
Sebuah kertas seukuran selebaran dipegang oleh Luragorn. Kertas berisi misi eksplorasi sebuah tambang kecil di bagian utara kerajaan Reymin. Misi tersebut diajukan oleh seorang penambang sekaligus pandai besi bernama Burmab.
“Apa itu, Lura?” tanya Lithia yang memakai pakaian petualangnya.
Luragorn tidak mengubah penampilannya sama sekali sejak dipinjami keping emas oleh Lusy. Hanya sebuah tunik yang melapisi bagian atas dan celana nilon sebagai bawahan. Dengan sepatu boot sebagai alas kaki, Luragorn tampak sangat biasa sebagai seorang petualang.
“Ini ... sepertinya misi lainnya. Melihat lokasinya, kemungkinan kita bisa mendapat sesuatu,” jawab Luragorn menunjukkan selebaran ke arah Lithia.
“Hooh, imbalannya juga besar. Ayo kita lakukan.”
“Baiklah.”
“Berapa jauh jaraknya dari sini?”
“Sekitar lima jam kurasa dari gerbang timur laut.”
“Lama sekali.”
“Jika kita berjalan kaki, maka akan memakan waktu lima jam.”
“Okay~ kita naik kadal lagi, kan?” tanya Lithia mengacungkan jempolnya ke arah Luragorn sambil tersenyum lebar.
***
Jalanan tanah di tengah-tengah padang rumput menjadi pemandangan untuk perjalanan Luragorn dan Lithia. Dua petualang ini menaiki seekor kadal padang rumput yang merangkak dengan cepat.
Kadal padang rumput termasuk hewan tunggangan yang bagus karena mampu merangkak cepat selama enam jam tanpa henti. Bentuk ramping dengan sisik hijau mulus merupakan ciri khas kadal tersebut. Termasuk hewan tunggangan dengan harga mahal dan kedua petualang ini mendapatnya secara gratis dari misi pertama mereka.
Sudah beberapa lama perjalanan dan akhirnya Luragorn beserta Lithia sampai di tempat tujuan. Sebuah wilayah perkampungan kecil dengan aktifitas warganya adalah petani, kecuali seseorang.
“Hai, kalian sudah sampai rupanya,” sapa seorang pria bertubuh besar dengan tinggi 185 cm.
Bajunya berupa tunik putih dan celananya adalah celana nilon hitam panjang. Pantopel sebagai sepatu dan sarung tangan tebal di tangan. Tubuhnya yang besar itu menghadap ke arah Luragorn dan Lithia.
Mata cokelat bulat itu menatap Luragorn juga Lithia yang mana akan menjadi pengawal untuk pria besar ini. Rambut cokelat agak pendek terlihat acak-acakan dan tampak sedikit berminyak. Di salah satu tangannya ada sebuah beliung besar yang digunakan untuk menambang.
“Bagaimana? Singgah dulu ke rumah. Besok barulah kita menjelajahi tambang baru,” kata Burmab dengan wajah berseri mengundang Luragorn dan Lithia.
Luragorn dan Lithia melihat ke sisi-sisi jalan sambil memperhatikan tiap orang yang lewat. Semuanya memakai topi kerucut yang melebar di bawah, khas untk penampilan petani. Arit dan pacul merupakan peralatan yang umum ke mana pun mata memandang. Semuanya merupakan petani kecuali Burmab ini.
Sebuah rumah kayu agak besar menyambut Luragorn dan Lithia. Sebuah bengkel dan juga tempat penempaan senjata tampak berdiri di samping rumah besar tersebut.
“Ayo masuk, kita bicara rinciannya di dalam,” ajak Burmab memasuki rumah besar itu.
Luragorn dan Lithia mengangguk kemudian menerima undangan tersebut dan masuk ke dalam rumah.
***
Ruangan yang luas terbagi dengan sebuah ruang tamu, ruang makan, dan dapur. Diterangi oleh cahaya dari batu api yang menjadi lampu di sisi atas tembok. Burmab menyiapkan meja makan untuk tamu yang diundangnya.
Ruang tamu dengan sebuah kursi kayu memanjang diduduki oleh Luragorn dan Lithia. Tembok kayu dan beberapa hiasan dinding serta beberapa kepala hewan terpajang menghiasi pandangan.
