Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 5


__ADS_3

Gemerincing rantai, udara lembab dan aroma tidak sedap membangunkan Lithia. Perempuan berambut merah ini mendapati dirinya terkurung dalam sebuah ruangan sempit dan gelap. Lantai dari jejeran batu berpasir dan tembok dari bata berlumut. Tidak jauh dari tempatnya terbangun, ia melihat barisan besi tebal yang melintang.



“P ... p ... p ... penjara?”



Lithia langsung mundur cepat ke arah tembok dan terus bergeser ke pojokan. Pergelangan tangannya terborgol dan dipasangi rantai besi yang sudah karatan. Lithia menekuk kakinya dan meringkuk sambil memeluk lututnya.



Tubuhnya bergetar merasakan ketakutan, ketakutan yang sama sebelum ia bertemu dengan Luragorn.



“Tolong aku, Lura.”



***



+15 tahun yang lalu di kerajaan Midia+



Kicauan burung bersenandung pada taman bunga luas yang terhampar. Beberapa prajurit kerajaan berdiri tegap di posnya masing-masing. Di taman itu, terdapat seorang kesatria berzirah perak dengan bagian kepala terbuka tanpa pelindung. Di sampingnya seorang gadis kecil bergaun merah tampak bersorak gembira seperti memenangkan sesuatu.



“Yeay! Aku menang,” teriak Lithia yang sedang memakai gaun merah muda kecil yang cocok dengan tubuhnya.



Lithia hanya setinggi paha para prajurit, tubuhnya yang mungil terlihat imut sebagai seorang anak kecil yang ceria. Senyuman polosnya menghangatkan beberapa prajurit yang menatap.



“Putri Lithia, apa Anda bersedia untuk ikut denganku? Aku punya sesuatu yang ingin kutunjukkan,” kata seorang kesatria dengan dagu agak meruncing dan rambut hitam panjang terurai.



“Apa itu?” tanya Lithia dengan lugunya.



“Rahasia, mau lihat?”



“Umh! Lithia mau lihat.”



“Kalau begitu ....”



Kesatria berzirah perak tersebut mengangkat Lithia ke atas pundaknya. Lithia duduk di belakang leher si kesatria, kakinya lurus ke depan sambil bergoyang-goyang dan kedua tangannya berpegangan pada kepala si ksatria.



“Ayo putri, kita jalan-jalan.”



“Uhm!”



***



Ruang besar yang bertembok dan beralaskan kayu diterangi oleh sinar matahari senja. Rak buku menutupi hampir seluruh tembok dan terdapat sebuah meja belajar yang lengkap dengan kursi kayunya. Buku-buku tertata rapi dan bersih. Dari yang umum hingga yang khusus berjejer di sepanjang rak.



Seorang perempuan bergaun biru duduk memangku Lithia yang memakai gaun putih. Perempuan itu adalah Luna Luxorn yang merupakan ibu Lithia.



Wajah ayu tanpa riasan tetapi cahaya matahari senja memantulkan kecantikan Luna. Mata berbentuk almond dengan kornea dan iris mata sebiru warna langit, meneliti dengan saksama sebuah buku yang ia baca bersama Lithia. Kulit putih dan warna rambutnya yang berwarna perak terlihat sangat cocok dengan gaun yang dikenakannya.



“Begitulah Lithia, apa kau ingin mencobanya?” tanya Luna pada Lithia.



“Uhm!”



Lithia turun dari pangkuan ibunya dan mencoba merapal mantra sambil memajukan tangannya ke depan. Sebuah lingkaran sihir kecil muncul di depan Lithia dan mengeluarkan kobaran api kecil.



Mata Lithia membulat lebar dan mulutnya terbuka karena kagum. Kegirangan dengan percobaan sihirnya, gadis kecil ini melompat kesenangan sambil menatap ibunya yang tersenyum.



“Apa sihir ini bisa berguna?” tanya Lithia dengan wajah polosnya.



“Tentu saja berguna, tetapi jika digunakan untuk kejahatan maka akan membahayakan orang lain.”



“Tapi, Lithia tidak jahat.”



“Tentu saja putri ibu tidak jahat,” Kata Luna mengelus kepala Lithia secara pelan.



***



Dentingan pedang saling beradu, memecah udara tenang di pagi hari. Lithia yang memakai gaun biru berlari menuju tempat pelatihan para kesatria. Mengintip dari balik tiang yang besar, ia melihat beberapa kesatria milik ayah Lithia sedang berlatih. Banyak alat latihan dari boneka orang-orangan sampai rintangan bergerak. Beberapa kesatria berlatih sendiri dan beberapa lagi saling tanding untuk meningkatkan kemampuan.



