Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 19


__ADS_3

Lima belas hari telah berlalu semenjak Luragorn dan Lithia menjadi petualang. Berbagai misi yang berhubungan dengan para Beastman telah dilakukan dan diselesaikan dengan baik. Pengawalan, perburuan, pertarungan, berbagai misi berkaitan dengan beastman telah dikerjakan oleh dua petualang ini hingga mereka mendapat julukan–Beast Hunt.



Warrior pedang perak dan Mage jubah api adalah panggilan Luragorn dan Lithia. Keduanya sudah menjadi petualang kelas menengah dalam waktu singkat. Orang-orang sering membicarakannya, “Jika itu berhubungan dengan beastman, panggil saja Beast Hunt.”



Gosip dan rumor seperti itu pun semakin memudahkan Luragorn dan Lithia untuk mengumpulkan informasi seputar beastman yang dicari oleh dua petualang ini.



Luragorn yang semula hanya memakai pakaian rakyat biasa kini memakai pakaian yang berbeda. Tunik merah lengan pendek dengan jubah hitam dengan lengan panjang menjadi penutup bagian atasnya. Celana nilon merah yang panjang menjadi penutup bagian bawahnya serta sepatu boot hitam menjadi alas kakinya.



Tunik hitam polos sangat selaras dengan sabuk coklatnya yang terbuat dari kulit reptil. Jubah merah panjang yang tampak polos berkibar ketika angin meniupnya. Di tangan kirinya terpasang gauntlet perak hingga menutupi bagian sikunya. Pauldron perak tebal berukuran sedang menempel di bahu kirinya.



Claymore perak dengan sarungnya terpasang rapi di punggung menggunakan baldrick cokelat. Gagangnya menghadap ke sebelah kanan, memudahkan tangan kanan Luragorn menarik pedang tersebut. Lengan kanan Luragorn hanya ditutupi lengan jubah merah panjang dengan tambahan sarung tangan hitam yang menutup punggung dan telapak tangannya.



Di sampingnya Lithia berdiri dengan pakaiannya yang juga berbeda. Surcot hitam ketat tanpa cotte dikenakan perempuan berambut merah ini. Surcot yang hanya sepanjang mata kaki, memudahkan langkah Lithia.



Bagian samping surcot-nya terdapat sobekan hingga membagi bagian bawah surcot menjadi dua sisi, yaitu bagian depan dan belakang. Panjangnya dari bawah hingga mendekati pinggul, menampakkan paha putih Lithia yang mulus jika ia melakukan gerakan berat.



Surcot hitam dengan bagian ujung atasnya meruncing menuju leher. Lingkaran leher surcot itu dihiasi oleh sebuah kalung merah bercahaya, memberi keindahan lebih pada bagian selangka dan belikatnya.



Jubah merah agak tebal dengan lengan panjang, menjadi lapisan tambahan pada bagian atas tubuh Lithia. Jubah lengan panjang dengan ujung berjumbai ini menampakkan motif bara api di tepi jubah. Pita kuning keemasan melingkari tiap tepi. Leher jubah, lingkar tangan hingga ujung bawah jubah itu dihiasi pita tersebut.



Hose hitam ketat menutupi kaki Lithia hingga bagian atas lutut. Sepatu boot merah berukuran sedang menjadi alas kakinya yang kecil itu. Sarung tangan hitam sepanjang siku menutupi lengan perempuan berambut merah ini.



Keduanya tampak berbeda dari sebelum mereka menjadi petualang. Pakaian Luragorn dan Lithia tampak serasi dengan dua warna utama yaitu merah dan hitam.



Luragorn dan Lithia terlihat saling berbincang sebelum memutuskan misi yang akan mereka ambil hari ini. Meski pun pemilihan misi adalah hal penting bagi tiap petualang, tetapi keadaan sekitar berkata lain.



Hari sudah siang, tetapi masih terlalu pagi untuk para petualang di guild East Wing. Hal itu tampak dari beberapa petualang masih menguap dan berbaring di lobi. Para petualang yang kelelahan itu tidur dengan posisi duduk dan kepala menempel di atas meja.



“Permisi ... apa ini guild East Wing?” tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam bangunan guild.



Gadis muda berkulit putih dan berbadan ramping melangkah masuk. Rambut lurus sepinggangnya yang berwarna biru laut tampak kontras dengan warna matanya yang sama. Menilik ke tiap sisi lobi, gadis berpakaian kirtle biru gelap ini menatap Luragorn dan Lithia.



“Permisi,” kata gadis ini mendekati Luragorn dan Lithia, “Apa kalian tahu di mana si [Beast Hunt] berada?”



“Kamilah orang itu. Ada perlu apa memangnya?” tanya Lithia.



“Namaku Libi, Libi Kurasof. Aku ingin pindah rumah.”



