Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 15


__ADS_3

Angin dingin bertiup pada sebuah tempat perkemahan. Perkemahan yang hanya terdiri dari api unggun besar dan beberapa bongkah batu yang dijadikan dudukan.



Hutan pinus lebat terlihat di belakang sementara padang rumput terbentang di depan. Hanya ada satu orang saja yang berada di depan api unggun, orang itu adalah Lithia yang sedang duduk menekuk lututnya di atas salah satu batu. Dengan pakaian yang telah lengkap, perempuan ini hanya diam termenung di tempat.



Mata Lithia hanya terbuka sebagian karena kebosanan dengan situasinya. Wajah yang cemberut menatap api unggun berwarna merah kekuningan, mengamati kobaran api yang bergoyang.



Sesekali mata Lithia melirik ke arah salah satu pohon di dekatnya. Pohon tinggi dengan beberapa orang terikat di kaki pohon. Dua orang beastman yang berada dalam bentuk manusianya, terikat dengan masing-masing punggung menempel pada batang pohon.



“Huft~ kapan mereka datang?” gumam Lithia sambil menghela napas agak panjang.



Tidak lama setelah keluhannya, Lithia mendengar langkah kaki cepat yang menggema di atas permukaan tanah. Ia berdiri dari tempatnya dan melihat ke arah sumber suara tersebut.



Kadal hijau sepanjang empat meter dan lebar tubuh satu meter, merayap menuju tempat Lithia menunggu. Ekor satu setengah meter meliuk liuk seirama dengan langkah larinya mencapai kecepatan hingga 70 km/jam.



Duduk di atas kadal tersebut, tiga orang berpegangan dengan erat agar tidak terjatuh. Luragorn, Duke, dan Sima duduk berurutan di atas punggung si kadal hijau.



Debu dan rumput beterbangan dikala jalan yang dilalui dipijak kuat. Luragorn menarik tali pengikat mulut yang dijadikan kendali si kadal dan menghentikan lari kadal ini.



“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Lithia dengan wajah cemberut dan kedua tangan di pinggang.



***



Empat orang dan dua ekor kadal besar duduk melingkari api unggun yang panas. Keadaan sangat canggung mengingat hal yang baru saja terjadi. Lithia diam memasang senyum paksaan, Luragorn mematung dengan wajah menghadap ke tanah, Sima termenung dengan pose mirip Luragorn, dan Duke hanya menyandarkan diri di salah satu pohon sambil menatap langit.



Mata Duke terbuka setengah dengan sesekali menghela napas panjang. Situasi hening membuat keempatnya hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun.



“Apa kita bisa menggunakan kadal itu?” tanya Duke yang memecah keheningan tersebut.



“A ... iya tentu saja,” jawab Lithia menyambung pembicaraan.



“Kalau begitu, kita gunakan saja itu untuk ke kota berikutnya.



“O ... o ... tentu saja.”



“Kalau begitu ...,” Duke berdiri dari tempatnya duduk dan menepuk-nepuk celananya untuk menghilangkan tanah dan debu yang menempel, “Kita pergi sekarang.”



“Baiklah, ayo kita bergegas,” balas Lithia yang juga ikut berdiri.



***



Langkah kaki yang berat menemani malam sunyi. Dua ekor kadal hijau besar berlari di bawah sinar bintang yang tidak terang sama sekali. Jarak pandang kini berjarak lima meter berkat batu api milik Duke. Sebongkah batu merah sebesar kepala manusia yang memancarkan penerangan sejauh lima meter di area sekitar.



Satu buah dipegang oleh Duke yang berada di atas kadal yang sama dengan Luragorn. Satu buah lagi dipegang oleh Sima yang berada di atas kadal yang sama dengan Lithia.



Kadal yang dikendalikan oleh Luragorn memiliki selisih dua meter lebih ke depan dibanding kadal yang dikendalikan Lithia. Hutan pohon pinus lebat yang tinggi menghiasi sisi jalanan. Suara burung hantu terkadang terdengar ketika melewati jalan panjang itu.