Di antara para ksatria itu, Lithia melihat ayahnya. Hanya membawa sebuah pedang tanpa zirah dan pelindung. Tingginya 178 cm dan cukup berotot. Rambut dan matanya sama seperti Lithia, yaitu merah menyala. Rambutnya yang agak tegap kaku dan mata bulatnya yang menatap seluruh ksatria, tampak sangat siap melakukan latih tanding.



Meski tidak memakai zirah apapun, tidak ada satu pun kesatria yang cukup berani menjadi lawan tanding Lubra, ayah Lithia. Wajah yang kaku dengan luka goresan di mata kanannya, memberi kesan intimidasi pada siapa pun yang menatapnya.



***



Ruang putih besar dengan langit-langit yang tinggi, diisi oleh beberapa prajurit berjaga dan dua orang yang sedang duduk di kursi raja. Rugborth, kakek Lithia memangku Lithia yang memakai gaun merah.



Zirah emas dan mantel merah menutupi tubuh Rugborth, badannya yang besar dengan tinggi 186 cm membuat Lithia terlihat seperti kurcaci. Wajahnya yang dipenuhi kerutan dan lipatan tidak membuat orang lain menganggapnya sebagai raja biasa. Merah terang yang memudar menjadi warna putih, menampakkan betapa tuanya Rugborth dari indikasi rambut itu. Matanya yang agak sipit dan kumis serta jangut merah panjang menambah kesan usia tua Rugborth.



Meski begitu, usia tua tidak menjadi penghalang untuk bermain dengan cucu satu-satunya, yaitu Lithia. Lithia tampak sangat senang berada di pangkuan Rugborth dan mendengarkan dongeng dari kakeknya.



“Kakek hebat ya?” tanya Lithia.



“Ya, tentu saja kakek hebat,” jawab Rugborth.

__ADS_1



“Tapi kakek kan sudah tua.”



“Haha .... Kakek memang sudah tua.”



“Kenapa kakek tua?”



“Kenapa ya? Kakek juga tidak tahu. Haha ....”



“Kakek tertawa terus. Kakek senang?”



“Ya ...,” jawab Rugborth tersenyum tipis sambil mengusap kepala kecil Lithia, “Kakek sangat senang.”



***



Lithia bersama ibu dan ayahnya beserta beberapa prajurit berjalan di daerah pemukiman warga. Beberapa orang terkapar di jalanan dengan kondisi mengenaskan. Perumahan bobrok, tanah mengering dan rusak serta panas menyengat menembus kulit.



Ada warga yang menderita penyakit kulit, ada warga yang terlihat sangat kurus dan ada pula warga yang melamun menatap langit seakan jiwanya tidak lagi berada di dalam tubuh.



Lithia melihat seorang anak kecil yang mencoba membangunkan kakaknya yang telah mati dan dikerumuni gagak. Gadis berambut merah ini berjalan menuju si anak kecil sambil menawarkan makanan.



“Apa kau mau?”



Tangan Lithia langsung ditepis cepat dan disambut dengan ekspresi kemarahan dari si anak kecil.



“Pergi! Dasar terkutuk! Pergi dari kerajaan ini!” maki si anak kecil.



Lithia tidak mengerti apa yang terjadi. Ia berniat memberi pertolongan tetapi malah disambut dengan penolakan seperti itu. Lithia kembali ke samping ibunya dan bertanya dengan wajah khawatir.



“Ibu, Ibu, Ibu, Ibu. Tadi ada anak kecil yang ingin kuberi roti ini, tetapi dia menyebutku terkutuk. Apa itu terkutuk, Ibu?” tanya Lithia.



Luna menarik Lithia dan menggenggam tangan anak perempuannya ini dengan erat. Tidak ada jawaban dari ibu Lithia selain tatapan sedih menahan bibirnya yang pucat gemetaran. Lithia bisa merasakan tangan ibunya menggigil seolah ketakutan.



“Ibu?” tanya Lithia.



***



Malam tenang di kamar yang luas. Kasur besar dan interior mewah, ditempati oleh seorang gadis kecil yang tertidur dengan tenangnya. Baju tidur yang terlihat seperti smock putih kecil dan selimut tebal menutupi tubuh Lithia yang tengah terlelap. Tidak ada pencahayaan yang menerangi dan begitu pula tidak ada suara yang terdengar.



“Putri!”




“Putri! Gawat, kita harus pergi! Ayo bangun!” tegas si kesatria membangunkan Lithia.



Lithia bangun dengan keadaan setengah sadar dan kepala terantuk. Meski agak samar, Lithia bisa mendengar keributan di luar kamarnya.



“Ada apa, Paman Morgan?” tanya Lithia dengan mata setengah terbuka.



