Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 3


__ADS_3

Langit cerah dengan matahari yang menyinari dengan hangat, menemani langkah sepasang manusia. Keduanya adalah Luragorn dan Lithia yang memakai tudung hingga menutupi tubuh mereka kecuali bagian wajah saja.



Luragorn membawa sebuah longsword dan sebuah tas yang agak besar di punggungnya sementara Lithia tidak membawa apa-apa selain tudung yang dikenakannya. Hari yang cukup panjang karena mereka belum menemukan tempat berteduh yang cocok.



Jalan tanah di tengah area padang rumput yang luas menjadi penunjuk arah mereka berdua untuk mencari tempat menetap lain. Hanya ada beberapa pohon yang berada di jarak pandang dan tidak ada tanda-tanda pemukiman warga. Tidak ada satu pun orang yang lewat sejak pagi, baik pejalan kaki maupun kereta kuda.



Permukaan tanah yang mendapat cahaya matahari tiba-tiba tergantikan oleh bayang-bayang gelap. Awan tebal menutupi langit dan angin kencang bertiup cepat melewati Luragorn dan Lithia. Kedua orang ini melihat ke belakang dan mendapati sebuah awan hitam yang membawa angin serta guntur.



Meski jaraknya masih terbilang jauh, tetapi keduanya bisa merasakan angin dingin bertiup menembus kulit mereka. Badai yang besar akan datang dan pasti akan datang. Kawanan burung tampak terbang menjauhi awan badai tersebut dan beberapa hewan langsung berlarian menjauh dan bersembunyi.



Luragorn dan Lithia melanjutkan langkah mereka dengan sedikit tergesa-gesa. Udara semakin dingin dan gemuruh terdengar tidak jauh di belakang. Rintik hujan perlahan turun setelah kilatan cahaya yang muncul bersamaan dengan guntur.



Perlahan air hujan yang turun semakin lama semakin deras. Luragorn dan Lithia berlari menerobos jutaan air yang terus berjatuhan membasahi mereka.



Usaha keduanya menghindari hujan terbayarkan dengan adanya gua yang tidak jauh dari pandangan. Tanpa berpikir lagi, Luragorn dan Lithia langsung bergegas menuju gua tersebut.



Mulut gua setinggi empat meter dan selebar lima meter menyambut Luragorn dan Lithia yang kebasahan. Gua agak lembab di kaki gunung yang cukup tinggi, menjadi tempat persinggahan yang sempurna sambil menunggu badai berakhir. Gua yang cukup dalam bahkan setelah menyalakan api untuk pencahayaan dan menghangatkan udara.



Luragorn menggunakan ranting dan dahan kayu yang ia temukan untuk membuat api unggun. Tidak ada korek api yang bisa digunakan untuk membakar. Untungnya Lithia bisa menggunakan sihir sederhana seperti kobaran api kecil.



Selagi Lithia menghangatkan dirinya di depan api unggun yang dibuat, Luragorn berkeliling untuk memastikan mereka tidak sendirian dalam gua itu. Luragorn berjalan dengan sebuah balok kayu terbakar di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Gemericik genangan air terkadang menemani langkah Luragorn saat menelusuri tiap sisi.



Lithia mendekat ke arah bara api untuk mengeringkan badannya yang kebasahan. Di saat Luragorn pergi, ia berencana untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang berada di dalam tas perjalanan mereka. Baru saja ia ingin melepas kirtle-nya, suara langkah kaki mendekat dan membuat Lithia mengurungkan niatnya.



“Kenapa cepat sekali? Aku baru ingin mengganti pakaian, tunggulah–”



Luragorn berada di ujung gua setelah berjalan sejauh lima puluh meter dan tidak menemukan apa-apa selain beberapa kelelawar yang tertidur di langit-langit gua.



“KYA!”