“Tuan Duke, aku minta maaf. Tidak bisa melindungi keretamu dan menggagalkan misi ini,” kata Luragorn membuka pembicaraan.



Tidak ada respon dari Duke yang duduk di belakangnya membuat Luragorn tertegun sambil terus menatap ke depan.



“Tidak apa, itu hanya kereta lagi pula,” balas Duke dengan nada datar yang terdengar lemas.



Di belakang kadal Luragorn terdapat kadal yang berlari di sebelah kanannya. Kadal yang ditungganti oleh Lithia dan Sima nampak hanya berjarak dua meter saja dari ujung kepala kadal milik Luragorn.



“Sima, cerialah. Tidak apa, kau selamat sekarang,” ucap Lithia mencoba berbicara pada Sima.


__ADS_1


“Aku memang selamat, tapi kereta tuan Duke tidak,” balas Sima dengan kepala tertunduk menggenggam batu api dengan sangat kuat seakan ingin menghancurkan batu tersebut.



Keheningan menjadi situasi yang menemani keempat orang ini hingga mereka mendapati sebuah daerah perkampungan kecil di depan mereka.



“Bagaimana jika kita menginap saja malam ini?” tanya Luragorn memberi masukan pada Duke.



“Baiklah,” jawab Duke dengan nada datar.



Kedua kadal tersebut berhenti di depan gerbang perkampungan. Keempat penyintas ini turun dari tunggangan mereka dan berjalan menuju salah satu penginapan yang sepertinya terbuka untuk siapa pun.



Perkampungan dengan rumah yang sangat sederhana dan sepi, membuat keempatnya berjalan dengan penuh kehati-hatian agar tidak menimbulkan keributan. Obor-obor penerang yang menyala hanya di area teras rumah saja, menampakkan situasi bahwa semua orang telah tertidur dengan lelapnya. Luragorn mengikat kedua kadal mereka di tempat peristirahatan hewan tunggangan yang memang disediakan untuk penyintas dan pengembara.



Keempat orang ini masuk ke dalam sebuah penginapan dan memesan dua kamar untuk dijadikan tempat beristirahat. Tentu saja Duke yang membayar kedua kamar tersebut. Satu kamar diisi oleh Luragorn dan Lithia sementara satu kamar lagi diisi oleh Duke dan Sima.



***



Kamar kayu seukuran lima meter persegi dengan sebuah jendela dan hanya berisi sebuah kasur sederhana di dalamnya, menjadi tempat menginap bagi Luragorn, Lithia, Duke, dan Sima. Luragorn satu kamar dengan Lithia sementara Duke berbagi kamarnya dengan Sima.



Lithia langsung meloncat ke atas kasur dengan posisi terlentang sementara Luragorn duduk di lantai sambil menatap Lithia. Lithia kemudian duduk di pinggir kasur dan memperbaiki posisinya untuk melakukan diskusi.



“Jadi? Apa yang Putri Lithia dapatkan?” tanya Luragorn.



Lithia mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepala, “Tidak ada sama sekali.”



“Tidak ada?”



“Yap, tidak ada. Selain fakta mereka dari Beastman District, tidak ada lagi yang bisa kuketahui.”



“Begitu ya ....”




“Hmn ....”



“Sudahlah, aku capek. Aku ingin tidur,” kata Lithia cepat sambil menguap panjang.



“B ... baiklah. Beristirahatlah, Putri,” balas Luragorn yang kemudian mengambil posisi duduk bersandar di tembok.



Di kamar sebelah mereka, yaitu kamar yang ditempati Duke dan Sima. Sima tampak merapatkan kedua kakinya dan kedua tangannya saling menggosok karena cemas. Duke berbaring di kasurnya dengan posisi menatap langit-langit.



“A ... anu ... Tuan Duke,” kata Sima sedikit tergugup.



“Apa?” jawab Duke dengan nada datar dan cepat.



“Begini ....”



“Masalah kereta itu, abaikan saja. Tidurlah.”



“Ta ... tapi ....”



“Kau tidak dengar? Tidur!”



