
Puing rumah berserakan akibat serangan werewolf sebelumnya. Tidak jauh dari situ, sebuah rombongan petualang datang di bawah pimpinan Lusy.
Partlet putih tebal agak ketat menjadi penutup dada Lusy yang besar dan membusung. Bagian bawahnya saling menarik sisi kanan dan sisi kiri partlet bagian depan, memberi celah di tengah dada ketika di bagian lehernya hanya terikat sedikit saja.
Sepasang gauntlet hitam melekat di kulitnya yang putih mulus itu. Gauntlet dengan bentuk sarung tangan besi besar menyelimuti seluruh lengan Lusy hingga bagian siku. Pada punggung gauntlet terdapat beberapa lempeng besi agak cembung menyesuaikan ukuran gauntlet itu sendiri. Berwarna emas dan tersusun saling menindih di tiap ujungnya, menampakkan corak punggung trenggiling di atasnya.
Celana pendek putih agak ketat yang hanya menutup setengah bagian dari paha Lusy. Greave dan sabaton emas menjadi alas sekaligus penutup bagian bawah tubuh Lusy sendiri.
Lusy menghampiri salah seorang prajurit yang ada dan meminta beberapa pendeta yang bisa digunakan untuk menyegel werewolf. Prajurit tersebut dengan sigapnya pergi menuju tempat ibadah dan mencari para pendeta.
“Mage regu dua, beri kami penerangan,” kata Lusy sambil mengarahkan lengannya memberi arahan pada tiap regu yang ada.
“Assasin regu satu, awasi parimeter sekitar werewolf. Batasi pergerakan dengan radius 100 meter–Assasin regu dua, carilah warga sipil yang terluka dan amankan mereka yang berada di jarak serang–Warrior regu satu, tetap waspada. Kita akan menguras tenaga werewolf ini hingga ia tidak bisa bergerak–Warrior regu dua, bantu para prajurit menangani werewolf itu– Archer, obati mereka yang terluka dan kelelahan–Mage regu satu, bagi menjadi dua. Tim penyembuh dan penyerang.”
“Baik!” jawab semua petualang.
Semua petualang mengambil posisi masing-masing sesuai arahan Lusy. Bola energi putih besar yang sangat terang muncul di atas langit. Di bawahnya beberapa mage mengangkat tongkat sihir masing-masing ke atas dengan lingkaran sihir putih di ujungnya. Para mage ini membuat sinar matahari buatan berwarna putih dan mempertahankan sinarnya agar tetap bisa menerangi jalannya pertempuran.
“Cahaya siap!” kata para mage regu dua bersamaan.
Beberapa assasin bersegera pergi ke atas atap rumah mengawasi si werewolf dengan ninjato serta beberapa pisau kecil di tangan. Mereka mengamati dengan saksama dari jarak yang agak jauh sembari kadang memutar-mutar senjata masing-masing.
Beberapa assasin lainnya melesat cepat masuk ke dalam rumah warga dan mengamankan mereka. Beberapa yang terjebak di reruntuhan rumah dan beberapa lagi terlalu takut untuk keluar rumah.
“Tidak perlu khawatir, ayo berdiri. Akan kubantu kalian keluar,” kata seorang assasin pada dua orang wanita yang memojok ketakutan di sudut ruangan.
Beberapa warrior langsung saja menerjang maju membantu para prajurit yang memang bertugas menjadi petugas keamanan. Saling bergantian menyerang dan menghindar dari werewolf yang mengamuk.
Para archer membawa orang-orang yang terluka ke tempat aman yang berada di belakang Lusy. Setelah para assasin membawa para warga sipil keluar dari zona pertempuran, para archer yang membopong warga sipil itu ke tempat aman.
Beberapa mage lainnya menyembuhkan dan mengobati warga sipil dengan bantuan para archer. Beberapa mage lain pergi untuk ikut dalam pertempuran dan memberikan bantuan serangan.
“Apa yang terjadi?” tanya Lithia yang baru saja datang.
Mage berambut merah ini membawa Ruhif bersamanya. Terkejut dengan apa yang dilihatnya, Ruhif tiba-tiba mengamuk. Lithia yang baru saja datang tentu tidak tahu apa-apa, tetapi bukan itu yang Ruhif ingin tahu.