Teriakan Lithia langsung membuat Luragorn waspada dan segera kembali. Hanya beberapa meter sebelum bertemu Lithia dan Luragorn menguatkan kedua genggaman pada longsword-nya. Seketika Luragorn terdiam setelah melihat keadaan Lithia yang menjauh dari api unggun dan seorang yang tidak dikenal mendekat ke api unggun.



Seorang pria berambut putih tengah kebasahan. Berjongkok sambil memajukan kedua tangan ke arah bara api, ia meringkup di depan api unggun dan menghangatkan diri dengan gemetar dan wajah memelas ketakutan.



Wajah bulat dan mata bulat berwarna hijau lemon itu menatap Luragorn, memberi pandangan seperti seorang anak kecil yang tersesat di tengah hutan, hanya saja orang itu adalah orang dewasa dan dia ketakutan.



Luragorn menyarungkan pedangnya dan Lithia bersembunyi di belakang Luragorn sambil menatap orang asing di depan mereka. Luragorn mendekat dan memulai percakapan dengan pria setinggi 170 cm serta tubuh yang cukup biasa itu.



Pakaian yang dikenakannya adalah doublet biru terang dengan celana nilon hitam panjang. Tidak ada barang bawaan selain suling kecil dan capeline putih di dekat suling itu. Orang tersebut adalah pengembara dan musisi dari pengamatan Luragorn dan Lithia.



“Hai pengembara, siapa namamu?” tanya Luragorn dengan nada cukup ramah.



“Al, panggil saja Al,” jawab si pengembara dengan tubuh masih gemetaran.



*DROAR!



Guntur bergemuruh diikuti kilatan cahaya terang, membuat Al sontak memeluk Luragorn sambil ketakutan. Luragorn mendadak terkejut akan tindakan tiba-tiba itu. Luragorn kemudian menenangkan dirinya perlahan sementara Lithia mencoba mendekat ke arah Al.



“Apa kau ... takut guntur?” tanya Lithia penasaran.



“A ... i ... iya, aku benci badai seperti ini,” jawab Al dengan air mata yang mengalir dan bibir pucat gemetaran.



Lithia langsung tertawa keras melihat seorang pria dewasa yang takut dengan guntur layaknya anak kecil kebanyakan. Lithia mengeluarkan sisa perbekalan mereka dan memberikannya pada si pengebara.



“Kau mau? Mari kita tunggu badai ini berlalu,” kata Lithia sambil tersenyum lebar.



Luragorn pasrah dengan keputusan Lithia. Meski kebaikannya yang tidak pandang bulu merupakan sikap yang bagus, tapi Luragorn khawatir bahwa kebaikan Lithia bisa jadi kelemahan yang membahayakan dirinnya sendiri suatu saat nanti.



“Mau?” tanya Lithia sambil memberi sebuah daging sisa yang dibungkus daun besar.



Dengan sedikit gemetaran, si pengembara mengambil daging itu. Baru saja tangannya menyentuh permukaan daun, Al langsung berteriak kaget dan berlari menjauh.



Luragorn dan Lithia keheranan melihat tindakan si pengembara dan memperhatikan dengan saksama daging tadi. Seekor kumbang cokelat berjalan di atas permukaan daun, agak besar tetapi tidak berbahaya maupun beracun.



Untuk beberapa saat, Lithia dan Luragorn terdiam dan akhirnya mengerti apa yang terjadi.



“Kau, bukan hanya takut gunutur tapi takut–,”



Belum selesai Luragorn berbicara, Lithia mengambil kumbang tadi dan mengejar Al sambil mengarahkan kumbang cokelat tersebut ke wajah Al.



Luragorn hanya diam mengamati tingkah keduanya, meski Al dan Lithia sudah dewasa tetapi tindakan dan sifat mereka sungguh seperti anak-anak.



“Lihat! Ini tidak menggigit,” ujar Lithia dengan semangatnya menunjukkan kumbang.



