“Tapi, aku juga lapar,” kata Lithia memegangi perutnya yang bergemuruh.
“B ... b ... baiklah kalau begitu,” balas Luragorn tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang agak kaku.
__ADS_1
***
Bar sederhana dengan beberapa pembeli yang datang. Beberapa dari mereka memesan bir dan beberapa lagi memesan makanan. Lantai dan dinding kayu yang terlihat tua tidak menurunkan cita rasa dari menu bar tersebut.
Lithia memilih salah satu meja kosong. Meja bulat yang juga terbuat dari kayu, begitu pula kursinya yang agak tebal. Luragorn menghampiri bartender dan memesan makanan khas daerah tersebut, yaitu pai labu dan kambing guling panggang serta bir kota Riy.
Setelah memesan makanan, Luragorn berjalan ke arah tempat yang telah diamankan Lithia sebelumnya. Meja kosong di antara dua meja yang tidak ditempati, sementara delapan meja lainnya telah ditempati oleh warga dan beberapa prajurit yang beristirahat dari tugas seharian penuh.
Baru beberapa saat Luragorn memesan, Ruhif tiba-tiba membuka pintu bar dengan cepat sambil berkeringat dan bernapas berat. Seluruh mata tertuju pada bocah laki-laki itu termasuk Luragorn dan Lithia.
Mata Ruhif menatap tiap sisi sebelum akhirnya keluar bar, mengembalikan suasana bar seperti semula. Lithia langsung berdiri dari tempatnya duduk dan mengejar Ruhif, begitu pun Luragorn yang bergegas mengikuti Lithia.
“Maaf, bisa tangguhkan dulu? Sepertinya kami tidak jadi memesan,” kata Luragorn pada salah seorang pelayan perempuan yang menggunakan kirtle biru.
Luragorn bergegas keluar bar menyusul Lithia. Memutar kepala dan melihat sekitar hingga ia mendapati Lithia tengah berbicara dengan Ruhif tidak jauh dari bar.
“Ada apa, Lily?” tanya Luragorn.
“Libi menghilang,” jawab Lithia memandang Luragorn dengan serius.
Luragorn menatap Ruhif yang tampak mencoba menahan tangisannya. Seorang bocah laki-laki dengan tunik kuning ini hanya gemetaran sambil berdiri dengan kedua tangan dikepal. Matanya berkaca dan wajah cemberut terpasang ditambah hingus keluar dari hidungnya.
“Jangan kha–”
*BHRUK!
Sebuah rumah hancur, serpihan material beterbangan, orang-orang berlari ketakutan, dan Luragorn memandang ke arah debu tanah yang berhamburan. Lithia menarik Ruhif ke belakang sementara Luragorn menarik pedang keluar dari sarungnya.
Mata yang tajam itu menatap Luragorn kemudian menggeram di tempat sebelum akhirnya beberapa prajurit mengerumuninya. Prajurit yang memakai zirah besi biasa dengan tombak sebagai senjata.
Sekitar dua lusin prajurit kerajaan turun tangan dan memutari si beastman sambil mengarahkan ujung tombak ke arah si beastman. Secara bersamaan para prajurit menusuk ke arah si beastman yang berada di tengah lingkaran.
*ZLING!
Ujung tombak berdenting saling menggores ketika si beastman meloncat cepat ke atas. Semua prajurit menegadahkan kepalanya melihat manusia serigala hitam itu.
Jari-jemari si beastman terentang dan sedikit menekuk di saat kuku hitamnya yang panjang tumbuh tiba-tiba. Mata memerah dan air liur menetes di rahang yang dipenuhi taring. Sayang sekali di sampingnya, Luragorn tengah meloncat di udara ke arah si beastman sambil mengayunkan sebuah pedang perak mengilap.
*TRANG!
Luragorn terpental lalu mendarat dengan sempurna sementara si beastman juga termundur sebelum akhirnya mendarat juga di tanah.
Tanpa perintah, semua prajurit langsung menusuk si beastman dengan tombak mereka. Sesekali Luragorn ikut mengisi celah dari serangan para prajurit itu.
Beberapa prajurit maju kemudian menusuk, tidak memberi kesempatan si beastman untuk menyerang. Tusukan demi tusukan datang dan si beastman tetap meloncat-loncat. Di saat si beastman meloncat, di saat itulah Luragorn menyerang.
