
“Luya menghilang!”
Seruan singkat itu menghentikan percakapan antara Luragorn dan Lithia. Pria besar bernama Burmab itu terlihat berkeringat dan panik.
“Tolong ... tolong cari Luya!”
Lithia langsung menuju ke arah Burmab dengan pakaiannya yang masih lusuh dan kotor. Luragorn kembali menaiki kadalnya dan berniat mencari di area yang lebih luas.
“Ayo kita cari di area sekitar,” kata Lithia mencoba menenangkan Burmab sembari mencari ke daerah sekitar.
Luragorn tidak membuang waktu dan langsung mencari juga. Luragorn memutari daerah perkampungan hingga wilayah terluar. Tidak ada tanda-tanda Luya dan beberapa warga melihat Luragorn yang sedikit khawatir.
Luragorn melakukan pemeriksaan sekitar sekali lagi untuk memastikan, tetapi niatnya terhenti ketika ia memikirkan suatu kemungkinan. Luragorn mengubah arahnya dan menelusuri jalan yang dilewati menuju tambang.
Sebuah langkah kaki kecil di atas rerumputan dan membekas dengan cukup dalam. Letaknya agak jauh dari jalan, tetapi Luragorn bisa merasakan bahwa Luya akan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Luragorn yang menunggangi kadal langsung berbalik menuju rumah Burmab dan mendapati Lithia berdiri tidak jauh dari rumah itu. Luragorn memberhentikan kadal miliknya di depan Lithia untuk berbicara pada perempuan berambut merah ini.
“Putri, seper–”
Lithia memotong kalimat Luragorn dengan mengeluarkan sebuah kertas segel yang berisi rapalan mantra.
“Bawa ini, kau akan membutuhkannya di tambang nanti,” kata Lithia menyerahkan beberapa kertas segel sihir pada Luragorn.
Luragorn hanya bisa terdiam menerima setelah mendengar kalimat Lithia. Lithia bisa memprediksi kalimat Luragorn dan juga memberikan perlengkapan yang dibutuhkan Luragorn bahkan sebelum ia sempat berbicara.
Luragorn mengangguk tanpa suara dan segera memecut kadal tunggangannya, membuat kadal Luragorn berlari cepat ke arah yang ditujukkan, yaitu tambang yang baru saja dieksplorasi siang tadi.
***
Derap langkah berat dan cepat terdengar di hutan pinus yang mengarah ke tambang gunung api. Seekor kadal padang rumput merangkak dengan Luragorn yang menungganginya.
Luragorn turun dari kadal tunggangannya dan mengamati tambang yang baru saja diamankan siang tadi. Luragorn mendekat untuk memastikan dugaannya dan mendapati segel sihir yang terpasang di mulut tambang telah rusak.
“Semoga saja bukan,” gumam Luragorn menarik pedang dari sarungnya kemudian mengarahkan batu api miliknya ke dalam tambang.
Jejak kaki tampak di permukaan tanah, tetapi bukan itu saja yang Luragorn perhatikan melainkan sedikit noda darah dan beberapa kalung tulang milik goblin.
“Semoga saja bukan.”
***
“Ini pasti tempatnya,” kata Luya membaca sebuah buku bebatuan.
Bagian tambang sempit dengan lubang masuk kecil, berisi beberapa batu kristal bercahaya yang timbul di permukaan tembok tambang. Luya berada di dalam ruang sempit dengan bebatuan kristal mengelilinginya.
Bocah lelaki dengan tunik cokelat serta celana nilon hitam panjang tengah mengamati salah satu bebatuan. Kacamata cembung agak berdebu dipakai oleh Luya untuk melihat lebih detil batuan yang ada. Di sampingnya terdapat beliung kecil serta tas besar berisi perlengkapan menambang dan buku-buku tua.
“Pasti ini,” kata Luya kegirangan melihat penemuannya.
Luya mengambil salah satu batu kristal berwarna putih bercahaya terang dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.
