Takdir sang kesatria

Takdir sang kesatria
Episode 14


__ADS_3

Suara sepatu kuda menghentak jalanan, membawa sebuah kereta besar yang berisi barang dagangan Duke serta mengangkut budak dan pengawal yang ia sewa, yaitu Luragorn dan Lithia.



Kereta sepanjang lima meter dan lebar tiga meter serta tinggi tiga meter, menjadikannya sebagai ruang penyimpanan barang yang cukup besar. Di depannya terdapat dua bangku memanjang yang saling membelakangi satu sama lain. Satu bangku sebagai tempat kusir menggerakkan kudanya sedangkan satu lagi menghadap ke arah ruangan kayu setinggi tiga meter iti. Duke dan Sima duduk di bangku kusir sementara Luragorn dan Lithia duduk di bangku lainnya.



“Maaf ya, memberi kesan buruk. Aku hampir lupa kalau aku akan berangkat ke Fisherman Village. Gawat sekali jika salah satu beastman mencegat, bisa-bisa barang daganganku habis. Hehe,” kata Duke memulai pembicaraan.



“Tidak apa-apa. Aku juga tidak merasa terganggu. Ngomong-ngomong, terima kasih atas liontinnya,” balas Lithia.



“Hooh, kau menyukainya? Baguslah kalau kau puas. Pelanggan yang senang adalah motoku.”



Pada akhirnya, hanya Duke dan Lithia yang berbincang-bincang. Luragorn dan Sima hanya diam tanpa respon yang berarti, membiarkan kedua oran ini saling mengakrabkan diri.



Misi pertama yang diambil oleh Lithia adalah misi pengawalan, berupa mengawal seorang pedagang yang akan menuju Fisherman Village. Jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang rawan akan serangan bandit terutama bandit beastman.



Jalur tercepat menuju Fisherman Village adalah seminggu perjalanan menggunakan kereta kuda. Itulah kenapa Duke pergi keesokan harinya setelah bertemu dengan Lithia. Demi memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, Duke memilih berangkat di saat matahari baru terbit di ufuk timur.



Langit mulai gelap dan kereta kuda langsung dihentikan, memberi waktu bagi para kuda untuk beristirahat sekaligus meregangkan badan dari perjalanan panjang.



Luragorn dan Duke menyiapkan api unggun sementara Sima dan Lithia mencari sumber mata air yang tidak jauh dari tempat mereka singgah. Salah satu keahlian Sima adalah pelacak sumber air, menjadikan Sima sebagai aset berharga bagi Duke, terutama dalam bepergian jauh.



Sima dan Lithia menemukan danau kecil tidak jauh dari tempat kemah mereka. Sima langsung menanggalkan pakaiannya sementara Lithia masih agak ragu untuk ikut membersihkan tubuh, terlebih dengan situasi mereka yang tidak sepenuhnya aman.



“Kenapa kau mandi? Kukira kau budak. Bukannya kau harus membantu Duke mempersiapkan tempat kemah?” tanya Lithia yang masih memakai pakaiannya.



“Tuan Duke memerintahkanku untuk mandi setidaknya sekali sehari. Katanya ... itu adalah hal wajib bagi seorang budak perempuan,” jawab Sima yang tengah menggosok badannya di danau tersebut.



“Perintah?”



“Ya ... perintah. Ia berkata tidak ingin memiliki budak kotor, jadi ia memerintahkanku melakukan ini setiap hari.”



“Badan kotor ... kah?” gumam Lithia bertanya pada diri sendiri sambil menghela napas.



Lithia mengamati anggota tubuhnya sekilas kemudian memutuskan ikut bergabung dengan Sima. Lithia langsung menanggalkan pakaiannya dan bergabung dengan Sima.



“Sini ... aku akan menggosok punggungmu,” ujar Lithia.



“Nona Lily tidak perlu repot-repot.”



***



Lura dan Duke telah membuat api unggun dan mengambil sebuah kuali untuk memasak.



“Jadi, Lura ... apakah kau budak juga?” tanya Duke.



“Dari mana Anda tahu?” balas Luragorn agak terkejut.



“Tentu saja aku tahu. Mata seorang budak itu sangat beda dengan mata orang biasa.”



“Berbeda?”



