Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 2


__ADS_3

Berdiri tegap dengan tinggi 180 cm, Luragorn membawa seekor rusa yang siap dikuliti dan dimasak. Rambut hitam yang berantakan dan pakaiannya yang agak kotor menjadi bukti bahwa ia berjuang keras untuk mendapatkan hewan buruan. Tunik putih lengan panjang yang dikenakan Luragorn menjadi kusut di bagian pergelangan tangan, serta beberapa noda tanah di bagian dadanya.



Bahkan dengan sebuah longsword di punggungnya, Luragorn tampak tidak ada bedanya dengan warga biasa. Wajah dengan dagu tidak terlalu lebar, terlihat cukup selaras dengan otot tubuhnya yang berbentuk.



Sepatu boot kulitnya memijak masuk ke dalam sebuah gubuk tua yang sudah lama ditinggalkan. Hampir tidak ada suara apa pun di saat Luragorn melangkahkan kakinya menuju Lithia.



Gubuk enam meter persegi berisi kasur rusak dan beberapa perabot rumah lainnya yang terlihat cukup berdebu. Di tiap pojokan rumah bisa dilihat beberapa jaring laba-laba terpintal dan tersebar.



Luragorn berjalan menuju dapur untuk menemui Lithia yang sedang mempersiapkan makan malam. Aroma sedap tercium saat pria ini mendekati pintu dapur. Sebuah kuali panas berisi sup kentang dan wortel yang agak kental dengan rebusan daging kelinci yang dipotong kecil-kecil.



Di depan kuali itu, berdiri seorang perempuan berambut merah sebahu yang sedang memegang sendok sup. Wajahnya yang putih itu memerah karena suhu panas dari kuali yang terbakar, membuat keringat keluar dari pori-pori dan sedikit membasahi kerah kirtle cokelat yang dikenakannya.



Lithia yang setinggi 165 cm bisa dikatakan cukup pendek jika bersampingan dengan Luragorn. Bibirnya yang agak tipis itu meniup perapian untuk membesarkan api di bawah kuali. Tangan yang halus megusap wajah yang sedikit berkeringat, menampakkan betapa panasnya suhu perapian saat Lithia memasak.



Luragorn melangkahkan kakinya masuk ke bagian dapur dan mulai berbicara tentang hasil tangkapannya hari ini.



“Putri Lithia, di mana aku harus meletakkan daging ini? Apa kita akan membakarnya saja seperti biasa? Karena kulihat Anda memasukkan daging kelinci di sup makan malam.”



Luragorn bertanya tanpa jeda dengan wajah datar sambil memegang rusa di tangan kanannya. Lithia mendengar suara yang tidak asing itu, sontak berbalik dan tersenyum lebar dengan wajah berseri.



“Selamat datang, kau sudah–,” wajah Lithia seketika berubah saat melihat kaki Luragorn.



Luragorn mengikuti arah pandangan Lithia dan terdiam sejenak memikirkan tindakannya.



“Lura! Kenapa kau tidak melepas sepatu?!” bentak Lithia sambil mengacungkan sendok sup ke arah wajah Luragorn.



“Ah ... iya ... hmn ... lagipula tidak ada yang tinggal dan juga mungkin saja besok kita akan pindah lagi, jadi ....”



“Lepas! Lepas! Lepas! Lepas!” bentak Lithia sambil memukul-mukulkan sendok supnya ke dada Luragorn.



“Baiklah, baiklah, kulepas. Lagi pula dimana aku harus meletakkan rusa ini?”



“Taruh saja di situ,” tunjuk Lithia ke arah ember kayu besar di pojokan dapur.



Luragorn meletakkan daging rusa tadi ke tempat yang ditunjuk dan segera melepas sepatunya. Dengan sedikit menghela napas, Luragorn mengambil kursi dan duduk di dekat Lithia.



Mata bulat berwarna hitam milik pria bertunik putih itu mulai menutup perlahan. Kelelahan akibat perburuan sebelumnya, membuat tubuhnya meminta istirahat. Rasa kantuk menariknya ke alam mimpi dan membuat Luragorn tertidur dalam posisi terduduk.



