Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 30


__ADS_3

Hari biasa di dalam kota beastman yang tersembunyi di bawah tanah. Yang membedakan adalah tidak ada lagi tanda-tanda adanya masyarakat beastman. Semua warga telah diungsikan ke kota lain dan beberapa prajurit beastman telah disebar akan informasi untuk serangan kudeta.



Hanya tinggal beberapa orang saja yang berada di kota tersebut. Beberapa pengawal setia Fsosa, Fsosa sendiri bersama Flowy, Luragorn bersama Lithia, juga rook milik Fsosa yaitu Rolan. Formasi dan informasi telah disusun dan disebar. Tinggal menunggu waktunya saja. Lithia berjalan-jalan dengan Flowy untuk saling mengakrabkan diri.



Tidak seperti Lithia yang memakai jubah serta perlengkapan sihir lengkap, perempuan setinggi 170 cm ini hanya melapisi kulit cokelatnya dengan tunik putih dan celana nilon cokelat biasa. Matanya yang sebiru saphire ini mendengarkan kisah Lithia dengan saksama.



"Jadi, seperti itu? Masa lalumu suram juga, nona Lithia," kata Flowy merespon cerita Lithia.



"Tidak apa, lagi pula itu hanya masa lalu. Dan kini kita melagkah ke masa depan," balas Lithia tersenyum ramah.



"Yap, untunglah nona Lithia memiliki pengawal hebat seperti Luragorn."



"Kenapa?"



"Tidak ada. Hanya saja, kenapa keluarga kerajaan harus tersiksa seperti itu?"



"Maksudmu?"



"Aku minta maaf nona Lithia, perjuanganmu sungguh berat sekali.”



"Tidak, tidak perlu minta maaf."



"Sama seperti Anda, Putri Fsosa juga memiliki masa lalu yang buruk. Tapi kurasa tidak separah Anda–Mungkin, " kata Flowy menatap punggung tangannya yang memiliki tanda bidak catur kuda berwarna jingga.



***



Bangunan besar dengan beberapa beastman menjaga, menjadi pemandangan biasa di tempat Fsosa tinggal. Luragorn berjalan masuk setelah penjaga mengizinkannya. Langkahnya yang agak lebar memasuki ruangan, mendapati seorang beastman kelinci yang tengah menatap sebuah foto.



"Permisi," kata Luragorn sebelum melangkah lebih jauh.



"Ah iya, masuklah," kata Fsosa menggerakkan tangannya mengisyaratkan untuk duduk.



"Ada apa, Nona Fsosa?" tanya Luragorn yang bersegera duduk di kursi tamu.



Tidak ada satu pun hiasan dinding selain peta yang dicoret seakan mengarahkan sesuatu. Semua jalur digaris oleh Fsosa menandai beberapa tempat dengan simbol khusus.



"Kudengar kau juga merasakan hal yang sama," kata Fsosa menatap foto kedua orang tuanya.



"Itu hanya masa lalu, Nona Fsosa,"



"Ayahku mati karena melindungiku dan juga ibuku, begitu pula ibuku yang menyusul tidak lama setelah itu.”



"Aku minta maaf, Nona Fsosa. Jika itu alasanmu membenci manusia, kurasa itu adalah wajar."



"Tapi aku beruntung masih memiliki prajurit setia. Katanya kau menjadi budak setelah orang tua mu meninggal, dan dipungut oleh Lithia," Fsosa tiba-tiba menyandarkan tubuhnya di dada Luragorn dan menghela napas, "Dia beruntung," Fsosa bergumam.



"A … ada apa nona Fsosa,” Luragorn tampak keheranan.

__ADS_1



"Karena itulah aku ingin memintamu sesuatu," kata Fsosa memejamkan matanya, "jadilah mata tombakku."



"Maksud Anda?"



"Kurasa Lithia menyadarinya, tidak, dia pasti sudah mengetahuinya. Jika dalang dari semua ini adalah dari Undead.”



“Aku tidak mengerti apa yang anda bicarakan, dan bisakah anda mundur? Aku merasa ada yang salah dengan nona sekarang.”



“Bisa aku minta waktumu sejenak saja? Sebentar saja?”



“A … jika itu bisa membantu menenangkan pikiranmu demi strategi, kurasa tidak apa.”



“Tidak adil,” Fsosa membatin agak sedih.



*BHRUAK!



Ledakan besar diikuti guncangan membuat semua waspada. Luragorn bersegera keluar melihat keadaan dan mendapati tembok tanah mereka rusak disusul dengan rombongan prajurit berzirah lengkap.