“Kakak Lithia berbohong! Bohong! Bohong!” maki Ruhif memukul-mukul Lithia yang terdiam tidak bisa mengatakan apa pun.
“Prajurit, bawa bocah itu menjauh. Tempat ini berbahaya,” kata Lusy pada salah seorang prajurit yang berdiri di dekatnya.
Ruhif langsung diangkat dan hendak dibawa ke tempat aman. Lithia sontak menahan prajurit itu dan melakukan protes pada Lusy.
“Ketua Lusy, ini berlebihan. Dia memang terkena kutukan werewolf, tapi ini kelewatan,” kata Lithia.
“Kau tidak mengerti apa pun tentang kutukan werewolf,” balas Lusy dengan nada serius dan tatapan tajam ke arah medan pertempuran.
“AAAAARRRGGGG!!!!!”
Geraman werewolf menggetarkan udara. Tidak lama setelah itu, si werewolf yang terluka seketika sembuh secara instan dan tubuhnya membesar hingga setinggi enam meter.
Para prajurit dan petualang terkejut, begitu pula Lithia yang baru saja memprotes. Semuanya kecuali Lusy yang tetap tegap sambil menyilangkan kedua lengannya.
Werewolf itu tidak berhenti menyerang para prajurit dengan serangan bertenaga dan menghempaskan beberapa prajurit serta petualang. Si werewolf menggeram ganas sambil meneteskan liur.
“Assasin, tetap pada posisi! Regu penyerang, jangan gentar! Regu penyelemat, tingkatkan intensitas penyembuhan! Warrior regu satu, berikan bantuan!” seru Lusy yang meningkatkan tensi pertarungan.
Werewolf setinggi enam meter dan cukup lincah menjadi lawan yang berat. Berbeda dengan sebelumnya, lawan mereka kali ini lebih berbahaya dari sebelumnya. Si werewolf melakukan cakaran berkali-kali yang menyebabkan beberapa prajurit terluka parah.
“Atur formasi!” teriak Tom si warrior dengan tameng besarnya.
*TRANG!
Si werewolf kembali menyerang, tetapi kali ini para petualang dan prajurit bertameng menangkis serangan tersebut secara bersamaan. Mereka yang menahan serangan tadi kemudian sedikit terdorong mundur yang diikuti oleh serangan prajurit dan petualang lain.
*JRASH! JRASH! JRASH!
__ADS_1
Kedua pihak saling menukar goresan besar. Beberapa prajurit juga petualang terluka yang kemudian dibawa oleh assasin regu dua ke tempat aman dengan bantuan para Archer.
*TRANG! TRANG TRANG!
Besi dan kuku bertubrukan, tameng dan cakar saling menangkis. Menggema kuat di udara sehingga menghasilkan gelombang kejut di sekitar.
*BOOM! *BOOM! *BOOM!
Beberapa ledakan kecil mengenai bagian wajah si werewolf, tetapi belum cukup untuk melumpuhkannya.
Pertarungan semakin sengit dan tidak ada tanda-tanda bahwa si werewolf akan kelelahan. Lusy masih diam di tempatnya berada sambil terus mengamati. Sejauh ini hanya korban luka-luka, tetapi Lusy mulai tidak sabaran dengan jalannya pertarungan. Zirah yang terpakai pada tiap prajurit dan petualang kerajaan Reymin merupakan zirah terbaik di seluruh Midfraz, tetapi tidak akan bertahan jika pertarungan terus dilanjutkan dalam jangka waktu lama.
“PEMBOHONG! PEMBOHONG!” teriak Ruhif meronta di atas gendongan prajurit.
“Tunggu. Bisakah dia di sini?” kata Lithia pada si prajurit yang hendak membawa Ruhif.
Si prajurit berzirah lengkap itu hanya memandang Lusy. Dalam komando militer, tidak ada warga sipil yang bisa memerintah prajurit, tetapi berbeda dengan Lusy. Di kerajaan Reymin, Lusy merupakan orang yang setara dengan jendral perang kerajaan Reymin dan telah diakui oleh pihak kerajaan sendiri.
“Biarkan dia di sini, tapi jangan lepaskan dia dari penjagaanmu,” kata Lusy tanpa memindahkan pandangannya dari medan pertempuran.
“Lusy, kami membawa mereka,” kata salah seorang prajurit membawa beberapa pendeta untuk melakukan ritual penyucian kutukan.