Lithia yang sementara memasak langsung terdiam setelah melihat wajah tidur Luragorn. Senyum tipis tergaris saat memandangi pria yang selalu ada di sampingnya tersebut. Lithia kemudian melanjutkan proses memasaknya dengan perasaan gembira.



***



Setelah beberapa lama, sup yang dimasak Lithia akhirnya selesai diikuti dengan daging rusa yang telah ditusuk dan dijadikan daging panggang. Aroma harum yang menggelitik hidung membuat Lithia tidak sabar untuk menyantapnya, tetapi sayang sekali ada satu hal yang harus ia lakukan.



Perempuan berambut merah ini langsung mengambil sebuah ember kayu kecil berisi air hangat. Ia berdiri di depan Luragorn yang sedang tertidur di kursi sedari tadi.



“PUTRI!” mata Luragorn terbuka cepat dan pedang ditarik dari sarungnya.



Luragorn terdiam seketika saat mata pedangnya mengarah ke Lithia yang sedang mengangkat ember air. Mata berbentuk almond dan berwarna merah rubi menghipnotis Luragorn, menghentikan gerakannya seketika dengan perasaan terpana pada tatapan Lithia yang mengarah padanya. Keduanya hanya terdiam saling menatap selama beberapa saat tanpa melakukan gerakan apa pun.



Tidak lama setelah itu Luragorn langsung menyadarkan dirinya, kemudian mundur dan menjauhkan pedangnya sambil membungkuk minta maaf. Mimpi yang ia alami barusan membuat pria ini secara refleks melakukan apa yang harus ia lakukan tanpa sadar bahwa ia sedang menyerang orang yang harusnya ia lindungi.



“Maafkan aku putri, aku tidak bermaksud.”


“Apa yang kulakukan? Menyerang putri Lithia?”batin Luragorn



“Tidak, tidak apa. Saya yang salah, hehe ....”


“Apa itu tadi? Terlalu cepat. Tubuhku tidak sempat bereaksi,” batin Lithia.



Luragorn dihujani penyesalan saat membayangkan hal yang baru saja ia coba lakukan. Setelah itu ia melihat ke arah Lithia yang masih mengangkat ember air di tangannya.



“Untuk apa ember itu, Putri?” tanya Luragorn


“Ember air?”



“Oh ini ... air bekas memasak, aku ingin membuang air ini.”


“Gagal lagi,” batin Lithia


“Sudah, makan dulu. Lihat apa yang kubuat hari ini.”



Lithia mengambil piring sementara Luragorn terpaku menatap makanan yang tersaji di depannya. Aroma pedas agak manis dari sup kental dan aroma menusuk dari daging rusa panggang, membuat Luragorn menelan air ludah.



Lithia memberi semangkuk sup dan sepiring daging rusa kepada Luragorn, tetapi pria itu tidak bergerak sama sekali. Lithia agak keheranan melihat Luragorn yang hanya diam menatap makanannya sambil menahan gemuruh perut yang cukup keras.



“Silakan, Putri Lithia yang harus makan duluan,” kata Luragorn dengan tatapan serius.



“Pfthh ..., hahaha, jangan terlalu kaku. Kau memang tidak bisa diajak bercanda.”



Lithia langsung menyendok sup miliknya dan mengarahkan ke mulut Luragorn.



“Katakan a~,” ucap Lithia.

__ADS_1



“Itu bukan etikat yang baik, Putri Lithia sudah repot-repot memasak, Putri yang harus mencicip duluan.”



“Tapi kau yang mencari rusanya, artinya kau yang harus mencoba pertama.”



“Tidak bisa, Putri adalah prioritas.”



“Ini perintah.”



Luragorn tidak bisa membalas perkataan tersebut. Mengingat posisinya sekarang sebagai bawahan, Luragorn tidak punya pilihan selain menerima perintah dari Lithia. Ia pun menerima suapan tersebut dengan sedikit perasaan agak berat karena menjadi yang pertama mencicipi makanan.



“Nah, sekarang puas? Lanjutkanlah makanmu, percuma kalau kumasak dan tidak dimakan,” ucap Lithia sambil tersenyum puas.



Luragorn seolah terpaku melihat senyuman tersebut. Lithia memakan supnya dan tenang sementara Luragorn tetap saja menatap perempuan di depannya. Pria ini tidak bisa menjelaskan perasaan yang mengganjalnya sekarang. Ia hanyalah seorang pengawal dan penjaga, tetapi perasaan bahagia muncul setelah melihat senyuman dari Lithia. Ia tidak tahu apa itu, tetapi satu hal yang pasti adalah apa yang ada di depannya saat ini.