“AAA!!! Tidak! Jauhkan itu!,” teriak Al yang memanjat dinding gua sambil berpegangan pada salah satu bebatuan yang timbul.



“Ayolah~ ini hanya kumbang yang ramah.”

__ADS_1



“TIDAK! AKU BENCI SERANGGA!”



***



Badai terus berkecamuk sampai malam datang dan memaksa Luragorn, Lithia serta Al untuk menetap di gua hingga besok paginya. Semakin malam, badai semakin mereda dan akhrinya berhenti sepenuhnya.



Lithia telah tertidur terlebih dahulu di dekat api unggun dengan selimut kering menutupinya. Hanya Luragorn dan Al saja yang masih terbangun di gelapnya malam.



“Kau tidak tidur, Al?” tanya Luragorn.



“Tidak, belum. Aku belum mengantuk,” jawab Al.



“Hooh, kukira kau juga akan tertidur cepat.”



“Maksudmu?”



“Takut badai dan serangga, mirip anak kecil saja. Kukira kau juga akan tidur cepat,” kata Luragorn tersenyum karena merasa Al bersahabat dan tidak membahayakan Lithia.



“Hehe ..., maafkan ketakutanku. Aku memang tidak tahan dengan dua hal itu. Aku tidak sehebat putri Lithia.”



“Ya ... ya ... putri Lithia–.”



Luragorn tiba-tiba terkejut dengan apa yang ia dengar. Sekalipun ia dan Lithia tidak memberitahukan identitas asli mereka termasuk status putri Lithia, dan pengembara ini mengatakannya dengan lancar seolah sudah sangat mengetahuinya. Luragorn sontak menarik pedang dari sarungnya kemudian menyerang Al.



“Oh iya, ngomong-ngomong putri Lithia itu–,” kalimat Al terputus saat mata pedang Luragorn berada tepat di depan leher pengembara ini.



*SLASH!



Luragorn mengayunkan pedangnya dengan kuat dan cepat, sesaat setelah itu Luragorn terdiam kaget. Pria berpedang besar ini tidak menebas apapun selain udara kosong. Sebuah telapak tangan menyentuh bahu Luragorn dan membuatnya berbalik ke belakang perlahan.



“Lura-lura~ tidak baik memotong pembicaraan orang lain, itu tidak sopan,” kata Al yang sedang berdiri di belakang Luragorn dengan senyuman di wajahnya.



Luragorn tidak bisa melihat pergerakan Al sama sekali. Luragornlah yang melancarkan serangan kejutan, tetapi malah ia yang terkejut akan hasilnya.



“Orang ini ... siapa dia?” batin Luragorn.



“Santailah Lura-lura, mari kita bicara sejenak.”



Luragorn sekali lagi mencoba menebas Al dan hanya udara kosong yang terpotong saat pedang diayunkan. Al berada di belakang Luragorn lalu pengembara ini mengambil suling serta capeline putih miliknya.




Luragorn mengerutkan alisnya dan tidak menanggapi pertanyaan Al, pria berdagu tegas itu langsung menebas Al sekali lagi dan hasilnya tetap sama. Luragorn menebas kekosongan dan Al kini berdiri di luar gua sambil memainkan sulingnya.



Suara suling Al yang sangat merdu dan halus, membelai udara malam dengan bisikan yang lembut. Dedaunan menari berputar di sekitar Al di saat nada dimainkan.



Luragorn tidak lagi peduli siapa Al dan hanya satu hal yang ia tahu, yaitu si pengembara tersebut adalah ancaman yang berbahaya. Luragorn mengangkat pedangnya dan berniat menghabisi Al, tidak peduli berapa lama waktu yang ia butuhkan.



Daun-daun hijau segar berputar pelan secara spiral mengitari Al, mengikuti lantunan nada yang dikeluarkan oleh suara sulingnya. Jari-jemarinya berpindah dengan cukup anggun, memberi daya tarik tersendiri siapa pun yang melihatnya.