Para pendeta tersebut kebanyakan merupakan perempuan yang memakai pakaian dan jubah serba putih. Mereka semua tampak ketakutan ketika melihat werewolf setinggi enam meter.
“Bisakah kalian melakukan pemurnian kutukan pada werewolf itu?” tanya Lusy pada para pendeta tanpa memalingkan pandangannya.
“Tidak mungkin, makhluk itu terlalu besar. Kami tidak bisa melakukan ritual penyucian kutukan untuk makhluk sebesar itu,” balas salah seorang pendeta yang membuat Lusy termenung.
“Apa tidak ada alternatif lain?” tanya Lusy lagi.
“Satu-satunya yang bisa melakukan penyucian skala besar seperti itu, hanyalah pendeta dari kerajaan suci,” sambung salah satu pendeta.
“Kerajaan suci? Maksudmu Mimo? Jangan berbicara yang tidak masuk akal. Mimo berjarak sekitar sebulan dari sini,” sanggah Lusy dengan sigap.
Semuanya terkejut mendengar hal tersebut termasuk Lusy dan para priest.
“Dari mana kau tahu –,” kalimat Lusy terputus ketika mengingat kembali identitas Lithia, “baiklah, aku tidak akan bertanya. Lily, pimpin mereka melakukan ritual penyucian skala besar,” perintah Lusy dengan cepat.
“Baiklah,” balas Lithia yang kemudian bersegera menginstruksi para pendeta yang ada.
Para pendeta berjejer dalam pola lingkaran dengan Lithia sebagai titik tengahnya. Rapalan mulai dikeluarkan dan para pendeta perlahan memancarkan cahaya putih redup.
Lusy berjalan mendekati medan pertempuran untuk bergabung. Ia menyaksikan para petualang terlempar dan melihat para prajurit terhempas. Perempuan berambut cokelat ini membenturkan kepalan gauntlet-nya lalu memberi tatapan tajam pada si werewolf.
Si werewolf tiba-tiba terdiam yang mana membuat semuanya waspada. Werewolf itu mengaum keras hingga menggetarkan udara sekali lagi. Tubuhnya seketika pulih dan membesar hingga setinggi delapan meter. Semuanya menelan ludah sambil gemetar ketakutan melihat sosok manusia serigala besar di depan mereka.
“GGRRRRAAAAAAAAAGGGGGHHH!!!!” suara geraman keras yang memekik telinga.
Werewolf langsung melancarkan serangan pada salah seorang prajurit yang gemetar di tempatnya berdiri.
*TRANG!
Lusy menangkis cakaran tersebut dengan gauntlet emasnya. Tanah yang dipijak Lusy seketika tertanam ke dalam akibat menahan serangan tersebut. Tom dengan beberapa petualang berbadan besar lain langsung menerjang maju kemudian memukul tangan si werewolf menggunakan senjata mereka.
Tangan si werewolf termundur diikuti perintah Lusy untuk langkah berikutnya.
“Tom! Buang senjatamu! Jadilah tameng sisi kiri! Para prajurit yang memiliki ketahanan lebih, pindah ke wilayah Tom! Luragorn! jadilah pedang sisi kanan! Para petualang yang memiliki mobilitas tinggi, bantu Luragorn! Sisanya ikut aku!” seru Lusy dengan cepat.
*SLASH! TRANG!
Cakaran dari tangan kanan werewolf datang dan ditahan oleh regu temeng hingga beberapa dari mereka termundur dan bahkan terlempar di saat menahan serangan tersebut, prajurit lain memanfaatkan celah tersebut dan menyerang. Begitu pula dengan Luragorn yang tidak menyia-nyiakan celah yang ada.
*JRASH! *JRASH!
“GRRRAAAAGGGHH!!!”
__ADS_1
Serangan dari regu pedang membuat si werewolf melancarkan serangan balasan, tetapi tidak ada yang terluka sama sekali.
*BHUK!
Lusy menghantam kepala si werewolf di saat si werewolf ini lengah, membuatnya termundur beberapa langkah sambil memegangi kepalanya.
“GRRAAAAGH!”
Si werewolf sontak menggeram keras dan menerjang maju dan melancarkan serangannya.
*TRANG! TRANG! TRANG!
Suara kuku dan besi berbenturan, kedua pihak memberi serangan dan pertahanan yang hebat.
