
Lantai kayu yang bergoyang membangunkan Luragorn dari pingsannya. Tangan terborgol dan dirantai, begitu pula beberapa orang di depannya yang bernasib sama. Ruangan yang terbuat dari kayu dan sangat berbau tidak sedap, hanya berisi orag-orang yang terlihat suram dengan rantai membelit tangan mereka. Dalam sekali lihat, Luragorn mengetahui bahwa ia berada dalam sebuah kereta yang mengangkut budak untuk diperjual belikan. Luragorn menatap rantai di tangannya dan teringat akan kenangan buruknya dengan rantai.
***
+15 Tahun lalu di Frxzy Village+
“Lura!” teriak salah seorang anak kecil pada anak kecil lainnya.
Kumpulan anak-anak sedang bermain di tanah lapang dengan gembiranya. Matahari sedikit lagi terbenam, tetapi permainan tidak kunjung berakhir. Saling kejar-kejaran dan menirukan kesatria serta penyihir, berbagai kesenangan dilakukan oleh gerombolan anak kecil itu seolah tidak ada hari esok menunggu.
Langit biru mulai berubah warna menjadi jingga dan para orang tua memanggil anak-anaknya pulang, termasuk Luragorn yang berlari ke arah orang tuanya yang telah menunggu di rumah.
“Lura, ayo pulang!” seru ibu Luragorn.
Wanita berparas rupawan dan bertubuh langsing sedang tersenyum melihat kegembiraan anak-anak di lapangan bermain. Rambut berwarna tembaga terurai sepanjang pinggang. Pakaian sederhana berupa kirtle coklat yang tampak umum dikenakan merupakan pakaiannya.
Di sampingnya berdiri seorang pria berotot dengan kumis hitam tebal. Rambut hitam yang dicepak dengan mata hitam bulat menjadi ciri dari ayah Luragorn. Kedua orang tua Luragorn berdiri di samping pintu rumah seolah menunggu kepulangan anaknya yang dinanti-nanti.
“Iya, Ibu. Aku datang,” kata Luragorn dengan senyum lebar di wajahnya.
Baru saja Luragorn ingin meloncat masuk ke dalam ruang tamu, suara ribut di balik pepohonan menghentikan langkahnya. Burung-burung beterbangan menjauh dan suara sepatu kuda terdengar datang berbondong-bondong.
Ayah Luragorn langsung menarik Luragorn ke dalam rumah dan menyuruh bocah lelaki ini bersembunyi di bawah kolong kasur.
Luragorn hanya diam mengawasi dari bawah dan melihat orang asing masuk ke dalam rumahnya. Orang asing berpakaian serba hitam dengan sebuah saber di tangannya. Rambut hitam panjang dengan luka bakar di wajahnya, hanya itulah yang bisa dilihat Luragorn.
Awalnya hanya berbicara biasa, tetapi orang asing itu tiba-tiba menebas ayah Luragorn dan membawa ibunya pergi keluar.
Mata Luragorn membulat sempurna dan sontak keluar dari tempat persembunyiannya kemudian mengejar orang asing tadi, tetapi ia menyaksikan sesuatu yang lebih mengerikan ketika ia keluar rumahnya.
Rumah para warga terbakar dan banyak mayat tergeletak di tanah termasuk teman-teman dan tetangganya. Beberapa orang juga tampak membawa beberapa kantung besar setelah keluar dari tiap rumah-rumah warga sebelum rumah-rumah tersebut dibakar.
Orang asing tadi berbalik dan melihat Luragorn hingga membuat bocah lelaki ini terdiam ketakutan melihat pemandangan di depan matanya. Darah dari mayat yang berserakan membuat Luragorn mual dan tidak bisa bergerak.
“Apa yang kau lihat? Bocah!” tegas si orang berpakaian hitam itu.
Sebuah tebasan diayunkan ke arah Luragorn yang termenung. Luragorn hanya mematung melihat mata pedang yang melengkung itu bergerak menuju wajahnya.
*Jrash!
Darah merah segar tersebar di udara senja, tetapi bukan darah Luragorn melainkan darah ibunya. Ibunya melindungi dengan tubuhnya sendiri dan mendapat tebasan panjang di punggung.
“I ... I ... Ibu?” tanya Luragorn pada ibunya yang tidak bergerak lagi.
Kaki Luragorn bergetar dan wajahnya memucat. Matanya terbuka lebar menyaksikan tubuh ibunya yang bersimbah darah.
