Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 9


__ADS_3

Hati yang kebingungan membuyarkan akal sehat, begitulah yang dialami Lithia setelah menghabisi semua orang yang sebelumnya berusaha memperkosanya. Sisi lainnya terus berbisik agar tetap mengendalikan tubuh Lithia untuk beberapa saat ke depan.



Lithia tidak mau mengandalkan sisi lain dari dirinya karena selalu berakhir dengan pertarungan meski tidak membuat tubuh Lithia terluka. Lithia pertama kali mendapat kepribadian itu ketika beberapa hari setelah Lithia pertama kali diburu oleh pasukan kerajaan.



Terendam dalam kegelapan, jiwa Lithia seakan terus meminta pertolongan tapi tidak mendapat bantuan dari siapa pun. Di saat ia terus bersedih dengan nasibnya, saat itulah seseorang di benaknya tercipta dan membantunya.



Sejak ia memiliki kepribadian lain, Lithia mulai bisa beradaptasi dengan kenyataan buruk yang menerjangnya. Menyamar, berlari, mengemis, dan apa pun yang membuat napasnya tetap tersambung tiap harinya.



Keseharian yang cukup keras untuk seorang putri kerajaan yang menjalani hidupnya. Sampai suatu ketika ia bertemu seorang budak laki-laki yang masih remaja. Budak itu adalah Luragorn.



“Bagaimana? Apa kau sungguh tidak ingin keluar?” tanya sisi lain Lithia.



“Tidak. Aku ingin menunggunya. Lura sudah berjanji akan bersamaku. Dia sudah berjanji,” tegas Lithia menyatakan perasaan dan keinginannya.



***



Langkah kaki cepat dan berat tanpa ada keraguan. Cahaya bulan menyorot seorang pria yang berlari dengan tergesa-gesa. Napasnya memburu dan kecepatannya berlari sekitar tiga puluh kilometer per jam. Ditemani dengan beberapa daun dan rumput yang terbang melewatinya, Luragorn mengayun-ayunkan kedua lengan yang selaras dengan ritme kakinya.



Pedang di punggung dan sorot mata ke depan dengan mantap, pria ini hanya memikirkan satu hal yang penting, yaitu tugasnya untuk menyelamatkan Lithia secepatnya. Luragorn mempercepat langkahnya secepat yang ia bisa sambil membayangkan sumpahnya di hari itu.



“Tunggulah putri, aku akan datang,” batin Luragorn.



Kenangan akan sumpah yang ia ucapkan seolah membakar semangat dan mematikan sistem pertahanan tubuh Luragorn sendiri yang sedari tadi menyuruhnya untuk berhenti dan beristirahat.



Jantung terpompa dengan hebat hingga terkadang ia merasakan sakit di dadanya. Seluruh otot terutama bagian kaki terbakar karena terus berlari tanpa jeda sedikit pun.



Hari di mana Luragorn berikrar teringat jelas di kepalanya. Kenangan itulah yang terus mendorong pria ini mengabaikan panggilan tubuhnya.



Luragorn saat itu masih remaja dan masih berpakaian lusuh, ia telah menjadi budak yang dibeli Lithia. Kemana pun Lithia pergi, Luragorn mengikuti. Meski Lithia tidak menyuruh , tetapi Luragorn terus saja membantu gadis berambut merah ini.



Kegiatan yang terus berulang membuat Lithia tidak memiliki pilihan selain menerima Luragorn. Luragorn berlutut dengan kepala tertunduk, ia bersumpah akan menjadi pengawal setia milik Lithia.



Setelah hari itu, Luragorn perlahan mulai menjadi lebih baik karena telah menemukan matahari yang menerangi seluruh kesuraman hidupnya.



“Tunggulah putri, tunggulah sebentar lagi.”



***



“Tidak! Aku tidak mau! Aku ingin menunggunya!” Teriak Lithia



Luragorn tidak mengetahui sama sekali tentang kepribadian lain Lithia dan perempuan ini tidak ingin itu terjadi, mengingat sifat dan tindakannya yang sangat berbeda.



“Tidak mau! Dia pasti datang!”



Lithia bersih keras dengan pendapatnya dan menolak untuk tidak menunggu Luragorn.



