Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 7


__ADS_3

Udara lembab dan kegelapan menyelimuti, sendirian dalam ruang sempit dengan jarak pandang terbatas, membangkitkan ketakutan Lithia yang telah lama ia tidak rasakan. Tubuhnya menggigil dan matanya tertutup rapat karena tidak sanggup melihat keadaan.



“Lura ... tolong aku,” batin Lithia.



“Oh ... lihatlah budak baru ini, dia kelihatan cantik sekali,” suara agak berat terdengar dari dalam kegelapan.



“Budak? Jangan-jangan ...,” batin Lithia mencoba menerka situasinya.



Lithia tidak memakai tudung dan hanya memakai pakaian yang biasa. Tidak ada ciri khas lain selain borgol dengan rantai di pergelangan tangan dan kakinya.



“Hooh, lihatlah. Rambut merah itu, ia pasti putri Lithia dari keluarga Luxorn yang terkutuk.”



Kata-kata itu mengagetkan Lithia dan melebarkan matanya. memang benar warna rambutnya yang merah itu tidak umum, tetapi tidak ada info khusus apa pun yang menyatakan Lithia adalah keluarga Luxorn.



“Dari mana kau tahu?” tanya Lithia memberanikan dirinya.



“Dari mana?”



Sosok pria berbadan besar muncul dari kegelapan dan bukan hanya seorang saja melainkan lima orang sekaligus. Lithia terkepung oleh lima orang pria berbadan besar. Tanpa baju yang menutupi dada dan penampilan wajah yang berantakan. Berkepala botak dengan seringai di wajah, membuat Lithia bertambah khawatir akan nasibnya.



“Kau tanya dari mana? Kami mantan prajurit yang bersumpah bodoh demi bangsawan terkutuk sepertimu,” ujar salah seorang pria berbadan besar.



“Mantan prajurit? Tapi kenapa? Bukankah ini penjara untuk budak?” pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dan malah membuat pria-pria itu tertawa keras.



“Hahahahaha! Sepertinya kau tidak tahu di mana kita. Ini adalah tempat pertarungan gladiator ilegal. Dan kau ...,” si pria menarik tangan Lithia dan mengangkatnya tingi-tinggi.



“Sepertinya boss memang tahu kalau kita membutuhkan sedikit sentuhan wanita,” kata si pria sambil memegang dagu Lithia dengan tangan kasarnya yang kotor.



Air mata Lithia tidak bisa berhenti mengalir di saat jari-jemari pria di depannya mulai menjelajahi tubuh ramping perempuan berambut merah ini. Lithia hanya mendengar tawa dari para pria di depannya dan menambah kegusaran di hati, berpikir dirinya akan menjadi bahan pemuas nafsu yang akan digilir secara bergantian.

__ADS_1



“Hoi! Si bocah ksatria itu tidak akan datang, ayolah ... biarkan aku mengambil tubuhmu sebentar saja.”



Suara di kepala Lithia terdengar sangat jelas, tidak ada yang mendengarnya kecuali Lithia sendiri. Begitu menggoda bagaikan bisikan makhluk jahat yang akan menariknya ke dalam kegelapan terdalam. Lithia sangat mengenali suara itu, suara yang telah lama ia tidak dengar.



“Ayolah Lithia ... kau akan diperkosa. Apa kau tidak ingin bantuanku?”



Lithia sangat mengetahui maksud dari kata-kata itu, tetapi ia tidak ingin mengandalkannya, yaitu sisi lain dari dirinya. Keselamatannya bisa terjamin, tetapi bukan dengan cara yang baik.



“Kalau kau tidak melakukannya, para bajingan ini akan mengambil kesucianmu. Apa kau ingin Lura mengetahuinya?”



Pakaiannya baru ingin ditanggali dan Lithia terpancing dengan kalimat godaan itu.



“Apa kau ingin Lura itu mengetahui bahwa kesucianmu dimiliki oleh para bajingan ini? Apa kau menyukai si Lura kesayanganmu itu? Apa kau sungguh ingin memberikan yang pertama pada mereka?”



Lithia tiba-tiba kehilangan kesadaran dan membuat para pria di depannya keheranan.




Setelah beberapa saat, mata Lithia terbuka perlahan dan begitu pula seringai lebar pada wajah orang yang akan mencabulinya.



“Baguslah kau sudah bangun, kau harus menggunakan mulutmu terlebih dahulu. Setelah itu –”



*BHUK! Krak!



Kepala si pria terputar ke samping dengan cepat diikuti suara sendi bergeser. Tendangan telak di kepala membuat pria di depannya hilang kesadaran seketika.



“Oi! Lacur sialan! Apa yang kau lakukan?!”



Keempat orang lainnya sontak marah dan langsung menyerang Lithia bersamaan. Lithia menyeringai lebar dan mundur perlahan ke dalam kegelapan yang pekat, begitu pula para pria menerjang ke arah Lithia tanpa ragu.

__ADS_1



*Krak! Krak! Krak!



***



Malam yang tenang di sebuah kurungan besi, sinar bulan melewati celah di jendela dan menampakkan orang-orang yang berada di dalamnya. Seorang pria tersandar di pojokan, seorang lagi tersangkut di antara celah pipa besi kurungan, tiga pria lainnya terbaring di lantai. Semuanya bernasib sama, dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan luka memar di sekujur tubuh.



Seorang perempuan duduk di salah satu tubuh pria yang terbaring di lantai. Perempuan itu adalah Lithia yang sedang menundukkan kepalanya.



Keheningan menghampiri kurungan tersebut, tetapi tidak demikian dengan pikiran Lithia. Suara di kepalanya tidak hilang dan terus berbisik padanya.



“Hey, lihatlah keadaan mereka. Kau bisa bertahan sendirian,” ujar sisi lain Lithia.



“Tidak, aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku tidak ingin melukai orang lain, aku punya Lura yang melindungiku,” balas Lithia.



“Hoi ... hoi ... apa kau lupa siapa yang membantumu sebelum si Lura itu datang?”



“Aku tahu, tapi ... aku tidak ingin kembali ke masa-masa seperti itu. Aku tidak ingin lagi, tidak lagi.”



“Kau bisa bertahan seorang diri, kau kuat dengan dirimu sendiri.”



Sebuah ingatan tiba-tiba menerjang kepala Lithia, ingatan di mana Lithia kecil yang bertahan hidup dengan mencuri makanan dan melawan orang-orang dewasa yang mencoba membunuhnya.



“Tidak ... aku tidak ingin mengingatnya lagi,” keluh Lithia mencoba menghilangkan gambaran-gambaran di kepalanya.



“Ini kesempatan yang bagus, dia tidak datang. Ayo ... lakukan seperti yang pernah kita lakukan,” bisik sisi lain Lithia.



“Tidak! Aku tidak mau! Tidak mau lagi!” teriak Lithia menyangkal, “Tidak lagi ... tidak lagi ....”


__ADS_1



__ADS_2