
Hutan rindang dengan beberapa pohon beri tersebar. Beri hitam legam yang menyebar pada satu tangkai menjadi buah incaran seorang gadis berambut biru laut ini.
Tunik putihnya tampak bersih tanpa noda di saat ia memetik buah itu dan memasukkannya ke dalam keranjang buah. Celana coklat menjadi pilihan perempuan ini demi keluesannya mengambil buah yang ada.
Cahaya matahari yang tidak terlalu terang serta sinar yang hangat menjadi penemani yang cocok untuk keadaan hutan yang agak sepi ini.
“Hmn ... sepertinya makan malam kali ini–”
*Trak
Suara ranting kayu yang patah terdengar yang sontak membuat Libi waspada memperhatikan sekitarnya.
“Halo?” tanya Libi dengan jantungnya yang berdetak kencang sekali.
“Ada orang di sana?” tanya Libi sekali lagi di saat ia merasakan tenggorokannya mengering.
“Siapa pun kau, keluarlah,” kata Libi terus memperhatikan sekitar.
Pandangan Libi tiba-tiba terhenti melihat seseorang berjubah hitam hingga menutupi semua bagian. Bahkan wajah atau pun lengan tak terlihat di penglihatan Libi. Seseorang berjubah hitam polos dengan beberapa garis berwarna ungu memutari permukaan jubah itu.
“Siapa–”
Belum sempat Libi bertanya, kesadaran gadis ini mendadak lenyap dan pandangannya seketika memudar dikala keseimbangannya perlahan menghilang.
***
Hawa dingin dengan perasaan yang tidak nyaman adalah hal yang menyambut Libi ketika ia baru sadarkan diri. Perlahan Libi membuka matanya kemudian ia terkejut sekaligus ketakutan.
Tubuhnya terbaring di atas meja batu yang cukup besar, kedua tangan dan kakinya dirantai dan saling direntangkan. Libi tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya setelah pingsan sebelumnya. Yang ia ingat hanyalah seorang berjubah hitam tanpa wajah yang menatapnya.
Ruangan gelap dan agak lembab membuat bulu kuduk Libi berdiri. Langit-langit tinggi dengan tekstur kasar membangkitkan kepanikan Libi bahwa ia berada di dalam sebuah gua. Hanya ada beberapa batu api yang menjadi penerang penglihatan, tetapi tidak cukup untuk memberikan penerangan total.
Setelah beberapa saat membiasakan diri, akhirnya Libi bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar. Beberapa tengkorak manusia berjejer di pojokan ruang. Terdapat sebuah penjara besar berisi beberapa manusia yang nampak putus asa dengan rantai di kaki mereka. Sebuah meja batu panjang dengan beberapa botol cairan berwarna-warni serta jimat-jimat yang berbentuk dan mengerikan.
Bibir Libi perlahan memucat ketika ia sadar tepat di atasnya, sebuah lingkaran sihir dengan rapalan mantra tertulis tepat di permukaan langit-langit gua. Gadis berambut biru ini menjadi lebih takut dan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin di saat jantungnya memompa hebat dan napasnya memburu cepat.
Tidak lama setelah Libi menyadari situasinya, seorang berjubah hitam datang mendekati Libi yang membuat Libi menutup matanya rapat-rapat. Tanpa suara, orang ini mengalungkan sebuah jimat di leher Libi.
Libi merasakan sentuhan kasar dan dingin di permukaan kulitnya yang halus. Libi mengintip sedikit untuk melihat rupa orang tersebut yang sontak membelalakkan kedua matanya.
Kepala hanya tengkorak putih tanpa kulit sedikit pun. Jari-jemari yang menyentuh Libi hanyalah tulang yang juga tanpa lapisan kulit. Lubang matanya mengeluarkan cahaya ungu terang seolah ada api ungu berpijar di dalam tengkoraknya. Di lehernya yang tulang itu, melingkar sebuah kalung yang terdiri dari kumpulan tengkorak kecil yang juga bercahaya ungu pada bagian matanya.
__ADS_1
“Ssssstttthhhh ... diam dan tenanglah,” kata si tengkorak yang membuat Libi tak kuasa menahan air matanya mengalir.
Tengkorak berjubah itu kemudian memaksa Libi meminum sebuah ramuan berwarna kuning terang sambil merapal sebuah mantra. Libi hanya bisa pasrah di saat cairan aneh masuk ke tenggorokannya. Satu-satunya yang bisa dilakukan tubuhnya adalah menangis karena seluruh pergerakannya telah dibatasi dan entah mengapa suaranya tidak keluar sama sekali.
Lingkaran sihir di atas Libi tiba-tiba bersinar terang, begitu pula jimat yang melingkar di leher gadis ini. Tubuh Libi seakan bereaksi aneh dan si tengkorak berjubah tampak tertawa di saat cahaya ungu dari lingkaran sihir menyinari Libi.
Rasa sakit menjalar di seluruh bagian tubuh hingga membuat Libi berteriak meski tidak ada suara yang keluar. Gadis ini meronta meski kedua kaki dan lengannya telah dibelenggu. Pandangan Libi mengabur dan kesadarannya perlahan menghilang. Hanya dalam hitungan detik, perlawanan Libi berakhir dan gadis ini kembali tidak sadarkan diri.
Si tengkorak berjubah mendekat menyentuh wajah Libi sambil memperhatikan dengan saksama.
“Hmn ... kurasa bukan ini juga,” kata si tengkorak.
