
Mata biru gelapnya menatap teras menghadap ke arah kota. Seorang pria setinggi 178 cm memakai dublet hitam dengan mantel kerajaan. Rambut hitamnya yang terurai pendek terlihat cocok dengan mahkota emas yang dikenakannya.
"Hooh, begitu kah?" kata Buron tanpa seorang pun di depannya.
"Putri Lithia ingin penyerahan tahta secara damai dan melepaskan Morgan," jawab Kruxy yang berdiri di belakang Buron dan tertutup bayang-bayang.
"Dari mana dia tahu aku hanya mengurung penghianat itu?"
"Itu –"
"Insting yang bagus."
"Tuan?"
"Katakan pada putri itu, hentikan rencana serangannya bersama para binatang itu dan akan kujamin kebebasan Morgan. Tapi ingat, datanglah kemari sebagai persetujuan. Tidak sopan sekali jika tidak bertemu secara langsung,” ujar Buron dengan seringaian di wajahnya.
"Baiklah."
"Dan juga, aku akan memberinya bonus lain," kata Buron menyerahkan secarik kertas pada Kruxy.
***
"Perangkap."
"Jebakan."
"Ini pasti tipuan."
Berbagai respon dilontarkan ketika Kruxy menyampaikan maksud Buron. Fsosa, Flowy, Luragorn, dan Lithia memperhatikan pesan yang dikirim oleh kurir beastman rubah bernama Kruxy ini. Dalam ruangan yang dipenuhi oleh coretan strategi, kelima orang ini berdiskusi tentang tindakan yang harus dilakukan sebelum perang.
"Putri, ini sangat jelas berupa jebakan," kata Luragorn memandang Lithia.
"Kesatria anda benar, nona Lithia," sambung Flowy.
"Kita serang saja dalam sekali serbu. Itu akan menyelesaikannya lebih cepat," tambah Fsosa.
"Aku tahu, tapi paman Morgan ditangkap karena diriku," ucap Lithia agak kebingungan.
"Itu gila, kau hanya bunuh diri jika pergi," balas Fsosa cepat.
"Putri benar, kita tidak perlu mendengar kata-katanya," sambung Flowy lagi.
"Tapi aku tetap ingin pergi," kata Lithia bersih keras membuat semuanya terdiam kemudian menghela napas.
"Dengarkan aku, kau adalah inti dari penyerangan. Kalau kau mati, semuanya tidak berguna," Fsosa berkata dengan nada datar.
"Aku tahu, tapi –"
"Aku yang akan menemaninya," Luragorn memutus kalimat Lithia dan membungkam semuanya.
"Lura! Kenapa kau malah ikut-ikutan? Kau harusnya meyakinkannya,” ujar Fsosa dengan nada tinggi.
"Bahkan jika kita melarangnya," Luragorn memandang Lithia dengan sedikit tersenyum, "kurasa Putri akan tetap pergi. Kalau begitu, dari pada melarangnya, lebih baik menemaninya."
Lithia balik menatap Luragorn dengan senyuman sementara Fsosa menggaruk kepalanya kebingungan dan membuat Flowy tertawa.
"Kalian sama-sama gila. Terserah kalian," ketus Fsosa meninggalkan ruangan diikuti Flowy agak terkekeh di belakang ratu beastman ini.
“Kenapa dia malah dengan senang hatinya mengikuti perintah Lithia? Sudah jelas itu perangkap,” gerutu Fsosa keluar mencari udara segar.
__ADS_1
“Putri Fsosa sangat imut ketika cemburu,” ujar Flowy yang seketika merubah wajah Fsosa menjadi kemerahan.
“Aku tidak cemburu!”
Flowy hanya melempar senyum tipis tanpa sepatah kata pun dan Fsosa langsung berbalik melanjutkan langkahnya untuk berkeliling mencoba menghilangkan rasa stress yang ada.
***
"Maaf membuatmu mengikuti keegoisanku," kata Lithia agak merendah.
"Lagi pula sudah jadi tugasku untuk melindungimu, Putri," jawab Luragorn.