“L ... l ... l ... lari ... Lura ... lari ....”
Suara ibunya yang terputus-putus itu membuat Luragorn menelan ludahnya sendiri sambil ketakutan. Tanpa berpikir panjang, Luragorn langsung berlari ke arah hutan dan begitu pula pengguna saber itu yang ikut mengejar Luragorn.
Kemarahan dan kesedihan bercampur di kepalanya di saat ia berlari menyelamatkan diri. Suara tebasan acak terdengar di belakangnya dan ia sadar bahwa ia tengah dikejar.
Luragorn bersembunyi di balik sebuah pohon dan mencoba bernapas normal di saat aliran adrenalin membuat jantungnnya berdetak cepat. Tidak ada jalan keluar dan tidak mungkin menghindari orang dewasa yang membawa senjata.
Tenggorokannya serasa kering tercekik dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetaran. Keringat dingin membasahi wajahnya saat ia mengintip orang yang mengejarnya ternyata tidak jauh dari tempat ia bersembunyi.
Bocah lelaki ini kembali bernapas berat dan melihat sebuah dahan kayu panjang yang ujungnya agak runcing. Luragorn menelan ludahnya dan mengambil dahan tersebut. Ia kembali mengintip dan berniat melakukan serangan kejutan untuk pria pemakai saber itu.
Luragorn mengintip sedikit, tetapi ia tidak melihat seorangpun. Ia terkejut dan memajukan kepalanya untuk melihat lebih jauh dan tetap tidak menemukannya di jarak pandang.
“Hooh ... kau bocah yang berani rupanya.”
Suara itu, suara yang berasal dari belakangnya, suara yang membuat bulu kuduk Luragorn berdiri tegak. Ketika bocah lelaki ini berbalik, si pria berpakaian hitam tengah mengayunkan saber miliknya ke arah Luragorn.
Adrenalin terpompa cepat dan Luragorn berusaha menghindari tebasan yang diarahkan padanya. Mata pedang berada di depan wajah Luragorn dan bocah lelaki ini segera mengelak ke samping.
Si pria berbaju hitam terkejut akan refleks bocah lelaki ini yang menghindari serangannya, tetapi terlambat untuk menyadarinya di saat Luragorn menggenggam erat dahan kayu yang ia jadikan senjata.
*Jrash!
Dahan kayu ditusukkan ke dada si pria berbaju hitam dan menumpahkan banyak darah ke tanah. Pria itu panik dan sontak menendang Luragorn menjauh.
Luragorn terbaring setelah mendapat tendangan di perutnya. Meski bocah lelaki ini kesakitan, tetapi tidak seberapa dengan lubang di dada yang dibuat oleh Luragorn pada si pria tersebut. Luragorn berdiri dan melihat si pria berbaju hitam menggelepar seperti ikan di daratan.
Luragorn bisa saja membiarkan pria tersebut mati kehabisan darah, tetapi bocah laki-laki ini malah mengambil saber tadi dan mengacungkannya pada orang yang hampir mati itu.
“Kau membunuh teman-teman dan orang tuaku,” kata Luragorn dengan tatapan dingin.
“Tidak! Jangan! Hentikan!” seru si pria berbaju hitam dan memohon pengampunan hidupnya.
__ADS_1
*Zrash!
***
Kelaparan dan kelelahan, sedih dan kehilangan. Luragorn berjalan sempoyongan di bawah terik matahari yang menusuk. Akhirnya Luragorn tidak sanggup melangkah dan jatuh pingsan.
Di saat bocah laki-laki ini sadar, sebuah borgol yang dirantai telah terpasang di pergelangan tangannya. Ia juga mendapati dirinya berada dalam kurungan besar bersama orang-orang yang juga ikut dirantai.
“Dimana ini?” gumam Luragorn mencoba mengamati tiap sisi ruangan.
Belum selesai Luragorn membiasakan diri, seseorang menariknya keluar dan memaksanya berjalan ke atas panggung kayu kecil. Sejauh ia memandang, hanya ada beberapa orang yang memperhatikannya.
Orang yang menariknya tadi tampak sedang berbincang dengan seseorang. Tidak lama setelah itu, seorang perempuan muda yang juga berbaris Bersama Luragorn dibawa pergi oleh seseorang berpakaian agak mewah.
