
"Cepat bergerak!" seru Fsosa memerintah para beastman bersiap untuk berperang.
Sudah dua hari sejak markas tempur para beastman berpindah ke West District. Semuanya tampak sibuk dengan tugas masing-masing termasuk Luragorn dan Lithia yang masih mencari keberadaan si beastman yang Al maksudkan.
Luragorn bersama Lithia hanya duduk bersampingan mengamati para beastman bekerja. Wilayah West Disrict sendiri hampir tidak ada bedanya dengan Beastman District, hanya saja lokasinya yang terlalu jauh di sebelah barat Midfraz membuat manusia mana pun tidak tertarik untuk berkunjung. Hutan lebat dengan banyaknya aliran sungai juga menjadi alasan tambahan.
Kerajaan manusia terdekat adalah kerajaan padang pasir Luqun serta kerajaan maritim Laqaka. Kedua kerajaan ini belum menunjukkan adanya pergerakan yang berarti, membuat West District tumbuh berkembang tampa gangguan dari ras manusia.
Keadaan kota tampak sibuk sementara kedua petualang ini tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Hi kalian berdua, ada waktu kosong?" tanya Flowy menghilangkan lamunan Luragorn dan Lithia.
"Kenapa?" balas Lithia dengan pertanyaan lain.
"Kurasa aku menemukan orang yang kalian cari."
***
Langkah kaki anak-anak berlarian kesana-kemari di lapangan luas. Terlihat bocah beastman menikmati permainan yang mereka mainkan. Tidak jauh dari sana berdiri seorang beastman rubah mengamati, atau lebih tepatnya mengawasi dari kejauhan.
Luragorn tidak bisa mengenali orang yang ditunjuk Flowy, mengingat si beastman tidak dalam mode [pelepasan kebuasan]. Meski pun begitu, Luragorn dan Lithia tetap menghampirinya untuk memastikan.
"Hi, yang di sana," panggil Luragorn yang membuat si beastman rubah berbalik.
Mata beastman itu membelalak dan langsung menjaga jarak sambil menarik keluar belati bergerigi miliknya dengan posisi bertahan.
"Tidak salah lagi," batin Luragorn memantapkan pilihannya.
"Kau Kruxy, kan?" tanya Lithia dengan nada ramah.
"Apa yang kalian inginkan?" Kruxy balik bertanya tampa mengurangi kewaspadaannya.
"Aku butuh bantuanmu, kami butuh bantuanmu," jawab Lithia dengan lembut.
"Aku tidak tertarik," balas Kruxy yang kemudian mengeluarkan bom asap miliknya untuk kabur.
*Poof~
Seketika Kruxy menghilang dari pandangan meninggalkan kedua petualang ini dengan tangan kosong.
***
Sore hari yang cerah di West District, seorang bocah beastman sedang menangis tanpa sebab. Di tengah kerumunan warga yang lalu-lalang mengabaikan si bocah yang menangis di pojokan.
"Apa kau tidak apa?" tanya Kruxy memberikan permen sambil tersenyum.
Perlahan si bocah beastman kucing ini berhenti menangis meski air mata dan hingus keluar dari hidungnya.
__ADS_1
"Mama ... mama di mana?" tanya bocah itu.
"Mari kita cari mamamu, ayo berdiri," ajak Kruxy berkeliling mencari ibu dari bocah beastman.
Berjalan perlahan dan terkadang Kruxy menggunakan teknik assasin miliknya untuk memantau area sekitar dalam jangkauan yang lebih luas. Tidak jarang pula Kruxy menggunakan keahliannya untuk menghibur si bocah beastman.
Setelah beberapa lama pencarian, akhirnya Kruxy berhasil menemukan ibu dari bocah beastman ini. Sang ibu berterima kasih dan berjalan pulang sebelum matahari tenggelam seutuhnya. Senyuman tipis tergaris karena merasa puas akan tindakannya, Kruxy sekali lagi menghela napas panjang lega setelah membantu bocah beastman.
"Kau ternyata orang yang baik," kata Luragorn yang berdiri tidak jauh di belakang Kruxy.
"Kami hanya ingin bertanya," sambung Lithia menjelaskan.
"Sudah kubilang, tidak ada yang bisa kubantu! Urus sendiri masalahmu!" balas Kruxy tanpa berbalik sama sekali.
*Poof!
Sekali lagi Kruxy menghilang meninggalkan Luragorn dan Lithia dengan asap hitam pekat.
***
"Aku pulang," ujar Kruxy membuka pintu sebuah rumah.
Pemandangan serba gelap seketika mengejutkan Kruxy, memaksanya untuk bersegera mencari sesuatu yang bisa dijadikan pencahayaan. Di saat Kruxy mengeluarkan sebongkah batu api untuk penerangan, betapa terkejutnya ia mendapati keadaan rumah porak-poranda.
Tidak ada siapa pun di dalam rumah. Jantungnya berdetak tidak keruan berpikir kemungkinan terburuk, yaitu pemburu budak. Rumah Kruxy tergolong berada jauh dari pusat kota West District, tetapi belum pernah ada kejadian pemburu budak di sekitar West District sebelumnya. Hal ini menambah kekhawatiran Kruxy, membuatnya berlari ke segala tempat yang mungkin menjadi tempat mereka menjual budak, terutama dari ras beastman.