Sima langsung terdiam dan sontak memejamkan kedua matanya cepat karena ketakutan mendengar teriakan Duke.



“M ... maaf ... keretanya tidak selamat. Harta-harta Tuan Duke .... Harusnya aku bisa ....”



Duke langsung berdiri dari tempat tidurnya dan menampar Sima dengan keras

__ADS_1



*PLAK!



“Tidakkah kau sudah cukup membuatku rugi!”



Sima menggigit bibir bawahnya yang gemetaran ketika menerima tamparan keras di pipinya. Sima hanya bisa tertunduk dan tidak bisa berbicara apa-apa lagi. Duke langsung memegang kedua bahu Sima dengan erat sambil memberikan tatapan tajam penuh kemarahan.



“Dengarkan aku! Sekali lagi kau melakukan hal itu ...,” tegas Duke mencoba menahan giginya yang bergemeretak menahan emosi.



“M ... m ... maaf, harusnya–”



“KALAU KAU IKUT MATI, AKU AKAN BENAR-BENAR BANGKRUT!”



Teriakan itu membuat Sima menegadahkanan kepala dan menatap pria di depannya. Mata Sima membulat melihat pemandangan di depannya.



Sebuah mata yang menatap tajam itu mengalirkan air mata yang cukup deras. Sima kebingungan apakah Duke memarahinya ataukah Duke sedih pada dirinya. Sima memajukan tangannya dan menyapu air mata di wajah yang marah itu.



“Tuan Duke menangis?”



Sontak Duke mundur dan mengangkat tangannya kemudian menghapus air matanya yang keluar. Duke berbalik cepat sambil mencoba meredakan tangisannya.



“Sudah, cukup! Tidur! Pokoknya jangan diulang lagi!” seru Duke yang langsung menuju kasur dan menyelimuti dirinya.



“Baiklah, Tuan Duke,” jawab Sima dengan senyum tipis di wajahnya yang mungil itu.



***



Keesokannya, perjalanan kembali dilanjutkan. Meski tidak ada lagi yang berarti untuk dikawal, tetap saja Duke bersih keras untuk menyelesaikan perjalanan. Seminggu telah berlalu dan perjalanan berakhir. Luragorn dan Lithia mengawal Duke dan Sima ke wilayah Fisherman Village, mengakhiri misi pengawalan kedua petualang ini.



Perjalanan yang hanya ditempuh menggunakan kadal ini akhirnya membuahkan hasil. Keempat orang ini berencana berpisah tepat di gerbang masuk Fisherman Village.



Langit cerah dan lalu-lalang masyarakat melakukan aktifitasnya, menjadi penutup bagi keempat orang ini. Duke dan Sima tengah berdiri menghadap pintu gerbang sementara Luragorn dan Lithia berada di atas kadal tunggangan.



“Sampai bertemu lagi, Lily,” kata Duke sambil mengayun-ayunkan tangan kanannya, “Dan jangan lupa, kalian berhutang sebuah toko padaku!”



Luragorn dan Lithia hanya tersenyum setelah melakukan misi mereka.



“Aku tidak menyangka Tuan Duke tidak meributkan masalah ini,” kata Luragorn.



“Ya ... kita memang gagal melindungi keretanya, tapi,” Lithia melirik ke arah Sima yang berdiri di samping Duke dengan senyuman di wajahnya, “Kita tidak sepenuhnya gagal.”



“Maksud Putri Lithia?”



“Tidak ada,” jawab Lithia sambil sedikit tertawa.



“Apa Putri Lithia yakin?”



“Sudahlah, ayo kita pulang.”



“B ... b ... baiklah.”



Duke merentangkan tangannya sembari melihat kepergian Luragorn dan Lithia. Duke memasang senyuman yang khas oleh pedagang dan menatap Sima.



“Mari kita kembali berbisnis!” seru Duke sambil mengeluarkan sebuah koin emas di kantongnya.



“Baiklah Tuan Duke,” jawab Sima dengan wajah berseri dan senyum tipis yang terpasang.

__ADS_1




__ADS_2