Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 26


__ADS_3

Roda kayu berputar melewati jalanan agak berbatu, menjalankan kereta kuda terbuka tanpa dinding atau pun atap. Seorang beastman serigala berambut hitam menjadi kusir dalam wujud manusianya, membawa dan mengarahkan langkah kudanya ke tempat yang dituju.



Di bagian gerobak yang ditarik kuda, terikat dua orang petualang dengan rantai melilit tangan serta kakinya. Kedua orang tersebut adalah Luragorn dan Lithia yang baru saja terbangun dari pingsannya.



Luragorn mengamati sekitar dan mendapati jejeran rumah sederhana yang terbuat dari batu yang dilubangi membentuk jendela juga pintu. Langit-langit tinggi tetapi hanya ada tanah di atas mereka. Pencahayaan hanya dari batu api berukuran sedang yang dijadikan pelita umum di sisi jalanan.



Awalnya hanya ada beberapa, tetapi semakin lama semakin banyak pasang mata yang mengamati Luragorn dan Lithia. Tatapan yang sangat tidak bersahabat yang dipenuhi kebencian di saat kumpulan mata itu memandang sinis kedua petualang ini.



Semuanya tidak lain adalah beastman dari berbagai subras berbeda. Laki-laki atau pun perempuan, anak-anak atau pun orang dewasa, semuanya sangat tidak senang dengan kedatangan Luragorn dan Lithia.



“Tidak beradab!” teriak salah seorang beastman sambil melempar batu ke arah Luragorn dan Lithia.



Sebuah batu berukuran kecil tentu bisa dihindari Lithia, tetapi segera setelah itu para beastman lainnya ikut melempar ke arah kereta dengan berbagai benda tumpul berukuran kecil.



“Putri! Menunduk!” tegas Luragorn melindungi Lithia dengan tubuh besarnya.



Hujan protes diteriakkan pada Luragorn dan Lithia. Secara khusus, kedua petualang ini tidak melakukan kesalahan pada para beastman, tetapi keberadaan mereka sebagai manusia cukup mejadi alasan untuk meneriakkan kebencian mereka.



Setelah keluarga Lithia digulingkan, yang menduduki tahtanya adalah seorang bangsawan dari kerajaan Burana dan menetapkan banyak aturan baru. Salah satunya adalah penurunan derajat bagi ras beastman yang dianggap tidak ada bedanya dengan binatang.



Kereta akhirnya berhenti di sebuah bangunan besar bertingkat dua yang juga terbuat dari batu yang telah dilubangi sedemikian rupa. Luragorn beserta Lithia dipaksa turun lalu ditahan oleh beastman badak yang berada dalam mode [pelepasan kebuasan].



Seorang perempuan perlahan keluar dari dalam bangunan tersebut. Perempuan muda seumuran Lithia dengan tinggi 170 cm serta tubuh yang langsing. Memakai tunik kuning juga celana panjang hitam. Kulitnya yang putih itu tampak mulus tanpa luka sedikit pun meski di punggungnya terdapat sebilah pedang panjang. Telinga berbentuk kelinci dari wajah itu sungguh terlihat imut, sayang sekali tatapan sinis dari mata almond berwarna merah mengatakan sebaliknya.



“Apa anda Putri Fsosa?” tanya Lithia tiba-tiba.



“Jangan berbicara sebelum dipersilahkan!” kata si beastman badak menampar Lithia yang sontak membuat Luragorn marah.


__ADS_1


Luragorn yang kaki dan tangannya terikat melakukan rotasi cepat di udara setalah melompat kemudian melancarkan tendangan keras ke wajah si beastman badak. Beastman badak ini termundur yang kemudian membuat beberapa beastman lain membekuk Luragorn ke tanah agar tidak bergerak lebih jauh.



Rahang Luragorn yang bergemeretak dan alisnya yang mengkerut menatap beastman kelinci di depan mereka. Perempuan beastman bernama Fsosa itu kemudian mendekati Luragorn dan menatap punggung tangannya.



“Hooh ... jadi, kau juga ya?” tanya Fsosa menggumam lalu berbalik memandang Lithia, “berarti kau adalah keluarga kerajaan inti. Keluarga Luxorn kan?”



“Putri Fsosa, apakah anda tahu apa ini? Apa anda juga sama?” tanya Lithia yang hanya duduk terikat rantai.