“Kenapa tidak dilanjut? Makanannya nanti dingin loh,” kata Lithia.



“Aku ingin terus berada di sampingmu dan membuatmu tetap tersenyum, Putri Lithia,” ujar Luragorn dengan tatapan serius.



“Haha, tentu saja. Kau kesatriaku satu-satunya. Kalau kau menghilang, bisa gawat,” balas Lithia dengan tertawa.



Lithia tidak bisa menahan tawanya saat mendengar kalimat yang tidak perlu seperti itu. Luragorn adalah kesatria satu-satunya yang dimiliki putri berambut merah ini. Setelah hari dimana ia kehilangan keluarganya, Luragorn adalah orang yang menemaninya sampai sekarang.



Meski itu adalah fakta yang tidak perlu dipermasalahkan, tetapi putri ini tidak sanggup menatap pria yang memandangnya dengan sangat serius itu. Lithia hanya menundukkan kepalanya dan melanjutkan makannya dengan sedikit senyuman di wajah.



“Tentu saja …,” Lithia menggumam pelan.



Sesekali ia melirik ke arah Luragorn dengan agak tersipu. Ketika Luragorn membalas tatapannya, perempuan itu langsung mengubah pandangannya menuju semangkuk sup di depannya sekarang.



“Tentu saja ... kau harus berada di sampingku,” lanjut Lithia bergumam sambil menyantap supnya sambil sedikit melirik ke arah pria yang sedang makan dengan lahapnya.



“Terima kasih,” gumam Lithia.



Keduanya makan dengan lahap dan hari pun berlalu sekali lagi dengan damai seperti hari-hari biasanya.



***



Malam purnama cerah menyinari semua yang di bawahnya. Hanya ada beberapa awan tipis yang berjalan perlahan melewati gelapnya cakrawala.



Sebuah gubuk tua terlihat jelas ketika sinar rembulan mengenainya. Di dalam gubuk itu tertidur dua orang yang sedang beristirahat dengan damainya.




Sangat tenang, bahkan terlalu tenang hingga tidak ada satu pun suara yang terdengar. Tiba-tiba saja Luragorn langsung membuka mata dan memegang gagang pedangnya. Sejak awal, Luragorn tidak tertidur pulas karena ia tahu bahwa ia bersama seseorang yang nyawanya selalu terancam.



“Sepertinya bukan hanya rumor saja, bahwa si putri terkutuk memiliki pengawal yang hebat.”



Suara misterius tersebut membuat Luragorn waspada dan memperhatikan sekitar. Tidak ada satu pun yang terlihat dalam pandangannya, tetapi ia bisa merasakan hawa membunuh yang menusuk punggungnya.



“Putri terkutuk? Apa yang ia bicarakan?” batin Luragorn.



“Sepertinya ini akan menjadi pekerjaan yang berat,” suara misterius itu terdengar kembali.



Sesuatu dilemparkan ke arah Lithia yang sontak membuat Luragorn melompat dan menghalangi benda yang mengarah kepada Lithia. Dalam gelapnya malam, hanya sinar bulan saja yang menjadi penerang bagi Luragorn. Sebuah pisau melesat ke arah kepala Lithia yang membuat pria ini secara refleks mengarahkan pedangya untuk menangkis pisau tersebut.



Di saat Luragorn siap menahan serangan yang datang, pisau itu tiba-tiba tertarik mundur. Meski hanya sekilas, Luragorn bisa melihat benang tipis yang terikat di gagang pisau tadi.



Keterkejutannya hilang seketika saat ia menyadari tiga buah pisau kecil menancap di rusuk kanannya dan tiga lagi di bagian paha. Luragorn berlutut dengan lutut kanan menyentuh lantai. Rasa nyeri terasa dari titik luka yang terus mengeluarkan darah sedikit demi sedikit.



Seseorang dari kegelapan melesat ke arah Luragorn, Luragorn mengangkat pedangnya dan maju menerobos ke arah orang tersebut.



