
Kereta bergoyang dan mengombang-ambingkan perasaan orang yang berada di dalamnya, termasuk Luragorn dan para budak yang terbelenggu dengan rantai di anggota tubuh mereka. Luragorn masih terborgol dan mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai kunci untuk pelariannya, tetapi ia tidak menemukan apapun selain beberapa bangkai tikus di dekatnya.
Mata Luragorn menelusuri seluruh area sambil terus berpikir, cara untuk kabur dari pedagang budak sebelum mereka sampai di tempat penampungan. Tampak budak-budak lain telah pasrah dengan hidupnya, berbeda dengan Luragorn yang memiliki motivasi besar untuk bebas, yaitu menyelamatkan Lithia dari perbudakan.
Kereta berhenti dan begitu pula kewaspadaan Luragorn meningkat. Kakinya ditekuk untuk bersiap meloncat keluar dan kedua tangannya di kepal kuat untuk bersiap bertarung.
Bayangan kepala seseorang tampak mendekat dari arah belakang kereta, membuat Luragorn sontak menerjang ke arah orang tersebut. Di saat kepala si penjual budak terlihat, Luragorn tanpa ragu mencengkram kepala orang itu dengan erat kemudian melakukan serangan lutut tepat di wajah si penjual budak.
*BHUK!
Suara keras mengejutkan penjual budak lainnya, membuat para penjual budak itu memeriksa bagian belakang kereta. Semuanya terkejut ketika mendapati Luragorn tengah berdiri di dekat salah seorang dari penjual budak yang pingsan.
Borgol di tangan Luragorn telah terbuka setelah mengambil kunci dari penjual budak yang ia kalahkan sebelumnya. Para penjual budak lain menarik pedang bertipe shortsword dari sarungnya, empat penjual budak bersenjata melawan Luragorn yang bermodalkan borgol rantai. Luragorn menatap lawan di depannya dengan tatapan kosong, tidak berpikir bahwa ia akan terluka dengan pedang yang diacungkan padanya.
Tanpa berpikir lagi, para penjual budak langsung menyerang Luragorn bersamaan. Serangan pertama dilancarkan ke arah wajah dan Luragorn mengangkat salah satu tangannya, menangkis serangan yang datang dengan borgol besi di tangannya.
Tebasan yang gagal tentu membuat siapapun terkejut dan Luragorn mengambil kesempatan itu untuk menyerang. Luragorn merotasikan tubuhnya dengan cepat searah jarum jam dan melakukan tendangan telak ke arah penjual budak yang mencoba menyerangnya dari belakang. Kepala dan tubuh penjual budak itu langsung terputar ketika serangan kaki Luragorn mengenai bagian kepalanya.
Dua penjual budak lain melakukan tebasan cepat secara horizontal ke arah tubuh Luragorn, sayangnya mereka menebas angin di saat Luragorn tengah berjongkok tepat di depan mereka.
Luragorn melakukan sapuan cepat ke arah kaki kedua orang tersebut dan membuat mereka terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Kedua tangan Luragorn dikepal kuat kemudian pukulan cepat dilancarkan pada kedua orang yang tengah terjatuh tadi.
Pukulan cepat dan bertenaga menghempaskan para penjual budak itu. Pertahanan Luragorn terbuka di belakang dan membuat penjual budak budak lain bersiap melancarkan serangan.
Luragorn menunduk kemudian melakukan serangan kaki lurus cepat ke arah belakang tanpa berbalik. Serangan yang mengincar bagian atas tubuh tersebut meleset dan hanya mengenai bagian pundak. Luragorn berputar cepat melihat ke arah belakang dan mendapati si penjual budak ternyata hanya termundur sedikit.
Luragorn segera menggunakan kakinya yang satu lagi untuk menyerang, sebuah serangan menyabit cepat ke arah tulang rusuk dilancarkan Luragorn sebelum lawannya sempat melakukan serangan balik.
__ADS_1
Si penjual budak itu langsung terlempar jauh setelah mendapat tendangan kuat di rusuknya, menyebabkan beberapa tulangnya patah dan memuntahkan darah dari mulutnya.
