Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 25


__ADS_3

Air beriak tenang di sebuah kolam besar. Kolam alami yang dikelilingi dinding batu dan juga papan kayu dipasang memutari sekitar kolam. Seluas sepuluh meter persegi, kolam air hangat itu diisi oleh seorang pria berbadan kekar dengan beberapa luka tergores di dadanya yang bidang juga pada perutnya yang berotot.



Rambut hitam pendeknya terurai ke bawah setelah mendapat siraman beberapa kali. Menetes perlahan di saat pria bernama Luragorn ini memutuskan untuk bersandar di tembok kayu di belakangnya.



“Bagaimana airnya, put–, Lily?” tanya Luragorn memandang langit-langit tanpa atap yang melapisi tempat pemandian tersebut.



Di sebelah kolam air panas Luragorn, terdapat kolam yang juga sama dengan jejeran papan kayu sebagai pembatasnya. Hanya terdapat seorang perempuan di kolam itu, seorang perempuan berambut merah sedang membasuh permukaan kulitnya yang putih mulus secara perlahan.



“Iya, airnya sangat bagus. Mungkin kita harus lebih sering datang kemari,” balas Lithia dengan sigap.



Langit gelap berbintang tidak cukup menyinari tempat mereka. Terima kasih berkat beberapa batu api berukuran sedang yang diletakkan di beberapa sisi tembok, menerangi pandangan sekitarnya.



***



Langkah kaki terdengar dengan irama yang santai. Kedua petualang baru saja keluar dari sebuah tempat pemandian air panas. Seorang warrior dengan tunik hitam dan pedang perak beserta mage dengan jubah merah dan tongkat sihir berujung kristal merah.



Luragorn dan Lithia berjalan menuju pemukiman. Kedua petualang ini baru saja menyelesaikan sebuah misi dan masih berada di luar wilayah kerajaan Reymin, tetapi masih dekat dari lokasi gerbang timur laut Reymin. Berjarak hanya beberapa jam dari perbatasan Reymin, membuat Luragorn dan Lithia cukup tenang dengan keadaan mereka. Rerumputan menari perlahan dikala angin malam bertiup lembut.



Luragorn seketika berhenti kemudian memegang gagang pedangnya sementara Lithia langsung menggenggam tongkatnya erat. Jarak ke wilayah perkampungan tidak jauh, tetapi kegelapan malam mengurangi jarak pandang keduanya.



“Ignis!”



Lingkaran sihir terbentuk di saat Lithia mengangkat dan mengarahkan ujung tongkatnya ke langit. Kobaran api agak besar tercipta di atas lingkaran terang berwarna merah itu, memberi penerangan lebih sejauh sepuluh meter ke depan.



Tidak ada siapa pun di jarak pandang mereka, tetapi Lithia merasakan keganjilan sedang terjadi. Tidak ada apa pun di jarak pendengaran mereka, tetapi Luragorn merasakan hawa membunuh yang agak samar.



“Flore!”



Kobaran api di ujung tongkat Lithia tiba-tiba menyebar ke enam belas arah mata angin, meninggalkan kobaran api kecil dan menerangi area yang dilewatinya. Gerombolan beastman berambut hitam memutari mereka dengan jarak yang tidak aman.



Luragorn sontak menarik pedangnya lalu menggenggamnya dengan kedua tangan, begitu pula Lithia melakukan hal yang sama terhadap tongkat sihirnya. Keduanya saling membelakangi untuk melindungi punggung masing-masing.



Terlalu gelap untuk menghitung para beastman, tetapi satu hal yang pasti adalah mereka semua dalam mode [pelepasan kebuasan].



“Putri, hanya sekitar seratus meter lagi sampai pemukiman,” bisik Luragorn mengawasi sekitar sambil mengangkat pedangnya menghadap ke atas.



“Jangan, mereka akan membunuh para warga sipil yang tidak bersalah,” balas Lithia yang kemudian menelan ludahnya.