Sinar rembulan memperlihatkan sosok itu. Seorang beastman rubah berbulu oranye dengan tunik cokelat dan pisau kecil yang mengelili tubuhnya.



Tubuh manusia rubah dengan pakaian manusia. Kepala berbentuk kepala rubah dengan bulu oranye agak panjang menyelimuti, menjadi sosok yang akan Luragorn lawan kali ini.



Tanpa perlu berpikir lebih jauh, Luragorn langsung mengayunkan pedangnya ke arah beastman itu.



Si beastman meliuk di udara menghindari tebasan yang datang, kemudian dilemparnya beberapa pisau kecil ke arah Lithia. Sekali lagi Luragorn bereaksi, tetapi itu hanya jebakan benang lainnya. Pisau kecil tadi tertarik di saat pedang Luragorn berada di depan Lithia, membiarkan Luragorn berdiri tanpa pertahanan.



Si beastman menghunuskan sebuah pisau miliknya ke arah wajah Luragorn, sayang sekali di detik-detik akhir, pria berambut hitam pendek ini melihat serangan yang datang kemudian menghindari pisau tersebut. Serangan beastman rubah itu hanya menggores pipi Luragorn dan membuat si beastman terkejut akan refleks pria yang ia lawan.



Luragorn tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mengepalkan tangannya. Sebuah pukulan kuat langsung menuju ke arah perut si beastman tersebut.



Si beastman seketika tersentak kemudian merasakan sesak dan pandangannya menjadi kabur. Serangan bertenaga menghempaskan beastman rubah menjauh. Si beastman yang masih sadar langsung saja memperbaiki posisinya di udara dan mendarat dengan sempurna tanpa suara. Si beastman merasakan adanya pendarahan di dalam tubuhnya hingga sesekali ia terbatuk kecil dengan darah yang keluar.



“Siapa orang ini? Kemampuannya menakutkan. Refleksnya cepat dan kekuatannya besar,” batin beastman rubah.



Luragorn mengelap darah di wajahnya dan memasang posisi bertahan. Pisau-pisau di rusuk dan pahanya langsung ia cabut agar tidak mengganggu pergerakan, membiarkan darah mengucur agak cepat dari lukanya.


__ADS_1


“Tidak mungkin membunuh putri itu jika ada dia. Dia adalah rintangan terbesar. Aku harus membunuhnya terlebih dahulu,” batin si beastman.



“Kali ini beastman? Mungkin mereka sudah bosan mengirim tentara kerajaan dan memutuskan menyewa seorang pembunuh sungguhan. Tapi ...,” batin Luragorn yang kemudian memantapkan posisi dan memfokuskan pandangannya, “Beastman ini berbahaya.”



Luragorn meregangkan badannya sedikit dan melebarkan kuda-kudanya.



*SUT!



Sebuah pisau tiba-tiba berada di depan wajah Luragorn. Kali ini bukan trik benang, tetapi serangan langsung. Luragorn dengan sigap menghindar dan matanya secara refleks mengikuti arah pisau itu.



Pisau tadi melesat melewati Luragorn dan menancap ke tembok. Di saat mata Luragorn kembali pada posisinya, si beastman telah melayang di hadapannya dan bersiap menebas dengan pisau miliknya.



Luragorn mengelak sekali lagi meski agak terlambat dan akhrinya pisau itu menancap di bahu kirinya. Luragorn menghunuskan pedangnya ke arah kepala beastman, tetapi kali ini lebih cepat dari sebelumnya hingga si beastman tidak bisa menghindar sepenuhnya.



Telinga si beastman tergores oleh tusukan pedang yang ternyata tidak menghentikan serangan berikutnya. Meski agak terkejut tetapi si beastman tetap bergerak karena ia menunggu kesempatan dimana pertahanan Luragorn terbuka. Ia menarik sebuah belati bergerigi miliknya dan mencoba menusuk kepala Luragorn. Dari jarak sedekat itu, mustahil untuk menghindar lagi, bahkan oleh Luragorn yang memiliki refleks cepat.



Luragorn melepas pedangnya yang melayang di udara dan dengan sigap menggenggam tubuh si beastman menggunakan tangan kirinya. Si beastman terkejut kemudian tersadar bahwa sebuah kepalan tangan sedang mengarah padanya.



