
Dua minggu berlalu di kota bawah tanah beastman, pemandangan tampak biasa dengan masyarakatnya yang melakukan aktifitas masing-masing. Hanya satu hal yang sangat berbeda, yaitu keberadaan Luragorn dan Lithia yang kadang membantu masalah warga.
Meski tidak seberapa dan bahkan baru sedikit yang menerima Luragorn serta Lithia sebagai kartu pamungkas untuk pemberontakan.
"Hey Lura. Apa menurutmu kita harus mulai merencanakan pemberontakan? Ini sudah dua minggu loh," kata Lithia meyakinkan Luragorn.
"Kurasa itu bagus. Semakin cepat kita mendapat pasukan, semakin cepat pula –"
*BRUK!
Getaran agak besar mengguncang tanah hingga membungkam Luragorn. Semuanya panik karena baru pertama kali, tempat ini merasakan gelombang sedahsyat tadi.
"Gawat! Ada manusia! Pasukan manusia!" teriak salah seorang pemuda beastman leopard.
***
"Hey, apa kabar. Para binatang," kata Lusy saling membenturkan kepalan gauntlet-nya
Senyuman lebar dengan wajah berseri memakai pakaian yang sama dengan pakaian perlengkapan saat menghadapi werewolf.
"Siapa kalian?" tanya seorang beastman singa berbadan besar.
Berdiri mengintimidasi dengan tinggi sekitar 190 cm, seorang beastman bernama Rolan tengah berdiri berhadapan dengan Lusy dan gerombolan petualang lainnya.
Tunik kuning besar melapisi permukaan kulitnya yang cokelat gelap, Rolan tidak memakai zirah sedikit pun juga senjata apa pun. Matanya yang bulat hijau memandang Lusy yang hanya memakai gauntlet sebagai senjata. Ingin sekali Rolan tertawa melihat perempuan yang berada di depannya, tetapi seringai dari beastman singa ini diurungkan seketika mengingat ia tidak mengetahui siapa lawannya ini.
Di belakang Rolan, terdapat barisan para beastman lain yang juga terlihat waspada, sementara di seberangnya merupakan kumpulan petualang dari guild East Wing. Lapangan rumput yang agak luas menjadi tempat penuh ketegangan meski matahari belum terbit terlalu tinggi.
"Kembalikan Luragorn dan Lithia!" perintah Lusy menatap tajam.
"Hah? Apa yang kau bicarakan?" tanya Rolan keheranan.
"Hooh, begitu kah?" tanya Lusy sambil melemaskan anggota tubuhnya kemudian membenturkan kepalan gauntlet-nya
"Tunjukkan pada mereka, ketua Lusy!"
"Ketua Lusy akhirnya serius, habislah kalian."
"Kalahkan para binatang itu, ketua Lusy!"
Lusy menerjang seketika dengan cepat, membuat tanah pijakannya hancur di saat ia melompat maju.
"Gawat, perempuan ini–"
*BHRUAK!
Tanah terangkat, gelombak kejut merobek udara dan menggetarkan suara. Kumpulan tanah berdebu menghalangi pemandangan kedua pihak yang melihat ke arah tengah pertarungan. Siluet perlahan menampakkan keberadaan dua orang tersebut.
Lusy yang memukul ke depan dihadang dengan tangan Rolan yang menyilang menghalangi gauntlet emas Lusy. Seringai tipis terukir di wajah perempuan berambut cokelat ini saat melihat sosok di depannya. Seorang beastman singa dalam wujud [pelepasan kebuasan].
*GRAGH!
Rolan mengaum keras hingga mendorong Lusy menjauh. Beastman singa ini menekuk kedua lengannya sambil membusungkan dada dengan auman keras, menumbuhkan sekelebat surai singa di leher yang berwarna cokelat keemasan.
__ADS_1
Para beastman terkejut melihat Rolan yang langsung menggunakan mode tersebut. Tunik kuning tadi seketika sobek dan menampakkan tumpukan otot besar yang diselimuti rambut berwarna kuning kecokelatan. Taring serta cakar tajamnya yang tumbuh seketika membuat para beastman lain menelan ludah.
Beastman singa dengan tubuh tegap besar kini berdiri di hadapan Lusy yang sedikit lebih pendek dari Rolan sendiri.
"Dragon Slayer, ternyata memang kau. Orang yang mampu melawan naga seorang diri," kata Rolan memandang Lusy.
"Apa yang kau bicarakan? Aku hanya petualang biasa," balas Lusy dengan santainya.
“Lusy of The East Wing”, manusia terkuat di timur Midfraz. Suatu kehormatan bisa berhadapan dengan lawan hebat sepertimu."
"Kau berlebihan, aku hanya petualang biasa. Terima kasih atas pujiannya juga, hal itu juga sama bagiku jika berhadapan dengan Rolan the Rook Lion. Beastman singa dengan kekuatan penghancur terbesar di seluruh Midfraz."
"Hoho, kau mengetahui namaku?"
"Jika aku tidak mengetahui siapa kau, tidak mungkin aku akan serius seperti ini."
"Hahaha! Baiklah! Majulah! Manusia!"
Pernyataan perang Rolan seketika membuat Lusy bergerak cepat menerjang.
*BHOAM!
Sebuah pukulan jab cepat langsung Lusy layangkan, tetapi ditangkis sekali lagi dengan tangan menyilang Rolan.
Lusy segera menendang kepala Rolan secara menyabit hingga memiringkan posisi beastman ini. Lusy dengan cepat berotasi kemudian melanjutkan tendangan susulan menggunakan kakinya yang lain di titik yang sama dan membuat kepala Rolan menyentuh tanah.