Luragorn melancarkan serangannya ke arah Al, tetapi sebuah daun menyambut mata pedangnya. Seakan terseret oleh daun tersebut, pedang Luragorn jatuh terdorong menjauhi Al.



Luragorn tidak mengerti apa yang baru saja terjadi dan memutuskan untuk mencoba kembali. Sekali lagi sebuah tebasan dilancarkan dan sekali lagi serangan Luragorn gagal dikarenakan daun yang mengenai mata pedangnya.



Lantunan suling terus berbunyi, begitu pula gerakan dedaunan yang tetap berputar perlahan. Luragorn meningkatkan kecepatan serangannya dan melakukan tebasan cepat berkali-kali. Sayang sekali tiap tebasan selalu berakhir sama. Sebuah daun menyentuh mata pedang dan membuat tindakan Luragorn tidak ada gunanya.



Meski perputaran daun terlihat lambat dan mendayu, kumpulan daun itu terus saja menahan serangan cepat Luragorn. Tebasan Luragorn seakan mengalir menghindari Al dengan arahan daun yang datang, membuat Luragorn sedikit kesal sambil bernapas berat.



Luragorn mulai kelelahan dan Al menghentikan tiupan sulingnya.



“Lura-lura, bisa kau berhenti seben–,”



Luragorn menebas Al sebelum pengembara ini sempat menyelesaikan kalimatnya. Sangat disayangkan, hasilnya seperti dugaan bahkan lebih parah. Al berdiri di ujung pedang Luragorn yang terangkat secara horizontal. Luragorn terkejut sekali lagi dan keterkejutannya bertambah saat Al telah hilang dari pandangan dan berdiri di belakangnya.



“Sepertinya agak sulit bicara padamu sekarang. Huft~, baiklah kukatakan saja,” kata Al dengan menghela napas panjang.



Luragorn kembali menebas Al berkali-kali dengan cepat, tetapi si pengembara ini hanya mengelak dengan santai sambil terus bercerita.



“Begini ...,” kata Al sambil menghindari serangan Luragorn, “Apa kau tahu? Kalau putri Lithia bukan hanya putri bangsawan biasa, dia adalah putri terkutuk ras manusia.”



“Memangnya aku peduli? Itu tidak ada hubungannya, putri adalah putri,” ujar Luragorn dengan geram sambil terus menebas Al.



“Baiklah, sepertinya kau tidak akan terkejut untuk informasi yang akan kuceritakan.”



“Diamlah!”



Tebasan Lurgorn tidak berhenti, begitu pula mulut Al yang terus bercerita sambil mengelak serangan.

__ADS_1



“Begini Lura-lura, Lithia adalah seorang putri kerajaan sekaligus penerus resmi tahta dari ras manusia.”



Luragorn mengayunkan pedangnya ke arah Al dan pengembara itu menghindar dengan mudahnya.



“Dia dijebak oleh pihak dalam dan keluarganya dibantai serta diburu satu persatu.”



Sekali lagi, Luragorn melancarkan serangan dan mendapat hasil yang sama.



“Kalian juga akan membutuhkan informasi dari beastman yang menyerang kalian beberapa hari yang lalu.”



Luragorn terus menerus melakukan serangan sementara Al terus-terusan berbicara.



“Ituloh, beastman rubah. Dia adalah assasin jika tidak salah.”



“Dan juga ini, sebenarnya perang berkepanjangan di masa lalu ada hubungannya dengan permainan dewa.”



“Bahkan sampai sekarang, meski sekarang agak damai dan agak membosankan.”



“Ya, cepat atau lambat kau akan mengetahuinya.”



“Kalau tidak percaya, coba saja kau lihat punggung tanganmu.”



“Simbol bidak catur kuda berwarna kuning



“Dan juga simbol bidak catur raja berwarna kuning di dada Lithia.”