*DRG!
Suara goresan tanah mengejutkan Luya dan membuatnya berbalik cepat melihat ke belakang. Tubuh hijau kecil dengan mata merah serta kuku panjang. Tidak salah lagi, itu adalah goblin.
Goblin itu meloncat ke arah Luya dengan mulutnya yang terbuka lebar. Dengan sigap Luya mengambil beliung miliknya dan memukulkannya pada kepala si goblin.
Goblin tadi langsung tidak sadarkan diri setelah bagian pelipisnya bocor tertusuk beliung milik Luya. Tidak berhenti di situ, beberapa goblin langsung menuju ke arah Luya.
Luya menggunakan beliung miliknya untuk menahan serangan salah satu goblin yang datang. Kedua lengan goblin tertahan oleh gagang beliung Luya, tetapi wajah goblin ini terus mendekati Luya seolah ingin menggigitnya.
Goblin lain datang dari samping dan mengamati Luya yang tengah tersudutkan. Remaja laki-laki ini langsung menelan ludahnya ketakutan dan mengingat larangan ayahnya berkali-kali untuk tidak pergi menambang.
“Anak kecil tidak boleh pergi ke tempat seperti itu. Bantulah Ibu-mu atau tempa-lah senjata, itu lebih cocok untukmu.”
“Maafkan aku ayah, aku tidak akan menambang lagi,” kata Luya yang matanya agak berkaca melihat goblin mendekat ke arahnya sambil mengangkat gadah, “TOLONG!”
*JLAB!
Sebuah pisau menancap di kepala para goblin yang akan menyerang Luya. Terbaring dengan darah mengalir dengan derasnya, para goblin itu lumpuh seketika.
“Kau tidak apa?” tanya Luragorn, “Aku tidak bisa masuk ke dalam, kau yang keluar. Cepatlah.”
Luya bergegas mengisi peralatannya ke dalam tas dan menyeret sebuah batu kristal besar.
__ADS_1
“Kenapa paman Lura bisa tahu aku di sini?” tanya Luya menghapus air matanya.
“Hanya firasat, cepatlah. Kita harus menyegel tambang ini. Kau yang merusak segelnya, kan?”
“Aku? Ehehe …. Paman Lura, bisa bantu aku?” tanya Luya meminta sesuatu dengan sedikit rasa bersalah.
“Apa itu?” balas Luragorn bertanya.
“Batu ini, paman Lura bisa membawanya?” Luya mendorong paksa sebuah batu kristal besar ke depan Luragorn.
Luragorn mengangkat batu tersebut kemudian keduanya langsung bergegas keluar tambang sebelum rombongan goblin lain masuk.
“Kalau begitu, kita harus cepat. Meyegel sebuah tambang agar tidak dijadikan rumah para goblin membutuhkan waktu agak lama,” kata Luragorn sigap.
“Benarkah?”
“Setelah penyegelan, butuh waktu seminggu untuk membuat para goblin menyerah pada tambang ini.”
“Begitu?”
“Sebelum itu, maka tambang ini masih rawan. Ngomong-ngomong, apa itu tadi dan apa ini?”
“Apanya?”
“Kumpulan batu kristal tadi dan batu yang kubawa ini.”
“Paman Lura pasti tidak akan percaya, itu adalah batu sihir.”
“Batu sihir?! Di tambang ini?!” tanya Luragorn dengan sedikit terkejut.
“Hehe, aku hebat.”
“Katakan itu pada Ayahmu nanti.”
Luya tiba-tiba berhenti berlari dan terdiam, membuat Luragorn juga ikut terhenti.
“Ayah ... pasti akan memarahiku,” kata Luya dengan nada datar.
“Tapi–”
“Setidaknya itu lebih baik ketimbang harus melawan goblin selama seminggu di sini.”
Luya bingung dengan langkahnya sendiri. Setelah melanggar perintah ayahnya, tentu saja ia akan mendapat hukuman, tetapi melihat para goblin sebelumnya dan menghadapi hal seperti itu selama seminggu.