*JRASH! JRASH! JRASH!
Suara tebasan dan cakaran dilancarkan, merobek daging dan zirah kedua pihak.
Dentingan begema, udara bergetar, darah menyebar, keringat terpancar, dan tensi pertarungan semakin menggelegar.
“GGRRRRAAAAAAAGGGGHHHH .....!!!!!”
“SERANG …!!!”
Si werewolf yang terpojokkan seketika melompat ke atas bangunan untuk berniat lari, tetapi disambut oleh regu assasin yang sudah siap sedari tadi. Para assassin melempar banyak pisau kecil ke arah wajah untuk mengalihkan perhatian si werewolf.
*GGGGRRRRKKKKK ....
Suara rantai membelit salah satu tangan si werewolf. Semua regu assasin yang melayang di bawah si werewolf telah melilitkan rantai mereka ke arah werewolf itu. Para warrior yang menunggu di bawah seketika menarik ujung rantai tersebut
Tangan si werewolf tertarik ke bawah, begitu juga tubuhnya yang besar itu.
*BHUM!
Si werewolf terbaring di tanah dan para pendeta sudah siap dengan mantra mereka. Para pendeta tiba-tiba bersinar bagai lampu putih berpijar diikuti dengan munculnya tulisan-tulisan kuno yang mengitari mereka.
Lingkaran polos putih besar tercipta tepat di atas permukaan tanah yang dipijak si werewolf, membuat werewolf ini sontak melompat tinggi.
“Kau mau ke mana?” tanya Lusy yang mengambang di atas si werewolf dengan tangan kanan yang dikepal kuat.
*BHUK!
Hantaman keras dikeluarkan hingga menciptakan gelombang kejut yang merobek udara dan menjatuhkan si werewolf tepat di atas lingkaran putih bercahaya tadi.
Tepat setelah si werewolf menyentuh permukaan tanah, energi putih bercahaya berbentuk rantai seketika keluar dari lingkaran putih itu. Sepuluh rantai putih besar langusng membelenggu si werewolf dan mengikatnya di permukaan tanah.
“GGRRRAAAAAGGGHHHH!!!!”
Si werewolf menggeram keras mencoba melepaskan diri dari kekangan rantai. Sementara para pendeta berusaha mati-matian di tempat mereka merapal mantra yang membuat mereka mengeluarkan sedikit darah dari mulut mereka.
“Penyucian skala besar seperti ini tentu saja menjadi beban berat bagi para pendeta yang bukan berasal dari kerajaan Mimo,” kata Lusy mengamati werweolf yang terantai itu.
“Tapi, kami berharap pada kalian. Kalian adalah satu-satunya harapan sekarang,” sambung Lusy mengamati para pendeta.
Para pendeta tetap merapal meski mulut mereka mengeluarkan darah. Lithia merentangkan tangannya dan sebuah lingkaran putih besar lain tercipta tepat di atas si werewolf. Lithia langsung merapatkan kedua telapak tangannya dengan cepat dan seketika cahaya putih menghubungkan dua lingkaran penyucian itu hingga tampaklah tiang putih terang yang sangat menyilaukan.
Cahaya putih berpijar yang menyilaukan seolah menelan semuanya dalam cakrawala putih. Tangan Lithia bergetar dan mulutnya juga ikut mengalirkan darah. Begitu pula keadaan para pendeta lain yang juga merapal mantra sambil merapatkan telapak tangan mereka.
*ZYUNG!
Cahaya putih itu langsung memudar seketika setelah beberapa saat meninggalkan bekas pertempuran juga para pejuang yang terluka. Para pendeta sontak jatuh pingsan termasuk Lithia dan lingkaran penyucian juga ikut lenyap, meninggalkan sesosok gadis muda yang telanjang dan terluka.
“Mage! Cepat sembuhkan gadis ini dan para pendeta!” seru Lusy memerintahkan pengobatan cepat pada Libi yang tidak berdaya.
Semuanya langsung duduk karena kelelahan, membiarkan para mage dan archer mengobati mereka. Pertempuran berakhir dan Libi telah berhasil disucikan dari kutukan werewolf itu. Lusy dan para pejuang lainnya mengatur napas mereka sambil diobati, membuat suasana menjadi sangat hening di malam hari yang dingin itu.
__ADS_1