Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 16


__ADS_3

Jalanan sepi dan toko di sisinya tertutup. Jalanan menuju bangunan guild utama terasa seperti kota mati.



“Putri Lithia, maafkan–”



Lithia menghentikan kalimat Luragorn dengan sebuah telunjuk yang rapat di bibir pria jangkung itu.



“Di sini, panggil aku Lily. Bukan Lithia,” kata Lithia dengan wajahnya yang cukup berseri, “Biarlah kita berhutang, nanti akan kita bayar setelah menyelesaikan misi lain. Paham?”



Luragorn hanya mengangguk tanpa suara dan Lithia melanjutkan langkah kakinya menuju gedung guild East Wing. Luragorn berjalan mengikuti irama Lithia dan sampailah mereka di depan pintu yang seolah tidak ada siapa pun di dalamnya.



Pintu dibuka oleh Luragorn dan Lithia langsung melompat maju ke depan.



*PROK! PRAK!



“Selamat atas misi pertama kalian!”



Suara ledakan bola sihir kecil bak kembang api diikuti seruan yang menyambut Luragorn dan Lithia, membuat keduanya terdiam keheranan. Sisi tembok dipenuhi oleh hiasan dinding untuk pesta, makanan tersaji di atas meja-meja yang terjejer di lobi guild, tong berisi bir tersusun di pojokan ruangan, dan hampir semua petualang berteriak kesenangan dengan senyuman di wajah mereka.



***



“BERSULANG!”



Dentingan gelas kaca terdengar setelah teriakan keras menggema. Mage yang memakai mantel serta jubah, Assasin yang memakai pakaian ketat dan tudung, Warrior yang memakai zirah, dan Archer yang merangkul busur di punggung. Semuanya bersulang dan berpesta merayakan keberhasilan Luragorn dan Lithia.



Luragorn berdiri di kerumunan para petualang pria sementara Lithia duduk di tempat para petualang perempuan. Keduanya memasang senyuman paksa yang agak bergetar di ujung bibir.



“Hooh, jadi kalianlah orang yang berhasil melukai ketua Lusy?” tanya seorang warrior berbadan besar tanpa zirah dengan tunik coklat sebagai baju.



Setinggi 190 cm dengan otot yang besar, rambut dicepak dengan mata sipit, wajah kaku dengan dagu agak lebar, kulit putih kecoklatan dengan beberapa goresan luka di bagian bahu. Hanya dengan sekali lihat, Luragorn bisa merasakan betapa kuatnya pria yang berdiri di depannya.



“Namaku Tom dan kau pasti Lura, kan?” tanya pria besar ini.



“Kau pasti sangat hebat bisa memberi luka pada ketua Lusy,” kata Tom memandang Luragorn.



“Tidak juga, aku hanya beruntung,” jawab Luragorn dengan nada datar.



“Aku serius. Tidak pernah kulihat ketua Lusy terluka sebelumnya,” kata Tom melirik Lusy yang sedang beradu panco.



Lusy yang hanya memakai tunik kuning terlihat senyum-senyum sendiri dengan wajah agak memerah. Beberapa gelas bir terjatuh dari meja tempat Lusy minum. Lusy tampak cukup mabuk dengan dua puluh gelas bir yang terjatuh di bawah mejanya.



Perempuan berambut cokelat ini hanya duduk sambil tersenyum ke arah lawan panconya. Pria tinggi besar dan sangat berotot tampak sangat kesusahan untuk menggerakkan lengannya.



Lusy tidak bergeming sekali pun meski dalam keadaan mabuk. Sebaliknya, pria yang melawan Lusy seolah mengeluarkan seluruh kekuatannya yang mana tampak dari urat dan pembuluh darahnya yang timbul di permukaan kulit.



Lusy membanting tangannya dan mengalahkan lawan sekaligus menghancurkan meja yang dijadikan arena panco. Si pria merintih kesakitan memegangi tangannya sementara Lusy tertawa lepas sambil meneguk segelas bir lain.



Luragorn menelan ludahnya ketika menyadari bahwa dirinya pernah melawan Lusy. Perempuan yang bahkan bisa membuat seorang pria besar merintih hanya dengan sekali bantingan tanpa keringat.



“Kekuatan ketua Lusy sangat luar biasa dan aku tidak pernah melihatnya kelelahan setelah bertarung,” kata Tom memandangi lusy.



“Ketua Lusy itu bukan manusia. Tingkatannya berbeda dengan kita,” ujar salah seorang petualang.



“Katanya kau juga berhasil mengalahkan dua beastman serigala, apa itu benar?” tanya Tom.



Luragorn hanya mengangguk mengkonfirmasi kebenaran informasi itu.



