
Gadis tanpa sehelai benang di tubuhnya tengah berbaring di tanah, membuat salah seorang prajurit melempar kain ke arah gadis tersebut. Matanya terbuka perlahan melihat keadaan sekitar. Libi mendapati dirinya terbaring di atas tanah dingin dengan selembar kain di atas tubuhnya.
Libi segera menggunakan kain tersebut dan mencoba menutupi bagian tubuhnya yang terpapar di keramaian. Rasa malu tentu dirasakan karena bertelanjang badan di tempat umum, tetapi tidak seberapa parah dengan rasa malu ketika melihat adiknya, Ruhif yang menatap dirinya dalam wujud mengerikan. Luragorn mendekati Libi dan berjongkok di depannya.
“Tuan! Anda harus membunuhku! Sekarang! Sebelum–”
*Klak!
Borgol mengikat pergelangan Libi dan para prajurit membawa gadis perempuan berambut biru ini yang hanya memakai selembar kain yang memutari tubuhnya.
“Tidak! Tidak! Tidak!” teriak Ruhif mengamuk melihat kakak perempuannya dibawa oleh prajurit kerajaan.
Lithia menahan Ruhif yang meronta-ronta sambil menangis dan berteriak keras. Lithia berusaha menahan Ruhif sebisa mungkin agar bocah laki-laki ini tidak melakukan sesuatu yang bisa membawanya ikut dibawa.
“TIDAK!”
Libi dikawal menuju sebuah penjara untuk ditahan sebelum hukum memutuskan. Luragorn hanya bisa melihat langkah gadis itu menjauh tanpa ada yang bisa ia lakukan. Lithia hanya bisa menahan Ruhif yang mengamuk sembari meneriakkan nama kakaknya ini.
***
Di dalam ruangan besar yang terbuat dari kayu, seorang perempuan mencoba menenangkan seorang bocah laki-laki yang marah-marah.
“Kenapa?! Kenapa kau jahat sekali?! Kenapa kau tidak menolong kakakku?!” tanya Ruhif dengan nada tinggi.
Ruhif memukul-mukul Lithia dengan penuh amarah serta air mata yang menemaninya. Kepalan tangan kecil itu mengenai tubuh Lithia berkali-kali sementara Lithia hanya terdiam dalam keheningan.
Lithia hanya menatap lemas di saat ia menerima pukulan Ruhif. Bukan kekuatan dari kepalan itu yang membuat Lithia tidak bisa bergerak, melainkan emosi dari tiap pukulan yang ia terima.
Luragorn di sisi lain hanya berdiri memojok menjauh agar tidak menambah parah suasana. Menyerang Libi dengan sebuah tombak sudah merupakan hal yang tidak bisa dimaafkan bagi bocah laki-laki ini, maka dari itu Luragorn memutuskan menjaga jarak demi menghindari konflik baru.
Setelah puas melayangkan pukulan, Ruhif akhirnya diam terduduk dengan suara tangisan keras yang menyusul. Teriakan dari tangisan bocah laki-laki ini memenuhi ruangan, membuat Luragorn dan Lithia menghela napas panjang.
“Sudah, sudah, Ruhif berhenti menangis ya,” kata Lithia berusaha membujuk.
“Tidak! Kakakku! Kakakku!”
Tangisan Ruhif makin menjadi dan Luragorn hampir kehabisan kesabarannya.
“Sudah, sudah,” Lithia mengelap air mata Ruhif dan meyakinkannya agar berhenti menangis.
“Kakak janji akan membebaskan kakak Ruhif. Berhenti menangis ya,” sambung Lithia lagi.
__ADS_1
Bujukan demi bujukan dilakukan Lithia demi menenangkan Ruhif sementara Luragorn melangkah keluar. Luragorn mengunjungi penjara yang mengurung Libi.
Sebuah penjara batu biasa dengan jeruji besi agak karatan. Pemandangan yang biasa dari kurungan orang-orang bersalah di kota. Sel kurungan Libi merupakan sel tersendiri di mana hanya ia yang berada di dalamnya. Di sel lain, terdapat lebih dari empat dalam satu tempat yang sama.
Prajurit kerajaan pasti memikirkan status Libi sebagai perempuan makanya ia diberi ruang sendiri, ataukah mungkin karena fakta Libi bisa berubah menjadi werewolf dan mengancam tahanan yang lain.
Apa pun pilihannya, itu tidak melepas fakta bahwa Libi terkurung dalam sel tahanan dengan pakaian hanya kain kusam serta borgol di pergelangan kaki dan tangan.