__ADS_1


Di kejauhan terdapat seorang beastman serigala dengan rambut putih di sekujur tubuh. Tingginya sekitar 170 cm dan terdapat luka goresan panjang di moncongnya.



“Jadi, Mereka yang disebut [Beast Hunt]?” gumam si beastman serigala putih.



“Kapten, bagaimana? Apa kita bunuh saja?” tanya salah seorang beastman serigala berambut hitam.



“Ya. Bunuh saja. Keberadaan mereka sepertinya mengancam,” jawab si beastman serigala putih.



Hanya memakai tunik biasa serta celana pendek, semua beastman berpakaian sederhana meski rambut di tubuh mereka menutupi kulit. Tidak ada satu pun senjata yang dibawa selain fisik mereka sendiri. Taring tajam dan kuku panjang siap digunakan. Semua beastman serigala sontak menyerang Luragorn dan Lithia setelah mendapat arahan untuk mengeksekusi.



Para beastman berlari mendekati, begitu pula Luragorn dan Lithia bersiap menyerang. Lithia mengangkat tongkatnya yang di ujungnya masih berpijar kobaran api kecil di atas lingkaran sihir berwarna merah.



Lithia mengarahkan ujung tongkat sihirnya bergerak secara horizntal dari kanan ke kiri hingga meninggalkan jejak bara api yang mengambang di udara. Lithia kemudian mendorong goresan api itu ke depan menggunakan satu tangan hingga goresan api tersebut bergerak cepat ke depan seperti bekas tebasan pedang.



Lithia mengulang gerakannya dengan cepat berkali-kali. Tarikan garis dari ujung atas ke bawah dan sebaliknya, tarikan garis dari ujung kiri ke kanan dan sebaliknya, secara miring atau pun lurus. Semua garis api itu tercipta cepat dan begitu pula Lithia mendorong goresan api tersebut tepat setelah goresan api tercipta.



5 ... 10 ... 15 ... 20 ... dan terus bertambah. Lithia terus melakukan gerakan yang sama secara intensif. Terkadang ia mengganti tangannya, terkadang pula ia mendorong garis api itu dengan ujung bawah tongkatnya.



Layaknya tebasan yang memotong udara, kesemuanya bergerak cepat ke depan ke arah para beastman yang datang ke arah Lithia. Beberapa beastman terbakar tubuhnya, beberapa hanya terbakar di bagian kaki atau pun lengan, dan beberapa ada yang berhasil menghindar.




Luragorn meloncat cepat ketika ada beastman yan menerjang dari samping, menghindar kemudian melakukan tendakan berputar hingga menghantamkan punggung sabaton miliknya ke kepala beastman yang datang.



Luragorn menghentakkan salah satu kakinya di atas kepala beastman kemudian menerjang maju. Satu beastman mencoba mencakarnya, tetapi Luragorn menangkisnya dengan gauntlet milinya kemudian melakukan tebasan cepat ke arah dada hingga kucuran darah membasahi udara.



Segera Luragorn mundur dengan melompat sambil melakukan salto belakang menghindari terkaman para beastman yang datang bertubi-tubi. Tepat ketika Luragorn melakukan salto yang kelima kalinya, beberapa beastman menyerang dan sontak membuat Luragorn menangkisnya dengan tangan kirinya.



Luragorn menepis cepat kemudian melakukan tebasan ke arah salah satu beastman lalu berotasi di udara dan menendang salah satu beastman tepat di kepalanya. Luragorn kemudian mendarat dan melompat ke belakang seketika hingga punggungnya bertemu dengan punggung Lithia.



Lithia memutar tongkatnya kemudian memukulkan ujung bawah tongkat sihirnya ke tanah, membuat lingkaran sihir merah yang melingkupi pijakan kedua petualang ini. Lingkaran sihir merah ini pun membesar dan melebar hingga radius tujuh meter di sekitar Luragorn dan Lithia.



