
“Sekarang, benua Midfraz menjadi milikku,” kata seorang beastman kelinci tinggi berbadan kekar.
Setinggi 188 cm dengan wajah garang, beastman ini duduk di singgahsana sambil memutar-mutar bidak catur raja di tangannya. Zirah putih dengan mantel merah tebal melapisi permukaan kulitnya yang kecokelatan. Rambut putihnya yang panjang terurai rapi di kepala bermahkotakan emas.
Wajah yang kaku itu tidak memasang senyuman sama sekali ketika menatap peta benua Midfraz yang terpampang di depannya. Mata bulatnya yang berwarna merah secerah buah beri menilik ke arah kerajaan Dwarf. Kerajaan yang dilingkupi gunung tinggi juga ditutupi selimut salju telah berhasil ditaklukannya.
Di kejauhan, seorang beastman kelinci berperawakan pria bertubuh besar dengan tinggi 170 cm menatap ke arah raja beastman itu. Beastman ini adalah Izot Clanscar dan orang yang berada di singgasana raja merupakan ayah Izot sendiri.
Izot tidak bisa berhenti menatap ayahnya seolah melihat orang lain. Pandangan yang tidak bersahabat serta perintah yang sangat frontal. Kesemua perintah dan tindakan raja beastman yang disaksikan Izot tidak seperti yang ia harapkan dari ayahnya ini.
"Apa yang terjadi padamu, wahai ayahku?" gumam Izot bertanya
***
Kegelapan menyelimuti di ruang tahta. Tidak ada satu pun orang yang berada di sana karena malam yang telah sangat larut.
Izot melangkahkan kakinya masuk ke ruang tahta untuk memastikan apa yang ia lihat selama beberapa hari ini. Hanya kegelapan mencekam yang menyambut beastman kelinci berzirah putih ini. Langkahnya sangat pelan dan hati-hati mendekat ke singgasana raja.
Seketika cahaya ungu bersinar di belakang singgasana itu yang membuat Izot terhenti seraya menelan ludahnya sendiri. Telinganya yang panjang ini mencoba menangkap informasi yang ada tanpa perlu melangkah lebih jauh lagi.
"Benar tuanku, Dwarf kini menjadi milikku. Segera Midfraz akan tunduk di bawah kekuasaan Undead, dalam satu rangkulan dewa Urugol."
Suara yang tidak asing itu membelalakkan mata Izot dan hampir membuatnya berteriak kaget. Ayahnya yang menjadi raja beastman dan penguasa Midfraz berkata seakan dia adalah kurir dari ras Undead, membuat Izot kehabisan kata-kata dalam keadaannya yang termenung.
"Siapa di sana!"
Teriakan dari ayah Izot sontak membuat Izot gelalapan. Tanpa berpikir panjang, ia bersegera keluar sambil terus berpikir.
"Apa itu tadi? Undead? Kekuasaan Midfraz? Dewa Urugol?" pikir Izot mulai meracau.
Izot berlari menjauh sejauh mungkin, menolak apa yang ia dengar barusan.
***
"Ini kah?" gumam Izot membuka sebuah buku berdebu.
Ruangan tua dengan beberapa jaring laba-laba terpintal di beberapa sisi menjadi tempat Izot mencari informasi. Kumpulan buku berdebu di jejeran rak kayu agak lapuk menarik Izot untuk terus membaca lembar demi lembar yang ada.
"Tidak ada?" gumam Izot sekali lagi sambil menatap sekitar.
Ruangan gelap agak remang dengan sinar sebongkah batu api yang menjadi penjelas pandangan Izot. Izot membuka lembaran buku sekali lagi, tetapi tidak menemukan apa yang ia cari. Helaan napas panjang meniup semangat beastman kelinci ini.
Tidak lama setelah itu, Izot menatap ke arah peta tua yang tergantung di dinding. Sebuah peta benua Midfraz lengkap dengan lokasi tiap kerajaannya. Perhatian Izot langsung tertuju pada sebuah lokasi yang mungkin menjadi tempat yang ia cari. Tempat suci para manusia, Kerajaan Mimo.
***
Sinar matahari redup menghujani sebuah kerajaan besar dengan bangunan yang serba putih. Kastel besar dengan kubah bulat menjadi penarik mata Izot yang tengah berkunjung.