“B ... b ... baiklah,” kata Luya kembali melangkahkan kakinya dengan wajah putus asa.
“Ayah pasti akan menghukumku.”
Luragorn kembali dengan membawa Luya bersamanya, tepat setelah ia menyegel gua tersebut dengan mantra sihir kuat yang menyelubungi mulut tambang dan area sekitarnya.
Luragorn dengan kadalnya bergerak menuju perkampungan tempat Burmab. Burmab, Lithia, dan Cyla menunggu di luar rumah sambil menatap kedatangan Luragorn beserta Luya. Luragorn turun dari tunggangan dan mengikat kadal miliknya di salah satu pohon sementara Luya berjalan menuju orang tuanya dengan perasaan takut dan jantung berdebar.
Burmab mendekat dan Luya semakin takut. Tubuh Burmab yang besar mengintimidasi remaja lelaki ini, membuat Luya menutup matanya di saat ayahnya ini mengangkat tangan dan mengayunkannya pada Luya.
Luya mengepalkan kedua tangan dan menutup mata rapat-rapat untuk bersiap mendapat pukulan ayahnya.
“Kenapa kau tidak mendengar?” kata Burmab memeluk Luya dengan erat.
“Eh?” Luya membuka matanya dan mendapati ayahnya yang sedang memeluk dirinya.
Bukan hukuman melainkan pelukan, membuat hati Luya tenang seketika. Senyuman kecil terlukis di wajah remaja laki-laki ini.
“Ayah–”
*BHUK!
Burmab tiba-tiba memukul kepala Luya dengan keras hingga remaja laki-laki ini ingin meneteskan air matanya.
“Masuk cepat! Ibumu baru selesai memasak makanan. Makanlah sebelum dingin!” tegas Burmab yang langsung masuk ke dalam rumah.
Luya menangis karena pukulan ayahnya, tetapi remaja laki-laki ini tetap mengikuti kata-kata ayahnya untuk masuk ke dalam rumah.
“Baiklah,” kata Luya mengusap kepalanya yang sakit.
__ADS_1
Luragorn tersenyum tipis dari kejauhan melihat tindakan Burmab dan tingkah Luya, mengingatkan dirinya saat masih memiliki orang tua.
“Kau berhasil menemukannya,” kata Lithia berdiri di samping Luragorn.
“Begitulah,” balas Luragorn.
“Baguslah kalau begitu,” kata Lithia yang tersenyum puas sambil menyandarkan kepalanya pada tubuh bagian samping Luragorn.
***
“Tidak salah lagi, ini batu sihir yang langka!” tegas Lithia memperhatikan kristal putih yang ditunjukkan oleh Luya.
Ruang tamu terasa sempit setelah makan malam karena semuanya berkumpul di situ. Cyla yang memakai kirtle hijau tampak khawatir. Burmab yang memakai tunik putih tampak serius mengamati, begitu pula Luragorn dan Luya memperhatikan batu sihir seukuran dua kali kepala manusia ini.
Putih besar dan berpijar terang, Lithia menyentuh permukaannya yang kasar kemudian mengambil kesimpulan.
“Jika tidak salah baca, batu sihir ini memiliki efek merefleksikan energi sihir siapa pun yang memegangnya. Tergantung cara menggunakan, batu sihir ini bisa menyerap, menggandakan atau mengurangi sihir yang ada.”
“Jika ... jika aku menempanya, apakah ini bisa jadi senjata yang berguna?” tanya Luya dengan semangat.
“Luya!” bentak Burmab.
“Hmn ... anak Anda mungkin benar. Batu sihir ini mungkin saja bisa menjadi senjata,” kata Lithia terus mengamati.
“Kumohon Ayah, kumohon izinkan aku membuatnya,” kata Luya meminta pada ayahnya.
“Senjata yang berbahan batu sihir memiliki daya jual tinggi,” sambung Lithia menatap Burmab.