Beberapa beastman yang menginjak lingkaran sihir itu kemudian melompat mundur sedangkan beberapa lagi tetap maju. Kobaran pilar api membakar ke atas dengan tinggi seketika, menghanguskan mereka yang mendekat sementara bagian tengahnya yang ditempati Luragorn dan Lithia tidak terbakar sama sekali.



“Putri, kalau begini bisa gawat. Kita harus melakukannya sekarang,” tegas Luragorn menggenggam gagang pedangnya sambil menatap tajam ke arah dinding api.



Lithia merapatkan kedua tangannya di depan dadanya kemudian cahaya kuning terang memancar dari dada Lithia. Sebuah lambang bidak catur raja yang terang membangkitkan senyuman Luragorn yang siap bertarung.



Pilar api di sekitar dua petualang ini segera hilang setelahnya, membuat beberapa beastman meloncat cepat ke arah Luragorn dan Lithia. Luragorn yang menutup matanya ini kemudian membuka matanya perlahan.

__ADS_1



Pemandangan berwarna di depannya kemudian berubah menjadi hitam putih dan seringai terpasang jelas di wajah Luragorn. Beastman yang menerjang tadi seketika terlempar dengan tebasan menyilang di dada mereka, memuntahkan cairan merah kental di langit malam yang gelap.



Semua beastman sontak terkejut terutama si beastman serigala putih. Moncongnya bergetar dan keringat mengucur ketika ia menelan ludahnya sendiri. Si beastman serigala putih ini hanya bisa mematung sambil membelalak melihat Luragorn dan Lithia, terutama di bagian dada Lithia dan punggung tangan Luragorn yang memancarkan simbol bidak catur berwarna kuning.



“SEMUANYA! BERHATI-HATI! MEREKA SAMA SEPERTI PUTRI FSOSA DAN NONA FLOWY!”



Teriakan tersebut seketika membuat para beastman sontak mundur cepat sejauh beberapa meter dengan waspada. Luragorn dan Lithia tidak paham apa yang terjadi, tetapi sepertinya itu bukan pertanda bagus.



Si beastman serigala putih segera melolong kencang memanggil bantuan sementara beastman serigala hitam lainnya hanya diam dan waspada. Tiap Luragorn menggerakkan tubuhnya, para beastman melompat ke belakang dengan segera hingga terus menambah jarak.



“Apakah mereka sadar?” batin Luragorn bertanya sembari menatap tajam ke sekitar.



“Seperti Putri Fsosa dan Flowy? Apakah mereka sama seperti kami?” batin Lithia bertanya sambil menelan ludah.



“Putri, apa yang harus kita lakukan?” tanya Luragorn dengan sigap.



“Kemungkinan kita akan dibunuh, tapi sepertinya situasinya berubah,” jawab Lithia.



“Berubah? Maksud Putri?”



“Mungkin kita akan selamat.”


“Tapi hanya kemungkinan kecil, mengingat betapa berharganya informasi yang bisa diambil dari kami berdua.”



“Selamat? Bagaimana mungkin?”



“Jangan menyerang Lura, berpura-puralah kelelahan.”



“Tapi Putri–”



“JANGAN BUNUH MEREKA! BAWA MEREKA KE HADAPAN PUTRI FSOSA HIDUP-HIDUP!”



Luragorn terkejut dan Lithia tersenyum tipis di saat kalimat itu diteriakkan. Luragorn dan Lithia melonggarkan pertahanan masing-masing membiarkan anak panah kecil membius keduanya.



Luragorn dan Lithia terbaring seketika dan para beastman mendekat, begitu pula si beastman serigala putih.



“Ada yang aneh, mereka terlalu mudah ditaklukan. Padahal kami sudah siap melawan mereka hingga titik darah penghabisan. Apa yang terjadi?” pikir si beastman serigala putih saat berjalan mendekati Luragorn dan Lithia.


__ADS_1


__ADS_2