Luragorn berdiri dan menatap tajam pada dua penjual budak sebelumnya yang sedari tadi memperhatikan. Para penjual budak itu tahu bahwa Luragorn adalah orang yang berbahaya dan tidak bisa dikalahkan dengan cara biasa, membuat keduanya berpikir kembali untuk melakukan serangan ataukah lari menjauh.
Sebuah ingatan menghampiri Luragorn, membuat pria ini semakin tidak sabaran akan waktu yang ia habiskan. Ingatan itu adalah ingatan tentang waktu dimana Lithia membebaskan Luragorn dari penderitaannya. Luragorn masih remaja saat itu dan telah tertanam pola pikir seorang budak yang melekat di dirinya.
Lithia membebaskan Luragorn menggunakan kalung permata milik ibu Lithia sendiri, memerdekakan seorang remaja yang menatap dunia dengan pandangan keputus asaan. Sejak saat itulah, Luragorn terus mengikuti Lithia meski Lithia tidak pernah memberi perintah khusus seperti perintah kebanyakan berupa pekerjaan berat yang mempertaruhkan nyawa.
Sebuah senyuman tipis terpasang di wajah Luragorn di saat ia mengenang ingatannya, membawa perasaan damai dan tenang di hatinya yang goyah akibat kemarahan. Luragorn kembali memasang wajah serius dengan tatapan tajam ke arah kedua orang di depannya.
“Kalian ... ada yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua,” ujar Luragorn kepada dua penjual budak yang berdiri di depannya.
“Hah? A ... a ... apa yang kau inginkan, dasar budak,” jawab salah seorang penjual budak dengan bibir yang bergetar ketika berbicara.
“Informasi apa?”
“Beastman yang membawaku pada kalian.”
“Lalu?”
“Ada seorang perempuan yang ingin kutemui.”
“Haha, kalau begitu ... kau kurang beruntung kawan. Perempuan yang kau maksud pasti sedang dicabuli oleh sese–”
*JLAB!
__ADS_1
Penjual budak tersebut langsung terjatuh ke tanah sebelum selesai berbicara. Sebuah pedang menancap di dada dan mengeluarkan banyak darah segar. Pedang tersebut dilemparkan dari tempat Luragorn berdiri yang berjarak sekitar lima meter dari si penjual budak.
“Kalian tidak akan merendahkan putri Lithia dan kalian akan memberitahuku di mana putri Lithia berada,” ucap Luragorn dengan mata dinginnya menusuk si penjual budak satunya yang masih hidup.
***
“Ya ... aku tahu, itu hebat bukan? Mereka pasti mahal.”
“Jadi? Berapa yang kau dapatkan dari dua manusia itu?”
Tampak dua orang beastman kucing bercakap-cakap sambil berjalan di jalanan kota yang sepi dan gelap. Keduanya membicarakan Lithia dan Luragorn yang berhasil mereka jual ke pedagang budak.
“Hebat bukan?”
“Ya ... kau betul, yang laki-laki sepertinya petarung gladiator sedangkan yang perempuan sangat cantik. Kita akan berpesta malam ini.”
Langkah kedua beastman tersebut terhenti ketika merasakan hawa membunuh yang menyelimuti mereka. Bulu kuduk berdiri dan insting hewan mereka menyuruh untuk lari menjauh.
“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” seru si beastman mengeluarkan sebuah pisau.
Suara langkah kaki terdengar dari balik bayangan rumah yang gelap, membuat kedua beastman ini menelan ludah sambil waspada.
“Ada yang ingin kubicarakan ... tentang perempuan cantik yang kalian katakan barusan.”
Orang yang keluar dari kegelapan itu adalah Luragorn yang memasang ekspresi kemarahan di wajahnya. Tangan dikepal kuat hingga beberapa pembuluh darah nampak timbul di permukaan kulit, tidak ada senyuman dan matanya menatap tajam seakan ingin membunuh siapa pun yang dilihat.
__ADS_1
“Perempuan yang kalian bicarakan itu ... bisakah aku mengetahuinya juga?”