Luragorn dan Lithia mengamati sekitar sambil menunggu Burmab dan istrinya selesai menyiapkan makan malam.
“Para petualang, mari makan,” ajak Cyla, istri Burmab.
Wajah ayu menatap Luragorn dan Lithia, memberikan isyarat untuk ajakan makan malam yang ramah di mana tertulis jelas dari senyuman tipis di wajahnya. Luragorn dan Lithia langsung berdiri dan menuju ruang makan di mana meja makan telah tertata rapi dan makanan telah tersaji.
__ADS_1
“Jangan malu-malu,” kata Cyla memanggil kedua petualang ini.
Seorang ibu rumah tangga yang tampak menawan dengan tinggi 170 cm juga tubuh ramping dengan dada, lingkar pinggang, serta pinggul yang proporsional. Mata bulat hitamnya memandang Burmab dan anak laki-laki satu-satunya, menjadi warna yang seirama dengan warna rambut hitamnya yang lurus sepinggang juga agak bergelombang di ujungnya.
Kirtle putih dengan sebuah celemek yang tergantung, menampakkan diri Cyla layaknya ibu rumah tangga biasa pada umumnya.
“Duduklah,” kata Cyla mempersilakan kedua petualang ini.
Dalam keluarga Burmab, hanya ada dirinya, istrinya, dan seorang anak laki-laki yang masih berumur belasan tahun. Makan malam keluarga yang tampak damai membuat Lithia tersenyum kecil kemudian mengambil tempat untuk ia ikut makan.
“Dengan senang hati,” balas Lithia.
***
Ayam berkokok dan pagi menyambut, seluruh warga memulai aktifitas berkebunnya dan begitu pula misi eksplorasi tambang yang akan dilakukan. Burmab sudah siap dengan peralatan tambangnya dan begitu pula Luragorn dan Lithia telah siap dengan barang-barang untuk pengawalan.
“Biarkan aku ikut, Ayah,” kata Luya, anak Burmab.
Remaja laki-laki memohon pada ayahnya sambil menunjukkan sebuah buku berisi jenis batuan. Mata bulat hitam itu menatap Burmab dengan sungguh-sungguh. Peralatannya sudah sangat siap untuk menggali dan pandangannya sangat berapi.
“Tidak boleh,” kata Burmab memegang kepala Luya yang berambut coklat bergelombang, “jika kau sudah besar, maka akan kuijinkan kau menjelajahi tambangmu sendiri.”
“Tapi, Ayah–”
“Jangan membantah! Pergilah main atau lakukan sesuatu di bengkel.”
Burmab langsung berjalan keluar meninggalkan Luya lalu memulai perjalanan menuju sebuah tambang yang berjarak dua jam perjalanan tanpa kendaraan.
***
Lubang besar di kaki gunung berapi yang telah mati menjadi tempat eksplorasi kali ini. Sebuah lubang gua dengan potensi tambang yang cukup tinggi, menjadikan tempat ini bernilai bagi penambang seperti Burmab.
Langkah pelan di dalam tambang kering. Luragorn maju mengamankan area depan diikuti oleh Lithia dan Burmab. Beberapa batuan mineral berwarna dan karbon terlihat menempel di sisi gua. Tidak ada hewan seperti kelelawar atau beruang, tetapi hal itu tidak membuat Luragorn menurunkan penjagaannya.
“AWAS!” teriak Luragorn sambil melangkah mundur cepat.
*Bhak!
Sesuatu jatuh dari atas dan mendarat di depan Luragorn. Berkepala botak, berwarna hijau, bermata merah, hanya memakai selembar kain kumul sebagai pakaian, dan memegang gadah batu. Luragorn sontak menarik pedangnya dan memasang pose bertahan.
“Goblin,” kata Luragorn bersiap di posisinya.
Si goblin tiba-tiba meloncat ke arah Luragorn dengan cepat.
*JRASH!
Luragorn menebas tubuh goblin itu menjadi dua bagian dan cairan merah kental terciprat di udara. Luragorn tidak langsung senang dan malah waspada ketika menyadari ada tiga goblin yang meloncat dari atas menuju dirinya.
*JRASH! JRASH! JRASH!