Setelah beberapa saat, bocah lelaki ini sadar bahwa dirinya berada di pasar budak dan ia termasuk budak yang akan dijual.
Hari berakhir dan Luragorn kembali ditarik masuk ke dalam kurungan. Wajah suram tampak seperti pemandangan biasa di dalam kurungan itu. Tidak ada pemisah antara pria ataupun wanita, orang tua ataupun anak-anak, orang sehat ataupun orang sakit. Tatapan pasrah dan keputus asaan seolah sorot mata satu untuk semua.
“Sayang sekali, hari ini roti tetap mahal. Terima kasih terhadap keluarga Luxorn yang terkutuk. Berkat mereka, wabah kembali menyerang petani gandum,” ujar si penjual budak.
Tubuh gemuk dan kepala botak dengan jenggot agak lebat. Doublet cokelat dengan celana nilon panjang serta sepatu kulit. Dagu lebar dan mata cokelat bulat. Itu adalah ciri khas yang akan diingat Luragorn seumur hidupnya.
Si penjual budak itu melempar sebuah roti panjang ke dalam kurungan. Baru saja Luragorn ingin mengambil roti yang jatuh, para budak lain langsung berebut mengambil bagiannya. Berdesak-desakan dan pada akhirnya Luragorn tidak mendapat apa-apa selain hantaman di tubuhnya saat mencoba berebut roti.
Perutnya bergemuruh dan tidak ada yang peduli. Satu-satunya yang mendapat perlakuan khusus adalah budak perempuan yang berparas rupawan, sisanya harus berebut makanan tidak peduli siapa.
***
Dua bulan berlalu dan Luragorn masih menjalani kesehariannya sebagai budak yang akan dijual. Orang baru datang, begitu pula orang lama pergi. Terkadang ada yang terjual cepat, terkadang ada yang terjual lama. Terkadang ada yang keluar karena dibeli oleh seseorang, terkadang ada yang keluar karena penyakit dan kelaparan yang dideritanya. Hari-hari seperti itulah yang dialami Luragorn selama dua bulan dan terus berjalan.
“Kembali ke dalam kurungan, dasar budak!” bentak si penjual budak di penghujung hari.
Hari yang sama seperti hari-hari biasanya, hanya saja Luragorn belum terjual oleh siapa pun. Si penjual budak mulai resah karena Luragorn tidak terjual selama dua bulan.
“Kenapa kau sangat susah untuk dijual? Dasar tidak berharga!” maki si penjual budak sambil menendang wajah Luragorn yang kusam.
Setelah hari berakhir, Luragorn terus dipukuli dan ditendang karena dianggap pembawa sial. Luragorn tidak bisa berbuat banyak dengan rantai membelenggu dan kondisi tubuh yang tidak sehat. Hari-harinya yang hanya menjadi penantian dan berebut makanan kini bertambah parah dengan siksaan di penutup hari.
***
“Maaf, bocah yang satu ini .... Berapa harganya?” tanya seseorang sambil mengeluarkan kantung berisi kepingan emas.
Mata Luragorn seakan terbuka sejenak dan napasnya berhembus lancar karena bisa terlepas dari kesehariannya sebagai budak yang terus disiksa.
Orang itu adalah seseorang dari guild Silver Claw yang memakai zirah tembaga dan claymore tebal. Berambut perak dan bermata kuning, bertubuh setinggi 170 cm dan cukup berotot. Orang itu bernama Scer dan ia menjadi penyelamat bagi hidup Luragorn yang menjadi budak dan bahan siksaan.
Scer membawa Luragorn ke guild Silver Claw dan memberi makanan serta pakaian layak pada Luragorn. Ruang makan besar yang dipenuhi oleh berbagai petualang dengan kelas berbeda, membuat Luragorn merasa sangat disambut meski ia adalah seorang budak.
Meski tidak bisa dipercaya, Luragorn merasa senang dibeli oleh Scer meski harus menjadi petualang sekalipun. Setidaknya menjadi petualang lebih baik daripada harus dipukuli tiap hari.
“Baiklah Lura, apa kau siap untuk misi pertamamu esok hari?” tanya Scer sambil mengelus kepala Luragorn dengan cepat.
“U ... u ... uhm ...,” jawab Luragorn yang masih mengunyah sebuah roti tawar.
***
Pagi yang cerah sebagai permulaan yang baru bagi Luragorn. Hari dimana kedua tangan dan kakinya tidak lagi dirantai oleh borgol besi berkarat.
