
Tirai putih berkibar ditiup angin di siang hari yang panas. Seorang gadis duduk meluruskan kakinya di atas kasur dengan beberapa perban melilit tubuhnya. Tunik putih bersih yang dikenakannya menjadi pakaian gadis berambut biru ini. Kain putih tebal menyelimuti gadis yang menatap jendela sedari tadi.
Ruangan kecil berbahan kayu diisi dengan sebuah kasur, kursi, dan meja yang di atasnya berjejer beberapa botol obat.
“Kakak ...,” kata seorang bocah laki-laki yang ditemani oleh dua orang petualang.
Bocah itu adalah Ruhif yang dikawal oleh Luragorn dan Lithia, di mana mereka bertiga sedang mengunjungi Libi yang masih di atas kasurnya. Libi berbalik dan menatap Ruhif kemudian melemparkan senyuman pada adik laki-lakinya ini.
Ruhif langsung berlari mendekat lalu melompat ke arah kakaknya ini. Lithia ikut masuk ke dalam ruangan sementara Luragorn bersandar di samping pintu sambil menyilangkan kedua lengannya tanpa ekspresi yang berarti.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Lithia dengan ramah.
“Sudah agak baikan,” jawab Libi sambil mengusap-usap kepala Ruhif dengan senyuman tipis di wajah, “yap, aku tidak apa-apa.”
“Maksudku kalung itu,” kata Lithia menatap sebuah kalung besi di leher Libi.
Kalung besi selebar lima cm dengan sejumlah rapalan melingkari leher gadis bermata biru laut ini. Tangannya yang kecil itu kemudian memegang permukaan kalung tersebut sambil menghela napas.
***
Malam yang gelap diterangi oleh bola energi besar yang tercipta dari beberapa petualang kelas Mage. Seluruh pendeta yang telah merapal segel tadi terbaring dengan kondisi memprihatinkan, membuat seluruh petualang dan prajurit segera mengobati mereka. Termasuk Lithia yang ikut dalam perapalan tersebut, bahkan Lithia yang sebenarnya paling kritis kondisinya.
Keringat dingin, napas tidak keruan, darah mengalir dari mulut, membuat Luragorn berlutut gemetaran di saat tangan besarnya meyentuh wajah perempuan berambut merah ini.
“Medis! Seseorang! Tolong!” teriak Luragorn.
Seorang Mage bermantel biru datang dan segera memberikan pertolongan pada Lithia. Mantra dirapalkan di saat kedua tangannya dimajukan ke arah Lithia. Lithia seketika diselimuti oleh cahaya biru terang.
Luragorn dengan cepat menggenggam tangan Lithia yang terasa sangat dingin itu. Keringat mengucur di saat Luragorn terus menatap wajah Lithia yang seakan tersiksa. Genggamannya sangat erat dikala Lithia perlahan diobati oleh si mage.
Di tempat lain, Lusy mengamati seluruh prajurit dan petualang yang terbaring lelah setelah bertarung melawan werewolf. Semuanya dirawat oleh petualang yang bertugas mengobati. Lain halnya dengan Lusy, perempuan berpakaian terbuka ini tampak biasa saja dan bahkan napasnya terdengar normal-normal saja. Lusy mendekat ke pusat kekacauan dan mendapati Libi yang terbaring tidak mengenakan sehelai kain pun.
“Panggil semua dokter yang bisa membantu, bawakan juga sebuah pakaian untuk gadis ini,” kata Lusy memberi perintah lanjutan.
__ADS_1
“Tapi, nona Lusy–”
“Cepat!”
Teriakan Lusy mendiamkan prajurit yang mencoba mempertanyakan keputusan perempuan dengan gauntlet ini. Lusy mengamati Libi yang tampak terluka parah dengan banyak memar di sekujur tubuhnya.
Tidak lama setelah itu, Lusy terkejut di saat melihat luka-luka Libi tertutup cepat padahal masih dalam wujud manusianya.
“Jet! Lemparkan aku itu sekarang!” teriak Lusy dengan panik.