“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo Putri! Ikut aku sekarang!” tegas Morgan menarik Lithia turun dari kasur empuknya.



Lithia dan Morgan sampai di tangga menuju lantai bawah, tetapi yang menyambut mereka adalah kobaran api dan beberapa prajurit yang zirahnya bernodakan darah. Morgan menarik Lithia untuk bersembunyi di belakangnya ketika para prajurit itu menatap Morgan dan Lithia.



Morgan memegang rapier-nya dengan erat sementara Lithia memeluk kaki Morgan yang dilapisi cuisse dan grave.



Tidak lama setelah itu, Luna datang dan mengangkat Lithia ke dalam pelukannya. Lithia hampir menangis dan langsung memeluk ibunya dengan penuh rasa takut.



“Morgan, terima kasih telah menjaga Lithia. Apa kau bisa menahan mereka?” tanya Luna dengan khawatir.



“Tenang saja putri Luna. Kumpulan prajurit rendahan seperti mereka tidak akan bisa sebanding denganku. Bagaimana dengan Tuan Lubra dan Raja Rugborth?” Tanya Morgan dengan khawatir.



“Ayah dan Lubra sedang bertarung di ruang latihan. Prajurit yang datang sepertinya bukan prajurit sewaan biasa.”



“Begitukah? Kalau begitu berhati-hatilah.”



“Tolong tahan mereka selama beberapa menit, aku mengandalkanmu.”



Luna langsung berlari menuju ruang lain sambil menggendong Lithia yang ketakutan.



“Siapa yang mengizinkanmu lari?!”



Teriak para prajurit yang berbondong-bondong naik ke lantai atas di mana Morgan telah menunggu mereka. Kapak, pedang, palu, dan rantai diayunkan ke arah Morgan.



Morgan menekuk lutut dan menyampingkan tubuhnya sambil menarik rapier ke belakang. Pose menusuk tanpa pertahanan dipasang oleh Morgan. Napasnya berhembus panjang di saat ia mengarahkan ujung rapiernya ke depan.



“Mati!” teriak para prajurit yang melompat ke arah Morgan sambil mengayunkan senjata masing-masing.



*TZUK! TZUK! TZUK!



Para prajurit yang menuju Morgan tiba-tiba terhempas dengan lubang berdarah di dada mereka. Melayang di udara dengan aliran darah yang menyemprot keluar dari zirah berlubang, menghujani prajurit lain dengan cairan merah kental di wajah mereka.

__ADS_1



Morgan berdiri tegap sambil mengangkat rapier-nya di depan dada. Matanya yang dingin dan tajam menusuk para prajurit yang berdiri di bawah tangga.



“Siapa yang mengizinkan kalian berbicara kasar pada Putri Luna?” tanya Morgan dengan nada datar.



***



Lorong gelap dan panjang, kobaran api di luar kastel dan teriakan protes menemani langkah Luna. Luna berjalan cepat menuju ruang membaca yang dipenuhi buku-buku. Luna memperhatikan dengan saksama susunan rak dan menarik sebuah buku keluar dari tempatnya.



Sebuah lubang seluas dua meter persegi tiba-tiba terbuka di lantai kayu yang tua, membuat Lithia terkejut dan terkagum. Luna mendekati lubang tersebut dan melangkah masuk. Anak tangga yang menurun secara spiral dengan obor kecil di sepanjang tembok samping menjadi jalan kabur mereka.



Luna bergegas turun dan menarik sebuah obor dengan ukiran naga di gagangnya. Pintu masuk tertutup di saat Luna menarik obor tersebut dan menjadikan obor tadi sebagai penerangan yang menemaninya turun.



“Kita mau kemana? Kenapa Ayah dan Kakek tidak diajak? Paman Morgan juga tidak ikut. Kenapa?” tanya Lithia sambil menatap ibunya yang berkeringat dingin.



***



Sebuah ruang hangat yang berlantaikan kayu dan berdinding tanah. Pintu masuk yang terbuat dari dedaunan yang lebat. Tidak ada pencahayaan selain batu api yang bersinar dalam gelap. Batu sihir berwarna merah berpijar sebesar kepala manusia menjadi penerang untuk ruangan kosong seluas empat meter persegi.



Di dalam ruang tersebut, terdapat dua orang perempuan yang merupakan Lithia dan Luna. Lithia berbaring dengan selimut yang terbuat dari sulur pohon yang telah dianyam sedemikian rupa.



“Ibu, kenapa kita tidur di sini? Ayah akan marah,” tanya Lithia dengan penjelasannya yang polos itu.



“Tidurlah, besok kita akan kembali ke rumah,” jawab Luna.



“Janji?”



“Ibu Janji.”