Luragorn mendapat misi pertamanya, yaitu eksplorasi di sebuah hutan. Luragorn yang dipersenjatai lengkap merasa ia bisa menyelesaikan misi pertamanya tanpa masalah. Hutan rindang dan beberapa rusa bekeliaran. Tampak tenang dan tidak membahayakan.
*Bhum!
Langkah kaki besar mengaketkan Luragorn. Mengguncang tanah dan membuat pohon patah di sepanjang jalan yang dilewati. Bocah lelaki ini tidak percaya apa yang ia lihat, tiga ogre setinggi lima meter lebih dan membawa gada besar yang terbuat dari batu.
Kulit hijau tebal dan mata merah menyala serta taring yang tersusun di sepanjang rahang. Ogre tersebut menatap Luragorn dan langsung mengayunkan gada besarnya pada Luragorn.
*Whush!
Suara ayunan membelah udara dan menghasilkan suara yang menggema. Untunglah Luragorn bisa menghindarinya di saat-saat terakhir.
Tidak ada kesempatan sama sekali untuk melawan ogre besar. Luragorn lari kembali menuju tempat ia harus melapor. Langkah ogre yang besar membuat usaha Luragorn nampak sia-sia. Sekuat apapun ia berlari, para ogre itu pasti akan menangkap Luragorn.
“Pemanah!”
Teriakan Scer menghapus kegusaran Luragorn dan membuat bocah lelaki ini memasang senyuman lebar. Sayang sekali senyuman itu langsung menghilang ketika melihat ratusan anak panah yang beterbangan di udara. Hujan panah jatuh dari atas mengenai para ogre dan beberapa anak panah juga mengenai Luragorn, menggores kaki dan tangan serta menancap di bagian bahunya.
“Scer! Aku masih di sini! Jangan serang dulu!” teriak Luragorn sambil menahan rasa sakit dari darah yang mengalir pada bagian tubuhnya yang terluka.
__ADS_1
Luragorn tertatih berusaha menghindar dan terus berteriak pada Scer akan keberadaannya.
“Penyihir!” teriakan Scer seketika menghapus wajah ceria Luragorn.
Kali ini bukan anak panah lagi melainkan bola energi yang akan dilemparkan ke arah para ogre. Bola-bola energi terbentuk cepat dan siap untuk diluncurkan.
Meski Luragorn berada di dekat ogre itu, Scer sama sekali tidak peduli dan tetap memberi perintah penyerangan.
“Serang!” teriak Scer.
Bola-bola energi berwarna-warni kini menjadi hujan yang akan menyerang Luragorn dan para ogre. Dengan kakinya yang terluka akibat serangan panah tadi, Luragorn berusaha menghindari serangan membabi buta yang datang ke arahnya.
“Kenapa? Kenapa dia menyerangku? Bukankah aku juga petualang? Kenapa ia tidak menyelamatkanku?” pikir Luragorn dengan banyak pertanyaan.
*Bum! Bum! Bum!
Ledakan beruntun membunuh ketiga ogre tersebut dan entah bagaimana Luragorn tetap selamat dari serangan sihir sebelumnya. Napasnya terputus-putus dan tubuhnya dipenuhi luka. Luragorn tidak bisa membayangkan kejadian yang lebih parah dari menghindari kematian di depan mata yang baru saja ia alami.
Scer datang dengan menunggangi kuda putih dan menatap Luragorn yang tengah merintih kesakitan. Sebuah seringai tipis dilemparkan kepada Luragorn dan membuat bocah laki-laki ini tersadar, bahwa ia tidak lebih dari sebuah umpan hidup.
Sejak hari itu, ia kembali merasakan belenggu rantai yang mengikat tubuhnya. Namun bukan rantai besi, melainkan sebuah rantai tak terlihat yang mengekang seluruh langkahnya seperti burung yang berada dalam sangkar transparan.
***
Tiga tahun telah berlalu sejak Luragorn menjadi seorang umpan hidup. Di sela waktu kosongnya, bocah laki-laki ini berlatih sendiri secara diam-diam. Di sela waktu kosongnya, bocah laki-laki ini mempelajari dengan saksama pengalaman bertarung tiap anggota guild. Di sela waktu kosongnya, bocah laki-laki ini meningkatkan kemampuannya sendiri dengan teratur.