***



Pencarian Luragorn terbayarkan ketika mendapati sebuah benteng kayu sederhana dengan menara pengawas yang berdiri di tiap sudut. Pagar kayu setinggi enam meter mengelilingi benteng tersebut. Menara kayu setinggi tujuh meter di tiap sudut dengan seorang penjaga di masing-masing menara.



Para penjaga menara langung menembakkan anak panah sementara penjaga gerbang mulai menutup gerbang. Lima panah datang menghampiri Luragorn dari atas dan refleks saja pria ini sontak melompat ke depan cepat lalu berguling di tanah ketika mendarat.



*WUSH!



Pedang Luragorn dilemparkan ke arah salah seorang penjaga yang mencoba menutup gerbang. Menancap di dada dan menghilangkan keseimbangan si penjaga yang bersamaan dengan derasnya darah menyembur keluar.



Luragorn menerjang cepat masuk ke dalam benteng yang terbuka itu. Luragorn menarik pedangnya dari tubuh si penjaga yang terbaring merintih kesakitan.



Panggung beton tinggi luas dengan banyak goresan pedang di tiap permukaan. Kursi kayu lebar bertingkat memutari arena tersebut, membuat Luragorn yakin bahwa ia berada di tempat pertarungan gladiator.



Ruang tempat penyimpanan budak petarung pasti tidak jauh dari tempatnya berada, itulah yang dipikirkan Luragorn sambil mengamati sekitar.



Anak panah dilepaskan ke arah penyusup yang sementara termenung melihat keadaan. Luragorn melompat cepat menjauh ketika mendengar suara tarikan busur dan mendarat dengan mulus. Mata pria berpedang besar itu menatap dengan tajam menyorot ke arah penjaga menara, tetapi melawan penjaga bukan hal yang harus ia lakukan sekarang.



Para penjaga menara terkejut melihat seseorang yang bisa menghindari serangan panah tanpa peringatan sama sekali. Luragorn melihat ke depan dan mendapati sebuah bangunan besar dengan bahan kayu serta beberapa bangunan kecil di sampingnya.



***


__ADS_1


Lithia memojok dalam kurungan gelap sambil menutup telinganya. Udara lembab memasuki tubuhnya dan membuatnya menggigil.



Suara kegaduhan menggema di luar bangunan, meniup keresahan di hati Lithia. Perempuan yang meringkuk ini langsung berdiri, menghampiri jeruji besi yang menjadi penghalang antara dirinya dan kebebasan di depan mata.



“Lura? Apakah itu kau?” gumam Lithia mengharapkan kesatrianya datang.



***



“Dimana kau, Putri?” batin Luragorn meneliti tiap bangunan.



Matanya dengan sigap memperhatikan tiap bangunan dengan cepat. Musuh di depannya terus menyerang dengan anak panah dan tebasan pedang, tetapi Luragorn tetap bisa menghindarinya.



“Dimana kau, Lura?” batin Lithia memegangi besi penjara.



Hatinya berdebar dan semakin menguatkan genggamannya pada jeruji besi yang nampak karatan itu.



Luragorn tiba-tiba menghentikan pandangannya pada sebuah bangunan kecil yang gelap tanpa penerangan. Entah apa yang menariknya, tetapi pria ini langsung berlari ke arah bangunan itu.



“LURA!”



*BRUK!



Pintu kayu hancur dan serpihannya bertebaran di udara. Seorang pria menerjang masuk secara paksa dan membuat Lithia membelalak terkejut di tempatnya berdiri disusul sebuah senyum lebar tergaris di wajah perempuan berambut merah itu..



Mendarat dengan percepatan akibat terjangan sebelumnya, seorang pria kemudian berdiri dengan pedang di tangannya. Lithia tersenyum lebar dengan mata agak berkaca.



“Putri! Kau tidak apa?!”



Pertanyaan cepat itu membuat kegundahan hati Lithia menghilang. Air mata kegembiraan mengalir deras di saat Lithia melihat Luragorn berdiri dengan di balik jeruji yang membatasi dirinya dan pria di depannya. Seperti yang Lithia harapkan, Luragorn datang untuk menyelamatkannya.



