Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 12


__ADS_3

Lusy terbangun kaget dengan mata terbuka lebar mendapati dirinya sedang terbaring di atas kasur. Beberapa orang tampak mengelilinginya dengan ekspresi khawatir. Perempuan pemilik guild East Wing ini langsung berdiri dari tempat tidurnya dan mendapati dirinya hanya memakai tunik putih dan celana nilon biasa.



“Ketua tidak apa?”



“Masih sakit?”



Pertanyaan-pertanyaan tentu saja bermunculan dari mulut petualang yang berada di ruang rawat tersebut, tetapi Lusy hanya bergumam pelan lalu menghimbau untuk kembali ke keseharian mereka.



Lusy tidak membuang waktu dan mencari orang yang harusnya ia bunuh. Jika Lusy tidak sadarkan diri dan dibawa ke ruang perawatan, maka harusnya begitu pula Lithia dan Luragorn.



Langkah Lusy terhenti di sebuah kamar lainnya yang kedengarannya cukup ramai. Di balik pintu tertutup yang membatasi Lusy, ia yakin orang di dalamnya adalah Lithia yang sepertinya telah sadarkan diri.



“Pantas saja hebat, ternyata ketua guild. Lusy ternyata hebat sekali.”



Pujian dari ruang tersebut menghentikan tangan Lusy yang baru saja menyentuh gagang pintu. Itu adalah suara Lithia yang sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang yang pastinya termasuk anggota guild.



Bermula dari perbincangan ringan, kemudian beralih ke arah yang lebih pribadi. Lusy mengurungkan niatnya sementara lalu memutuskan untuk mendengarkan alur perbincangan itu dari luar ruangan. Berdiri di samping pintu, Lusy menyilangkan lengannya sambil memasang telinganya menguping keadaan.



“Lusy itu sepertinya orang yang baik.”



Perkataan dari Lithia itu tiba-tiba mengambil perhatian Lusy secara penuh. Perempuan bertunik putih itu semakin focus dalam mendengarkan perbincangan yang ada. Semakin ia dengarkan, semakin ia mendapati kenyataan yang agak berbeda dari yang ia harusnya tahu.



“Bukannya kau dengan satu orang pria yang berhasil melawan ketua Lusy?”



“Ah … itu …. Hehe.”



“Kenapa tertawa sih? Kau kan berhasil. Artinya kau hebat.”



“Itu bukan aku, itu adalah Lura. Dia yang melakukan duelnya.”



“Tapi kau juga ikut kan? Hebat, hebat sekali.”


__ADS_1


“Aku sebenarnya tidak banyak berperan. Kalian berlebihan.”



“Bagaimana menurutmu tentang ketua Lusy?”



“Lusy adalah kesatria sejati. Dia memiliki kekuatan, emosi, dan pengamatan yang hebat. Tapi terutama kekuatan.”



“Hahaha, kau benar, kau benar. Ketua Lusy memang kuat seperti monster. Hahaha.”



Lithia terdengar sangat ceria bercerita dan begitu terbuka, begitu pula dengan tutur katanya yang begitu blak-blakan apa adanya.



“Hanya karena masyarakat … membenci keluarganya …, kau ingin mengatakan Putri Lithia adalah orang jahat?”



Lusy teringat kembali dengan perkataan Luragorn sebelumnya. Kalimat itu tiba-tiba muncul dan terngiang untuk beberapa saat hingga Lusy mulai mempertanyakan tindakannya sendiri. Lusy menghela napas panjang kemudian membulatkan keputusannya.



“Oh iya, hampir lupa. Namamu siapa?”



Pertanyaan dari salah seorang petualang membuat Lithia terdiam. Dia tidak mungkin memberitahukan Namanya secara terang-terangan atau dia akan mendapat masalah besar. Lithia berusaha berpikir untuk mengarang nama yang cocok secepat yang ia bisa tapi tatapan dari beberapa petualang membuatnya tergugup hingga tidak bisa berpikir.




Pertanyaan singkat itu mengambil perhatian semua yang ada di ruangan termasuk Lithia sendiri. Itu adalah Lusy yang tiba-tiba masuk tanpa peringatan.



“Bisa kalian keluar dulu? Kembali ke tugas kalian. Aku ingin berbicara dengan Lily,” kata Lusy menyuruh para petualang untuk keluar ruangan.



***



“Jadi, apa kau akan melakukannya sekarang?” tanya Lithia duduk pasrah dengan nasibnya.



“Kenapa kau tegang sekali?” balas Lusy bertanya.



“Kau membenciku kan?”



“Memang sih. Keluarga Luxorn dan Rugborth yang menyebabkan kutukan terhadap benua Midfraz.

__ADS_1



Mendengar nama keluarga dan kakeknya yang difitnah membuat Lithia tertunduk sambil menggigit bibir bawahnya mencoba menahan kekesalan. Rasanya ia ingin sekali membalas, tetapi situasi mengatakan bahwa Lithia lebih baik mendengarkan saja ketimbang melawan seseorang yang terkuat di guild East Wing.



“Sayangnya aku sepertinya ingin menunda keputusanku.”



Pernyataan itu langsung mengejutkan Lithia, “Apa maksudmu?”



“Tidak ada. Kurasa aku hanya penasaran kau itu sebenarnya seperti apa? Dan apa kau bersalah atau tidak? Mungkin itu.”



“Kenapa?”



“Kenapa? Entahlah. Mungkin karena kesatria kesayanganmu itu berhasil meyakinkanku.”



“Lura meyakinkanmu?”



Pintu tiba-tiba terbuka dan tampaklah Luragorn yang diselimuti banyak perban dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Lithia membelalak melihat Luragorn yang sudah bisa berdiri setelah semua yang terjadi. Lusy hanya tersenyum tipis dan tidak mengatakan apa-apa sementara Luragorn langsung melangkah masuk dengan segera. Tanpa menunggu aba-aba, Luragorn langsung memeluk Lithia dengan erat.



“K … k … kau kenapa Lura?” tanya Lithia terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu.



“Aku senang. Putri tidak apa-apa,” kata Luragorn agak terisak dan membuat Lithia agak memerah karena malu saat menyadari Lusy yang memandangnya sambil tersenyum tipis.



“Sudah, sudah. Tidak apa, lepaskan. Memalukan sekali kau,” balas Lithia mencoba menenangkan Luragorn yang sepertinya tidak ingin melepaskan pelukannya.



Setelah beberapa saat setelah melepas kekhawatirannya, Luragorn tiba-tiba tersadar bahwa Lusy juga berada dalam ruangan tersebut.



“Apa maumu?” tanya Luragorn dalam posisi waspada melindungi Lithia.



“Wow, harus kuakui kau sangat hebat bisa sembuh secepat itu, tetapi aku tidak ingin mencari masalah di sini,” kata Lusy yang kemudian melempar sebuah lencana berbentuk tameng bersayap dengan dua pedang saling menyilang di atas tameng tersebut.



Lithia menangkap lencana tersebut sambil keheranan, “Apa ini?”



“Mulai sekarang, namamu adalah Lily. Selamat bergabung di East Wing. Kalian berdua,” kata Lusy dengan senyuman lebar penuh keyakinan.

__ADS_1


__ADS_2