Ia berbalik dan membuka sebuah buku tua dengan sampul yang tidak kalah mengerikan. Di saat si tengkorak membalik halaman demi mencari sesuatu, bayangan hitam tiba-tiba menutupi cahaya yang menyinari buku tersebut.
Si tengkorak berbalik cepat dan melihat sebuah cakaran melesat ke arahnya.
*Krak!
Kuku patah di saat sebuah energi sihir menyelimuti si manusia tengkorak. Sesosok makhluk berbentuk beastman serigala hitam berdiri dengan kedua kakinya. Bukan dalam mode beastman normal melainkan dalam mode [pelepasan kebuasan].
Si werewolf tiba-tiba meloncat menjauh kemudian pergi melarikan diri sementara si manusia tengkorak hanya tertawa lepas membiarkan Libi lari dengan wujud werewolf nya.
***
Rumah kayu sederhana di samping padang rumput luas dan juga pepohonan, nampak normal, sangat normal. Seorang bocah laki-laki duduk memojok di sudut ruangan sedang meringkuk dan menangis.
*Klak~
Seseorang masuk setelah membuka kenop pintu dengan santai. Orang itu tidak lain adalah Libi dengan pakaian compang-camping. Tuniknya sobek di beberapa bagian, begitu pula celananya yang terpotong hingga bagian lutut. Tanah dan ranting serta beberapa dedaunan menempel pada Libi yang berdiri dengan santainya.
“Ruhif, maaf–”
Ruhif langsung memeluk kakaknya dengan erat tanpa berbicara sepatah kata pun. Sedikit isakan yang terdengar oleh Libi membuat gadis ini tersenyum tipis.
“Aku pulang. Maaf membuatmu menunggu.”
Setelah beberapa lama, akhirnya Ruhif melepaskan pelukannya dan Libi berbicara pada bocah laki-laki ini untuk rencana kepindahan mereka.
Ruhif menyetujui saran kakaknya ini kemudian bersiap-siap. Kedua bersaudara tersebut melanjutkan keseharian mereka hingga malam tiba.
__ADS_1
Khawatir akan kondisi kakaknya, Ruhif memasak menggantikan Libi. Bocah laki-laki ini membuat sup kentang manis dengan tambahan roti sebagai makan malam.
“Ruhif, besok pagi-pagi sekali, kakak akan pergi ke kota mencari petualang untuk mengawal. Hati-hati ya. Kau tahu di mana tempat bersembunyi, kan?” tanya Libi yang mendapat reaksi anggukan dari Ruhif.
Keduanya memakan masakan tersebut dengan lahap meski tampak sangat sederhana. Setelah makan, Libi merasakan gejolak aneh dalam tubuhnya lalu memutuskan untuk tidur lebih cepat.
“Kakak tidak apa?” tanya Ruhif khawatir.
“Tidak, kakak hanya sedikit lelah,” jawab Libi.
Libi berjalan ke kamarnya dengan agak sempoyongan. Keringat membanjiri pori-pori akibat suhu tubuhnya yang meningkat drastis, mempercepat denyut jantung gadis berambut biru ini. Pandangannya agak goyah sebelum akhirnya ia menjatuhkan diri di atas kasurnya yang nyaman.
Berusaha untuk mengatur napas yang berat meski paru-parunya bekerja lebih keras dari yang diinginkan. Plafon bergoyang dan ruangan terpelintir, membuat mual pada bagian lambung yang mendorong Libi untuk menutup matanya dan melupakan segalanya.
***
Setelah beberapa lama tertidur, Libi terbangun dengan membuka mata perlahan. Di hadapannya terlihat Ruhif memojok ketakutan.
“Kakak! Kakak! Kakak Libi! Ada ... M ... m ... monster!” teriak Ruhif.
“Monster? Di mana? Kakak di sini. Di mana–” batin Libi yang terputus tiba-tiba.
Libi seketika terdiam ketika hendak memajukan tangannya ke arah Ruhif. Sebuah lengan besar juga ditumbuhi rambut hitam lebat terlihat di pandangan. Libi menggerakkan tangannya dan lengan hitam itu bergerak sesuai arahan Libi.
Libi mundur kemudian mencari cermin di ruangan itu. Gadis ini terkejut melihat rupanya yang tampak seperti beastman serigala hitam. Ia berbalik melihat ke arah Ruhif yang ternyata gemetaran sambil memegangi sebuah sendok besi.
“M ... m ... m ... monster,” kata Ruhif dengan matanya yang berkaca.
“Apa ... yang –.,” batin Libi memperhatikan seluruh anggota tubuhnya.
Kesadaran Libi kembali memudar dan gadis ini bersegera keluar dari rumah. Ia meloncat keluar kemudian bergegas berlari ke hutan sesegera mungkin dan secepat mungkin selama ia masih punya kesadaran.
Malam yang gelap tanpa penerangan, menelan pikiran Libi sesaat. Ia berlari ke arah kubangan air lalu melihat ke arah refleksi air tersebut, menampakkan wajah serigala yang sangat buas.
“Apa ... apa yang sudah terjadi padaku?” batin Libi sambil gemetaran.
Perempuan ini bersandar ke salah satu pohon dengan air mata yang mengalir. Hanya duduk termenung di tengah hutan gelap tanpa seorang pun bahkan seekor hewan pun di jarak pandang.
“Apa yang terjadi padaku?”
__ADS_1