“Kalau begitu, pindah saja.”



“Aku khawatir dengan beastman yang akan menyerang saat kepindahan kami.”



“Baiklah, sepertinya kita dapat pekerjaan baru,” kata Lithia menatap Luragorn dengan senyuman kecil.



***



Seekor kadal merangkak dan sebuah kereta kuda bergerak menuju rumah Libi. Matahari masih memancarkan sinar hangatnya dan semua orang tampak beraktifitas dengan biasa. Setelah Libi mendapatkan kereta untuk ia gunakan sebagai transportasi pindahan, gadis berambut biru laut ini segera mengatakan rincian misinya pada Luragorn dan Lithia.



Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai di rumah Libi yang berjarak tiga jam perjalanan menggunakan kereta kuda dari gerbang tenggara Reymin.



Padang rumput yang luas membentang. Tidak jauh dari situ terdapat hutan lebat, membuat rumah Libi menjadi satu-satunya rumah manusia di sepanjang pemandangan alami tersebut.



Libi turun dari keretanya dan bersegera mengemas barang-barang sementara Luragorn dan Lithia menunggu di atas kadal mereka.



“Siapa kalian?” tanya seorang bocah laki-laki yang tiba-tiba muncul entah dari mana.


__ADS_1


Bocah laki-laki setinggi 150 cm dengan tatapan sinisnya menyambut Luragorn dan Lithia. Rambut pendek dan mata bulatnya berwarna sama dengan Libi, yaitu biru laut. Wajah cemberut seolah memberi pandangan angkuh terhadap Luragorn dan Lithia.



“Siapa namamu anak kecil?” tanya Lithia agak menunduk di depan bocah laki-laki ini.



“Menjauhlah, tante-tante tua!” teriak bocah laki-laki ini membuat Lithia terdiam menatap datar ke arah bocah ini.



“Hoi, bocah–”



Kata-kata Luragorn terhenti ketika sebuah batu mengenai selangkangannya dengan keras, membuat Luragorn terjatuh sambil memegangi bagian yang terkena serangan bocah itu. Luragorn tercekik dan si bocah berlari masuk ke dalam rumah Libi.



Untuk pertama kalinya, meski tanpa suara yang keluar dari pria ini, Lithia melihat Luragorn merasakan penderitaan teramat dalam. Lithia hanya bisa menatap kosong melihat Luragorn yang gemetaran memegangi kemaluannya.



“Sepertinya sakit sekali,” kata Lithia dengan nada datar.



Tidak lama setelah itu, Libi datang dan juga membawa si bocah laki-laki yang bersembunyi di balik gadis berambut biru ini



“Maafkan adikku, namanya Ruhif, dia tidak terbiasa dengan orang baru. Tolong maafkan dia,” kata Libi sambil mengangguk beberapa kali.



“Hehe ... iya, tidak apa. Anak kecil memang seperti itu,” balas Lithia.



Keduanya sedikit berbincang sebelum bersiap mengangkat barang sementara Ruhif berkeliaran dan Luragorn–Dia masih terbaring memegangi kemaluannya.



***



Beberapa jam berlalu dan semua barang telah diangkut ke dalam kereta. Semua persiapan telah dilakukan termasuk perbekalan dan makan malam.



“Baiklah, kita berangkat sekarang,” kata Lithia mengemas barang terakhirnya.



“Bagaimana kalau besok saja?” tanya Libi.




“Begini ...,” jawab Libi agak gugup, “Kalau kita pergi sekarang, harusnya kita akan sampai malam hari.”



“Tidak apa, meski malam sekali pun. Paling hanya lewat beberapa menit setelah matahari terbenam,” kata Lithia meyakinkan Libi.



“Tapi kalau gelap, perabotan akan susah dipindahkan,” sambung Libi.



“Hmn ... benar juga, kalau begitu besok saja.”


“Harusnya besok saja kita berkemas kalau begitu.”



“Terima kasih.”



Hari mulai senja dan persiapan keberangkatan ditunda. Luragorn dan Lithia memutuskan untuk mengawal keesokan paginya. Libi membuka beberapa perbekal untuk dijadikan makan malam.



Rumah kayu kosong tanpa apa-apa selain pintu dan jendela yang menempel di dinding. Semua perabotan telah dipindahkan, menyisakan sebongkah batu api besar di tengah ruangan sebagai pencahayaan.



Malam datang dan semuanya memakan perbekalan yang disediakan oleh Libi. Libi dan Ruhif masuk ke dalam kamar mereka setelah makan malam. Kamar kosong dengan tambahan bantal yang diambil dari kereta kuda mereka.



Lithia tidur berbaring di ruang tengah rumah tersebut dan Luragorn tidur dengan posisi duduk menyandar di dinding. Malam yang tenang tanpa gangguan membuat Lithia terlelap lebih cepat dari biasanya.