"Mereka bergerak cepat sekali," Fsosa berdecak dengan mata membelalak.



***



Derap langkah ribuan kaki menggema di udara, para prajurit dengan zirah lengkap menyisir tiap bangunan yang ada. Di tengah kerumunan itu, seorang pria berdiri dengan gagahnya. Zirah perak mengilap dengan rapier sebagai senjatanya. Tubuh tinggi dengan rambut hitamnya yang terurai panjang, orang itu adalah Morgan.



"Jadi, di sini tempat itu? Beastman pemberontak. Aku penasaran, dari mana bajingan itu mendapat semua informasi?" pikir Morgan.



***



Langkah kaki yang pasti dari Lithia dan Flowy menjauh dari para pasukan yang menyerbu. Keduanya berlari sekencang mungkin menuju tempat darurat.



"Apa ini? Mereka terlalu cepat," kata Lithia agak kesal.



"Sepertinya memang harus dilakukan segera," balas Flowy.



"Bagaimana dengan yang lain?"



"Mari berdoa mereka telah sampai terlebih dahulu."



Keduanya tetap berlari tanpa mempedulikan apa pun.



***



Di tempat pelarian darurat, semua sudah berkumpul kecuali Lithia dan Flowy. Fsosa mengarahkan pasukannya yang tersisa sementara Luragorn dan Rolan berdiri tegap menunggu Lithia.



"Aku akan mencarinya," kata Luragorn spontan.


__ADS_1


"Tunggu! Jangan gegabah! Dia bersama knight kebanggaan beastman. Mereka pasti datang," bentak Rolan menghentikan Luragorn.



"Tapi –"



"Percayalah!"



Meski sulit diterima, Luragorn menahan dirinya untuk tidak bergerak. Kakinya menghentak-hentak tidak sabar sementara Rolan hanya berdiri sambil menyilangkan kedua lengannya. Setelah beberapa saat penantian, akhirnya Lithia dan Flowy tampak berlari menuju kedua pria ini. Senyuman sedikit tergaris di wajah Luragorn melihat Lithia baik-baik saja.



"Lura~ maaf membuatmu menunggu," kata Lithia melambaikan tangan.



Keadaan yang menenangkan hati itu terpaksa buyar ketika melihat gerombolan pasukan megejar.



"Rolan, tunggu di –"



Rolan melompat cepat ke arah Lithia dan Flowy, menjadi penghalang antara kedua perempuan ini dengan prajurit yang mengacungkan tombaknya.



"Apa kalian ingin melawanku?!" kata Rolan yang langsung mengaum keras hingga membuat para prajurit menjadi ragu.



"Terima kasih, Rolan," kata Flowy menarik tangan Lithia.



"Apa ini? Hewan yang mencoba melawan manusia?"



Suara yang berasal dari balik kerumunan itu membuat Lithia mematung. Perempuan berambut merah ini seakan tidak asing dengan suara yang ia dengar.



"Aku yang akan jadi lawanmu," kata Morgan yang melangkah keluar dari barisan demi melihat lawannya ini.



Wajah yang sangat dikenali itu membawa Lithia pada kenangan masa kecilnya hingga membuat perempuan berambut merah ini tak kuasa untuk tidak meneriaki namanya.



"PAMAN MORGAN!"



Teriakan Lithia mengambil perhatian Morgan yang kemudian memaksa kehendak alam bawah sadarnya untuk berlutut.



"Putri Lithia! Apa yang Anda –" Morgan memutus kalimatnya ketika memandang Rolan, "begitu ya? Baiklah, kalian mengancam putri –"



"Paman Morgan!" teriak Lithia menatap kesatria berzirah perak ini.



Mata Lithia menatap penuh kesungguhan seolah menjelaskan semua yang perlu Morgan ketahui, membuat kesatria zirah perak ini terdiam selama beberapa saat kemudian berdiri dan berbalik sambil tersenyum, "Pergilah putri.”



"Ayo pergi," ajak Rolan yang tidak mengerti keadaan sebenarnya.



Ketiga orang ini berlari secepat mungkin selagi ada kesempatan dan Lithia tetap menatap punggung Morgan selagi ia ditarik menuju tempat pelarian.



"Pak, Anda bisa –"



"Aku yang bertanggung jawab!" kata Morgan dengan tegasnya menjawab kata-kata para prajurit.


"Putri, jaga dirimu," batin Morgan memerintahkan pasukannya mundur.


__ADS_1


__ADS_2