*WHOSH!
Sebuah pukulan cepat menuju Lusy yang sontak membuatnya menyilangkan gauntlet emas miliknya, tetapi pukulan itu seketika behenti tepat di depan Lusy. Tubuh Lusy mendadak terdorong ke samping oleh kekuatan besar. Sebuah kepalan tangan besar menghantam rusuk Lusy hingga memaksa perempuan berambut cokelat ini menghantam tanah.
*BHRUAK!
Tanah hancur dan terangkat ketika Lusy dipukul hingga tubuhnya menyentuh tanah. Debu-debu beterbangan menutup pandangan, membuat para beastman bersorak ria.
*WHUSH!
Sebuah tendangan lurus ke arah wajah Rolan dengan cepat menerjang dari balik debu-debu. Rolan memiringkan kepalanya sedikit menghindari tendagan Lusy, tetapi seketika kaki Lusy melipat ke dalam ketika melewati leher Rolan. Lusy menekuk kakinya mencekik leher Rolan kemudian berotasi menghadap ke atas menambah erat kunciannya. Tidak selesai di situ, Lusy mengujamkan pukulannya ke wajah Roar dengan sangat keras.
*BHAM!
Pukulan keras mendarat di wajah singa ini yang membuatnya terhentak kuat ke belakang. Rolan sontak memeluk Lusy dengan erat kemudian menghantamkan bagian belakang Lusy ke tanah.
*BHRUAK!
Tanah beterbangan sekali lagi diikuti decak kagum mereka yang melihat pertarungan kedua orang ini. Debu yang terangkat dan perlahan memudar menampakkan dua orang yang saling menatap. Darah segar tampak keluar dari sudut bibir Lusy sementara Rolan mengeluarkan darah dari lubang hidungnya.
"Untuk seorang perempuan, kau sangat tangguh," kata Rolan mengelap darah yang keluar.
"Untuk seekor binatang, kau juga lumayan hebat," balas Lusy mengelap darahnya.
Keduanya kemudian langsung melanjutkan pertarungan dengan tempo yang lebih cepat dari sebelumnya. Pukulan demi pukulan dilancarkan Rolan, tendangan demi tendangan dilayangkan Lusy, tangkisan demi tangkisan dilakukan Roar, elakan demi elakan dilakukan Lusy.
__ADS_1
*BUM! BUM! BUM!
Semua yang menyaksikan tidak bisa memalingkan mata dari pertarungan di depan mereka. Di setiap pukulan yang bertubrukan, gelombang kejut tercipta dan menggetarkan udara. Tidak ada yang berani campur tangan melihat betapa bertenaganya tiap serangan yang dilancarkan.
"Beastman itu bisa bertahan melawan Ketua Lusy?" gumam beberapa petualang menatap serius.
"Manusia itu bisa seimbang melawan Tuan Rolan?" gumam beberapa beastman menelan ludahnya.
*BHOAM!
Kepalan gauntlet emas bertubrukan dengan kepalan tangan Rolan dan sekali lagi menghasilkan gelombang kejut perobek udara.
"Sayang sekali kita musuh, karena aku cukup menyukaimu," kata Rolan dengan seringaian di wajahnya.
"Sayang sekali aku tidak tertarik dengan binatang," balas Lusy dengan senyum tipis.
"Begitukah?"
"Begitulah."
Keduanya menyeret salah satu kaki ke depan saling memasuki wilayah pertahanan masing-masing dan siap melancarkan pukulan penghabisan yang menentukan.
*WHOSH!
"HENTIKAN!"
Teriakan Lithia dan Fsosa menghentikan masing-masing kepalan tepat sebelum menghujam maju. Lusy dan Rolan berbalik memandang Lithia dan Fsosa beberapa saat dalam keheningan.
***
"Hooh ... begitu kah?" tanya Lusy yang masih dalam posisi berdiri.
Kedua pihak saling berdamai dalam percakapan ringan setelah mendengar perkataan Lithia dan perintah Fsosa. Para petualang memiliki jiwa yang bebas dan tidak terikat membuat mereka bisa akrab dengan cepat, begitu pula para beastman yang telah mengetahui sifat Lithia menjadi toleran terhadap para petualang yang merupakan manusia.
"Seperti itulah, kami ingin menggulingkan Buron," kata Lithia berbicara dengan Lusy.
"Baiklah, aku tidak ingin terlibat dengan masalah politikmu. Tetapi meski pun begitu, kau tetaplah anggota East Wings. Jangan sampai terbunuh," kata Lusy.
"Ya, terima kasih," jawab Lithia dengan wajah berseri. "Apa ketua tidak bisa membantu?"
"Sayang sekali tidak bisa. Urusan politik seperti itu tidak cocok untuk kami. Dan juga kami terikat oleh kerajaan Reymin, jadi kami tidak bisa membantu banyak."
"Lusy! Bagaimana kalau kita minum kapan-kapan?" tanya Rolan yang tiba-tiba masuk dalam percakapan.
"Tidak, aku tidak suka yang berbulu," jawab Lusy cepat.
"Hahahahaha! Ayolah, sebagai sesama petarung."
"Tidak," Lusy mendekat ke arah Lithia kemudian mengusap kepala perempuan berambut merah ini sambil tersenyum tipis. "Jaga dirimu, Putri."
Rombongan petualang East Wings akhirnya memutuskan kembali pulang tanpa penyesalan, membiarkan Lithia mengambil jalannya sebagai pewaris tahta Midfraz.
__ADS_1