“Ya, berbeda. Mata tiap budak itu rata-rata sama, yaitu mata yang telah mati. Meski agak samar, aku sempat melihat mata itu padamu.”



“Segitu jelasnya?”



“Ya, bukan urusanku. Tapi aku tetap penasaran. Bagaimana budak sepertimu bisa sehebat ini?”



Luragorn menghela napas lalu duduk di depan api unggun sementara Duke terus menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.



“Bagaimana?” tanya Duke secara berulang dan intensif yang akhirnya membuat Luragorn menyerah.



“Baiklah, akan kuceritakan sedikit,” jawab Luragorn.



Duke mengambil posisi yang sama dengan pria berbadan kekar ini dan mendengarkan kisah Luragorn.



“Pada awalnya ... aku hanyalah seorang anak kecil biasa yang hidup layaknya anak-anak pada umumnya. Sampai suatu saat rombongan bandit menyerang tempat tinggalku, Frxzy Village,” kata Luragorn sambil sesekali melempari ranting kering ke arah api unggun.



“Apa yang terjadi pada desamu?” tanya Duke penasaran.



“Hancur, semua penduduknya kurasa telah dibantai termasuk kedua orang tuaku yang dibunuh di depan mataku.”



Duke langsung terdiam dan tertunduk merasa bersalah karena membuat Luragorn mengingat masa lalunya.



“Maaf Lura, aku tidak menyangka,” ucap Duke dengan nada kasihan.



“Tidak usah dipikirkan. Lagipula itu hanya masa lalu. Setelah itu aku ditangkap oleh penjual budak dan entah berapa lama penderitaan yang kualami, tapi penderitaan itu sangat banyak hingga aku tidak lagi peduli dengan nasibku sendiri,” lanjut Luragorn.



Luragorn tiba-tiba memasang senyuman tipis dan membuat Duke keheranan. Menceritakan kisah tragedi sambil tersenyum tentu membuat siapa pun bertanya-tanya.



“Saat itulah ia muncul, ia membebaskanku dan menjadikan diriku sebagai pengawalnya. Kurasa itu adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku,” ujar Luragorn sambil tersenyum.

__ADS_1



“Begitukah? Apa Sima juga memiliki masa lalu seperti itu?” tanya Duke sambil menatap langit gelap berbintang.



“Di mana Anda membeli Sima?” tanya Luragorn penasaran.



“Itu hanya kisah lama. Dia cukup manis untuk gadis seusianya, tapi matanya tidak memancarkan apa-apa selain kekosongan. Setelah itu aku membelinya dan menjadikannya pelayanku,” jawab Duke.



“Sima dan diriku termasuk budak yang beruntung bisa bertemu tuan yang baik.”



“Eh? Jangan berkata seperti itu, kau membuatku malu. Aku tidak sebaik itu.”



“Kukatakan seperti itu, karena sebagian besar budak dibeli hanya untuk dijadikan sebagai alat kerja paksa dan tidak lebih. Tapi kulihat caramu memperlakukan Sima–kau tidak menganggapnya sebagai alat bukan?”



Duke berdiri dari duduknya dan mengajak Luragorn mengambil perbekalan yang akan dimasak.



“Tentu saja manusia bukan alat,” jawab Duke sambil menarik Luragorn untuk mempersiapkan makan malam.



***



Lithia dan Sima membasuh tubuh mereka di air danau yang agak dingin. Menggosok permukaan kulit mereka untuk menghilangkan noda dan debu yang menempel.



“Sima, apa itu di punggungmu?” tanya Lithia melihat bagian punggung Sima.



Sebuah tanda lahir dengan bentuk naga di punggung Sima, membuat Lithia penasaran dengan maksud tanda itu.



“Aneh ya?” tanya Sima.



“Tidak, bukan aneh. Hanya saja ...,” jawab Lithia sambil berpikir.



“Karena tanda ini, seisi desa menyebutku monster dan pertanda buruk.”



“Hah? Bukankah itu keterlaluan? Kenapa bisa?”



“Aku tidak tahu, tapi kata mereka aku hanya membawa sial. Bahkan orang tuaku menjualku di pasar budak.”



“Hah?! Orang tua macam apa mereka?!”