“Bangsat! Siapa kau?!” teriak salah seorang penjaga.



“Putri ... bisakah aku menggunakannya sekarang?” tanya Luragorn dengan napas terputus-putus.



Lithia mengangguk cepat dan para penjaga yang memakai pedang menerjang masuk. Lithia mengepalkan kedua tangannya di depan dada. Sinar kuning terang terpancar dari dada kiri Lithia. Berbentuk bidak catur raja dan menghasilkan cahaya menyilaukan.



“Aku sudah menunggumu. Lura.”



Luragorn mengangkat tangan kanannya di depan wajah sembari menatap para penjaga yang melompat dan menerjang ke arahnya.



“Sesuai perintahmu ...,” Luragorn mengepalkan tangannya dengan cepat.


“Maaf aku terlambat. Putri Lithia.”



Simbol bidak catur kuda di punggung tangan bersinar, memancarkan warna kuning terang yang mengejutkan lawan Luragorn. Pandangan Luragorn seketika menjadi abu-abu dan setiap gerakan selain dirinya seolah melambat tiga kali dari kecepatan normal. Semua serangan menjadi terlihat jelas dan ia mulai melangkahkan kakinya.



“Sekarang sudah tidak apa,” batin Luragorn.


“1 ...,” gumam Luragorn mengayunkan pedangnya.



Luragorn mendekati penjaga yang mencoba menyerangnya dan langsung mengayunkan pedang ke arah perut para penjaga. Dua tebasan cepat secara horizontal merobek perut para penjaga, memuntahkan darah segar ke lantai dingin berdebu.



“2 ...,” gumam Lithia mengamati Luragorn.



Luragorn melangkah keluar dan melihat penjaga lain bersiap menyerangnya. Seorang penjaga yang memakai pedang dan lima pemanah mengarahkan serangan mereka ke satu titik, yaitu Luragorn.



“3 ...,” gumam Luragorn.



Seorang penjaga mencoba menebas Luragorn, tetapi gerakannya terlalu lambat untuk melukai pria yang sedang marah ini. Luragorn langsung menebas tangan penjaga tersebut dengan cepat, memutuskan kedua tangan yang memegang pedang panjang.



Luragorn mengambil pedang yang telah lepas dari penggunanya itu kemudian melemparkan ke salah satu pemanah. Pedang menancap di dada si pemanah dan membuatnya hilang keseimbangan kemudian terjatuh dari menara pengawas.



Luragorn menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan. Pandangan tidak berwarna dan berjalan lambat itu terlihat sangat menenangkan hati pria yang menggenggam sebuah pedang dengan eratnya.



Seorang pria gemuk dengan mantel mahal tiba-tiba datang. Dengan tubuh kecil dan kepala agak botak, orang itu langsung berbicara kepada Luragorn. Ia adalah pemilik tempat bertarung tersebut. Di sampingnya berdiri tiga orang perempuan cantik memakai smock hampir transparan. Ketiganya gemetar ketakutan menatap Luragorn yang nampak diselimuti oleh tumpahan darah.



“Hei! Apa yang kau inginkan? Uang? Berapa yang kau inginkan?” tanya si pria bertubuh gemuk.



Luragorn melempar tatapan dingin kepada si pria gemuk tanpa membalas pertanyaannya. Pria gemuk ini langsung termundur gentar dan gemetaran melihat Luragorn yang tidak bisa dibujuk oleh uang.


__ADS_1


“4 ...,” ucap Luragorn.



“4? 4 apa? 400 keping emas?” tanya si pria gemuk dengan keringat dingin.



Gemuruh langkah kaki tiba-tiba terdengar dan kekhawatiran pria gemuk ini langsung berganti dengan seringaian lebar. Satu pasukan petarung berjejer di belakang si pria gemuk, berjumlah sekitar dua puluh orang dan siap tempur kapan saja. Semuanya memakai zirah dan dipersenjatai longsword.



“Hahahaha! Berani sekali kau menyerang tempat bisnisku. Sekarang ... menyesal dan minta maaflah! Mungkin aku hanya akan menjadikanmu gladiator. Hahaha!”



“5 ...”



“Hah? Kau masih mau menawar? 500 keping emas? Jangan bermimpi!” tegas si pria gemuk.



