Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 4


__ADS_3

Pagi dingin yang menusuk menyapa setelah malam badai berkecamuk. Lithia terbangun dari tidurnya dan Luragorn duduk sambil mengukir sebatang kayu. Ukiran halus berbentuk wyvern bersayap 4, Luragorn mengikis kayu menjadi sebuah patung wyvern kecil dengan mulut terbuka.



Rambut berantakan dengan mata masih setengah terbuka, Lithia menguap lama sambil merentangkan tangannya.



“Selamat pagi, Lura~,”sapa Lithia dengan wajah kantuk terpasang.



“Selamat pagi, Putri, ada yang ingin kubicarakan,” kata Luragorn dengan tatapan serius.



“Kenapa, Lura? Serius sekali pagi-pagi,” Lithia menguap dan berbicara dengan nada santai.



Luragorn tidak mengubah pandangan tajamnya, membuat Lithia ikut terseret dalam keadaan serius.



***



“Begitukah yang dikatakan Al?” tanya Lithia sambil agak panik.



“Apa benar itu, Putri? Putri Lithia adalah putri kerajaan utama?” balas Luragorn dengan pertanyaan lain.



Lithia tertegun sesaat ketika mengetahui Luragorn yang mengatakan fakta itu. Tidak lama setelahnya Lithia langsung memasang senyuman lebar.



“Hehe, maaf sudah berbohong selama ini. Iya aku adalah putri terkutuk yang sering dibicarakan. Cucu dari raja Rugborth yang terkutuk,” jawab Lithia sambil tertawa kecil.



“Tidak apa kurasa jika harus jujur, terima kasih telah menemaniku selama ini. Maaf jika aku bukan tuan putri yang seperti kau pikirkan. Jika kau mau membunuhku maka lakukanlah, aku tidak apa sekarang,” batin Lithia sambil tersenyum pada Luragorn.



Dalam hatinya, Lithia merasa sedih karena telah berbohong mengatakan bahwa dirinya adalah putri bangsawan biasa. Ia tidak ingin berpisah maupun berakhir seperti ini, tetapi status sebagai keluarga kerajaan terkutuk telah melekat padanya. Lithia tidak ingin berbohong lebih lama lagi, apalagi pada seseorang yang telah lama menemaninya sejauh ini. Ia harus jujur pada Luragorn, meski itu berarti kebencian dan kematian yang akan menimpanya.



Tertunduk dengan mata tertutup, perempuan berambut merah menyala ini gemetaran di tempat ia duduk menunggu penghakiman yang layak didapatkannya.



Pelukan cepat menghilangkan pikiran negatif Lithia. Pelukan hangat yang sangat erat membungkam perempuan yang tengah bersedih ini. Helaan napas panjang dari Luragorn diikuti pelukan yang semakin erat semakin membingungkan Lithia.



“Kenapa putri Lithia tidak mengatakannya lebih cepat?” tanya Luragorn berbisik agak pelan.



Denga napas agak berat, Lithia menjawab sambil melirik ke arah lain “Apa kau membenciku juga?” Lithia menggigit bibir bawahnya seolah itu adalah beban yang sangat berat, “Sebagai putri terkutuk yang dibenci seluruh Midfraz.”



“Putri adalah Putri, Putri adalah orang yang membebaskanku dari gelapnya perbudakan. Tidak mungkin aku akan berpikir seperti itu.”



“Begitu … kah?” Lithia membalas pelukan Luragorn dan seluruh bebannya untuk sesaat terasa menghilang.



Hati Lithia sekarang setenang lautan tanpa badai. Tanpa ada kekhawatiran, tanpa ada penyesalan. Perempuan berambut merah ini teringat kembali saat terakhir ia merasakan perasaan yang sama, yaitu saat ia masih kecil, saat ia masih dalam pelukan ibunya, saat-saat damai di mana ia tidak perlu memikirkan apa pun dan semua terasa sangat menyenangkan.



Pelukan Lithia semakin erat dan tanpa ia sadari sebuah senyuman tergaris di wajahnya diikuti aliran air mata kebahagiaan yang turun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Lithia bisa melepas semua emosi terpendam pada orang yang selama ini ia percayai dan sayangi.



Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam dalam emosi masing-masing, membiarkan perasaan mereka mengalir seraya air mata mengekspresikan kebahagiaan keduanya.



***



Luragorn dan Lithia kembali melanjutkan perjalanan menuju Beastman District, sebuah kota besar di sebelah tenggara Midfraz. Layaknya seperti perjalanan biasa, tetapi kali ini Lithia berjarak sangat dekat dengan Luragorn. Kurang dari lima cm jarak yang memisahkan keduanya, Lithia terus saja menghilangkan jarak di antara mereka sementara Luragorn semakin menyesuaikan ritme langkahnya untuk mengimbangi Lithia agar tidak tertinggal.