“Itu wajar di tempatku. Desaku sangat miskin dan sering dilanda kekeringan. Semua orang berekonomi pas-pasan, termasuk keluargaku,”



“Tapi itu bukan alasan untuk menjual anak mereka.”




“Tapi tetap saja ....”



“Setelah itu ... aku menjalani hidupku sebagai budak. Banyak yang terjadi hingga tuan Duke membeliku,” kata Sima dengan nada datar.



“Hooh, begitu.”



“Tapi tidak seperti tuanku sebelum-sebelumnya. Tuan Duke memperlakukanku dengan baik. Dia tidak menyuruhku melakukan tugas berat atau memintaku menjadi pemuas seksualnya. Dia juga memberi makanan yang sama dengan makanan yang ia makan.”



“Astaga! Sampai segitunya?”



“Karena itulah ...,” Sima memperhatikan borgol di tangannya, “Aku adalah budak Tuan Duke.”



Lithia termenung sejenak dan mengingat kembali hari dimana ia bertemu dengan Luragorn untuk pertama kali. Lithia tersenyum tipis kemudian menyambung pembicaraan Sima.



“Jadi? Apa kau memiliki perasaan terhadap tuanmu?” tanya Lithia dengan mata berbinar.



“Perasaan?” balas Sima dengan pertanyaan lain sementara matanya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.



“Iya, perasaan. Apa kau punya perasaan ... cinta mungkin?”



“Apa itu cinta? Nona Lily pernah mengalaminya?”



Lithia tiba-tiba terdiam mendengar pertanyaan dari Sima. Ia tidak tahu harus menjawab apa, meski Lithia tahu bahwa ia memiliki perasaan terhadap Luragorn, tetapi ia tidak bisa menjawab itu dengan lantang di depan gadis yang matanya telah mati ini.



***



Langkah kaki kuda terdengar di kejauhan dan membuat Luragorn waspada. Pria ini menarik pedangnya dan bersiap melawan sementara Duke masih sibuk memasak.



“Tuan Duke, mereka datang,” kata Luragorn memperingati Duke.



“Siapa?” tanya Duke dengan sigap



“Para–”



Beberapa beastman tiba-tiba terjatuh dari atas dan mengagetkan Luragorn dan Duke. Duke langsung berlari ke arah hutan untuk mencari Sima, tetapi niatnya tertunda di saat melihat para beastman mencoba menjarah kereta milik Duke.



Para beastman itu membagi tim menjadi dua bagian. Tim pertama mengalihkan perhatian Luragorn sementara tim kedua menjarah kereta Duke. Luragorn tidak bisa berbuat banyak karena beastman yang ia lawan adalah beastman serigala yang kuat dan memiliki koordinasi tim yang bagus.

__ADS_1



Duke mulai ragu untuk menyelematkan keretanya atau mencari Sima. Keberadaan Sima tentu penting, tetapi seluruh hartanya ada di kereta itu.



“Pergi! Carilah Sima dan Lily!” teriak Luragorn.



“Tapi, daganganku ....”



“Apa kau tidak peduli dengan mereka? Setidaknya pada Sima?”



Duke semakin ragu antara maju atau mundur. Kereta berisi investasi bisnisnya sedang dijarah, tetapi di lain sisi ia ingin menjemput Sima secepatnya. Pada akhirnya Duke memutuskan untuk mencari Sima ketimbang keretanya sendiri. Duke berlari sekuat tenaga ke dalam hutan, tetapi ia hanya bertemu dengan Lithia.



“Dimana Sima?!” tanya Duke dengan panik.



“Bukannya sudah kembali? Kukira dia sudah ada di sana,” jawab Lithia.



Duke bergegas kembali ke tempat Luragorn dan mendapati Luragorn telah menang melawan dua beastman serigala sekaligus, meski tubuhnya nampak berantakan dan berdarah-darah.



“Apa kau menemukan Sima? Mana Lily?” tanya Luragorn.



“Tidak. Kata Lily, Sima telah kembali,” jawab Duke.



“Hei, dimana kereta kita?” tanya Lithia pada kedua pria di depannya.



“Celaka! Baru berpaling sedikit dan mereka sudah merampas keretanya,” ucap Luragorn dengan nada marah.



“Jangan-jangan ...,” ujar Lithia berasumsi.