"Aku memang tahu tempat seperti itu, tentu saja karena pekerjaanku. Namun mencari semuanya seperti mustahil. Meski aku bisa berlari 100 km per jam dalam waktu lama, tetap saja .... AKH! SIAL!" batin Kruxy bergejolak. "Tunggu dulu, bagaimana kalau seandainya ...."
Kruxy menghentikan langkahnya dan berpikir sejenak dalam keheningan malam.
"Gawat!" batin Kruxy melanjutkan larinya ke arah lain.
***
Kereta mewah dengan motif kerajaan di tiap sisinya bergerak melewati gelapnya malam. Kuda pilihan serta kusir khusus dengan pengawalan beberapa prajurit berzirah lengkap. Tidak ada yang bisa meragukan betapa istimewanya kereta kuda tersebut. Sayang sekali, itu bukanlah kereta yang mengangkut anggota bangsawan, melainkan anak-anak beastman yang masih berusia belasan tahun ke bawah.
"Kak Kruxy, tolong aku," gumam salah seorang gadis beastman yang gemetaran.
Berkisar belasan anak-anak diculik paksa untuk suatu kerajaan. Leher mereka dibelenggu rantai dan goncangan kereta semakin membuat mereka takut.
Tidak lama berselang, kereta akhirnya berhenti dikarenakan seorang beastman berdiri mengahalangi jalan. Beastman itu adalah Kruxy yang terlihat sangat geram dengan belati yang bergetar di tangannya.
"Berhenti dulu, biar kulihat apa isi kereta itu," kata Kruxy mencoba menahan getaran rahangnya.
"Hah? Apa yang kau inginkan cebol?" kata salah seorang prajurit yang turun dari kudanya. "Matilah dasar binatang!"
Ayunan pedang besar dilancarkan ke arah Kruxy yang sudah siap pada posisinya. Mata Kruxy berkontraksi cepat dan tubuhnya seketika bergerak tanpa perlu ia perintah.
__ADS_1
*TRANG!
***
Sinar rembulan agak redup menerangi kereta mewah ini, menampilkan sosok beastman rubah yang kelelahan. Napasnya terputus-putus tidak beraturan, pandangannya mulai kabur dan seluruh tubuhnya berteriak kelelahan. Tangannya bergetar memegang pisau serta belati berdarah, menetes perlahan ke tanah berumput lembab.
Di hadapannya, berdiri dua orang prajurit yang tampak bugar sementara prajurit lainnya tengah terkapar di tanah bersimbah darah segar. Kedua pihak tidak melakukan gerakan apa pun selain mengamati. Namun begitu, terlihat jelas siapa yang akan jatuh duluan. Di saat itu terjadi, dua prajurit yang tersisa akan sangat menikmati penyiksaan yang akan mereka lakukan.
"Bagaimana ini?" batin Kruxy mencoba mempertahankan keadarannya yang di ambang batas.
"IGNIS!"
*SLASH!
Dua prajurit yang tersisa tiba-tiba dikalahkan tepat setelah seruan tadi diteriakkan. Salah satunya terbakar di tempat sedang satunya lagi tertebas di bagian leher. Kruxy sudah kehabisan tenaga untuk tetap sadar dan pada akhirnya ia terbaring di tanah.
***
"Kakak, bangunlah! Kakak Kruxy!"
Mata Kruxy perlahan terbuka setelah mendengar namanya terpanggil. Tidak lama setelah itu, beastman rubah ini menyadari bahwa dirinya tengah terbaring di kasurnya yang empuk dengan ditemani adik perempuannya yang imut.
"Syukurlah, kau sudah baikan," kata Lithia tersenyum ke arah Kruxy.
"Apa yang terjadi dengan keretanya?" tanya Kruxy agak lemas.
"Tenang saja, semuanya selamat. Berkat tindakanmu yang mengulur waktu," jawab Lithia sambil memegang tangan Kruxy.
"Syukurlah," beastman rubah ini kembali menutup matanya sekali setelah mendengar kabar baik yang ingin didengarnya.
***
Pagi yang cerah menyambut Kruxy. Dikelilingi tawa anak-anak yang diselamatkan, kamar beastman rubah ini tampak sangat ramai. Di pojokan, duduklah Lithia yang sedang membaca buku.
Kruxy terbangun dengan keadaan segar bugar. Kruxy memandang Lithia sejenak memperhatikan perempuan yang dengan anggunnya membalikkan lembar demi lembar buku. Beberapa anak kecil pun kadang berhenti berlarian hanya untuk melihat buku tersebut karena penasaran.
Kruxy menghela napasnyasebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara."Aku akan membantumu," kata Kruxy seketika mengambil perhatian Lithia, "tapi aku hanya bisa menjadi pengantar pesan, tidak lebih."
"Apa?" tanya Lithia yang sepertinya belum paham maksud Kruxy.
"Kau ingin mengetahui orang yang menyuruhku bukan? Aku akan membantu."
“Sungguh?” tanya Lithia dengan mata berbinar.
Kruxy memandang beberapa anak beastman yang masih sibuk berlarian ke sana ke mari dengan lincahnya, membangkitkan sebuah senyum tipis di wajah beastman rubah itu.
“Aku tidak suka berhutang,” kata Kruxy melempar senyuman pada Lithia.
__ADS_1