Lithia menutup mata kemudian tertidur lelap dengan senyuman di wajahnya. Luna melihat ke arah pintu masuk ketika mendengar suara bising serta langkah kaki kuda yang banyak. Luna sadar bahwa ia diikuti tetapi ia tidak ingin pelariannya berakhir sia-sia. Akhirnya Luna memutuskan keluar dan mencoba mengalihkan perhatian dari prajurit yang menyisir daerah tersebut.



***



Matahari terbit mengganti malam menjadi pagi, begitu pula Lithia yang terbangun dari alam mimpi ke alam nyata. Lithia bangun dengan perasaan senang, tapi pupus setelah mengetahui tidak ada siapa pun selain dirinya di saat ia terbangun.



Sebuah belati milik ayah Lithia dan sebuah kalung permata milik ibu Lithia. Hanya dua benda itu yang menyapanya di pagi hari. Lithia mengantongi kalung tersebut dan membawa belati ayahnya di tangan.



“Aku harus mengembalikan ini pada Ayah dan Ibu,” ujar Lithia yang keluar dari tempat itu.



Lithia bangkit dan mulai berjalan keluar untuk mencari ayah dan ibunya. Setelah berselang beberapa lama, perutnya mulai bergemuruh dan ia menemukan sebuah perkampungan. Lithia berlari ke arah perkampungan tersebut dan berharap bisa menemui orang tuanya di situ.



“Ibu! Ayah!” teriak Lithia dengan wajah gembira membayangkan wajah kedua orang tuanya.



Ketika Lithia baru saja sampai, ia melihat seorang prajurit yang menunggangi seekor kuda berzirah. Lithia tidak bisa menahan rasa senangnya dan berpikir si prajurit tersebut bisa mengantarnya kembali pulang.



“Paman, Paman, Paman, apa Paman bisa mengantarku pulang?” tanya Lithia dengan mata berbinar cerah.



Lithia tidak sabar memberi tahu bahwa ia menemukan barang milik kedua orang tuanya, berharap mendapat pujian dan hadiah atas tindakannya.



“Paman, aku–”



*WHUSH!



Lithia terdiam seketika sebelum selesai berbicara, tepat setelah merasakan sebuah hembusan angin melewati kepalanya. Mata membelalak lebar ketika beberapa helai rambutnya terpotong. Bukan sekedar hembusan, melainkan ayunan pedang yang meleset.



“Kenapa? Lithia tidak nakal. Lithia tidak nakal,” ujar Lithia mundur perlahan dengan tubuh yang bergetar ketakutan.



“Ck, meleset. Kurasa aku terlalu banyak minum tadi. Ya ... tidak apa, dengan membawa kepala si putri terkutuk, aku bisa mendapat banyak imbalan,” kata si prajurit yang menunggangi kuda tersebut.



“Kenapa? Apa yang Paman bicarakan? Apa Paman ingin membunuhku? Kenapa? Lithia tidak jahat. Kenapa?” tanya Lithia kebingungan.



“Matilah dasar Putri terkutuk!”



Sebuah ayunan kuat dilancarkan ke arah Lithia, untungnya Lithia berhasil menghindar dan berlari menjauh.



“Kenapa? Kenapa? Kenapa?” batin Lithia dengan mata berkaca.



Lithia berlari, tetapi apalah daya langkah kecilnya tidak sebanding dengan langkah kuda yang siap tempur. Lithia tersudutkan dan prajurit itu menyeringai menatap Lithia. Lithia melempar belati ayahnya dan menusuk kaki depan kuda. Kuda tersebut terkejut kemudian mengangkat kedua kaki depannya dengan tinggi, membuat si prajurit terjatuh dari tunggangannya.



Lithia berlari sekuat tenaga menuju daerah hutan dan bersembunyi di dalam salah satu pohon yang telah mati. Ada beberapa ulat dan serangga yang merayap di sampingnya, tetapi rasa takut akan makhluk kecil tersebut tidak seberapa dengan suara langkah sepatu kuda yang baru saja melewatinya. Beberapa pasukan berkuda melakukan pencarian dan bolak-balik di tempat Lithia bersembunyi.



Lithia menutup mulut dan menahan air matanya di saat ia mencoba menekan rasa takut akan prajurit yang terus memeriksa daerah tersebut.



“Dimana kau?! Bocah sialan!” teriak salah seorang prajurit.



Lithia hanya meringkup dan diam tanpa suara, mencoba setenang mungkin agar tidak diketahui.



“Ibu? Ayah? Paman Morgan? Kakek? Kalian dimana? Aku takut,” batin Lithia dengan tubuhnya yang gemetaran.


__ADS_1


“Aku takut, aku ingin pulang.”


__ADS_2