“Huft~ baiklah, Luya! Bantu aku! Ada pedang yang harus ditempa,” balas Burmab membalas.
“Yeay!” teriak Luya kegirangan dan menarik baju Burmab untuk membantunya menempa batu tersebut.
“Oh iya, apa kalian memiliki bubuk peri?” tanya Lithia pada Cyla.
“Tentu saja, barang bagus yang datang langsung dari kerajaan Butbur, itu demi meningkatkan kualitas barang,” jawab Cyla.
“B ... B ... Butbur?! Kenapa jauh sekali?” tanya Luragorn terkejut.
Kerajaan Butbur adalah kerajaan di bagian barat laut Midfraz dan menjadi kerajaan terdekat dengan tempat tinggal para Elf, Fairy, dan Mermaid. Tempat yang memiliki banyak benda sihir dan kaya akan energi sihir alam, yaitu hutan Rora yang memiliki luas sedikit lebih besar dari Midfraz.
Kerajaan Butbur terkenal karena eksperimen mereka akan sihir dan satu-satunya kerajaan manusia yang paling banyak berperang dengan ras Elf maupun Fairy. Banyak barang sihir, senjata termasuk bahan pembuat senjata sihir itu sendiri. Salah satunya ialah bubuk peri, bubuk yang digunakan untuk menempa senjata sihir. Tanpa bubuk peri, batu sihir hanya akan melebur menjadi batu biasa ketika ditempa.
“Hanya untuk mendapatkan bubuk peri?” tanya Luragorn,
“Ya, mau bagaimana lagi. Tanpa bubuk peri, batu sihir itu tidak berguna. Meski kuyakin harganya pasti mahal di daerah ini,” jawab Lithia.
“Kau sepertinya tahu banyak tentang sihir ya?” tanya Cyla penasaran.
“Begitulah, aku kan Mage, yang berarti aku cukup tahu tentang sihir,” jawab Lithia membusungkan dadanya dengan percaya diri.
Setelah beberapa lama, akhirnya Burmab dan Luya selesai kemudian menunjukkan hasil karyanya pada semua yang berada di dalam rumah.
“Lihatlah!” teriak Luya dan seketika semua mata tertuju pada pedang itu.
Claymore perak mengilap dengan panjang 150 cm dan lebar 20 cm. Ujung runcing serta tepian tajam. Dengan tebal sekitar 2,5 cm, pedang tersebut tampak sangat besar dan berat.
Gagang perak sederhana sepanjang 30 cm tampak sangat cocok dengan mata pedang sepanjang 120 cm yang mulus tanpa goresan maupun corak. Benar-benar pedang perak besar yang polos.
Burmab memegangi pedang itu dan mengangkatnya dengan kedua tangan. sedikit memutarnya kemudian meluruskan kembali. Burmab mengangguk mantap menatap pedang yang telah dibuatnya.
“Ambillah,” kata Burmab menyerahkan pedangnya pada Luragorn.
“Eh? Kenapa? Anda lebih baik menjualnya ketimbang memberikannya,” kata Luragorn mencoba menolak dengan wajah agak datar.
“Anggap saja hadiah karena menemukan Luya. Lagipula aku memiliki tambangnya, aku bisa membuat lagi di lain hari,” kata Burmab menjawan pertanyaan Luragorn.
“Tapi ...,” Luragorn menatap Luya yang tampak kumul setelah menempa pedang tersebut.
“Ambillah, paman,” kata Luya memandang Luragorn dengan senyuman lebar.
“Ambillah, tidak sopan menolak pemberian orang,” sambung Lithia membujuk Luragorn.
Burmab memberikan pandangan serius terhadap Luragorn dan membuat kesatria ini tidak memiliki pilihan lain.
“Kalau begitu ...” Luragorn menerima pedang batu sihir itu dengan kedua tangannya, “Kuterima dengan senang hati.”
__ADS_1