Tumpahan darah membasahi tanah dan pedang Luragorn, tetapi itu belum cukup karena di hadapan pria ini terdapat barisan goblin yang sangat banyak. Luragorn memasang seringai tipis lalu menerjang ke arah gerombolan goblin di depannya.
“Apa ia tidak apa?” tanya Burmab pada Lithia.
“Tidak apa, pegangi saja obor itu,” jawab Lithia memberikan obornya.
Luragorn kini bertarung melawan para goblin sementara Lithia menjaga Burmab yang sedang memegang obor batu api sebagai penerang.
__ADS_1
Tidak lama berdiri, Lithia langsung merasakan hal aneh yang datangnya dari depan. Sama halnya dengan Luragorn yang merasakan sesuatu mendekat cepat, tetapi bukan sekedar monster.
“Lily! Hati-hati–”
*NGNGNG!!!
Kumpulan serangga besar tiba-tiba terbang cepat dari dalam kegelapan, melesat ke arah Lithia dan melewati Luragorn yang tengah melawan goblin.
“Woi! Nona! Gawat!” teriak Burmab termundur melihat awan serangga terbang menuju ke arah mereka.
“IGNIS!” teriak Lithia sambil memajukan tongkat sihirnya ke depan.
Sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul di ujung tongkat sihir Lithia. Diameter satu meter dengan mantra sihir yang menyala, membentuk beberapa bola api berukuran sedang tepat di depan lingkaran sihir itu.
“FLORE!”
*BHUM! BHUM! BHUM!
Bola-bola sihir itu beterbangan ke arah kawanan serangga dan meledak seketika secara beruntun. Membakar semuanya dan menerangi seluruh tambang akibat cahaya ledakan yang ada.
“Selama beberapa hari ini, aku juga bertambah kuat loh,” kata Lithia tersenyum puas.
Luragorn sedikit terkejut sebelum tersenyum tipis mendengar kata-kata itu. Luragorn terus melancarkan tebasannya ke arah para goblin. Kawanan serangga terbang lainnya datang dan kali ini Luragorn bahkan tidak perlu berbalik melihat ke arah Lithia.
Goblin berdatangan dan serangga beterbangan, keduanya akan menghadapi lawan dengan jumlah besar. Namun, tidak ada sedikit pun kekhawatiran terlukis di wajah Luragorn dan Lithia.
“IGNIS!”
*JRASH!
***
Senja menyambut dan semua orang telah selesai dengan kegiatan hariannya termasuk Luragorn dan Lithia yang tengah duduk kelelahan di depan mulut tambang. Pakaian Luragorn dan Lithia tampak kusut serta lusuh dengan beberapa lipatan serta noda debu menempel.
Keduanya berhasil menyelesaikan misi eksplorasi mereka dan akhirnya memberi status aman pada tambang tersebut.
“Terima kasih para petualang, kalian sudah banyak membantu membersihkan tambang ini,” kata Burmab dengan banyak noda tanah di seluruh tubuh dan wajahnya. “Aku juga sudah meletakkan beberapa kertas segel sihir di lubang masuknya. Dengan ini, monster atau hewan tidak akan bisa masuk sembarangan. Terima kasih sekali lagi.”
“Tidak, tidak apa. Ini memang bagian dari misinya,” balas Lithia dengan napas terputus-putus.
“Baiklah, ayo pulang. Mari kita rayakan temuan tambang baru ini.”
Ketiga orang ini berjalan pulang setelah menunggu Lithia mengatur pernapasannya menjadi normal. Dua jam perjalanan tentu saja sangat lama, tetapi tidak akan selama itu jika memiliki seekor tunggangan.
Kadal padang rumput ini telah sampai di tujuan dan Burmab bergegas turun sementara Luragorn mengikat kadal miliknya di salah satu pohon.
“Anda sudah banyak berkembang, Putri Lithia,” kata Luragorn pada Lithia.
“Hehe~ kau lihat tadi? Sihirku luar biasa bukan?” tanya Lithia dengan wajah berseri.
“Ya, sangat–”
“Lily! Lura! Tolong!” teriak Burmab berlari ke arah Luragorn dan Lithia.
“Ada apa?” Tanya Luragorn.
“Luya menghilang!”
__ADS_1