“Kau masih tidak tahu artinya, kan? Kurasa kakek Lithia mengetahui sesuatu tentang itu.”



“Kurasa itu saja.”



“Lura-lura, tidak sopan sekali jika seseorang bicara dan kau terus menyerangnya seperti ini. Padahal aku menyukaimu.”



Luragorn menarik sesuatu di balik kantongnya dan melempar ke arah Al. Seekor ulat hijau besar seukuran jempol kaki dengan panjang sepuluh cm.



Al yang sedari tadi berbicara langsung terhenti ketika merasakan sesuatu merayap di dahinya. Berjalan perlahan dan menggelitik kulit, ulat itu bergerak ke arah mata pengembara ini dan sedikit meliuk di wajahnya. Meski ulat ini cukup besar, ulat ini tidak berbahaya sama sekali.



“KYA!”



Teriak Al dengan panik sambil berlari tidak tentu arah. Luragorn tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung melancarkan serangan ke arah punggung Al yang terbuka.



Serangan Luragorn seketika terpental ketika mengenai tubuh Al. Pedangnya yang bisa menebas apapun sekali ayunan terlihat tidak berguna sama sekali. Luragorn tidak merasakan sihir apa pun, tidak ada trik atau aura apa pun, bahkan pelindung sekali pun, tetapi pedangnya terpental seperti menyerang berlian yang sangat keras.



Luragorn memperbaiki posisinya dan sangat yakin bahwa lawan di depannya bukanlah manusia. Keringat membasahi wajahnya dan udara dingin menusuk tulang belakangnya. Bulu kuduknya berdiri membayangkan seberapa kuatnya Al ini, Luragorn menelan air ludahnya seraya memperhatikan tingkah Al.



Si pengembara ini masih saja berlari dengan panik dan seketika membuyarkan lamunan Luragorn akan kemampuan Al yang menakutkan. Al terus berlari hingga akhirnya ia meringkup di bawah pohon sambil gemetaran.



Pandangan pada Al berganti dari waspada menjadi kasihan. Luragorn memang melancarkan serangan dadakan agar mendapat celah, tetapi setelah melihat keadaan Al yang memprihatinkan, membuat Luragorn merasa bersalah.



“A ... Al, aku minta maaf. Kau tidak apa?” tanya Luragorn.



“Aku takut serangga, jauhkan mereka,” jawab Al dengan gemetaran.



“Maaf. Itu tadi hanya refleks, jadi ....”



“Aku takut serangga, serangga mengerikan.”



“Al–”



Kabut tiba-tiba datang menyelimuti pandangan. Kabut putih lembab tipis yang kian menebal. Perlahan pandangan semakin berkurang hingga Luragorn tidak bisa melihat ujung kakinya sendiri.



Luragorn mengangkat pedangnya dan mendadak waspada. Tidak lama setelah kabut menghalangi seluruh penglihatan, uap air yang mirip awan ini langsung memudar. Bersamaan dengan keberadaan Al yang hilang di gelapnya malam yang dingin.



Keheranan, pastilah keheranan. Luragorn tidak bisa berhenti berpikir akan identitas asli Al, kemampuan maupun caranya menghilang.



Luragorn menyarungkan pedangnya dan berlari ke dalam gua tempat Lithia berada. Luragorn memastikan bahwa putri yang ia kawal tidak apa-apa, membuat pria ini bernapas lega setelah melihat Lithia.



Luragorn mendapati Lithia sedang tertidur pulas, tanpa terluka atau ancaman dari apa pun dan siapa pun.



“Jika putri Lithia adalah keluarga kerajaan utama, berarti putri Lithia adalah bagian dari keluarga terkutuk yang menyebabkan bencana pada Midfraz,” kata Luragorn menatap Lithia.



“Orang yang–” Luragorn menatap Lithia dengan saksama.



“Jika Lithia sebanarnya ....”




__ADS_1




__ADS_2