Si beastman mengarahkan belati miliknya ke arah pukulan Luragorn. Belati itu menembus kepalan tangan Luragorn dan menghentikan pukulan tersebut. Darah tersembur deras, tetapi Luragorn tidak kehabisan ide, Luragorn menarik si beastman ke bawah dan mengarahkan lututnya ke arah beastman tersebut.



Serangan lutut membuat si beastman memuntahkan darah dan membuatnya jatuh terkapar di lantai. Luragorn tidak berhenti di situ dan mengambil pedangnya yang hampir jatuh menyentuh lantai. Pria berpedang besar itu langsung menebas ke arah si beastman dengan sekuat tenaga.



Luragorn menebas asap hitam yang kemudian tersebar menyelimuti seluruh pandangan. Pria berpedang besar ini langsung menuju ke arah Lithia dan membuat pose siap serang.



Luragorn tetap memperhatikan sekitar menunggu serangan yang akan datang. Asap hitam perlahan memudar dan ia tidak lagi merasakan hawa keberadaan si beastman.



***



“Orang itu sungguh berbahaya. Lambat sedetik saja, aku pasti mati,” kata si beastman yang menatap gubuk tempat Lithia berada.



Pada jarak 500 meter, seorang beastman meringis kesakitan akibat luka organ dalam yang ia terima. Ia terduduk di atas dahan pohon sambil mencoba bernapas dengan normal.



“Pertanyaannya ... bagaimana aku harus melaporkan ini?” gumam si beastman yang terbatuk mengeluarkan darah.



***



Asap telah hilang dan Lithia tetap terlelap dalam tidurnya. Luragorn menutup luka-luka dengan kain bersih yang sudah ia cuci sebelumnya. Setelah selesai memberi pertolongan pertama pada lukanya, Luragorn langsung ke tempat Lithia dan mencoba membangunkannya.



“Putri Lithia ...,” ucap Luragorn.



“Tidak~ Ah~ Jangan di situ~” Lithia mengigau sambil mendesah keras.



Luragorn langsung panik dan berpikir bahwa dalam mimpi tersebut, Lithia sedang dicabuli oleh seseorang. Sebagai pelindungnya, sudah sewajarnya Luragorn membantu Lithia keluar dari masalah tersebut.



“Putri Lithia! Bangunlah! Itu hanya mimpi!” teriak Luragorn untuk membangunkan Lithia dari mimpi buruk tersebut.



“Ah~ Lura~” desahan Lithia makin keras



“Putri Lithia. Bangunlah. Itu hanya mimpi,” kata Luragorn dengan wajah datar dan tatapan kosong serta nada agak lemas.



Tidak lama setelah itu, Lithia langsung terbangun menatap Luragorn dan terkejut.



“KYA! Bukannya itu sudah cukup?! Sebagai pengawal, kau tidak sopan sekali!” teriak Lithia sambil menarik selimutnya mencoba menutupi bagian dadanya.



Lithia tiba-tiba tersadar bahwa itu adalah mimpi dan ia baru saja berteriak seperti tadi pada Luragorn. Wajahnya memerah karena malu dan langsung saja ia menyelimuti dirinya.



“Apa yang sudah cukup? Apa yang sudah kulakukan?” batin Luragorn dengan ekspresi datarnya.


“Putri Lithia, ada yang ingin kubicarakan.”



“Tidak! Jangan tanya!”



“Bukan itu, ini tentang yang baru saja terjadi.”



“Itu hanya mimpi! Aku tidak tahu apa yang terjadi!”



“Malam ini, sekarang.”



“Tidak! Jangan!”



“Kita harus pindah.”



Mendadak kesunyian menyelimuti setelah kalimat tadi diucapkan oleh Luragorn. Keduanya hanya terdiam sejenak dan tidak mengatakan kata apa pun selama beberapa saat.



“Lura. Bisa tunggu 20 menit di luar?” tanya Lithia dengan nada datar.



“Baiklah, Putri Lithia.”



Luragorn berjalan keluar gubuk sambil memegang longsword miliknya, berjaga-jaga untuk kemungkinan serangan lanjutan. Berdiri menatap langit cerah berbintang, Luragorn menghembuskan napasnya agak panjang kemudian menyarungkan kembali pedangnya.

__ADS_1


__ADS_2