Luragorn yang masih tidur setengah sadar merasakan kandung kemihnya bereaksi, memaksa pria ini berdiri dan buang air kecil. Sayang sekali, keinginannya untuk buang air kecil harus ditunda ketika ia melihat seorang beastman mendekati kereta kuda mereka.



Beastman yang berada dalam wujud [pelepasan kebuasan] membuat Luragorn waspada sambil memegangi pedang peraknya. Subras serigala berbulu hitam, tanpa pakaian sama sekali, menggeram dengan rahang dipenuhi air liur yang mengalir.



Seorang beastman tipe serigala bukanlah masalah bagi Luragorn, tetapi yang membuatnya khawatir adalah beastman itu tidak menunjukkan ciri-ciri kemanusiaan, mirip seperti serigala sungguhan yang besar dan berdiri dengan dua kakinya.


__ADS_1


Beastman itu berbalik cepat menatap Luragorn dengan mata merahnya yang besar. Hanya geraman tanpa sepatah kata pun. Beastman itu berlari ke arah Luragorn dengan rahangnya yang terbuka. Luragorn memantapkan kuda-kudanya dan menerjang maju.



*SLASH!



Tebasan cepat diayunkan Luragorn dan si beastman melompat cepat ke belakang Luragorn. Si beastman melebarkan tangan dan menekuk jemarinya kemudian mencakar Luragorn dengan cepat.



*TRANG!



Luragorn berotasi cepat dan menangkis cakaran si beastman menggunakan pedangnya. Kuku hitam panjang beastman ini sama sekali tidak tergores. Dengan kuku kokoh sepanjang tujuh cm, menjadikan kuku ini sebagai senjata alami yang sangat kuat.



*TRANG! TRANG! TRANG!



Si beastman mencakar Luragorn berkali-kali dan pria ini menangkis sambil menghindari serangan yang datang.



*TRANG! TRANG! TRANG!



Cakaran terus berdatangan dan Luragorn semakin kesusahan. Kakinya melangkah mundur seiring dengan serangan intensif yang datang.



*TRANG! TRANG! TRANG!



“Gawat, gawat, gawat. Beastman ini cepat sekali. Serangan juga kuat dan bertenaga. Tidak ada celah sama sekali,” batin Luragorn sambil terus bertahan.



*TRANG! TRANG! TRANG!



“LURA! TAHAN DIA!” teriak Lithia.



Lithia mengangkat tongkat sihirnya yang terbuat dari kayu itu. Permata merah di ujung tongkat Lithia menyala dan memunculkan lingkaran sihir berwarna merah.



Luragorn sontak menerima serangan si beastman dengan bahu kanannya, merobek daging, menembus bahu, dan memuncratkan darah. Mata kanan Luragorn tertutup menahan rasa sakit dari luka yang cukup dalam itu. Segera setelah mendapat serangan, tangan kiri Luragorn langsung mencengkram leher si beastman dan membantingnya ke bawah hingga kepala beastman ini menyentuh tanah.



“POLUS IGNIS!”



Lingkaran sihir berwarna merah bersinar tepat di bawah si beastman dan seketika Luragorn menarik tangannya di saat lingkaran sihir itu semakin bersinar terang.



*BWUSH!



Kobaran api menyembur keluar dari lingkaran sihir itu membentuk pilar api setinggi lima meter, membakar sekitarnya selama beberapa saat sebelum lenyap di udara malam yang dingin. Lingkaran hitam membekas karena kobaran api tadi, menghanguskan tanah dan membakar habis rumput.



“Sepertinya dia selamat?” gumam Lithia mengatur napasnya yang terputus-putus.



“Lura! Kau tidak apa?!” teriak Lithia berlari mendekati Luragorn yang memegangi lukanya sendiri.



“Aku tidak apa, hanya sedikit tergores,” kata Luragorn bernapas berat dan berkeringat dingin.



Luka besar yang terbuka menumpahkan banyak darah ke arah rumput hijau dan menghias tanah dengan warna merah kental. Lithia segera mendekatkan kedua telapak tangannya ke arah bahu Luragorn, memberikan sihir penyembuh tingkat menengah yang cukup untuk menutup luka sedikit lebih cepat.



***



Pagi yang baru menyambut rumah Libi. Sayangnya yang tertidur hanyalah Libi dan Ruhif. Luragorn dan Lithia terjaga semalaman untuk memastikan beastman serigala sebelumnya tidak kembali.



Luragorn melepas jubahnya dan menampakkan bisep lengan kanannya yang berisi dan dibalut perban.



“Apa kalian tidak apa?” tanya Libi dengan khawatir.



“Tidak, tidak apa. Ayo kita mulai perjalanannya,” kata Luragorn yang berdiri dari tempatnya duduk.


__ADS_1


__ADS_2