“WOAH!” teriak para petualang yang berada di dekat Luragorn.



Semuanya terkejut ketika mengetahui hal tersebut.



“Mereka memang kuat, tapi apa memang sekuat itu?” tanya Luragorn.



“Seorang beastman bisa sangat kuat tergantung tipe dan subras-nya. Beastman serigala bukan hanya kuat, tetapi juga memiliki kemamampuan koordinasi yang tinggi,” jawab Tom memandang Luragorn, “Mengalahkan seorang beastman serigala sama halnya bertarung dengan pasukan elit kerajaan dan kau berhasil mengalahkan dua orang.”



“Bagaimana Lura? Ayo kita minum dulu, untuk merayakan keberhasilanmu,” ajak seorang petualang yang nampak mabuk dengan segelas bir di tangannya.



Di lain tempat di mana Lithia duduk meminum teh dan memakan roti panggang yang tersaji di atas meja bundar. Di sekelilingnya terdapat beberapa perempuan yang terus menatap Lithia.


__ADS_1


“A ... ada apa?” tanya Lithia dengan agak canggung.



“Siapa Luragorn itu?”



“Pacarmu? Keluargamu?”



“Apa hubunganmu dengannya?



“Katanya kau selalu bersama dengannya, apa iya?”



“Dia yang menjadi pelindungmu kan? Apa dia kakakmu?”



“Sudah berapa lama kalian mengembara bersama?”



“Apa yang terjadi di masa lalu kalian hingga menjadi pengembara?”



Senyuman paksa dengan alis menurun terpasang di saat Lithia mencoba menjawab hujan pertanyaan itu.



“Ti ... tidak, dia bukan keluarga. Kami tidak punya hubungan sedarah, katakanlah teman. Kalau waktu ... mungkin sudah lama kayaknya. Kalau masa lalu ... kurasa rahasia, hehe ....”



Para petualang perempuan yang mengelilingi Lithia langsung mendekat dan memasang tatapan serius.



“Berarti pacarmu?”



“B ... b ... bukan, kami tidak punya hubungan seperti itu. Jika kalian mau, katakan saja Lura adalah kesatriaku.”



Semuanya terdiam sejenak dan Lithia langsung memasang wajah kebingungan. Ia tidak bisa begitu saja mengatakan hubungan yang dimiliki oleh dirinya dan Luragorn, tetapi sepertinya para petualang perempuan ini memikirkan sesuatu yang berbeda.



“KYAAA! KESATRIAKU!”



“Jadi benar kan? Kau menyukainya kan? Kau memang memiliki hubungan seperti itu kan?” tanya seorang Archer dengan baju hanya tunik abu-abu serta rok agak pendek.



Matanya berbinar menatap Lithia dan rambut hitam panjangnya terurai dengan lurus di depan Lithia. Senyuman terpasang dan ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.



“Apa kau sudah pernah mengatakan perasaanmu?” tanya si Archer.




Bersamaan dengan jawaban yang datang, napas terhela panjang terdengar.



“Dengar Lily, Lura itu sepertinya tipe yang sama seperti mereka,” kata si Archer melirik ke arah para petualang pria yang berbincang dengan Luragorn.



“Tipe apa?”



“Tipe pria yang hanya akan membicarakan kekuatan dan otot serta senjata mereka.”



“Benarkah?”



“Aku tidak tahu kenapa semua pria di sini hanya memikirkan pertarungan, semuanya sama saja.”



“Hooh.”



“Jadi,” si Archer menatap Lithia dengan tajam, “kau harus menunjukkan daya tarikmu atau seseorang akan merebutnya.”



“Hah?! Kenapa?!”



“Lihat saja Luragorn itu, tubuh bagus, kemampuan hebat ditambah dia bisa melawan ketua. Jika ia mengambil pekerjaan di kerajaan, aku tidak akan kaget jika Luragorn bisa menjadi kesatria elit kerajaan dengan gaji tinggi. Ditambah dia cukup gagah dan tampan.”



“Ya ... Lura mema–”



*BHAM!



Si Archer membanting tangannya ke arah meja dan menatap Lithia dengan penuh kesungguhan.



“Dia kesatriamu kan?!” tegas si Archer.



Lithia terdiam dan pesta berlanjut dengan hebatnya. Termenung sesaat kemudian melirik ke arah Luragorn yang sedang meminum segelas bir, Lithia hanya meletakkan pandangannya pada Luragorn seorang.



***

__ADS_1



Hari menjelang petang dan bagian dalam gedung guild terlihat berantakan. Beberapa terkapar di pojokan karena terlalu banyak minum, beberapa lagi sedang membersihkan sisa-sisa pesta, dan beberapa lagi hanya langsung menuju kamar melanjutkan tidurnya.