“Baiklah akan kukatakan, karena aku juga–,” Fsosa menarik sedikit kerah tunik miliknya hingga sebuah simbol bidak catur raja tampak di dada sebelah kirinya, “aku juga keluarga kerajaan inti. Fsosa, Fsosa Clanscar. Perwakilan seluruh ras beastman dan juga perwakilan dewi kesuburan, dewi Furmur.”



Lithia sama sekali tidak paham apa yang dibicarakan oleh Fsosa. Lithia hanya terdiam kemudian berpikir sejenak tentang masalah mereka.



“Dewa? Perwakilan ras? Maksudnya?” tanya Lithia lagi dengan mata seriusnya.



“Hmn ... sepertinya kau sama sekali tidak paham maksudku,” kata Fsosa memegang dagu Lithia, “jika kau tidak bermain-main dan memberikan bajingan itu tahta, kami tidak perlu hidup merangkak seperti ini.”




“Tentu saja kau tidak tahu. Kau yang hanya tahu kenyamanan kerajaan tidak akan pernah tahu rasanya diburu.”



*BHUK!



Pukulan keras mendarat di wajah Lithia hingga mengeluarkan darah dari hidung yang sontak membuat Luragorn naik pitam seketika.



“B*JING*N!”



*BHAM!



Kepala Luragorn dihantamkan ke tanah oleh si beastman badak untuk membungkam perkataan pria ini.

__ADS_1



Lithia tidak bisa berkata-kata. Meski ia berbicara sekarang, itu tidak akan menutupi kemarahan dari Fsosa. Dari kalimatnya menunjukkan betapa kerasnya perjuangan Fsosa beserta ras beastman untuk selamat, mengingat setelah Buron menjadi raja kerajaan Midia menggantikan keluarga Luxorn, ras beastman langsung dicap sebagai ras budak.



“Jawab aku! Putri manja! Apa kau tahu rasanya diburu?!” teriak Fsosa menarik kerah baju Lithia dan menatap mata perempuan berambut merah ini.



Seluruh ras beastman yang mendengar hal tersebut hanya terdiam sambil menundukkan kepala mereka saat mendengar Fsosa berkata seperti itu pada Lithia. Mata tajam yang dipenuhi amarah itu meneteskan air mata ketika memandang Lithia.



“Jawab aku! Bagaimana rasanya menjadi binatang dan diburu?! Bagaimana rasanya menjadi budak dan disiksa?! Bagaimana rasanya menjadi terasingkan di tanahmu sendiri?! Jawab aku!” teriak Fsosa dengan tatapan tajamnya yang berkaca-kaca.



Lithia menunduk tidak berani menatap Fsosa. Bukan ia tidak merasakan rasa sakitnya, justru sebaliknya ia sangat mengerti rasa sakit beastman kelinci ini. Sayang sekali apa pun alasan yang diberikan Lithia tidak akan merubah kenyataan bahwa ras beastman adalah ras minoritas yang diperlakukan seperti budak atau bahkan binatang.



“K ... k ... kalau aku membunuhmu ... tahta Midfraz akan menjadi milikku dan kami semua tidak perlu lari lagi. Ini semua karena kalian para manusia yang menetapkan aturan seakan kami adalah makhluk hina,” kata Fsosa menarik pedang dari sarungnya.



“Berhenti kalian semua!” kata seorang beastman kelinci yang tampak sangat tua.



Beastman kelinci laki-laki yang terlihat renta menghentikan aksi Fsosa. Pakaiannya hanyalah tunik panjang hingga kaki dikarenakan tubuhnya yang hanya setinggi 140 cm juga berjalan membungkuk.



Matanya yang sipit itu ditutupi alis putih tebal yang panjang, begitu pula kumis dan jenggotnya yang putih panjang. Wajah keriputnya tampak agak memucat tetapi tetap bisa bergerak dengan lancar.



“Berhenti menyakitinya. Fsosa, lepaskan dia.”



Kalimat tersebut membingungkan seluruh beastman juga Luragorn dan Lithia. Beastman tua ini kemudian mendekat dan menatap wajah Lithia yang terlihat khawatir.



“Ya, tidak salah lagi. Kau mirip sekali dengannya. Rugborth,” kata si beastman tua.



“Anda mengenalnya?” tanya Lithia sigap.



“Kenal? Tentu saja si tua Izot ini mengenal kakekmu. Kami adalah teman dekat.”

__ADS_1



__ADS_2