__ADS_1
Memakai tudung besar hingga menutupi telinga kelincinya, Izot berjalan di jalanan berbatu yang tertata rapi. Hampir tidak ada kereta yang lewat dan semua orang tampak tersenyum ramah satu sama lain.
Bangunan-bangunan yang tersusun secara rapi dari wilayah perumahan hingga pertokoan. Pemandangan serba putih dan orang-orang ramah menjadi penyambut yang khas di kerajaan Mimo ini.
"Sangat damai," gumam Izot melirik-lirik masyarakat sekitar.
Izot terus berjalan hingga ke suatu kuil besar. Banyak jemaah yang baru saja keluar dengan senyuman di wajah mereka dan beberapa pendeta berpakaian serba putih saling bercakap-cakap.
Tanpa ragu sedikit pun, Izot langsung masuk ke dalam kuil itu. Ia memperhatikan beberapa orang sedang berdoa kepada dewi Mitaya, dewi dari ras manusia itu sendiri. Langkahnya yang cepat dan tak sia-sia itu membawanya ke sebuah perpustakaan agak luas.
"Ada yang bisa kubantu?" tanya seorang manusia bertunik putih dan bertudung yang menutupi wajahnya.
"Tidak, aku hanya ingin mencari sesuatu," balas Izot sambil meneliti tiap rak buku.
"Ini adalah rumah suci, carilah apa pun yang jiwamu butuhkan," sambung si manusia ini yang kemudian mendekat ke arah Izot sambil berbisik pelan, "bahkan jika kau bukan manusia."
Izot seketika memegang gagang pedangnya yang mana tangannya tersebut telah digenggam oleh si manusia. Kuda-kuda terbuka dan tubuhnya menegang, Izot menelan ludahnya sambil bernapas agak lambat demi bersiap menghadapi yang terburuk.
"Ikut aku, wahai pencari kebenaran," ajak si Manusia bertudung.
***
"Siapa kau?" tanya Izot menatap si manusia bertudung.
Balasan yang membuat Izot terdiam sambil terus berpikir. Lapangan luas tanpa ada satu pun tanda-tanda manusia di pandangan menjadi tempat kedua orang ini berdiskusi.
"Aku penasaran, apa yang dilakukan seorang beastman di kerajaan Mimo," kata manusia bertudung itu dengan seringaian di wajahnya.
"Gawat, orang ini berbahaya," batin Izot sambil memasang kuda-kuda dan memegang gagang pedangnya.
"Tidak perlu waspada begitu," sambung si manusia sambil melepas tudungnya.
Senyuman tergaris di wajahnya, rambut dan mata semerah rubi bersinar. Orang itu adalah Rugborth yang masih berusia sangat muda. Tunik putih dan celana hitamnya menjadi pakaian yang menutupi kulit. Seseorang dengan sebuah pedang di pinggang tanpa zirah berdiri di hadapan Izot sekarang yang masih saja waspada.
"Kau juga ingin mencari tahunya kan? Kebenaran dunia dan permainan para dewa," kata Rugborth menawarkan cemilan demi mencoba mengurangi ketegangan.
***
"Jadi, begitu rupanya?" tanya Izot dengan nada datar.
"Yap, seperti itulah. Para dewa membuat kita saling membunuh satu sama lain. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi kurasa ini cukup keterlaluan," jawab Rugborth dengan santainya.
Kedua orang ini duduk bersebelahan sambil menatap birunya langit cerah. Sesekali menghela napas panjang sambil terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ini tidak adil jika kita harus melawan undead dan fairy, mereka ras yang kuat,” kata Izot agak menghela napas.
__ADS_1
“Ya, sungguh tidak adil. Tapi itulah yang terjadi dan cepat atau lambat, Midfraz juga akan berperang dengan mereka,” sambung Rugborth
"Mengenai ayahku tadi, –"
"Kalau kau bersumpah tidak akan menyakiti ras manusia, aku akan menurutimu," sergah Rugborth memotong kalimat Izot.