Luragorn melangkah mendekat ke arah sel Libi dan melihat gadis ini meringkuk sambil bersandar di besi jeruji.
“Maaf merepotkan. Sampai harus memberikan kalian pekerjaan tambahan,” kata Libi membelakangi Luragorn.
Luragorn kemudian duduk di depan besi jeruji tersebut sambil menghadap ke arah Libi.
“Tidak, tidak apa. Lagi pula Lily tidak keberatan,” jawab Luragorn.
“Terima kasih. Tapi kenapa kau di sini?”
“Aku sudah menusukmu di perut dengan tombak. Menurutmu bocah itu akan mau melihatku?”
“Hehe ... maaf kalau begitu. Telah memberi citra buruk.”
“Lagi pula aku tidak bisa menangani anak-anak. Berada di sana hanya akan merepotkan Lily nantinya.”
“Tentu boleh. Ceritalah.”
***
Malam yang gelap menyambut kehidupan kota Riy yang cukup ramai di saat petang menutup. Di sebuah rumah kayu bertingkat dua terlihat dua orang yang sedang duduk di teras lantai dua rumah. Dua orang itu adalah Lithia dan Ruhif.
Lithia memangku Ruhif di atas paha layaknya seorang ibu memangku anaknya yang masih kecil. Ruhif dengan wajah yang masih cemberut ini memulai pembicaraan. Meski matanya masih terlihat merah dan agak memebengkak karena menangis, Ruhif tetap saja tidak menerima kata-kata Lithia sepenuhnya.
“Kau janji kan?” tanya Ruhif sementara ia menarik ingusnya yang mengalir ke luar.
“Ya, kita akan menyembuhkan kakakmu,” jawab Lithia sambil mengelus kepala kecil Ruhif.
“Jika Libi memang terkena kutukan werewolf, mantra pemurnian itu pasti bisa menyembuhkannya. Sekarang, bagaimana cara melepaskan Libi?” Lithia berpikir dengan serius
***
“Hooh ... seperti itu ternyata,” kata Luragorn menatap langit-langit penjara.
__ADS_1
“Ya, begitulah kenapa aku bisa menjadi werewolf,” balas Libi semakin menekuk kedua lututnya.
“Itulah kenapa kau mencari kami?”
“Ya, itu juga.”
“Hmn ....”
Di tengah pembicaraan itu, Libi tiba-tiba merasa pusing sekali lagi. Kepalanya berdenyut menyakitinya, perutnya mual, dan pemandangan sekitar nampak goyah dan berputar.
“Tuan Lura! Pergi sekarang!” tegas Libi memeluk dirinya sendiri dengan erat.
“Ada apa?” tanya Luragorn mendekatkan wajahnya ke arah jeruji untuk melihat lebih jelas.
“Terjadi lagi.”
“Apanya?”
“Terjadi–”
Kesadaran Libi seketika menghilang dan seluruh anggota badannya berubah. Susunan tubuhnya berubah drastis, ototnya mengembang cepat, dan rambut hitam tumbuh dalam sekejap mata.
Luragorn termundur sedikit setelah melihat Libi yang berubah menjadi werewolf besar setinggi empat meter.
*BHRUK!
Si werewolf meloncat cepat ke atas dan melubangi atap, meninggalkan Luragorn yang masih sedikit terkejut.
Suara teriakan panik terdengar dari luar penjara. Luragorn bergegas keluar melihat apa yang terjadi dan mendapati beberapa rumah warga porak-poranda karena dihancurkan oleh si werewolf.
Orang-orang berlarian menjauh sementara werewolf itu terus mencakar sekitar secara acak. Luragorn ingin sekali melawannya sekarang, tetapi melihat dari ukurannya saja sudah membuat pria berpedang perak ini menelan ludah.
“Haruskah kutahan? Tidak. Aku sendiri tidak akan cukup. Tingginya sekitar empat meter tapi masih tetap lincah seperti itu,” batin Luragorn menelan ludahnya ketika beberapa tetes keringat terjatuh di tanah.
*BHOOM!
Sebuah ledakan di wajah si werewolf memecah suasana mengecam. Werewolf itu hampir tidak mendapat luka sedikit pun dan tampak hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Yo~ Lura~ sepertinya kau mendapat pasak yang lebih besar ketimbang tiang di kantongmu sekarang.”
Luragorn berbalik melihat ke belakang dan mendapati seseorang yang sangat dikenalinya. Lusy tersenyum lebar dan ia membawa banyak anggota guild East Wing di belakangnya.
__ADS_1
“Werewolf .... Kah?”