Keduanya sedang menaiki kereta kuda yang telah disediakan oleh Buron. Kereta kuda yang cukup mewah tanpa prajurit yang mengawasi mereka. Luragorn memakai zirah lengkap dengan kain merah sebagai jubahnya, sementara Lithia memakai gaun biru yang anggun.
"Sebenarnya aku tidak terlalu suka warna biru, tapi kalau menghadiri undangan kita harus tetap sopan, hehe," kata Lithia menatap gaun miliknya.
"Putri, aku –"
"Ini bukan salah Lura kok, seleraku saja yang terlalu aneh," sergah Lithia dengan cepat.
"Selera Putri sama sekali tidak aneh."
"Hehe, terima kasih."
Kereta kuda berjalan memasuki kerajaan Midia, kerajaan utama dari ras manusia dengan Buron sebagai rajanya. Masyarakat terlihat melakukan aktivitas masing-masing dengan biasa. Semakin jauh ke dalam, semakin ramai pula orang-orang.
Kereta terus bergerak masuk menuju istana utama dan kelas masyarakat semakin terlihat. Orang-orang berpakaian mewah di sana-sini, begitu pula para beastman yang dijadikan budak. Beberapa beastman tampak sedang dipukuli dan bahkan ada beberapa yang terbaring di jalanan karena kelelahan.
Di Midia, kesenjangan status seperti itu bukanlah pemandangan aneh. Kebijakan raja Buron yang merendahkan ras beastman membuat hal itu menjadi wajar. Budak yang disuruh dan disiksa menjadi lumrah dan tidak ada satu pun masyarakat yang menyangkalnya.
Semakin lama kereta berjalan, semakin dekat pula istana yang dituju oleh dua orang ini. Hanya beberapa meter sebelum sampai di gerbang istana, kereta berhenti dan tiba-tiba terbuka, menampakkan Luragorn dan Lithia yang berada di tengah-tengah kerumunan orang.
Semula para warga hanya diam mengamati kedua orang ini, meneliti dengan saksama bangsawan di dalam kereta terbuka itu.
"Itu si Putri terkutuk!" teriak salah seorang warga yang seketika mengubah suasana menjadi tegang.
Seketika semua orang mengambil batu dan benda-benda kecil yang bisa diangkat kemudian dilemparkan ke arah Lithia. Dengan sigapnya, Luragorn mengangkat tamengnya dan melebarkan jubahnya untuk melindungi Lithia dari serangan yang datang.
"Putri, ini gawat. Kita harus mundur," kata Luragorn cepat.
"Kita harus tetap ke sana," balas Lithia dengan wajahnya yang sangat ambisius itu hingga membungkam ide Luragorn.
Luragorn melindungi Lithia yang berjalan menuju ke gerbang istana. Langkah keduanya cukup yang pasti diikuti oleh protes dan amarah warga dalam wujud benda-benda yang dilempar ke arah mereka.
Setelah sampai di depan gerbang istana, tidak ada yang menyambut mereka selain todongan tombak dari para penjaga. Keduanya menanti di depan gerbang dengan situasi yang sangat tidak di sambut hingga keluarlah Buron dari terasnya memandang Luragorn dan Lithia dari atas kediaman.
"Aku ... tidak ingat punya tamu hari ini," kata Buron tersenyum licik.
"BANGSAT! BERANINYA –"
"Lura! Hentikan!” Lithia mencegah Luragorn menggila, “Tidak apa, Lura. Lagi pula ini salahku karena terlalu percaya," kata Lithia memutus teriakan Luragorn dengan suaranya yang datar dan senyumannya yang dipaksa. "Maaf membuatmu ikut terlibat."
Helaan napas panjang dikeluarkan Luragorn sambil menggenggam erat pegangan tameng miliknya. Dada Luragorn terasa sangat panas akan amarah seakan ia ingin membunuh semua orang yang ada di situ saat itu juga.
"Siapa pun, siapa pun yang membuat putri Lithia sedih," mata Luragorn memandang tajam.
Seseorang tiba-tiba turun dari atas dengan cepat dan berdiri tepat di depan Luragorn dan Lithia. Seorang wanita hampir setinggi Luragorn dengan jubah dan tudung putih sebagai penutup tubuh. Wanita itu tersenyum ketika melihat ke arah Luragorn dan Lithia.