"Tunggu, tunggu, aku bukan bermaksud seperti itu," balas Izot menatap Rugborth sambil menggeleng-gelengkan kepala lalu menggerakkan tangannya seakan menjelaskan situasi yang ada, "kau memang orang yang baik, aku yakin kau bisa menggantikan ayahmu dan menjadi raja yang hebat, tapi –"
Rugborth hanya diam membalas tatapan Izot dengan pandangannya yang serius dan sungguh-sungguh. Tidak ada keraguan sedikit pun di mata Rugborth. Tanpa kata-kata, Izot bisa mengetahui betapa besar keinginan Rugborth agar rakyatnya tidak ikut andil dalam permainan perang ini.
"Baiklah, bantu aku merebut tahta ayahku dan akan kujamin kesejahteraan ras manusia," sambung Izot dengan mata yang membalas keseriusan Rugborth.
Beberapa bulan setelah itu, Rugborth yang memimpin pasukan manusia untuk melakukan penyerangan dari depan secara terang-terangan terhadap raja beastman. Izot di sisi lain membantu melemahkan pasukan beastman dari dalam dengan pengaruh serta doktrinnya.
Peperangan yang berlangsung hampir seminggu itu membuahkan hasil dari ribuan nyawa yang telah terbuang di medan pertempuran. Raja beastman berhasil dikalahkan, sayang sekali Rugborth harus terpaksa membunuh ayah Izot di depan mata Izot sendiri.
Hasil tidak berubah, hanya saja bukan Izot yang memenangkan perang tahta Midfraz, melainkan Rugborth. Cahaya dari tempat peribadatan para beastman seolah memudar ketika perang berakhir. Seakan tidak ada lagi berkah yang turun dari dewa, membuat Izot dan Rugborth yakin bahwa dewi Furmur telah mati.
Meski ras manusia yang memegang kuasa atas Midfraz, tetapi tidak sekali pun ada perbedaan antara manusia dan beastman tampak. Izot tidak mempermasalahkan tahta Midfraz, ia hanya senang karena Rugborth tidak mendeskriminasi ras yang telah mereka kalahkan di mana harusnya pihak yang kalah harus menerima aturan dari pemenang, yang berarti kematian bagi ras beastman.
Beberapa tahun berlalu dan hubungan antar kedua raja ini makin baik satu sama lain. Keduanya berkeluarga dan akhirnya punya keturunan hingga uban mulai muncul di kepala.
***
"Kalian tahu kalau gagal panen ini akibat ulah keluarga Luxorn?"
"Iya, karena mereka, dewi Furmur mati. Katanya sih kutukan dewa kesuburan menimpa Midfraz."
"Iya, betul. Mereka membawa kutukan dan bencana. Jika saja Rugborth tidak mengambil posisi raja beastman, kita mungkin tidak akan terkena kutukan ini."
"Ah serem ah. Aku tidak mau para monster datang lagi ladangku."
"Bukan hanya penyakit dan wabah, serangan monster juga?"
"Jika saja kita biarkan gitu saja, mungkin kita bisa tetap berhubungan baik dengan ras beastman dan tetap diberkahi kesuburan di Midfraz ini."
"Iya, karena Rugborth, kita semua harus menerima imbas kutukannya."
"Betul itu, betul."
Gosip panas menyebar seiring dengan datangnya wabah, penyakit, bencana, dan bahkan serangan para monster. Gosip yang menyatakan ketidak sukaan terhadap tindakan Rugborth terhadap raja beastman dahulu.
Memanas dan kian memanas. Gosip akhirnya menjadi keyakinan juga cara pandang seraya datangnya masalah tak kian henti. Perlahan para masyarakat yang kurang puas ahirnya menuntut raja Rugborth dan mengecap seluruh keluarga Luxorn sebagai keluarga terkutuk.
Perang pun terjadi, tetapi kali ini adalah perang untuk menggulingkan keluarga Luxorn, dan yang memimpin para pasukan perlawanan tersebut adalah bangsawan Buron von Buran dari kerajaan Burana.
__ADS_1
Banyak darah yang tumpah meliputi raja Rugborth, anaknya juga termasuk ibu dari Lithia. Setelah pemerintahan berganti, banyak yang berubah. Termasuk aturan yang mengatakan bahwa ras beastman tidak lebih dari ras binatang yang bisa berbicara. Ras beastman pun ditekan dan diperangi atas nama penguasa Midfraz.