“Jadi? Si beastman itu, siapa namanya?” tanya Lithia.



“Al tidak memberi tahu namanya. Aku juga penasaran tentang identitas Al,” jawab Luragorn.



“Ya, aku juga penasaran. Kenapa ia tidak terluka sama sekali saat melawanmu, dari mana pula ia mengetahui info-info itu?”



“Entahlah, sepertinya dia bukan orang jahat atau setidaknya belum jahat pada kita untuk sekarang.”

__ADS_1



“Selama ada Lura, maka tidak apa.”



“Jangan begitu putri Lithia, kita harus selalu waspada. Tempat yang kita tuju berisi–”



“Beastman. Ras setengah manusia setengah hewan. Kemampuan fisik mengerikan ditambah lagi mereka sangat membenci manusia sejak kebijakan itu.”



“Ya, di sana pasti tidak ada manusia. Kita harus waspada putri.”



“Siap~ Lura.”



***



Kawasan kota biasa dengan susunan perumahan yang umum. Rumah dengan tembok bata dan tiang kayu. Warga melakukan kegiatan mereka masing-masing. Toko berjejeran di sepanjang jalan, mulai dari toko perlengkapan rumah tangga hingga toko persenjataan.



Luragorn dan Lithia memasang tudung serta mantel mereka hingga menutupi semua bagian kecuali wajah. Tidak ada ras manusia sejauh mata memandang kecuali ras beastman.



Tubuh mereka layaknya tubuh manusia, tinggi seperti manusia dan juga berbicara serta berdiri dengan kedua kaki. Wajah mereka juga seperti wajah manusia pada umumnya, hanya saja telinga mereka berada di posisi atas kepala mereka dengan bentuk beragam sesuai subras mereka.



Ada beastman yang bertelinga kucing, anjing, kelinci dan masih banyak lagi. Selain bentuk telinga, mereka juga memiliki ekor. Bulu hewan mereka pun hampir tidak ada.



Pakaian para beastman juga sama persis dengan kebudayaan manusia di Midfraz. Selain ekor dan telinga yang terlihat, penampilan beastman tidak ada bedanya dengan manusia. Hanya saja ....



*BRUK!



Seorang beastman terjatuh dari atas dan mendarat tepat di depan Luragorn. Luragorn sontak menarik Lithia mundur untuk menghindari masalah.



Beastman yang terjatuh tadi langsung bangkit tanpa luka yang berarti. Beastman harimau adalah subras dari beastman itu. Si beastman langsung berteriak kencang, udara di sekitarnya seolah bergerak naik seraya tubuhnya berubah perlahan. Otot tubuhnya mengembang dan rambut berwarna jingga bergaris hitam tumbuh cepat.




Si beastman tampak seperti harimau bertubuh manusia dan siap untuk bertarung. Ekornya meliuk-liuk dan kuda-kudanya sangat mantap.



“Melepas Kebuasan,” ujar Lithia yang berlindung di balik Luragorn.



“Sebuah teknik dari ras beastman untuk berubah menjadi bentuk mendekati hewan aslinya. Fisik, insting, kemampuan, semuanya meningkat berkali-kali lipat,” kata Luragorn menarik Lithia menjauhi si beastman.



“Kita memang mencari informasi tentang beastman rubah, tapi masalah terbuka seperti ini terlalu mencolok.”



“Putri Lithia benar, ayo kita mencari informasi di tempat lain.”



Luragorn dan Lithia pergi meninggalkan si beastman harimau. Keduanya beranjak tetapi tiba-tiba terhenti di sebuah daerah pertokoan khusus pakaian dan rumah makan.



Lithia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya untuk melihat-lihat. Pandangannya terus tertuju pada deretan toko-toko yg ada di depan. Lithia berlari ke depan etalase toko pakaian. Berbagai pakaian sederhana hingga gaun mewah menarik matanya untuk melihat ke dalam toko.



Lithia menuju tempat penjualan baju dengan semangat. Baju, gelang, kalung, celana, cincin,sepatu dan berbagai pernak-pernik lainnya dilihat dan sesekali dicoba oleh Lithia. Sesekali ia bertanya pada Luragorn tentang kecocokannya dengan barang yang ia pilih, sesekali ia juga mengambil beberapa barang dan melihat kecocokan barang yang ia pilih untuk Luragorn.