"Untunglah tepat waktu," kata wanita itu.
__ADS_1
"Siapa kau?! Apa kau juga akan menyakiti Putri Lithia!" teriak Luragorn dengan nada penuh amarah.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan," balas wanita itu yang seketika memegang dada Luragorn dan Lithia.
Segera setelah itu, sebuah lingkaran sihir bewarna putih terang tercipta tepat di bekas dada yang disentuh wanita itu.
*WHOOOOOOOOSSS!!!
Luragorn dan Lithia tiba-tiba terdorong menjauh dari wilayah istana dengan sangat cepat hingga beberapa ratus meter jauhnya. Luragorn yang terlempar ini langsung saja memeluk Lithia dengan erat untuk meredam kejatuhan agar Lithia tidak terluka.
*BHRUK!
Keduanya menambrak tanah dengan punggung Luragorn sebagai peredam gesekan. Sekitar satu km jauhnya hinga membuat Luragorn dan Lithia terkejut.
Tidak lama setelah mereka berdua mendarat, sebuah kubah hijau agak transparan tiba-tiba muncul melingkupi wilayah istana hingga radius satu km, hanya beberapa langkah saja dari jarak Luragorn dan Lithia mendarat.
"Apa itu?" tanya Luragorn memandang ke arah kubah tersebut.
Terlihat pola geometri dan rapalan di dinding kubah membuat Lithia yakin bahwa itu adalah sihir skala besar. Hanya beberapa saat setelah itu, Fsosa dan rombongan prajurit siap tempur datang.
"Sudah kuduga ini pasti jebakan, apa itu?" tanya Fsosa di atas griffon tunggangannya.
"Aku tidak tahu, tapi itu melingkupi seluruh istana," jawab Lithia cepat.
"To ... to ... tolong ...," kata seorang warga di dalam kubah yang merangkak penuh kesulitan.
Tiba-tiba saja orang itu terbaring lemas dan sesuatu berwarna putih agak transparan keluar dari tubuhnya. Tersedot keluar membentuk tali putih panjang yang berujung di puncak kubah membentuk muara besar. Bukan hanya satu tali putih panjang, melainkan ribuan tali putih terbentang dari para waga yang tidak sadarkan diri.
"Jiwa mereka terhisap perlahan ke atas kubah," kata Lithia panik.
"SERANG!" Seru Fsosa memerintahkan pasukannya melubangi kubah tersebut.
Serangan dari berbagai beastman dalam wujud [pelepasan kebuasan] seakan tidak berpengaruh apa-apa. Kubah energi sihir itu sangat keras untuk menahan ribuan serangan para beastman sekaligus.
Lithia dan Fsosa hanya berdiri di kejauhan memperhatikan usaha sia-sia dengan wajah tidak puas.
"Ck, aku tidak menyangka mereka akan membuat pelindung sebesar itu," kata Fsosa menggigit kuku jempol tangannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" gumam Lithia bertanya.
"Sudah kuduga anak-anak seperti kalian tidak tahu apa pun soal perang," kata Izot berjalan mendekati kedua perempuan ini.
"Kakek, ini bukan saatnya berceramah," ketus Fsosa cepat.
"Memang bukan. Fsosa, kau masih jauh untuk menjadi komandan perang. Karena perang bukan sekedar taktik serang sederhana. Dan Lithia, cobalah untuk menjadi seperti kakekmu. Semua ada jalannya jika kau membuka matamu dengan saksama," lanjut Izot.
"Apa yang kakek bicarakan?" tanya Fsosa cepat.
Bayangan besar tiba-tiba menutup cahaya matahari membuat semua menatap ke langit. Selusin balon udara besi raksasa datang dan menghalangi sinar matahari, membuat semua orang terkejut.
"Izot! Kau berhutang padaku!"
Suara besar dari pengeras suara keluar dari salah satu balon udara dan membuat Izot tersenyum lebar.
"D ... D ... D ... Dwarf?" Tanya Fsosa terbata menatap langit.
"Ras Dwarf? Ras yang sangat maju dalam teknolgi," gumam Lithia termenung.
__ADS_1