Senja yang khas dengan langit jingganya, menjadi pemandangan untuk penutup hari bagi Luragorn. Pria jangkung itu berdiri di teras atas gedung guild. Berada di lantai tiga dan menghadap ke arah matahari terbenam, memberikan posisi sempurna untuk melihat cakrawala.



“Hey~ Lura apalah namamu~” sapa Lusy dari belakang dengan wajah agak terantuk dan sedikit terceguk.



“Ada apa, ketua Lusy?”



Lusy langsung berdiri di samping Luragorn dan ikut menikmati pemandangan matahari senja.



“Kau belum punya tempat tinggal kan? Apa kau mau salah satu kamar di gedung utama guild?”



Luragorn terkejut dan termundur karena kaget. Lusy bukan hanya memberi pinjaman keping emas, tetapi juga memberikan sebuah kamar untuk dirinya dan Lithia.



“Kenapa ketua Lusy memberi hingga segitunya?” tanya Luragorn dengan nada datar.



Tegukan demi tegukan bir masuk ke tenggorokan Lusy, membiarkan cairan kuning berbusa membasahi mulut perempuan ini.



“Aku hanya penasaran, dia itu seperti apa? Kenapa kau sangat ingin melindunginya?”



“Alasan? Agak panjang ceritanya,” Luragorn menegakkan badannya dan menghela napas panjang, “Bahkan jika seluruh kerajaan membencinya, dia memberiku satu alasan untuk terus berada di sisinya.”



“Hooh ... begitukah?” tanya Lusy meneguk bir miliknya sekali lagi.



“Begitulah.”



“Apa kau menyukainya?”



“Suka? Entahlah, aku hanya tidak ingin berada jauh darinya. Apa pun yang terjadi. Lagi pula, aku adalah kesatrianya.”



Di balik pintu menuju teras tempat Luragorn dan Lusy, berdiri seorang perempuan yang mencoba menahan rasa malu. Perempuan itu adalah Lithia dan di sekelilingnya berdiri para petualang perempuan lain yang menyunggingkan senyuman ke arah Lithia. Kepala tertunduk menghadap lantai dan wajah merah merona karena tersipu.



Wajahnya tersenyum karena memang mengetahuinya, tetapi melihat orang lain menatap sambil mendengar kalimat Luragorn, memberi kesan yang berbeda pada perasaan Lithia.



“Heh~ jadi ...”



“Jadi si Lura juga ....”



“Heh~”



Para petualang perempuan itu sontak mendorong paksa Lithia menuju teras. Lithia yang masih agak tersipu tidak sanggup untuk melangkah dan menunjukkan wajahnya pada Luragorn, tetapi dorongan yang didapat terlalu kuat hingga akhirnya Lithia dan beserta petualang perempuan ini terjatuh tepat setelah pintu terbuka.



“Lily? ada apa?” tanya Luragorn pada Lithia yang berusaha berdiri dan kemudian langsung berbalik membelakangi Luragorn.



Lithia kemudian dipaksa berbalik menghadap ke arah Luragorn dengan wajahnya yang masih memerah.



“Lily, kau sakit?” tanya Luragorn menatap wajah Lithia yang berusaha ditutup-tutupi.



Luragorn melihat ke arah para petulang perempuan yang berada di depannya kemudian mengambil kesimpulan. Luragorn langsung mengangkat Lithia dengan gendongan ala tuan putri. Tangan kanannya mengangkat bagian punggung Lithia dan tangan kirinya mengangkat bagian kaki Lithia.



“Terima kasih telah membawanya,” kata Luragorn sedikit membungkuk ke arah para perempuan di depannya, “Mulai dari sini, aku yang akan mengurusnya, permisi.”



Luragorn kemudian berjalan masuk ke dalam gedung guild dan menuju ruang perawatan.



“T ... t ... t ... turunkan aku!” teriak Lithia dengan wajah merah padam.



“Kenapa? Jika kau sakit, maka harus segera diobati.”



“B ... bukan itu.”



“Lalu apa?”



“Mengatakan seperti itu pada orang lain ....”



“Mengatakan apa?”



Lithia terdiam tidak ingin menjawab pertanyaan itu dan memutuskan untuk mengikuti arus yang membawanya sekarang. Jantungnya masih berdetak tidak keruan dan wajahnya masih merah tersipu. Matanya melirik arah lain karena tidak sanggup menatap mata Luragon secara langsung untuk sekarang.

__ADS_1



Luragon terus melangkahkan kakinya sembari menggendong Lithia menuju ruang perawatan, mengabaikan situasi sekitar.


__ADS_2