Insting, kemampuan, fisik serta teknik berpedangnya telah jauh meningkat. Ditempa oleh kondisi yang selalu di ambang batas kematian, Luragorn kini menjadi pribadi yang kuat secara fisik dan mental. Luragorn yang dulunya hanya budak biasa, kini tumbuh menjadi prajurit kuat.
Malam sunyi di bawah sinar rembulan, Luragorn berencana untuk kabur dari tempat terkutuk yang telah lama mengikatnya. Di saat orang-orang sementara tertidur, Luragorn menyelinap keluar.
Sebelum ia merencanakan pelariannya, terlebih dahulu Luragorn memasukkan obat tidur pada tempat penampungan air minum. Penjaga, petualang yang lain dan juga Scer pasti tengah tertidur lelap. Kesempatan emas untuk melarikan diri.
Luragorn mempercepat langkahnya dan berlari keluar bangunan guild. Tampak para penjaga tengah ketiduran akibat obat yang dicampur bocah laki-laki ini. Kini tidak ada yang menghalanginya untuk menggapai pintu keluar yang selalu ia impikan.
“Akhirnya ... akhirnya ...,” batin Luragorn.
*TZUT!
Sebuah anak panah melesat dan menancap di gagang pintu. Luragorn berbalik dan mendapati Scer yang berdiri agak sempoyongan menahan kantuk.
“Ck, mencoba meracuniku? Terlalu cepat seratus tahun!” teriak Scer menarik claymore dari sarungnya.
Scer menerjang cepat ke arah Luragorn yang tengah berdiri memegang sebuah longsword sedang. Luragorn menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan napasnya perlahan. Matanya menatap tenang ke depan seraya menguatkan genggaman pedangnya.
*Trang!
Mata pedang saling berbenturan dan keduanya saling menatap dengan tatapan ingin membunuh satu sama lain.
***
Malam itu, guild Silver Claw terbakar beserta orang-orang yang tertidur di dalamnya termasuk Scer yang berhasil Luragorn kalahkan. Sayang sekali Luragorn harus membayar banyak untuk kebebasannya kali ini. Pakaian sobek dan pedang patah serta luka tebasan di sekujur tubuh terukir pada remaja laki-laki ini. Tidak sanggup lagi berjalan, Luragorn akhirnya pingsan karena terlalu kelelahan.
***
Luragorn terbangun kaget dan mendapati dirinya di sebuah tempat yang tidak asing, yaitu sebuah kurungan berisi para budak yang akan dijual. Si penjual budak sebelumnya memperhatikan Luragorn dengan seringai di wajahnya. Penjual budak sama yang menjualnya pada Scer.
“Hooh ... jadi kau yang membantai seisi guild? Tidak sia-sia ternyata membeli informasi itu,” kata si pria gemuk itu dengan sedikit tertawa.
“Sialan! Aku akan–”
*ZTH!
Sengatan listrik bertegangan tinggi mengalir di seluruh tubuh Luragorn dan membuka lukanya semalam. Terpasang kuat di leher Luragorn, sebuah kalung belenggu dengan beberapa mantra sihir yang tertulis rapi. Luragorn merasakan tubuhnya kejang-kejang dan remaja laki-laki ini terbaring dengan menyedihkan.
“Kau suka? Aku membelinya dari seorang penyihir, kalung belenggu yang dapat menjinakkan seekor anak naga. Harganya cukup mahal, tapi kurasa sepadan,” kata si penjual budak.
“Ka ... ka ... kau ...,” Luragorn berusaha berbicara dengan lidahnya yang mati rasa.
“Hah? Apa? Kau mengancamku?”
*ZTH!
“AAA!!!”
Teriakan Luragorn membuat budak lain menjauh, listrik statis berwarna kuning tipis nampak membekas di tubuh Luragorn yang sedikit hangus.
“Oi! Bocah ... kau hanya budak. Kemana pun kau pergi nasibmu adalah menjadi alat bagi orang lain. Diamlah di sana dan tenanglah. Hargamu cukup mahal, jangan banyak melawan atau kau akan mati.”
__ADS_1
Kalimat itu melekat pada Luragorn dan menariknya kembali ke kesehariannya sebagai budak yang akan di jual. Luragorn sudah lelah dan tidak peduli lagi dengan nasibnya sendiri yang kemudian memutuskan untuk tidur, membiarkan arus takdir yang menentukan hidupnya.