*Trang!
Tebasan ditangkis oleh kuku hitam itu dan prajurit lain sontak menerjang ke arah si beastman. Beastman ini kembali menghindar dengan cepat dan pola terus berlanjut.
Setelah beberapa lama menghindar, si beastman menyeringai dan memutuskan menerjang maju. Para prajurit tetap menusukkan tombak tetapi beastman itu menghalau mata tombak dengan cakar tajamnya, membiarkan pertahanan prajurit yang menyerang mendadak terbuka.
__ADS_1
*TRANG!
Cakaran dilancarkan tetapi berhasil tertahan oleh pedang Luragorn. Mata tombak menerjang dan si beastman melompat tinggi. Beberapa prajurit melempar tombaknya ke arah si beastman serigala.
Si beastman berotasi cepat dan menangkis semua tombak yang datang, mementalkan tombak-tombak itu kembali ke tanah.
Kali ini Luragorn berada di posisi yang tepat di saat melayang di udara. Pria ini menghunuskan pedangnya dengan tangan kanannya secara cepat dan bertenaga.
*TRANG!
Pedang Luragorn terpental dan terlepas dari pegangan, begitu pula lengan si beastman termundur setelah menangkis serangan. Tepat sesaat setelah pedang terlempar menuju tanah, Luragorn menarik senjata lain di tangan kirinya, yaitu tombak salah seorang prajurit. Luragorn langsung menusuk perut si beastman di saat ia masih punya kesempatan.
*Jrash!
“GRRAAAAAGGGHHH ......!!!!”
Mata tombak menancap dan cipratan darah tersebar di udara. Si beastman terjatuh dalam posisi terbaring sambil memegangi perutnya yang terluka sementara Luragorn menapakkan kedua kakinya di tanah tanpa masalah.
Luragorn dan para prajurit kerajaan menatap si beastman yang tengah terbaring dan tidak bergerak. Semua mata tertuju pada satu orang dengan kekhawatiran yang sama. Jantung berdebar dan senjata diacungkan. Genggaman dieratkan dan kaki dilangkahkan mendekat.
Si beastman yang terkapar di tanah ini tiba-tiba berubah perlahan, yaitu berubah ke wujud normalnya. Semua sudah siap untuk menangkap seraya menunggu perubahannya.
Rambut-rambut hitamnya mulai rontok menampakkan kulit putihnya. Tubuhnya perlahan mengecil dan struktur badannya semakin terlihat.
Semuanya terdiam seketika melihat kenyataan yang ada. Di hadapan mereka bukanlah seorang beastman, melainkan seorang gadis berambut biru dari ras manusia itu sendiri.
Gadis itu adalah Libi yang tidak tertutupi sehelai kain pun dan di bagian perutnya tidak ada bekas luka sama sekali.
***
Di teras lantai dua guild East Wing, seorang perempuan berambut cokelat berdiri menyilangkan kedua tangan sambil membusungkan dadanya menatap cakrawala.
“Ketua Lusy, sepertinya memang masalah,” kata seseorang yang tiba-tiba saja berada di belakang perempuan ini.
Seorang laki-laki setinggi 170 cm dengan proporsi tubuh biasa berbicara dari belakang Lusy. Tunik putih ketat dengan jubah hitam serta tudung yang terpasang menutupi kepala si laki-laki. Selendang hitam kecil melilit bagian lehernya, mencegah mulut dan hidungnya terlihat orang lain.
Mata cokelatnya menatap tajam ke depan meski lawan bicaranya tidak berbalik sama sekali. Celana nilon hitam agak ketat dihiasi oleh gantungan pisau kecil melingkari pangkal pahanya.
“Sudah kuduga. Ada yang tidak beres dari perempuan itu,” balas Lusy yang memakai tunik putih dan celana pendek.
“Apakah ia berbahaya? Kurasa tidak. Dia hanya manusia yang berubah menjadi beastman.”
“Kau tidak mengerti.”
Lusy berbalik dengan pandangan serius sambil memakaikan kedua lengannya dengan sepasang gauntlet emas.
“Kumpulkan mereka yang bisa ikut.”
“Baiklah.”
“Kita akan berburu werewolf.”
__ADS_1