***



Kereta kuda Duke melaju cepat dengan seorang beastman serigala sebagai kusirnya. Satu beastman masuk ke bagian tempat penyimpanan barang dan menemukan Sima yang memegang sebuah tongkat besi.



“Kereta ini milik Tuan Duke,” ujar Sima dengan tatapan kosongnya.



“Budak? Dasar lemah, minggir kau!” bentak si beastman serigala.



Sima tidak memedulikan peringatan itu dan menyerang beastman yang berdiri di depannya. Si beastman menghajar sima habis-habisan dan menendang gadis budak ini ke arah pojokan, membuat Sima tidak sanggup bergerak apalagi berdiri.



“Diamlah di sana,” kata si beastman sambil menjarah semua barang-barang yang terlihat mahal.



“Tidak, itu miliki tuan Duke,” ucap Sima dengan pandangannya yang kabur dan bergoyang.



Si beastman segera melompat keluar dan meninggalkan Sima sendirian di kereta itu. Kereta tiba-tiba bergoyang dan membuat Sima agak pusing dengan pijakannya. Ia merasa pijakannya miring, tetapi gadis budak ini mengira bahwa itu adalah efek dari kepalanya yang pusing.



“SIMA! Kau ada di dalam?!” teriak Duke dari luar kereta.



Sima bergegas melihat keluar dan mendapati Luragorn serta Duke yang sementara menunggangi kadal besar. Kadal hijau besar yang merayap cepat di samping kereta itu membawa Luragorn dan Duke di punggungnya. Luragorn mengendalikan arah kadal itu sementara Duke berteriak ke arah Sima.



“SIMA! Lompat keluar! Keretanya telah kehilangan kuda!”



Kereta Duke telah berlari sendiri tanpa ada kuda yang menariknya. Melaju menuju jurang yang dalam, kereta Duke kini menuruni lereng dan akan jatuh sebentar lagi.



“Sima! Lompat!”



“Tapi, kereta tuan Duke ...” balas Sima.



“Lura! Lakukan sesuatu!” tegas Duke.



“Tidak bisa, siapa yang akan mengendalikan kadal ini?” tanya Luragorn.



“Ck! Dekatkan aku dengan kereta, aku akan menjemputnya.”



Luragorn mengarahkan kadal besar tunggangan mereka ke bagian belakang kereta. Duke tanpa pikir panjang melompat ke dalam kereta dan menabrak Sima, membuat gadis ini terbaring di bawah tubuh Duke.



*PLAK!



Duke menampar Sima dengan keras kemudian memeluknya dengan erat sambil melangkah ke arah belakang kereta. Sima terdiam tanpa ada kata-kata dan bahkan tidak sesuatu pun yang terpikirkan di kepalanya sekarang. Yang dirasakan oleh Sima sekarang hanyalah perasaan bersalah karena tidak berhasil merebut kereta Duke.



Duke mengamati bagian belakang kereta, menyaksikan permukaan tanah yang kasar dan beberapa batu besar di tiap beberapa meter. Duke masih mengangkat Sima dalam pelukannya sambil menelan ludah akan pemandangan yang ia lihat. Duke melompat keluar dan memeluk Sima sambil melindungi bagian belakang kepala gadis budak ini.



Duke menghantam tanah dan berguling karena percepatan dari kereta tersebut. Lapisan tanah kasar dan berbatu menyambut tubuh Duke yang tidak terlatih itu, memberi rasa sakit lebih tiap ia berguling. Tidak lama setelah Duke berputar seperti tong air yang meluncur, Luragorn menahan tubuh kedua orang ini dengan tubuh kadal besar sebagai penghalang kelajuan mereka.



Kereta Duke meluncur bebas menuju dasar jurang yang gelap. Duke berhasil menyelamatkan Sima dengan sedikit luka di bagian kepala Duke sendiri. Meski pada akhirnya, Duke harus merelakan keretanya yang berisi mata pencahariannya, tetapi ia berhasil menyelamatkan Sima.



***



Api unggun yang hangat menemani Lithia. Perempuan ini menatap ke arah salah satu beastman serigala yang terikat di batang pohon.



“Untunglah, kalian membawa kadal yang bisa dijadikan tunggangan,” gumam Lithia, “Sayang sekali mereka tidak tahu apa-apa.”


__ADS_1



__ADS_2