Berbondong-bondong para petarung menyerang Luragorn. Langkah kaki yang banyak menggetarkan tanah, semua pandangan tertuju pada satu-satunya pria yang hanya memakai pedang sebagai senjatanya.



“6 ...” gumam Luragorn.



***



“Sekitar sebulan setelah aku membebaskan Luragorn,” gumam Lithia mencoba mengingat masa lalunya.



Lithia terbangun dari tidur dan merasakan dadanya sesak. Tampilan dari wajah tiap anggota keluarganya menghantam kepala gadis kecil ini. Di saat yang bersamaan, sebuah simbol bidak catur raja muncul di dada kirinya. Lithia tidak tahu apa-apa, tetapi ia seakan bisa merasakan bahwa seluruh anggota keluarganya telah mati.



Gadis kecil ini menangisi nasibnya dan tiba-tiba saja Luragorn menggenggam tangan kecil Lithia.



“Aku bersumpah akan terus bersamamu, putri Lithia. Berhentilah menangis, aku akan menemanimu,” kata Luragorn yang kemudian menghentikan tangisan Lithia.



Lithia berhenti menangis dan melihat Luragorn yang menatapnya dengan sangat serius. Lithia perlahan berhenti menangis dan mengangguk pelan.



Sebuah simbol bidak catur kuda tiba-tiba muncul di punggung tangan Luragorn dan membuat keduanya keheranan.



“Sejak saat itu ... kami bisa bertahan dengan cara yang lebih mudah. Aku tidak tahu apa sebenarnya ini, tapi ...,”



Lithia mengepalkan kedua tangannya dan menatap keluar ruangan, ia bisa melihat Luragorn yang sementara bertarung tanpa beban sama sekali. Lithia kembali duduk bersandar di tembok yang dingin, mengembuskan napasnya dan merasa lega bahwa Luragorn bisa menemukannya tepat waktu.



Senyuman tipis tergariskan di saat perempuan ini menunggu kesatrianya selesai bertarung, pipinya yang agak merona menjadi ekspresi yang cocok dengan kegirangan di hatinya sekarang.



***



Luragorn berdiri di sekitar tumpukan mayat dengan genangan darah di kakinya. Tatapannya tidak berubah dan masih memandangi si pria gemuk yang berdiri ketakutan.



“10 ...,” gumam Luragorn telah menghabisi seluruh petarung dan pemanah yang datang menyerangnya.



Pandangan Luragorn kembali berwarna dan kelelahan diteriakkan oleh seluruh anggota tubuhnya. Pria itu bernapas berat agak terputus-putus dengan keringat membasahi wajah dan anggota tubuh lain.



“10 ... 10 ... 10.000 keping emas? Baiklah, baiklah, ampuni aku,” si pria gemuk mundur perlahan di saat Luragorn mendekati pria gemuk di depan matanya.



“Sayang sekali hanya sepuluh detik, tapi itu lebih dari cukup untuk membunuhmu dan seluruh pasukanmu. Seseorang yang mencoba menjadikan putri Lithia sebagai budak,” ucap Luragorn.



“Baiklah, baiklah, ambillah semua yang kau inginkan. Tolong ampuni nyawaku,” rengek si pria gemuk sembari mundur ketakutan.



*JRASH!



***



*Klack!



Suara gembok terlepas menghentikan lamunan Lithia. Perempuan berambut merah itu berdiri dan menghampiri pintu kurungan yang telah terbuka lebar untuknya.



“Kenapa kau lama sekali?” tanya Lithia sambil memukul pria yang membebaskannya.



“Maafkan aku putri. Aku terlambat,” kata Luragorn meminta maaf sambil sedikit membungkuk pada Lithia.



“Lain kali kau terlambat, aku akan bunuh diri saja.”



Luragorn terkejut dan langsung mulai menjelaskan situasinya, tetapi Lithia terlebih dahulu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Luragorn dan menghentikan pria ini berbicara.



“Ssssttthhh ... jangan banyak alasan. Ayo kita pergi dari sini,” ucap Lithia sambil tersenyum lebar.


__ADS_1


“B ... b ... baiklah,” jawab Luragorn.


__ADS_2