Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 31


__ADS_3

“Buron! Beraninya kau membohongiku!”



Teriakan Morgan yang penuh amarah itu menggema ke seluruh ruangan. Ruang seukuran tiga meter persegi yang terdiri dari batu bata lembab sebagai lantai, tembok, dan atap. Hanya ada satu lubang kecil seukuran dua puluh cm persegi sebagai jendela dan ruangan tersebut dapat terlihat jelas kehampaannya dari balik deretan pipa besi yang membatasi ruangan itu sendiri.



Kedua tangan Morgan dibelenggu rantai berukuran sedang yang melekat dengan tembok di belakangnya. Pria berambut hitam panjang itu tidak mengenakan zirah apa pun melainkan hanya tunik dan celana sederhana saja.



“BURON!”



Rahang Morgan saling merapat dan membuat giginya bergemeretak memandangi seorang pria yang berdiri dengan angkuhnya di depan mata Morgan sendiri.



“Diamlah penghianat. Nikmati waktumu di sini selamanya,” kata Buron dengan tatapan dinginnya meninggalkan Morgan di balik jeruji lembab tak terawat.

__ADS_1



Pria bermahkota emas tersebut berjalan keluar menuju singgasananya sebagai raja kerajaan Midia. Matanya yang biru gelap hanya menatap kosong ke depan sambil menopang kepalanya yang miring itu menggunakan sebelah tangan.



“Ternyata dia belum mati, ini akan merepotkan,” kata Buron sambil sesekali mengeluh kesal.



“Tapi, itu tidak mempengaruhi.”




Sesosok berjubah dan bertudung hitam tiba-tiba muncul dari balik bayangan yang gelap. Melayang tanpa sedikit pun kakinya menyentuh permukaan lantai. Kepalanya terangkat sedikit dan menampakkan tampilan wajah yang sangat tua seakan wajahnya hanyalah tengkorak berlapiskan kulit saja.



“Tentu saja tidak akan mengganggu. Rencana Tuan Vandalus memang sempurna. Dengan ini, aku akan menjadi perwakilan ras manusia, iya kan?” tanya Buron agak datar pada sosok berjubah tersebut.

__ADS_1



“Tentu saja. Demi dewa Urugol yang agung, para Undead akan menguasai Midfraz dan kau akan mendapat bagianmu,” jawab sosok berjubah itu.



“Tapi harus kuakui, Qwuq, rencanamu tidak buruk juga,” Buron memain-mainkan sebuah bidak catur raja di antara jari-jemarinya, “Kutukan pada sektor pertanian dan peternakan, kontrol cuaca, pemanggilan monster, ditambah isu dan gossip seputar Rugborth. Mudah sekali aku mendapatkan posisi ini dengan masyarakat yang mudah dibohongi.”



“Sadarilah posisimu, kau tidak lebih berharga dari sebuah bidak. Bersyukurlah karena tuan Vandalus menunjukmu sebagai perwakilan ras manusia,” tegur Qwuq sambil menunjuk Buron dengan jari kurusnya yang keriput.



“Tentu saja, tentu saja. Aku tidak mau jika harus mati cepat seperti itu.”



“Baguslah.”


__ADS_1


“Sekarang …. Rencana tahap akhir,” Buron meletakkan bidak catur raja yang ia pegang ke sebuah papan catur di mana bidak-bidak lain sudah tampak bergerak dengan pola masing-masing, “Sekali lagi, dan berakhir. Midfraz akan menjadi milikku sepenuhnya.



__ADS_2