“Permisi, ada yang bisa kubantu?” tanya pemilik toko yang berperawakan wanita muda dengan subras anjing. Kulit agak kecokelatan dengan rambut hitam sebahu serta kirtle putih yang dikenakan membuat penampilan penjaga toko itu terlihat seperti beastman kebanyakan.



“Tidak, tidak apa, kami hanya melihat-lihat saja,” jawab Luragorn cepat sebelum beastman wanita itu salah paham mengira Luragorn dan Lithia datang untuk membeli.



“Jangan sungkan. Khusus untuk kalian, akan kuberi potongan harga jika membeli di sini. Diskon pasangan.”



“Diskon pasangan?”



“Pacarmu kah?”

__ADS_1



“Pacar? Apa yang kau katakan sebenarnya? Kami–”



“Oh maaf, kalian pasangan suami-istri ya?”



“Hah?”



“Kalau begitu akan kuberi diskon khusus, bagaimana? Tertarik? Perempuan memang seperti itu. Istri cantik anda sepertinya memang harus diberi perhiasan yang sama cantiknya. Coba lihat ini tuan, kalung emas ini pasti akan sangat cocok untuknya. Murah sekali.”



“Tidak, kami hanya–”



“Tidak, tidak apa. Silakan melihat-lihat, panggil aku jika butuh sesuatu,” kata si beastman dengan senyumannya yang ramah.



Luragorn kembali pada Lithia mencoba mengacuhkan pemiliki toko tersebut yang terlihat sangat bersemangat.



“Lihat Lura, apa ini cocok untukku? Ini juga?” tanya Lithia sambil menunjukkan berbagai macam perhiasan sederhana pada Luragorn.



“Ya, cocok sekali,” jawab Luragorn.



“... Perempuan memang seperti itu. Istri cantik anda sepertinya memang harus diberi perhiasan yang sama cantiknya ...,”Luragorn tiba-tiba teringat dengan kalimat si penjual toko sebelumnya dan mendadak membuat pria ini memasang wajah suram. Harusnya ia mampu membelikan Lithia perhiasan seperti itu layaknya wanita-wanita lain, tetapi ia tidak bisa dan malah membuat pria berdagu agak lebar itu merapatkan rahangnya karena kesal.



“Ayo Lura, kita pergi,” ajak Lithia pergi keluar toko.



“Tapi, apa putri tidak ingin membelinya?” tanya Luragorn dengan wajah yang sangat kebingungan.



“Haha, jangan bodoh. Tidak mungkin kita membelinya, kita tidak memiliki uang.”



Luragorn tiba-tiba teringat akan sesuatu, sesuatu tentang kalung permata terakhir yang pernah dimiliki Lithia.



“Putri Lithia, permata yang hari itu ...,” kata Luragorn ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.



Lithia terdiam sejenak ketika mendengar kata ‘permata hari itu’.



“Permata apa?” tanya Lithia.



“Permata yang putri Lithia jual demi–”



“Lah? Itu hanya permata biasa. Nanti setelah aku mendapatkan tahtaku kembali, permata seperti itu akan kubeli lagi.”



“Tapi, permata itu–”



“Ayo kita pergi makan, aku lapar.”



Lithia mengacuhkan Luragorn dan bergegas berjalan cepat ke depan. Di saat beberapa meter tercipta, Luragorn langsung waspada kemudian sontak menarik pedang dari sarungnya.



*Tak! Tak! Tak! Tak!



Luragorn dengan sigap menangkis beberapa anak panah kecil yang melesat dari belakang. Semuanya terpental ketika menabrak pedangnya. Luragorn berbalik cepat dan mendapati beberapa beastman kucing mendekati Lithia, membuat pria ini sontak mengambil beberapa anak panah tadi kemudian melemparnya ke arah beastman kucing.



Beastman kucing yang terkena serangan tersebut seketika jatuh pingsan. Namun itu belum cukup karena ada seorang beastman kucing lainnya yang sedang berdiri di depan Lithia sambal memegang crossbow.



Lithia hanya terdiam dan Luragorn bersegera meraih Lithia. Tangan pria ini mencoba menjangkau Lithia, tetapi suara pelatuk telah terdengar. Namun serangan itu tidak ditunjukkan untuk Lithia, melainkan Luragorn.



Panah besi beracun menancap di bahu Luragorn. Meski ia berhasil menarik Lithia menjauh, Luragorn yang dengan sengaja menghampiri serangan tersebut akhirnya jatuh pingsan setelah beberapa saat kehilangan keseimbangan.


__ADS_1


Luragorn dan Lithia dibius oleh beberapa orang beastman dan keduanya diangkat lalu diletakkan di sebuah kereta yang juga berisi orang-orang pingsan lainnya.


__ADS_2