Seorang assasin langsung melemparkan sebuah kalung besi kepada Lusy dan tanpa menunggu lagi, Lusy memasangkannya pada Libi dengan cepat. Kalung besi dengan rapalan mantra di atas permukaannya, dilingkarkan di leher mungil Libi yang tampak tidak berdaya. Seketika setelah itu, tubuh Libi berhenti meregenerasi diikuti Lusy yang menelan ludahnya.
“Benar-benar berbahaya. Kutukan yang sangat kuat. Untunglah aku masih menyimpan benda ini,” batin Lusy menatap Libi. “Tapi, siapa orang yang membuat anak ini menderita?”
***
Libi memegang kalung besi di lehernya sambil menatap Ruhif yang masih memeluknya.
“Syukurlah nona Lusy bisa menolongku,” batin Libi tersenyum tipis.
***
“Tidak boleh!”
Tolakan keras oleh seorang pria gemuk di ruangannya yang besar. Ruangan besar dengan tembok dan lantai batu yang tampak mewah. Berisikan lemari besar dipenuhi berkas-berkas serta beberapa hiasan dinding yang bernilai sangat mahal.
Di dalam ruangan tersebut, hanya ada dua orang yang saling berhadapan. Salah satunya adalah seorang pria gemuk denga wajah bulatnya. Doublet hijau bermotif tanaman dikenakan di atas tubuh besarnya. Duduk di atas kursi mewah, mata bulat agak sipit itu memandang Lusy dengan tatapan sinisnya.
Lusy yang mengenakan tunik cokelat dan celana panjang hitam tampak sangat sopan, mengingat lawan bicaranya adalah orang yang bertanggung jawab atas kota Riy.
“Tidak boleh! Jika raja mengetahuinya, aku akan mati,” kata si pria gemuk.
Lusy langsung meletakkan sekantung besar keping emas di atas meja yang sontak membungkam si pria gemuk. Matanya terbuka lebar melihat kilauan emas bersinar di hadapannya.
__ADS_1
“B ... b ... b ... baiklah, akan kuanggap kau bisa merawatnya,” kata si pria gemuk sambil mengambil kantung berisi kepingan emas tadi sembari menelan ludahnya.
“Terima kasih,” balas Lusy.
“Tapi jika pihak kerajaan mencari tahu, jangan salahkan aku,” sambungnya.
“Tentu, tentu. Anda sungguh perhatian,” kata Lusy sambil memasang senyuman ceria. “Terima kasih sekali lagi atas kerja samanya pak.”
Lusy melangkah keluar dari ruangan tersebut sambil terus berpikir ketika berjalan melewati lorong sepi dengan penjaga yang hanya berjumlah tiga sampai lima orang.
“Sekarang, aku bisa menjaminnya, tapi bagaimana bisa seseorang membuat kutukan sekuat itu? Bahkan di kerajaan Butbur, aku belum pernah melihat seseorang bisa membuat hal seperti–”
Lusy terhenti seketika dan matanya membelalak lebar.
“Bukan manusia? Berarti –,” Lusy menatap langit biru berawan, “Fairy? Ataukah Undead?”
***
“Terima kasih telah menolongku,” kata Libi berbincang pada Lithia.
“Tidak, tidak apa. Lagi pula itu sudah menjadi tugas kami,” balas Lithia tanggap.
“Setidaknya aku harus berterima kasih sebelum ....”
Semuanya terdiam dan memasang wajah suram kecuali Ruhif. Libi adalah korban, tidak ada yang bisa mengubah fakta itu. Namun fakta bahwa dia telah merusak banyak bangunan dan melukai banyak orang termasuk warga sipil juga prajurit, membuat Libi tidak bisa lari dari hukum. Yaitu hukuman mati.
“Hai~” kata Lusy masuk dengan wajah ceria. “Kenapa kalian semua cemberut?”
Semuanya tidak menjawab, membuat Ruhif penasaran dan memaksa Lusy menghela napas panjang.
“Tidak ada yang dieksekusi.”
Kalimat singkat itu menarik perhatian Libi, Lithia, dan Luragorn. Semuanya menatap Lusy dengan tidak percaya.
__ADS_1
“Kenapa? Karena Libi sekarang adalah anggota East Wing,” ucap Lusy mengedipkan sebelah matanya pada Libi.